Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lakukan Atau Terjebak Selamanya!
Li Hua dan Shu Hua sangat mengerti dengan penjelasan yang Guru Bai Yun katakan, tetapi saat itu satu hal mengganjal hati Shu Hua.
"Jadi kami berdua dikirim ke sini untuk mencegah musibah yang akan terjadi. Dan kami berdua juga harus mempertaruhkan nyawa kami untuk itu. Dan saat kami melakukan semua itu, apa yang akan kami dapatkan? Kami bahkan tidak tahu bagaimana caranya pulang! Disaat di sini kami membantu orang-orang agar keluarga mereka tetap utuh, lalu bagaimana dengan keluarga kami? Bukankah ini tidak adil?" tanya Shu Hua.
Pemikiran Shu Hua tidak salah. Shu Hua hanya berusaha untuk melihat dari sisi yang berbeda.
"Kamu tenang saja, Shu Hua. Kalian berdua tidak akan terjebak di sini selamanya. Kalian pasti akan bisa kembali kepada keluarga kalian di dunia kalian yang sebenarnya," ungkap Guru Bai Yun.
Mendengar jawaban itu, Shu Hua senang dan langsung merasa bersemangat!
"Benarkah? Bagaimana caranya? Bagaimana caranya kami bisa kembali?" tanya Shu Hua dengan sangat antusias.
"Hanya ada satu cara. Kalian harus menyelesaikan 100 musibah yang akan datang. Jika kalian berhasil dan tetap hidup sampai saat itu, kalian akan kembali ke dunia kalian," jawab Guru Bai Yun.
"Lalu, bagaimana jika salah satu dari kami tidak selamat saat belum mencapai target itu?"
"Maka orang itu juga tidak bisa kembali. Kalian berdua harus sama-sama selamat untuk bisa kembali."
Baru saja diberikan harapan yang indah, tiba-tiba harapan itu kini dihancurkan oleh fakta yang begitu menyakitkan.
"Lalu, apakah dalam tahun-tahun sebelumnya ada orang yang berhasil melakukan tugas itu dan kembali ke dunia mereka kembali dengan selamat?" tanya Shu Hua, setidaknya ia ingin mendengar ada berhasil melakukan hal mustahil itu.
"Dulu... dulu sekali, ada yang berhasil menyelesaikan semua tugas dan kemudian kembali ke dunia mereka sendiri," jawab Guru Bai Yun.
"Berapa kali ada yang berhasil?"
"Setahuku, hanya satu kali."
"Apa?!"
"Lalu, bagaimana dengan yang lain?"
"Beberapa tidak bisa kembali karena tidak sempat menyelesaikan tugas mereka. Beberapa lagi tidak bisa kembali karena salah satu dari mereka tidak selamat, dan juga beberapa yang memilih untuk tetap tinggal dan melepaskan kesempatan untuk kembali."
"Kenapa mereka melakukan hal bodoh seperti itu? Mereka memilih tetap tinggal di tempat ini? Apa itu sungguh benar-benar terjadi?" Shu Hua merasa tidak percaya dengan hal itu, tetapi itulah kebenarannya. Guru Bai Yun tidak sedang mengada-ngada cerita.
"Cinta memang seringkali membuat seseorang menjadi bodoh. Dan saat kamu jatuh cinta, saat itu barulah kamu menyadari bagaimana cinta bisa merubahmu menjadi bodoh dan tidak berpikir tentang hal lain selain cinta."
Shu Hua menghela napas panjang.
"Jika itu aku... aku tidak akan mengambil keputusan bodoh seperti itu. Aku tidak akan jatuh cinta dan mencintai siapapun di tempat ini. Dan Kakak pun juga harus melakukan hal yang sama! Kita harus kembali! Demi Kakek, demi Nenek, dan demi orangtua kita!" tekan Shu Hua kepada sang Kakak, Li Hua.
"Baiklah. Kakak mengerti apa yang kamu inginkan. Dan, Guru Bai... terima kasih banyak karena sudah mau menerima kami berdua untuk tinggal di sini. Dan terima kasih juga karena sudah bersedia melatih kami," ucap Li Hua dengan suara yang tenang dan lemah lembut.
"Tidak perlu sungkan. Ini sudah menjadi tugasku membimbing kalian, orang-orang pilihan. Dan Mei pun juga akan ikut membantu. Dan sebaiknya, kalian segera membersihkan diri, lalu istirahat. Latihan akan kita mulai besok pagi." Setelah memberikan arahan kepada Li Hua dan Shu Hua, Guru Bai Yun pergi ke ruangannya sendiri.
Dan saat itu, Shu Hua mandi lebih dulu, kemudian Li Hua dan selanjutnya, Mei mempersiapkan alas dan juga bantal untuk mereka bertiga tidur bersama dengan tenang malam itu.
Baru saja berbaring, Mei langsung tertidur pulas, dan hal yang sama pun juga terjadi kepada Li Hua. Dan di saat yang sama, Shu Hua tidak bisa tidur. Setiap kali Shu Hua menutup mata, ia kembali melihat tangannya yang kotor penuh dengan darah.
Wajah Shu Hua berkeringat dingin. Ia bangun dari tidurnya; malam itu seperti biasa Shu Hua tidak akan bisa tidur lagi.
Dengan langkah yang berat, Shu Hua berjalan keluar pondok itu. Shu Hua duduk di atas altar yang ada di depan pondok Guru Bai Yun. Di sana Shu Hua berbaring, menatap langit malam yang penuh dengan bintang.
Shu Hua menghela napas panjang, lalu tiba-tiba terdengar suara seseorang mendekat, dan hampir saja Shu Hua mengeluarkan senjatanya; tetapi hal itu tidak Shu Hua lakukan karena mendengar suara yang akrab di telinga.
"Guru Bai! Hampir saja aku mengarahkan senjata kepada Guru Bai," ucap Shu Hua. Ia merasa lega karena tidak melakukan hal itu.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Guru Bai Yun.
"Iya."
"Yang terjadi memang sangat mengejutkan. Semua ini baru bagimu, dan mungkin selama ini tidak pernah terpikir olehmu untuk membunuh seseorang. Tetapi di dunia yang kamu tempati sekarang, pembunuhan adalah hal wajar. Itu adalah suatu tindakan untuk bertahan hidup. Ada istilah; membunuh, atau dibunuh. Itulah yang terjadi." Guru Bai Yun berusaha untuk sedikit menghibur Shu Hua.
"Kamu tidak melakukan hal yang salah, Shu Hua. Kamu hanya ingin melindungi Kakakmu. Kamu sudah sangat luar biasa bisa menahan semua perasaan tidak nyaman itu. Dan sekarang, cobalah untuk mulai menerima takdir ini. Jika sudah kamu terima, siapa tahu... mungkin semua akan berjalan lebih baik bagi kamu ke depannya."
Mendengar nasehat itu, Shu Hua hanya bisa menganggukkan kepalanya. Kemudian, Guru Bai Yun memberikan Shu Hua segelas ramuan yang Guru Bai Yun buat khusus untuk masalah sulit tidur Shu Hua.
"Minum ramuan ini. Setelah meminum ini, kamu akan jauh lebih tenang," kata Guru Bai Yun.
"Ini apa?" Shu Hua tidak langsung meminum ramuan itu, mencium aromanya lebih dulu.
"Itu ramuan untuk gangguan tidur kamu. Coba saja dulu, siapa tahu kamu bisa jauh lebih tenang setelah meminumnya," ujar Guru Bai Yun.
"Tapi dari baunya, sepertinya obat ini pahit," rengek Shu Hua yang memang tidak bisa meminum obat yang pahit.
"Hanya sedikit pahit. Tidak masalah. Coba saja dulu. Yang penting itu khasiatnya!" seru Guru Bai Yun, memaksa Shu Hua untuk meminum obat itu, dan akhirnya Shu Hua pun terpaksa meminum habis obat pahit itu.
Dan setelah beberapa saat meminum obat itu, Shu Hua mulai merasa ngantuk. Dan karena rasa ngantuk itu, Shu Hua kembali ke dalam pondok, berbaring di samping Li Hua sambil memeluknya dengan erat dan kemudian tanpa sadar Shu Hua mulai menutup matanya dan tertidur pulas untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak pernah tidak pulas sejak tiba di negeri itu!
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄