Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21:Latihan Sepanjang Hari
Langkah kaki Chen Lin bergema dengan ritme yang teratur di atas koridor batu giok putih yang menuju ke arah aula kediaman Penatua Lu. Setiap hentakan alas kakinya menciptakan suara dentingan halus, seolah-olah giok di bawahnya adalah instrumen musik yang merespons energi spiritual yang mengalir di tubuhnya.
Tempat ini, puncak tertinggi dari Sekte Bing Si, selalu diselimuti oleh kabut dingin yang abadi. Bukan kabut biasa, melainkan uap murni yang dihasilkan oleh Formasi, sebuah sistem pertahanan tingkat tinggi yang melindungi inti dari kekuasaan sekte.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan dan penuh dengan, atmosfer sekte yang tenang namun menekan ini terasa jauh lebih akrab sekaligus asing baginya.
Di kota itu, ia harus menjadi serigala yang bersembunyi di balik bayangan, tetapi di sini, ia adalah seorang murid jenius yang memikul ekspektasi berat.
Udara dingin yang menusuk tulang bagi murid biasa justru terasa seperti pelukan hangat bagi Chen Lin, yang meridiannya telah ditempa oleh teknik es sejak usia dini.
Di ujung aula yang luas, siluet seorang pria tua dengan janggut putih panjang yang menjuntai hingga ke dada tampak sedang duduk bersila.
Ia tampak menyatu dengan lingkungan sekitarnya, seolah-olah ia adalah bagian dari pilar giok di aula itu sendiri. Di depannya, sebuah cangkir porselen tipis mengeluarkan uap tipis, dia adalah Tetua Lu.
"Kau kembali lebih cepat dari yang kuduga, Chen Lin," ujar Penatua Lu tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari cangkir teh di genggamannya.
Suaranya tidak keras, namun frekuensinya terasa bergetar di dalam dada Chen Lin, menandakan tingkat kultivasi sang Penatua yang sudah mencapai tahap yang sulit dibayangkan.
"Kota Anggrek Hitam bukanlah tempat yang ramah bagi mereka yang membawa ambisi besar. Banyak yang pergi ke sana dengan kepala tegak, namun kembali dalam bentuk abu."
Chen Lin berhenti tepat beberapa langkah di depan sang Tetua Lu. Ia membungkuk hormat dengan gerakan yang sempurna, menunjukkan disiplin yang tidak luntur meski baru saja melewati badai.
Tanpa banyak bicara, ia menggerakkan tangannya ke arah kantong spasial di pinggangnya. Cahaya redup berkedip, dan sebuah kotak giok hitam yang dikelilingi oleh segel mantra muncul di telapak tangannya.
Saat kotak itu diletakkan di atas meja kayu cendana merah di antara mereka, suhu di dalam aula yang sudah dingin seketika anjlok secara drastis.
Uap teh yang baru saja mengepul dari cangkir Penatua Lu membeku seketika di udara, membentuk kristal-kristal kecil yang jatuh ke meja seperti butiran permata.
"Ini adalah Fragmen Jantung Es Purba yang Penatua percayakan kepadaku," ucap Chen Lin dengan nada datar namun tegas.
Tetua Lu perlahan meletakkan cangkirnya. Matanya yang biasanya sayu kini berkilat tajam seperti pedang yang baru diasah saat ia menatap kristal biru yang berdenyut di balik penutup kotak yang transparan. Kristal itu tampak seperti jantung yang hidup, memancarkan ritme energi es yang purba dan liar.
"Bagus, sangat bagus. Kau tidak hanya membawa kembali barang ini, tetapi kau juga membawa ketenangan bagi sekte," gumam Penatua Lu, jemarinya yang keriput namun kuat mengusap permukaan kotak giok tersebut.
"Keberhasilanmu dalam misi ini adalah bukti mutlak bahwa kau telah siap untuk melangkah melampaui batasanmu saat ini. Dunia luar adalah guru yang kejam, namun kau tampaknya adalah murid yang sangat cepat belajar."
Tetua Lu kemudian merogoh jubahnya yang lebar dan mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berwarna putih susu.
Botol itu tidak memiliki hiasan, namun aroma herbal yang sangat kuat campuran antara teratai salju seribu tahun dan inti bumi yang dingin seketika memenuhi ruangan.
Aroma itu begitu segar hingga Chen Lin merasa pikirannya menjadi jauh lebih jernih hanya dengan menghirupnya.
"Ini adalah Pil Esensi," lanjut Penatua Lu, mendorong botol itu ke arah Chen Lin. "Aku telah menyiapkannya sejak hari kau berangkat. Karena kau sudah berada di puncak Tingkat 4 Marrow Purification, pil ini akan menjadi pijakan yang kau butuhkan untuk mencapai Marrow Purification Tingkat 5. Jangan sia-siakan kesempatan ini, karena sumsum tulang yang kuat adalah fondasi untuk mencapai tingkat Kedewaan di masa depan."
"Terima kasih atas kemurahan hati dan bimbingan Penatua," jawab Chen Lin sambil menerima botol tersebut.
Jemarinya merasakan dingin yang merambat dari porselen itu, sebuah janji akan kekuatan yang lebih besar. Dalam dunia kultivasi yang kejam, keraguan adalah racun, dan ia sudah lama membuang racun itu dari hatinya.
Malam itu, di kediamannya yang terisolasi di puncak tebing es yang menjorok ke arah jurang tak berdasar, Chen Lin bersiap. Paviliunnya terbuat dari kayu pinus es yang tidak akan pernah membusuk, memberikan keheningan yang mutlak.
Ia duduk bersila di atas ranjang batu giok dingin miliknya, menghadap ke arah jendela yang terbuka lebar. Sinar rembulan yang masuk memberikan pencahayaan perak keunguan pada wajahnya yang tenang namun penuh konsentrasi.
Ia membuka botol porselen itu dan menuangkan pil seukuran kelereng ke telapak tangannya. Pil itu bergetar, seolah memiliki kesadarannya sendiri. Tanpa ragu, ia menelannya.
Seketika, sebuah ledakan energi yang terasa panas sekaligus membekukan meledak di dalam perutnya.
Aliran energi itu tidak mengalir melalui meridian seperti biasanya, melainkan langsung meresap ke dalam struktur tulang-tulangnya.
Rasa sakit yang tajam, seolah-olah ribuan jarum es sedang menusuk langsung ke pusat sumsum tulangnya, mulai merayap dari tulang belakang hingga ke ujung jari-jarinya. Chen Lin mengerutkan kening, giginya terkatup rapat.
"Sekarang!" bisik Chen Lin dalam batinnya. Ia menggunakan Teknik Napas Es Surgawi untuk memandu aliran energi pil tersebut, memaksa setiap tetes energi untuk menabrak dinding yang selama ini Menjadi pembatas di Tingkat 4.
Waktu seolah kehilangan maknanya di tengah meditasi yang mendalam tersebut. Di luar, salju mulai turun dengan lebat, namun setiap butiran salju yang mendekati paviliun Chen Lin akan menguap karena suhu tubuhnya yang sedang bergejolak hebat.
Keringat dingin bercampur dengan cairan residu kehitaman yang berbau menyengat mulai keluar dari pori-porinya.
Setiap detik terasa seperti satu tahun. Tulang-tulangnya mengeluarkan suara berderak halus, mirip dengan suara es yang pecah di danau saat musim semi tiba. Energi spiritual di dalam ruangan itu mulai berputar membentuk pusaran kecil dengan Chen Lin sebagai pusatnya.
Saat cahaya matahari pertama mulai mengintip dari ufuk timur, membelah kegelapan dengan garis-garis jingga yang megah, sebuah ledakan energi spiritual yang lembut namun sangat padat keluar dari tubuh Chen Lin.
Ledakan itu tidak merusak, namun tekanan spiritualnya begitu kuat hingga debu-debu di lantai paviliun seketika menghilang. Chen Lin membuka matanya. Pupil matanya yang biasanya gelap kini memiliki lingkaran biru es yang berkilau, memancarkan aura dingin yang jauh lebih murni dan menekan daripada sebelumnya.
"Tingkat 5 Marrow Purification... akhirnya," gumamnya.
Ia bangkit berdiri dan merasakan kekuatan baru yang mengalir di setiap serat ototnya. Tubuhnya terasa begitu ringan, seolah-olah ia bisa melayang hanya dengan satu lompatan kecil.
Namun, di balik keringanan itu, ia tahu bahwa setiap pukulannya kini telah menjadi lebih kuat dengan energi yang mampu menghancurkan perisai baja paling tebal sekalipun.
Setelah membersihkan diri dari residu kultivasi dengan air es yang segar. Melangkah keluar dari kediamannya.
Namun, baru beberapa puluh meter ia berjalan menyusuri jalan setapak bersalju menuju area latihan utama, sebuah bayangan biru tua segera menghadang jalannya.
Sosok wanita cantik dengan rambut yang diikat rapi dengan jepit rambut perak muncul dari balik pepohonan pinus. Itu adalah Li Mei, seniornya.
Wajah Li Mei yang biasanya ceria kini tampak layu karena kecemasan. Matanya yang sedikit sembab menunjukkan bahwa ia mungkin telah menunggu di sana sepanjang malam, atau setidaknya tidak bisa tidur memikirkan adiknya yang baru kembali dari misi berbahaya.
"Chen Lin! Kau akhirnya keluar!" seru Li Mei, suaranya sedikit gemetar. Ia segera memegang kedua pundak Chen Lin, memeriksa wajah dan tangannya dengan raut khawatir yang tak tertutup-tupi.
"Aku mendengar desas-desus mengerikan dari para murid luar tentang keributan di pelelangan kota. Mereka bilang klan Han mengirim pembunuh tingkat tinggi. Aku sangat takut mereka melakukan sesuatu padamu. Kenapa kau selalu mengambil risiko sebesar ini tanpa memberitahuku sebelumnya? Kau tahu betapa bahayanya dunia luar bagi kita yang berasal dari sekte terpencil ini!"
Chen Lin menatap mata seniornya. Ia bisa melihat ketulusan yang murni di sana, sesuatu yang sangat langka di dunia kultivasi yang penuh dengan mata bahaya.
Ia merasakan kehangatan kecil di hatinya, namun wajahnya tetap mempertahankan ekspresi tenang. Ia perlahan melepaskan tangan Li Mei dari pundaknya.
"Senior Li Mei, aku menghargai semua perhatian dan kasih sayangmu," ucap Chen Lin dengan nada yang jauh lebih lembut daripada saat ia berbicara dengan Penatua Lu.
"Tapi kau tidak perlu khawatir secara berlebihan padaku. Seperti yang kau lihat, aku telah kembali tanpa kurang satu apa pun. Bahkan, perjalanan ini memberikan dorongan yang kubutuhkan, aku telah berhasil menerobos ke tingkat berikutnya. Aku bukan lagi murid lemah yang butuh dilindungi setiap kali angin bertiup kencang."
Li Mei tertegun sejenak. Ia mundur satu langkah, baru menyadari aura yang memancar dari tubuh Chen Lin. Tekanan spiritual yang keluar secara alami dari adiknya itu membuatnya sedikit sulit bernapas.
"Kau... kau benar-benar mencapai Tingkat 5? Hanya dalam waktu semalam setelah kembali?" tanyanya dengan nada tidak percaya, matanya membelalak lebar.
"Ya, bimbingan misi dari Penatua Lu dan sedikit keberuntungan di Kota Anggrek Hitam membuahkan hasil," ujar Chen Lin, memberikan senyum tipis yang hampir tidak terlihat, sebuah candaan dingin yang menjadi ciri khasnya.
"Jadi, berhentilah memasang wajah seperti sedang berduka itu. Fokuslah pada kultivasimu sendiri, Senior. Jika kau terus menghabiskan waktumu untuk mengkhawatirkanku, aku takut suatu hari nanti kau akan tertinggal terlalu jauh dariku, dan saat itu terjadi, akulah yang akan merasa khawatir padamu."
Mendengar ucapan itu, wajah Li Mei seketika memerah padam. Ia tidak tahu harus marah karena disebut akan tertinggal atau lega karena Chen Lin masih bisa bercanda dengannya.
"Kau... kau benar-benar menjadi sangat sombong setelah naik tingkat, ya!" seru Li Mei sambil memukul pelan lengan Chen Lin, tawanya yang renyah akhirnya pecah, menghalau awan mendung di wajahnya.
"Baiklah, jika kau sudah sehebat itu, aku tidak akan mengganggumu pagi ini. Tapi berjanjilah, lain kali jika kau pergi lagi, setidaknya tinggalkan pesan di tempatku"
"Aku berjanji," jawab Chen Lin singkat, mengangguk kecil sebelum melanjutkan perjalanannya.
Keseharian Chen Lin di Sekte Bing Si kemudian mengalir kembali seperti aliran sungai di bawah lapisan es, tenang di permukaan namun penuh energi di kedalamannya.
Ia memulai pagi harinya di Perpustakaan Es, sebuah bangunan kuno yang dibangun di dalam gua raksasa. Di sana, ribuan gulungan yang terbuat dari kulit binatang purba dan bambu giok disimpan.
Ia menghabiskan berjam-jam mempelajari tulisan- tulisan tentang teknik es, mencoba memahami bagaimana energi es murni dapat dimanipulasi untuk membentuk formasi tempur yang tidak hanya mengandalkan kekuatan kasar, tetapi juga efisiensi energi.
Beberapa murid lain yang berada di sana sering mencuri pandang ke arahnya. Bisikan-bisikan halus tentang pencapaiannya mulai menyebar seperti api di tengah tumpukan jerami.
"Lihat, itu Chen Lin. Kudengar dia baru saja kembali dari misi rahasia dan langsung naik ke Tingkat 5," bisik seorang murid laki-laki di sudut ruangan.
Chen Lin tidak memedulikan mereka. Fokusnya adalah pada setiap kata di gulungan kuno itu, mencari rahasia untuk mencapai tahap kultivasi berikutnya.
Memasuki tengah hari, ia berpindah ke lapangan latihan fisik yang terletak di area terbuka yang selalu dilanda badai salju buatan. Suhu di sini jauh di bawah titik beku, cukup untuk membuat darah manusia biasa berhenti mengalir dalam hitungan menit.
Chen Lin berdiri di tengah lapangan, memegang pedang latihan yang terbuat dari es hitam yang sangat berat. Ia mulai menggerakkan tubuhnya, melakukan rangkaian teknik Pedang Salju Pencabut Nyawa.
Setiap gerakannya menciptakan gelombang udara dingin yang begitu tajam hingga mampu membelah butiran salju yang jatuh menjadi dua bagian yang sempurna sebelum menyentuh tanah.
Ia tidak hanya berlatih otot dan teknik, tetapi juga melatih bagaimana energi spiritual dari sumsum tulangnya dapat menyatu sempurna dengan setiap tebasan pedangnya.
Ia terus berlatih hingga keringat yang keluar dari tubuhnya langsung membeku menjadi butiran es kecil yang tipis di kulitnya, sebuah bukti dari intensitas latihan yang tidak masuk akal bagi murid biasa.
Menjelang sore, saat matahari mulai meredup dan memberikan warna keemasan pada hamparan salju luas, Chen Lin berjalan menuju tepi Danau Kristal.
Danau ini adalah jantung spiritual dari sekte, di mana energi es terkumpul paling padat. Ia duduk di atas sebuah bongkahan batu besar yang menonjol ke permukaan air yang membeku sebagian.
Di sini, ia bermeditasi untuk menstabilkan energi yang baru saja ia peroleh dari terobosannya pagi tadi. Suara gemericik air yang mengalir di bawah lapisan es tebal memberikan irama yang menenangkan, membantu jiwanya untuk selaras dengan alam sekitar.
Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya meluas. Ia bisa merasakan detak jantung setiap makhluk hidup di sekitar danau, getaran pohon-pohon yang tertutup salju, hingga aliran energi spiritual yang masuk dan keluar dari tubuhnya.
Dalam keadaan ini, ia merenungkan setiap langkah yang telah diambilnya dan rencana-rencana yang harus disusun untuk masa depan. Ia tahu bahwa ketenangan di Sekte Bing Si ini hanyalah jeda singkat.
Malam kembali merayap pelan, menyelimuti sekte dengan kegelapan yang dihiasi oleh cahaya bintang yang luar biasa jernih. Chen Lin bangkit dari meditasinya dan berjalan kembali menuju paviliunnya.
Langkahnya masih sama ringannya seperti saat fajar tadi, namun matanya kini memancarkan kedalaman yang berbeda. Ia memasuki kamarnya, menyalakan lampu minyak spiritual yang mengeluarkan cahaya biru lembut, dan kembali duduk di ranjang batu gioknya.
Ia menatap tangannya, merasakan energi yang berdenyut di bawah kulitnya. Kehidupan di sekte ini mungkin tampak monoton bagi mereka yang haus akan hiburan duniawi, tetapi bagi Chen Lin, setiap detiknya adalah persiapan untuk sebuah perang yang tak terhindarkan.
Ia mengambil sebuah gulungan kosong dan mulai menuliskan beberapa catatan tentang teknik pedangnya, mencoba menyempurnakan celah-celah kecil yang ia temukan saat latihan tadi siang.
Cahaya lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin yang masuk dari celah jendela, memanjangkan bayangannya di dinding kayu pinus.
Di luar, suara serigala salju melolong di kejauhan, menyambut malam yang semakin larut sementara ia terus terjaga, membiarkan setiap tetes energi spiritual di ruangan itu meresap ke dalam dirinya.