NovelToon NovelToon
ISTRI JAMINAN CEO

ISTRI JAMINAN CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gendis Pitaloka

Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.

​Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.

​"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"

​Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Sandiwara

​"Sudah selesai bersoleknya?" suara bariton Arkan menginterupsi dari ambang pintu.

​Kanaya berbalik. Arkan berdiri di sana, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna mengikuti lekuk bahunya yang tegap. Pria itu tidak tersenyum. Ia hanya menatap Kanaya dengan pandangan menilai, seolah sedang memeriksa kualitas barang yang baru saja ia beli.

​"Harus sejauh ini? Ini hanya makan malam, bukan pesta pernikahan mewah," cetus Kanaya sambil mencoba membetulkan tali gaunnya yang terasa tidak nyaman.

​"Ini bukan sekadar makan malam, Kanaya. Ini deklarasi," bisik Arkan tepat di telinga Kanaya. "Para komisaris itu adalah hiu. Mereka sudah mencium bau darah sejak ayahmu ditangkap. Kalau mereka melihat celah sedikit saja bahwa pernikahan kita palsu, mereka akan menyerangku. Dan jika aku jatuh, ayahmu akan menjadi orang pertama yang aku hancurkan."

​"Aku tahu tugas dan peranku. Kamu tidak perlu terus-menerus mengancamku dengan keselamatan Ayah."

​"Bagus kalau kamu sadar. Mulai detik ini, panggil aku Arkan. Lupakan kata 'Anda' atau 'Tuan'. Dan yang paling penting, hilangkan tatapan benci itu dari matamu. Berlatihlah menatapku seolah-olah aku adalah satu-satunya oksigen yang kamu butuhkan untuk bernapas."

​Kanaya menarik napas panjang, mencoba meredam amarah yang bergejolak di dadanya. "Aku bukan aktris, Arkan."

​"Kamu harus menjadi aktris terbaik malam ini. Atau besok pagi kamu akan melihat ayahmu kembali memakai rompi oren itu." Ayo berangkat. Mobil sudah menunggu.

​Restoran mewah di puncak gedung itu telah dipesan secara privat. Suasananya begitu sunyi, hanya ada denting piano pelan yang menambah kesan eksklusif. Di meja panjang di tengah ruangan, tiga pria paruh baya dengan wajah kaku dan pakaian formal sudah menunggu. Mereka adalah dewan komisaris yang memiliki saham besar di Arkan Group.

​Saat Arkan masuk dengan menggandeng tangan Kanaya, suasana mendadak senyap. Kanaya bisa merasakan belasan pasang mata menatapnya dengan penuh selidik. Ia mengeratkan pegangannya pada lengan Arkan, mencoba mencari kekuatan semu di sana.

​"Selamat malam, Tuan-tuan," ucap Arkan dengan nada suara yang sangat ramah, sebuah topeng yang sangat sempurna. "Maaf membuat kalian menunggu. Perkenalkan, ini Kanaya. Istriku."

​Kanaya memaksakan senyum paling manis yang ia miliki. "Selamat malam. Senang bertemu dengan kalian."

​"Istri?" salah satu komisaris yang paling senior, Pak Geraldy, mengangkat alisnya tinggi. Ia meletakkan gelas anggurnya dengan dentingan yang sengaja dikeraskan. "Seingat saya, minggu lalu kamu masih melajang, Arkan. Dan kenapa wanita ini... wajahnya sangat familiar? Bukankah dia putri dari Baskara, akuntan yang baru saja kita jebloskan ke penjara?"

​Jantung Kanaya seakan berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mendadak dingin. Ia tidak menyangka serangan itu akan datang secepat ini.

​Arkan justru tertawa pelan, suara tawanya terdengar sangat tulus hingga Kanaya hampir tertipu. Arkan membawa tangan Kanaya ke bibirnya, mengecup punggung tangan itu dengan lembut di depan semua orang.

​"Itulah alasan kenapa saya segera menikahinya, Pak Geraldy. Justru karena saya tahu Baskara tidak bersalah. Saya sudah melakukan investigasi internal, dan saya menemukan adanya manipulasi sistem oleh pihak ketiga yang ingin mengadu domba saya dengan orang kepercayaan saya. Saya menikahi Kanaya sebagai bentuk perlindungan dan komitmen saya untuk membersihkan nama mertua saya."

​"Investigasi internal? Kenapa kami tidak diberitahu?" tanya komisaris lain dengan nada tidak percaya.

​"Karena saya tidak ingin tikusnya lari sebelum saya memasang perangkap," jawab Arkan dengan tatapan tajam yang membuat komisaris itu terdiam. Arkan kemudian menoleh pada Kanaya, tatapannya berubah menjadi sangat teduh. "Sayang, kamu mau minum apa? Air putih atau lemon tea? Ingat kata dokter, kamu jangan terlalu lelah dulu."

​Kanaya tersentak. Dokter? Apa yang sedang dibicarakan pria ini? "Air putih saja, Arkan. Terima kasih."

​Makan malam berlangsung penuh tekanan. Arkan benar-benar menjalankan aktingnya sebagai suami idaman. Ia memotongkan daging untuk Kanaya, mengusap sudut bibir Kanaya dengan serbet, bahkan membisikkan candaan kecil yang membuat Kanaya terpaksa tertawa. Di mata orang luar, mereka adalah pasangan yang sedang dimabuk cinta. Namun bagi Kanaya, setiap sentuhan Arkan terasa seperti cakaran di hatinya.

​"Kamu melakukan pekerjaan bagus," bisik Arkan saat mereka izin ke toilet sejenak.

​"Aku merasa jijik pada diriku sendiri," balas Kanaya dingin begitu mereka berada di lorong yang sepi menuju toilet. "Sampai kapan sandiwara ini harus berlanjut?"

​"Sampai posisiku benar-benar aman dari serangan mereka. Dan sampai kamu sadar bahwa tidak ada tempat yang lebih aman bagimu selain di sampingku," Arkan menyandarkan tubuhnya di dinding, menatap Kanaya dengan angkuh.

​Namun, saat mereka hendak kembali ke meja makan, langkah mereka terhenti oleh sekelompok orang yang baru saja masuk ke area restoran. Kanaya mematung. Di sana, berdiri Vandiko dengan Clarita yang bergelayut manja di lengannya.

​Vandiko tampak terkejut melihat Kanaya yang tampil begitu glamor dan berkelas. Matanya membelalak, lalu ia tertawa mengejek.

​"Wah, wah... lihat siapa yang ada di sini. Kanaya?" Vandiko berjalan mendekat dengan gaya angkuh. "Ternyata benar kata orang, wanita miskin kalau sudah kepepet memang cepat sekali cari 'peliharaan'. Ngapain kamu di sini? Jualan diri buat bayar pengacara ayahmu yang maling itu?"

​Wajah Kanaya memucat. Rasa malu dan marah bercampur aduk menjadi satu. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.

​"Jaga mulutmu, Alister," suara Arkan berubah menjadi dingin dan sangat rendah, tanda bahaya yang sangat nyata.

​Vandiko tidak menyadari siapa pria di samping Kanaya karena pencahayaan yang agak remang di lorong itu. "Eh, ada Om-om pelindungnya ya? Hati-hati Om, bapaknya dia itu narapidana. Gen pencuri itu biasanya menurun."

​Bugh!

​Satu pukulan mendarat di rahang Vandiko. Suara hantamannya terdengar sangat keras di lorong yang sunyi itu. Vandiko tersungkur ke lantai, menabrak meja pajangan hingga vas bunganya pecah berantakan. Clarita menjerit histeris.

​"Vandiko! Kamu nggak apa-apa?" teriak Clarita ketakutan.

​Arkan tidak berhenti di situ. Ia melangkah maju, menjambak kerah kemeja Vandiko dan menariknya hingga pria itu terpaksa mendongak. "Dia bukan hanya 'istri' saya," desis Arkan tepat di depan wajah Vandiko yang mulai berdarah. "Dia adalah Nyonya Arkan Dirgantara. Berani kamu menghinanya lagi, aku pastikan keluarga Alister kehilangan seluruh asetnya dan kamu akan tidur di kolong jembatan besok pagi."

​Vandiko gemetar hebat saat menyadari siapa yang baru saja ia hina. "A-Arkan? Pak Arkan? Maaf... saya nggak tahu... saya benar-benar minta maaf..."

​"Keluar. Sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan lehermu," perintah Arkan tanpa emosi.

​Vandiko segera bangkit, mengabaikan Clarita yang masih terpaku, dan lari terbirit-birit keluar dari restoran.

​Arkan berbalik ke arah Kanaya yang masih berdiri mematung dengan tubuh gemetar. Bukannya menenangkan, Arkan justru menatap Kanaya dengan tajam. Ia menarik lengan Kanaya dengan kasar, membawanya sedikit menjauh dari kerumunan pelayan yang mulai mendekat.

​"Lihat? Itu pria yang kamu tangisi sampai matamu bengkak kemarin. Sangat memalukan," ucap Arkan penuh penghinaan.

​"Kenapa kamu harus memukulnya? Kamu hanya memperkeruh suasana!" Kanaya menyentak lengannya, air mata mulai menggenang di matanya.

​"Aku melakukannya bukan untuk membelamu, Kanaya. Jangan terlalu percaya diri," Arkan mendekatkan wajahnya, "Aku melakukannya karena dia telah merusak properti milikku. Tidak ada satu pun orang yang boleh merendahkan apa yang sudah aku beli dengan harga mahal. Mengerti?"

​Kanaya terdiam. Rasa sakit di hatinya kembali berdenyut, jauh lebih perih daripada saat ia melihat Vandiko berselingkuh. Di mata Arkan, dia tetaplah barang dagangan. Sebuah jaminan perusahaan yang harus dijaga kualitasnya agar tetap terlihat berharga.

​"Ayo kembali ke meja," ucap Arkan, jangan buat para komisaris itu menunggu terlalu lama. Tunjukkan pada mereka kalau kamu adalah istri yang paling bahagia di dunia, atau ayahmu akan menerima konsekuensi atas air matamu ini."

​Arkan merangkul bahu Kanaya dengan protektif. Setiap orang di sana menatap mereka dengan kagum, tidak tahu bahwa di balik rangkulan itu, ada cengkeraman kuat yang memperingatkan Kanaya untuk tetap pada perannya.

​Malam itu, Kanaya menyadari satu hal yang mengerikan. Arkan jauh lebih berbahaya daripada Vandiko. Vandiko hanya menghancurkan hatinya, tapi Arkan... pria itu sedang perlahan-lahan menghancurkan jiwanya.

1
Fitri Zee
wih galak woy
Fitri Zee
hai aku mampir
Gendis Pitaloka: Hai.. terimakasih ya sudah mampir semoga suka dengan cerita nya ❤️
total 1 replies
sindi
thor, lanjut nulisnya udah gasabar lagi baca kelanjutannya
Gendis Pitaloka: Besok pagi update lagi,masih di ketik ini 😁
total 1 replies
fara sina
Lanjut kak. semangat terus nulisnya 🥰🥰🥰
Gendis Pitaloka: Harus selalu semangat 🤩
total 1 replies
fara sina
sudah kuduga emang Arkan sengaja biarin kamu gitu nay. duhhh mnaa ini kedua kalinya kamu gini nay.
fara sina
malah aku mikir justru Arkan sengaja membiarkan kamu masuk ke kantornya hari itu. pls jangan gegabah lagi nay.
fara sina
waduh, aku pikir bakal bela Kanaya ternyata gini. ibunya Arkan juga perlakuan ke Kanaya terlalu merendahkan. semoga cepet selesai kontraknya nay. pasti gabetah ngadepin kehidupan kaya gini
fara sina
💪💪💪 semangat.btw kamu seyakin ini nay? urusannya sama Arkan. tapi aku masih bingung sama Arkan sebenernya baik apa jahat
fara sina
Arkan emang CEO pria jenius pantes dijuluki. gini ajah gerak Kanaya udah ketebak 🤭
fara sina
belajar dari kesalahan nay
fara sina
hampir ajah Kanaya percaya. bau bau Arkan sebenernya ga jahat
fara sina
kan jadi gini😭 Arkan serem ya kalo marah begini
fara sina
tetep waspada nay.
fara sina
menarik nih. bagus
fara sina
bahaya kalo jebakan jangan kesana sendirian nay. takutnya mata mata komisaris yang jahat
fara sina
aktingnya keren banget ya Arkan
fara sina
waduh ada skenario lengkap nay kamu siap siap jadi aktris lagi yang di sutradara Arkan 😭
fara sina
hati hati Kanaya jangan sendirian bahaya
fara sina
sudah kuduga sepertinya Arkan gak sejahat yang dikira kamu Naya.
fara sina
anggapa ajah kamu sedang kerja untuk Arkan. Harus professional. gausah dimasukin ke hati omongan yang nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!