"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUTAN YANG GAGAL
Pagi hari, berselang beberapa hari setelah kedatangan Tiara, suasana mansion jauh lebih tenang dari biasanya. Jasmine yang selalu mengajak Anjani untuk berkebun dan berbelanja, Fero dan Arnold yang hanya melihat kesenangan dua wanita itu.
Seperti malam hari ini, saat makan malam tiba. Anjani yang sedang menunggu kepulangan Arnold di teras rumah sembari menggendongnya anak kucing yang suaminya bawa tadi siang. Anjani tak meminta, namun pria itu tahu persis apa yang di inginkan oleh istrinya.
Anak kucing persia terlihat nyaman di gendongan Anjani, gadis itu mengelus bulu lebat peliharaannya. Kelvin yang berjalan dari gerbang depan menuju teras, mengerut bingung melihat Anjani.
"Anjani?" Panggilnya. Anjani tersenyum menyambut kedatangan sahabat Arnold itu. Ia cukup akrab dengan Kelvin di beberapa kali kesempatan.
"Selamat malam, Kelvin." sapa Anjani melihat sekitaran mencari keberatan suaminya. "Arnold?"
"Kami beda mobil, dia ada di belakang."
Anjani mengangguk paham dan kembali terduduk di teras. Kelvin menggaruk tengkuknya, sangat jarang ia melihat gadis berpakaian daster dengan bagian dada sedikit terbuka. Ia tahu Anjani sangat terbiasa menggunakan pakaian itu.
"Lebih baik kamu masuk, Anjani. Di luar sangat dingin habis hujan," ujar Kelvin cukup perhatian. Ia tidak ingin mengabaikan istri atasannya, tapi ia juga tidak ingin terkena marah.
"Kamu masuk saja dulu, apakah kamu akan menginap?"
Kelvin menggeleng, "aku hanya mengambil laptop ku saja. Aku akan masuk sebentar, jangan berlama-lama di luar."
Anjani menatap kepergian Kelvin dan menatap suasana mansion yang sepi dan sedikit gelap. Hari sudah larut, namun Arnold tak kunjung datang atau menelponnya. Anjani memilih untuk menunggu di ruang tamu, tapi langkahnya terhenti setelah itu.
"Sayang?"
Anjani menurunkan kucingnya dan memeluk tubuh Arnold yang baru saja keluar dari mobil. "Aku khawatir, kenapa pulang larut?"
Arnold yang terkejut karena pelukan Anjani tiba-tiba, seketika mengulas senyuman manis. "Aku membawakan kamu ini,"
Anjani menatap buket bunga mawar berukuran besar itu. Arnold mengeluarkan buket itu dan mengecup kening Anjani. "Dalam rangka apa?" Tanya Anjani bingung.
"Kita akan pergi berbulan madu," bisik Arnold membuat bulu kuduk Anjani berdiri. Gadis itu terkekeh geli, ia jadi mengerti bahasa yang aneh karena Arnold. Tentu saja ia mengerti apa yang di inginkan Arnold setelah ini.
"Baiklah, kita akan kemana?"
"Rahasia," Arnold mengajak Anjani untuk masuk. Kelvin membungkuk melihat kedatangan Arnold.
"Dia mengambil laptop," kata Anjani. takut kalau Arnold salah paham dengan keberadaan Kevin malam seperti ini di mansion.
"Pulanglah Kevin, kamu besok aku berikan libur."
Kelvin mengulas senyuman lebar, "really?"
Setelah hampir mengabdi lima tahun bekerja dengan Arnold, baru kali ini atasannya memberikan libur secara langsung. Itu artinya setelah libur, Kelvin akan lembur karena Arnold akan mengajak istrinya berbulan madu. Ia tahu rencana atasannya.
"Pulanglah,"
Kelvin bergegas pergi dengan senang. Anjani menaikkan alisnya bingung, "Kelvin kenapa?"
"Lupakan itu. Ayo kita istirahat,"
...****************...
Anjani mengernyitkan dahinya saat mendengar sesuatu yang sedikit menganggu tidurnya. Ia melihat Arnold tampak terburu-buru di pagi buta yang bahkan matahari saja belum terbit. Dengan pakaian berserakan di bawah, Anjani membaluti tubuhnya dengan selimut dan turun dari ranjang.
"Arnold, ada apa?" tanya Anjani dengan mata sayunya. Arnold menoleh dan mengacak rambutnya dengan wajah frustasi.
"Tidak ada," Arnold tidak ingin membuat Anjani terbebani. "Istirahat lah, hari masih sangat pagi."
Anjani menggeleng dan menatap wajah Arnold yang terlihat tak biasanya. "Jangan berbohong kepada ku, Arnold."
Arnold memejamkan matanya dan langsung memeluk tubuh telanjang Anjani. Menghirup bau tubuh istrinya, "aku harus ke perusahaan cabang hari ini."
"Tiba-tiba saja? Apakah ada masalah di sana?"
Arnold mengangguk, "perusahaan ku mengalami masalah."
Anjani hanya diam, ia akhirnya tidak tahu apa yang harus di lakukan. Ia tak terlalu mengerti dengan bisnis. "Pergilah,"
Arnold menggeleng kecil, "tapi aku sudah berjanji akan berbulan madu kepada mu."
Pria itu memang berniat mengajak Anjani berbulan madu besok, bahkan semua sudah Kevin persiapkan termasuk tiket pesawat dan booking hotel. Tapi keberangkatan mereka harus di tunda atau bisa di bilang kejutan yang gagal. Anjani tidak ingin egois, ia tidak mungkin meminta Arnold meninggalkan perusahaannya.
"Aku tidak apa, Arnold. Pergilah, aku akan menunggu kamu pulang."
"Maafkan aku, aku janji akan menyelesaikan masalah ini dengan segera."
Akhirnya mereka berdua kembali dengan aktifitas panas di atas ranjang, Arnold tak membiarkan Anjani untuk berhenti mengeluarkan suara indahnya, di setiap inci tubuh Anjani terdapat banyak tanda merah. Arnold ingin memperlihatkan kepada seluruh orang, kalau Anjani adalah miliknya seorang.
Setelah menuntaskan hasrat, Arnold menggendong Anjani untuk berendam di bathtub kamar mandi. Anjani mulai di buat kehilangan akal karena ulah Arnold, bukan rasa sakit lagi tapi rasa nikmat yang ia rasakan sekarang. Menyandarkan kepalanya di bahu bidang Arnold dan menikmati pijatan lembut pria itu.
"Bagaimana kalau kamu ikut saja?"
Anjani terkekeh kecil, Arnold tiba-tiba saja berubah pikiran. Ia khawatir kalau harus meninggalkan Anjani di mansion besar walaupun ada kedua orang tuanya, tapi kedatangan Tiara tidak dapat di prediksi. Ia takut wanita itu akan menyakiti istrinya.
"Mama pasti tidak akan memberikan izin, Mas."
Arnold mencolek pipi Anjani dengan gemas, ia sangat menyukai panggilan itu. "Tapi aku tidak bisa jauh dari kamu,"
"Aku akan datang berkunjung dengan Mama setelah semuanya aman, Mas."
Arnold hanya menghela napas, ia harus mengalah kali ini. Lagipula ia tidak akan lama di kota orang, ia akan mengawasi gerak-gerik keluarga Airlangga dan tentu saja gerak-gerik Tiara juga. Wanita itu bisa saja berbuat nekat seperti beberapa hari lalu.
"Bila Tiara datang, kamu harus segera menelepon ku. Okay?"
Anjani hanya mengangguk paham, "Bukankah kalian sepupu? Tapi kenapa aku melihat kalian tidak akrab?" tanya Anjani.
Arnold langsung terdiam, mungkin ia harus mulai mengupas tentang masa lalunya. Mengapa dan kenapa ia begitu membenci Tiara. Anjani menadah dan berbalik badan, terduduk di pangkuan Arnold, membuat pria itu sedikit terkejut.
"Kejadiannya sudah sangat lama, Sayang. Yang terpenting adalah ada hal yang belum siap aku ceritakan,"
Anjani tak memaksa. mereka berdua keluar dari kamar mandi dan Anjani membantu Arnold untuk bersiap-siap. Ia mulai bisa membuat dasi yang Jasmine ajarkan kepadanya dan membuat penampilan Arnold jauh lebih rapi dan tampan. Penampilan bertolakbelakang pria itu membuat Anjani sungguh paling. Rambut hitam legam yang sungguh lebat itu tertata rapi.
"Hubungin aku bila kamu sudah tiba," Anjani menyemprotkan sedikit parfum dan mencubit pelan pipi suaminya. Arnold benar-benar dibuat berbunga-bunga setiap hari dengan tingkah laku istrinya.
"Ayo, Mama dan Papa sudah menunggu."
Mereka berdua turun dan menyapa kedua orang tua dari Arnold. Fero dan Jasmine sudah mengetahui tentang masalah perusahaan Arnold, bukan dari Kevin melainkan Berta, Ayah Kevin yang sudah lebih dulu memberitahu. Sarapan mereka semua sangat tenang, Fero dan Arnold yang sesekali beradu argument membuat Anjani menaruh iri.
"Aku tidak akan lama di sana,"
Anjani mengangguk dan membalas pelukan suaminya. Ini pertama kalinya Anjani berjauhan dengan Arnold, walaupun diikuti dengan perasaan tidak rela, namun ia tidak bisa melakukan apapun.
"Aku akan selalu menunggu mu, Arnold."
Jasmine yang memperhatikan kemesraan anak dan menantunya, seketika menoleh kearah suaminya yang sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Wajah pria itu hanya datar dan sesekali melirik jam tangannya.
"Ekhem,"
Anjani tertawa begitu juga dengan Jasmine yang menahan tawanya. Fero benar-benar lucu karena tidak bereaksi apapun melihat kemesraan anak-anaknya.
Kejutan yang gagal. Menyebalkan.