NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Elvara Mulai Goyah

Pagi itu datang dengan tenang, tetapi bagi Elvara, ketenangan justru terasa menekan. Cahaya matahari masuk melalui jendela apartemen kecilnya, menyentuh lantai kayu dan meja makan yang masih menyisakan cangkir teh semalam, seolah mengingatkan bahwa malam yang panjang sudah lewat tetapi beban di dadanya belum ikut pergi. Rheon sudah berangkat ke daycare dengan wajah yang kembali cerah setelah demamnya turun, dan untuk sesaat Elvara ingin percaya bahwa hari ini akan berjalan biasa saja, tanpa kejutan, tanpa tekanan, tanpa tatapan yang membuatnya tidak nyaman.

Namun pikiran itu tidak bertahan lama, karena begitu ia berdiri di depan lemari, realitas kembali datang pelan tetapi pasti. Tangannya berhenti di satu blazer abu-abu yang biasa ia pakai ke kantor, jari-jarinya menyentuh kain itu tanpa benar-benar mengambilnya, seolah keputusan kecil seperti memilih pakaian pun terasa lebih berat dari biasanya. Langkahnya tertahan bukan karena malas bekerja atau karena kelelahan fisik, melainkan karena bayangan seseorang yang terus muncul sejak beberapa hari terakhir.

Zayden.

Nama itu muncul tanpa diundang, membawa serta semua ingatan yang membuatnya tidak tenang. Ia menutup mata sejenak, mencoba mengatur napas sambil mengingat kembali detail yang tidak bisa ia abaikan, mulai dari cara pria itu menatap Rheon terlalu lama, cara ia memperhatikan hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting, sampai bagaimana ia mulai menyusun potongan yang selama ini Elvara jaga rapat. Kecurigaan itu tidak lagi samar, tidak lagi bisa disamarkan sebagai kebetulan, karena sekarang sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih jelas dan lebih berbahaya.

Elvara menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengambil blazer itu dan mengenakannya dengan gerakan yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Ia tahu ia tidak bisa terus menghindar, setidaknya belum sekarang, karena ada terlalu banyak hal yang belum siap ia tinggalkan begitu saja. Namun di sisi lain, ia juga sadar waktu yang ia miliki mungkin tidak sebanyak yang ia kira.

Ia tetap harus pergi ke kantor, meskipun setiap langkah terasa seperti mendekatkan dirinya pada sesuatu yang selama ini ia hindari.

---

Kantor terlihat seperti biasa, dengan aktivitas yang berjalan tanpa gangguan dan suara percakapan ringan yang bercampur dengan ketukan keyboard. Aroma kopi yang familiar menyebar di udara, memberi kesan rutinitas yang stabil, tetapi bagi Elvara semua itu terasa sedikit berbeda, seolah ada lapisan tipis yang membuatnya terpisah dari suasana di sekitarnya. Beberapa staf menyapanya seperti biasa, sebagian lain hanya mengangguk singkat, namun ia hampir tidak benar-benar memproses semua itu karena fokusnya tertarik ke satu arah.

Ia bahkan belum sepenuhnya masuk ke ruangannya ketika sudah merasakan tatapan itu.

Bukan sekadar perasaan.

Ia tahu siapa yang melihatnya.

Saat ia mengangkat kepala, pandangannya langsung bertemu dengan Zayden yang berdiri di ujung koridor bersama Arsen, sedang berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa ia dengar. Namun perhatian pria itu sempat bergeser, hanya sebentar, cukup untuk membuat Elvara merasakan perubahan yang jelas.

Tatapan itu tidak lagi sama.

Tidak hanya dingin, tidak sekadar tegas, melainkan seperti sedang menilai sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penampilan atau sikap. Seolah Zayden sedang melihat sesuatu yang tersembunyi di balik semua yang selama ini ia tunjukkan.

Jantung Elvara berdetak lebih cepat dari yang ia inginkan.

Ia segera memalingkan wajah dan berjalan masuk ke ruangannya, menutup pintu dengan hati-hati lalu meletakkan tas di meja. Tangannya sedikit gemetar saat ia mencoba membuka laptop dan menampilkan dokumen yang seharusnya ia kerjakan, tetapi huruf-huruf di layar terasa sulit untuk dipahami.

Pikirannya terus kembali ke satu hal yang sama.

Zayden sudah terlalu dekat.

Ia tahu terlalu banyak.

Dan jika dibiarkan, ia akan tahu semuanya.

Elvara menutup laptop perlahan dan mengalihkan pandangan ke ponselnya yang tergeletak di samping. Layar menyala menampilkan foto Rheon yang ia ambil beberapa hari lalu, saat anak itu tertawa tanpa beban dengan mata yang berbinar. Senyum kecil itu langsung membuat dadanya terasa sesak, bukan karena sedih, tetapi karena kesadaran bahwa semua keputusan yang ia ambil sekarang akan berdampak pada anak itu.

Rheon adalah alasan ia bertahan sejauh ini, dan juga alasan mengapa ia tidak bisa mengambil risiko.

Ia menggenggam ponsel itu sedikit lebih erat.

---

Siang hari datang lebih cepat dari yang ia sadari, tetapi perasaan gelisahnya tidak juga mereda. Interkom berbunyi dengan suara yang terdengar lebih jelas dari biasanya, membuatnya refleks menegakkan tubuh sebelum menekan tombol.

"Masuk."

Suara Zayden terdengar dari seberang.

Nada itu datar, tetapi cukup untuk membuat napasnya sedikit tertahan.

Ia tidak langsung berdiri, memberi dirinya beberapa detik untuk mengumpulkan diri sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan dan menuju kantor CEO. Setiap langkah terasa lebih berat, bukan karena jaraknya jauh, tetapi karena ia tahu percakapan ini tidak akan sederhana.

Ia mengetuk pintu.

"Masuk."

Begitu pintu terbuka, suasana di dalam ruangan langsung terasa berbeda, lebih tenang dari biasanya tetapi juga lebih menekan. Zayden duduk di kursinya dengan sikap yang terlihat santai, namun ketenangan itu terasa seperti sesuatu yang sengaja dipertahankan.

Elvara meletakkan map di meja.

"Dokumen laporan minggu ini."

Zayden tidak langsung mengambilnya, melainkan hanya menatapnya dalam diam selama beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. Elvara menahan diri untuk tidak menunjukkan kegelisahan, meskipun ia bisa merasakan tekanan itu semakin jelas.

"Ada yang perlu direvisi?" tanyanya akhirnya.

"Tidak."

"Kalau begitu saya kembali kerja."

"Kamu terburu-buru."

Ia berhenti.

"Tidak."

"Kamu terlihat seperti ingin keluar dari ruangan ini secepat mungkin."

Elvara mengangkat dagu sedikit, mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil.

"Saya punya pekerjaan."

"Atau kamu menghindari saya."

Kalimat itu langsung mengenai sasaran tanpa perlu ditinggikan. Elvara menatapnya dengan tatapan yang tidak kalah tegas, meskipun di dalam dirinya ada ketegangan yang semakin sulit disembunyikan.

"Bapak terlalu percaya diri."

Zayden berdiri perlahan dan berjalan mendekat, setiap langkahnya terukur, tidak terburu-buru tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka semakin sempit. Elvara tetap berdiri di tempat, menolak untuk mundur, meskipun ia bisa merasakan tekanan itu semakin kuat.

"Bapak mau apa sebenarnya."

"Jawaban."

"Untuk apa."

"Karena saya tidak suka tidak tahu."

"Itu bukan masalah saya."

Zayden berhenti tepat di depannya, jarak mereka kini cukup dekat untuk membuat percakapan terasa lebih personal daripada seharusnya.

"Kamu tahu apa yang saya pikirkan sekarang."

Elvara tidak menjawab, karena ia memang tahu dan itu yang membuatnya tidak nyaman.

"Semakin saya hitung, semakin masuk akal," lanjut Zayden dengan suara yang tetap rendah tetapi lebih berat.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Tapi saya masih memberi kamu kesempatan."

"Kesempatan apa."

"Untuk menjelaskan sebelum saya memastikan sendiri."

Nada itu tidak berubah, tetapi maknanya jelas. Elvara menarik napas dalam, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang meskipun pikirannya sudah bergerak ke arah yang sama sejak tadi pagi.

"Saya tidak punya apa pun untuk dijelaskan."

"Kamu yakin."

"Iya."

Tatapan mereka bertahan beberapa detik tanpa ada yang mengalah. Namun di balik itu, Elvara tahu ia tidak bisa terus bertahan dengan cara ini, karena lawan di depannya bukan orang yang akan berhenti hanya karena penolakan.

Ia memalingkan wajah lebih dulu.

"Saya kembali kerja."

Ia berbalik dan keluar tanpa menunggu jawaban, langkahnya cepat tetapi tidak terburu-buru, seolah masih berusaha menjaga kendali atas dirinya sendiri.

---

Sepanjang sore, ia tidak benar-benar fokus pada pekerjaannya. Layar di depannya menyala dengan berbagai dokumen yang seharusnya ia selesaikan, tetapi pikirannya terus bergerak ke arah lain, menyusun kemungkinan dan mempertimbangkan risiko dari setiap pilihan yang ada.

Semakin ia memikirkan semuanya, semakin jelas satu hal yang tidak bisa ia abaikan.

Ia harus pergi.

Bukan hanya meninggalkan pekerjaan ini, tetapi juga kota ini, dan semua yang bisa membawa Zayden lebih dekat pada kebenaran. Ia membuka laptop dan mulai mencari sesuatu yang berbeda dari biasanya, bukan laporan atau data, melainkan peluang di tempat lain.

Jarinya bergerak di atas keyboard, mengetik kata kunci yang dulu pernah ia gunakan, saat ia membuat keputusan yang sama lima tahun lalu. Layar menampilkan berbagai pilihan, kota lain, pekerjaan lain, kehidupan lain yang mungkin bisa ia mulai dari awal.

Namun kali ini situasinya berbeda.

Sekarang ada Rheon.

Ia tidak bisa lagi bertindak tanpa perhitungan.

Ia tidak bisa sekadar pergi dan berharap semuanya akan baik-baik saja.

Elvara berhenti sejenak, menatap layar kosong di antara hasil pencarian, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai terasa penuh. Ia membayangkan kemungkinan terburuk jika ia tetap tinggal, membayangkan saat Zayden akhirnya menemukan semua yang ia cari.

Dan perasaan itu langsung muncul lagi.

Bukan sekadar takut.

Lebih ke kehilangan kendali.

Itu yang tidak bisa ia terima.

---

Malam hari datang dengan suasana yang lebih tenang, tetapi pikirannya tidak ikut mereda. Setelah menjemput Rheon dan memastikan anak itu makan serta minum obat, ia duduk di samping tempat tidur, memperhatikan wajah kecil yang kini terlihat damai.

Napas anak itu teratur, tubuhnya tidak lagi panas seperti kemarin, dan untuk sesaat Elvara merasa lega. Tangannya bergerak pelan, mengusap rambut Rheon dengan hati-hati, seolah sentuhan itu bisa memastikan semuanya tetap baik.

"Aku harus bagaimana..."

Suaranya sangat pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Ia tidak mengharapkan jawaban, karena ia tahu tidak ada yang bisa memberinya kepastian saat ini. Ia hanya mencoba mengeluarkan beban yang selama ini ia simpan sendiri.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri dan keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak membangunkan anak itu. Ia kembali ke ruang tamu, duduk di depan laptop yang masih terbuka, dan kembali melihat halaman yang sama.

Tangannya bergerak lagi.

Mencari.

Membandingkan.

Merencanakan.

Karena sekarang semua keputusan yang ia ambil bukan lagi tentang dirinya sendiri.

---

Di tempat lain, Zayden berdiri di depan jendela apartemennya, menatap kota yang dipenuhi cahaya lampu malam. Tangannya berada di saku, tubuhnya tegak, tetapi pikirannya jauh dari tenang.

Ia mengingat kembali setiap detail yang terjadi hari ini, dari cara Elvara menghindar hingga bagaimana ia menolak memberi jawaban. Semakin ia memikirkannya, semakin kuat keyakinannya bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Jika memang tidak ada apa-apa, tidak mungkin reaksinya sejauh itu.

Zayden menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan tatapan yang lebih tegas. Ia sudah sampai di titik di mana mundur bukan lagi pilihan, karena rasa ingin tahunya telah berubah menjadi kebutuhan untuk tahu.

Dan di sisi lain kota, tanpa saling mengetahui, Elvara sedang menyiapkan langkah yang berlawanan.

Pergi sebelum semuanya terlambat.

Dua arah yang berbeda, tetapi menuju satu titik yang sama.

Kebenaran.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!