NovelToon NovelToon
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Single Mom / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.

"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.

"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 21

Ansel mengurut pelipisnya yang terasa sakit, sejak dua hari yang lalu, setelah ia dan keluarga Bella makan malam bersama di rumahnya sebagai pertanda jika hubungan keluarga Ansel dan Angga tetap berjalan baik, walaupun terjadi pembatalan perjodohan.

Sejak kemarin masalah Cwen dan orang tua dari Denna sudah selesai, bahkan orang tua Denna langsung meminta maaf kepada Cwen saat melihat bukti CCTV di dalam kelas. Tapi kini yang menjadi masalah baru adalah, Sindy mengatakan jika sebaiknya mereka mengeluarkan Cwen saja. Walaupun sama sekali tidak bersalah.

“Mohon maaf bu, di sini jelas jika bu Sindy yang salah, kenapa malah mengusulkan mengeluarkan Cwen yang bahkan korban dari kejahilan teman-teman sekelasnya?”

Hening. Suasan rapat para guru mendadak hening. Siang ini memang diadakan rapat dadakan oleh kepala sekolah, tentu saja itu mengenai sindy yang menghina fisik Cwen, alias rasisme di dalam sekolahan, dan yang lebih parahnya hal yang melakukan tersebut adalah seorang guru, yang seharusnya menjadi contoh yang baik untuk anak-anak di sekolahan.

Sebenarnya, Cwen maupun Jenia tidak pernah membawa masalah ini ke hal yang lebih serius, Jenia merasa ia tidak punya hak untuk membicarakan rasisme yang terjadi kepada anaknya, ia lebih memilih jalan yang aman, agar Cwen tetap dapat melanjutkan sekolahnya.

Tapi tidak dengan Ansel, sebagai wali kelas dan guru yang bertanggung jawab di kelas Cwen, ia melaporkan masalah tersebut kepada kepala sekolah, Ansel tidak bisa diam begitu saja mendengar jika seorang guru melakukan rasisme kepada muridnya itu. Itu adalah tindakan yang sangat tidak pantas di lakukan oleh seorang guru,

“Ada apa dengan pak Ansel, Cwen juga orang tuanya bahkan tidak mempermasalahkan ini, mereka memaafkan, kenapa pak Ansel sendiri yang sibuk memperbesar masalah yang tidak seharusnya di perbesar?”tanya Sindy menatap tidak suka pada Ansel.

“Sesuai dengan peraturan sekolah bu Sindy, setiap siswa dilarang melakukan kerasisan kepada temannya yang lain, dan jika seorang guru mendapati hal tersebut, maka wajib bagi guru tersebut melapor kepada bagian yang hak. Bu Sindy adalah seorang guru, dan bu Sindy sendirilah yang melakukan hal di luar peraturan sekolah tersebut, maka tidak pantas bagi bu Sindy untuk menjadi seorang guru,”balas Ansel dengan suaranya yang amat tenang, sama sekali tidak terbawa emosi seperti Sindy.

"Bu Sindy juga bilang kalau Cwen juga orang tuanya sudah memaafkan, lalu kenapa bu Sindy malah meminta Cwen untuk dikeluarkan dari sekolah?"

Mendengar pertanyaan itu, Sindy langsung diam, tidak tahu harus membalas apa.

Kepala sekolah menghela napas berat, ia menatap satu persatu semua guru yang mengajar di sekolah,“saya ingin kalian jujur, siapa diantara kalian yang melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan bu Sindy, rasisme terhadap siswa?”

Suasana kembali hening, semua yang ada di dalam ruang rapat langsung saling melirik, beberapa ada yang menunduk, dan kebanyakan dari mereka adalah guru yang masih muda.

“Siapa yang pernah melakukan rasis di dalam kelas juga di lingkungan sekolah?”

Masih tidak ada yang berani bersuara, bahkan sindy yang sudah ketahuan jelas hanya diam dan menundukkan kepalanya.

“Tolong jujur, saya tidak ingin membuang waktu saya di sini hanya untuk melihat kalian diam!”

“Saya pak,”

“Saya pernah sekali, tapi saya tidak sengaja,”

“Saya juga pernah pak, sama , saya juga tidak sengaja,”

“Saya pak,”

Ansel menatap satu per satu guru yang mengatakan jujur jika mereka pernah melakukan rasis di dalam lingkungan sekolah.

“Siapa?”

“Cwen,”

Serentak mereka mengatakan ‘Cwen’, yang itu artinya mereka hanya melakukan rasis kepada Cwen. Ansel rasanya ingin men-sidang mereka satu persatu , tapi itu tidaklah mungkin.

“Apa alasan kalian melakukan rasis kepada Cwen, dia masih siswa di sekolahan kita, bukan dari luar sekolah?”

Mereka semua diam, tidak ada yang bersuara, tapi Ansel berfikir jika mereka tidak menyukai Cwen karena Cwen yang masih memiliki keturunan luar negeri.

“Apa karena Cwen yang bukan asli Indonesia?”

Diam. Yang menandakan jika ucapan kepala sekolah benar. Karena Cwen bukan asli orang Indonesia.

Kepala sekolah menghela napas kasar,“walaupun Cwen bukan asli Indonesia, memangnya kenapa? Ia sekolah di sini, dan menjadi siswa di sini. Orang tuanya membayar sekolah Cwen, membayar semua pengeluaran untuk sekolah Cwen. Kenapa dia tidak di perlakukan sama seperti kalian memperlakukan siswa lain?”

“Maaf, pak, kamu janji tidak akan mengulangi hal sama,”

“Kami akan langsung meminta maaf kepada orang tua Cwen dan juga Cwen, kami benar-benar menyesal telah melanggar aturan sekolah ini pak,”

“Saya juga minta maaf pak, Setelah ini saya akan memperbaiki sikap saya dan juga adil terhadap semua siswa di sini termasuk Cwen pak,”

Ansel menatap sindy, ia masih diam dan menundukkan kepalanya.

“S-Saya juga minta maaf pak,”

“Saya mau masalah ini selesai hari ini, panggil orang tua Cwen, dan kalian yang melakukan rasis kepada Cwen, harap segera minta maaf kepada orang tuanya dan juga Cwen sendiri, walaupun umurnya maish sangat belia, kita tidak tahu bagaimana perasaannya sewaktu kalian melakukan rasis kepadanya,”

Beberapa guru yang mengaku salah mengangguk, mengiyakan perintah sang kepala sekolah.

“Bagaimana pak Ansel?”

Kepala sekolah menatap Ansel yang cukup tenang di kursinya.

“Cukup pak, saya rasa mereka sudah menyadari kesalahannya dan juga merasa bersalah, saya harap sekolah ini lebih tegas dalam peraturan yang harus di taati oleh orang-orang yang berada di sekolahan, terutama kepada para pengajar yang dimana mereka adalah contoh untuk siswa di sini,”

Semua guru yang berada di dalam ruangan itu menghela napas lega. Jujur saja mereka merasa tegang selama proses rapat itu berlangsung, apalagi melihat wajah serius kepala sekolah dalam hal rasisme.

Ansel melirik Sindy yang duduk di hadapannya, wajahnya tampak biasa saja, bahkan sama sekali tak terlihat merasa bersalah.

***

Jenia kembali berdebar saat dirinya kembali di panggil oleh pihak sekolah, padahal ia sedang ada casting, tapi langsun ia batalkan begitu Ansel menelpon dirinya dan mengatakan jika ia mendapatkan panggilan dari sekolah.

Jenia sedikit berkeringat dingin saat ia masuk ke dalam ruangan yang di mana, ada beberapa guru juga yang duduk berjajar di deretan kursi sebelah guru BK.

Jenia juga melihat Cwen yang duduk bersebelahan dengan Ansel, melihat keberadaan Cwen di dalam ruangan, pikiran Jenia langsung melayang kepada beberapa cerita yang Ansel ketakan kepadanya. Masalah putrinya saat berada di dalam kelas.

Apakah Cwen kembali membuat masalah di dalam kelas? Jika ia, Jenia akan menjadi orang yang paling depan membela putrinya, karena Jenia tahu, jika teman-temannya lebih dulu menjahili Cwen.

Tapi pikiran itu langsung buyar begitu saja, ketika satu persatu guru yang duduk berjajar itu meminta maaf karena telah melakukan rasisme kepada Cwen, bahkan mereka juga meminta maaf kepada Cwen secara langsung.

Jenia diam, jadi ia di panggil ke sekolah untuk mendenar permintaan maaf dari beberapa guru Cwen yang melakukan rasisme kepada putrinya? Dada Jenia merasa panas, tidak menyangka Jika putrinya terkena rasis di sekolahannya, bahkan oleh gurunya sendiri.

Karena yg Jenia tahu, hanya Sindy, guru matematika saja yang melakukan Rasis terhadap Cwen, nyatanya masih banyak guru yang rasis terhadap putrinya. Sakit sekali Jenia mendengar putrinya terkena Rasis seperti itu.

“Kalian benar-benar tidak pantas menjadi guru, tidak ada seorang guru yang rasis terhadap muridnya sendiri.”ucap Jenia menatap mereka datar, ia marah, sangat marah, bukan hanya kepada para guru yang melakukan rasis kepada Cwen itu, tapi juga kepada dirinya sendiri.

Karena, kenapa ia tidak pernah tahu jika putrinya terkena rasis banyak guru di sekolah?

1
Lailatul Maulida
lanjut kak thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Ilham
lanjut BG cerita Pertaman nya aku suka cwen ceria sekali bg
Lailatul Maulida
bagus ceritanya ringan pokoknya suka lah 😁
Lailatul Maulida
lanjut kak autor
seru ceritanya
Lailatul Maulida
pecat bu sindy nya thor guru kok Rasis sama bully muridnya
Lailatul Maulida
kasihan cwen di bully di sekolahnya 🥲
Lailatul Maulida
semangat kak thor
Lailatul Maulida
bapak gedeng sukanya nuntut doang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!