Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18--Meruntuhkan Kesombongan Trainer Angkuh
Pak Leo melangkah mendekat dengan seringai yang merendahkan, aroma parfumnya yang terlalu tajam seolah mencoba menutupi bau keringat orang yang haus kekuasaan. Matanya menyisir kantong belanjaan bermerek yang dibawa Naufal, lalu tertawa sinis.
"Siska, Siska... Saya pikir kamu punya standar lebih tinggi. Anak baru ini? Bukannya dia yang terkenal dari brand sebelah, saingan kita brand OMNI yang terkenal itu? Terkenal miskin dan hampir dipecat itu?" Pak Leo menunjuk dada Naufal dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin batu akik besar.
"Palingan ini barang-barang KW dari pasar loak, atau dia baru saja pakai uang cicilan orang buat gaya-gayaan."
Siska gemetar, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Pak Leo, ini hari libur saya. Saya bebas jalan sama siapa saja. Dan Naufal bukan seperti yang Bapak pikirkan!"
Naufal merasakan denyut di pelipisnya. Kepintaran miliknya langsung bekerja, memindai pria di depannya. Matanya yang tajam melihat jam tangan emas Pak Leo.
Warna emasnya terlalu kuning, jarum detiknya melompat-lompat kasar.
"Puas ngomongnya, Pak?" tanya Naufal, suaranya kini terdengar begitu dalam dan berwibawa berkat.
Pak Leo tertegun sejenak. Aura Naufal terasa begitu menekan, membuatnya refleks menurunkan jari telunjuknya. "Apa kamu bilang? Kamu berani melawan saya?”
Naufal tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat elegan namun dingin.
"Kenapa gak berani? Orang kamu bukan atasan saya, melainkan trainer dari saingan brand saya.
“ Lagipula, bicara soal 'sok kaya'..."
Naufal melangkah maju, memperpendek jarak hingga Pak Leo harus mendongak.
Naufal meraih pergelangan tangan Pak Leo dengan gerakan secepat kilat.
"Jam tangan Rolex seri Day-Date emas, ya? Sayang sekali, Pak. Teksturnya kasar, dan bunyinya terlalu berisik untuk sebuah jam seharga ratusan juta. Di pasar loak jam KW ini harganya cuma lima ratus ribu, kan?"
Wajah Pak Leo memerah padam. Karena perkataan itu benar.
"L-lo tahu apa soal jam?! Ini asli!"
Naufal tidak menghiraukan gertakan itu. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan struk belanja digital dari butik perhiasan dan pakaian mewah tadi di layar depan.
"Barusan saya habiskan hampir empat puluh juta untuk hadiah teman saya ini," Naufal melirik Siska yang masih melongo.
"Dan ini struk asli dari bank, bukan hasil editan. Pertanyaannya, seorang Trainer dengan gaji tetap seperti Anda, berani menghina orang lain sementara jam di tangan Anda sendiri cuma imitasi?"
Beberapa pengunjung mall yang lewat mulai berbisik-bisik, menatap Pak Leo dengan pandangan mencemooh. Pak Leo merasa seperti sedang ditelanjangi di depan umum.
"Naufal! Kamu... kamu saya laporin ke pusat! Kamu pasti terlibat pencucian uang! Gak mungkin orang miskin kayak kamu bisa punya kekayaan begini!” teriak Pak Leo frustrasi.
"Silakan," Naufal merangkul bahu Siska dengan protektif, membuat jantung gadis itu hampir melompat keluar.
"Tapi sebelum itu, pastikan cicilan kartu kredit Anda yang nunggak tiga bulan itu dibayar dulu. Saya bisa melihat dari ekspresi panik Anda setiap kali melihat mesin EDC di kasir tadi."
[Ding!]
[Misi Darurat: 'Melindungi Rekan' Sukses!]
[Efek Karisma Meningkat: Pak Leo merasa terintimidasi secara psikologis!]
[Hadiah: Poin Kharisma +5]
"Ayo, Sis. Nggak usah dengerin gonggongan orang yang bahkan nggak mampu beli barang asli," ajak Naufal santai.
Siska hanya bisa mengikuti langkah Naufal menuju parkiran.
Begitu sampai di depan Ducati Panigale V2 hitam milik Naufal, Siska melepaskan rangkulan Naufal, wajahnya sudah benar-benar seperti tomat matang.
"Fal... lo... lo tadi keren banget, tapi lo beneran nggak papa? Pak Leo itu pendendam loh," tanya Siska cemas.
Naufal memakai helm *fullface*-nya, lalu memberikan helm cadangan kepada Siska.
"Orang yang pegang kebenaran nggak perlu takut sama dendam pecundang, Sis. Yuk, gue anter balik. Barang belanjaannya berat, biar gue yang bawain sampai rumah lo."
Siska menatap motor sport mewah itu, lalu menatap Naufal. “I-ini Motornya siapa?”
“Motor gue lah siapa lagi.”
Siska makin bingung sendiri. Padahal kemarin kemarin dia cuma modal halte bus atau naik ojek hkalau mau kerja, terkadang sepedaan juga. Tapi tiba tiba ada motor sport!?
Namun siska tidak mau banyak tanya, dia tidak mencurigai Naufal juga.
'Siapa sih lo sebenarnya, Naufal? Kok gue ngerasa lo makin jauh buat dijangkau, tapi gue makin nggak mau jauh dari lo?' batin Siska sembari naik ke boncengan Ducati tersebut.
[Ding!]
[Tingkat Ketertarikan Siska Amalia: 67%]
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN