Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video yang Mengubah Semuanya
Tangannya Puann masih bergetar hebat, sementara air mata membasahi pipinya yang tadi sempat melunak. Di layar, rekaman pendek yang baru masuk itu menjadi pukulan terakhir bagi sisa kepercayaannya.
"Kamu lihat sendiri nih? Itu kamu! Di kamar hotel! Bareng Arifatul!" seru Puann dengan suara parau sambil menunjuk layar. "Tadi kamu bilang apa! Lihat nih, Mas! Buktinya ada di depan mata!"
Bahlil mendekat dengan wajah pucat. Ia menyambar ponsel itu dan membelalakkan mata saat melihat isi rekaman.
Sudut pengambilan gambar itu memang diatur agar tampak meyakinkan. Dalam video itu, ia terlihat duduk di tepi ranjang, Arifatul berbaring di sampingnya dengan telanjang, dan tangannya tampak membelai wajah wanita itu. Padahal kenyataannya, ia sedang menegur Arifatul agar berhenti mengganggu, dan posisi tersebut dimanipulasi oleh AI.
"Ini editan, Puann! Aku sumpah deh, ini rekayasa! Aku ke sana cuma minta dia berhenti ganggu kita, dia yang narik tangan aku, dia yang atur posisi duduk gini!" Bahlil bicara keras sambil memutar ulang video berkali-kali. "Kameranya disembunyiin di mana aja sih? Aku sama sekali nggak tahu ada yang rekam!"
"Aku bahkan hampir percaya lagi sama kamu," ucap Puann pelan sambil tertawa getir. "Ternyata aku cuma orang bodoh ya? Gampang ... gampang banget dimanfaatin, sampai kamu pikir bisa bohongin aku terus."
"Puann, dengerin aku dong! Video ini nggak bener! Arifatul sama Citra kerjasama bikin ini cuma buat pisahin kita!" Bahlil mengguncang bahu Puann dengan panik, matanya basah penuh keputusasaan. "Percaya aja sama perasaan kamu sendiri, Puann!"
Puann menepis kasar tangan itu dari bahunya. Ia melangkah mundur. Rasa marah, kecewa, dan malu karena hampir kembali percaya berubah menjadi kebencian.
"Udah ya, Mas. Cukup banget. Aku nggak mau denger alasan lagi, apalagi kata-kata manis yang ujung-ujungnya cuma bikin sakit hati," ucapnya tegas. " Tapi video ini... ini bukti yang nggak bisa kamu tolak lagi."
"Cuma gara-gara rekaman itu, kamu langsung nyimpulin semuanya tanpa dengerin penjelasan aku? Padahal tadi kamu sempat nangis dengerin cerita masa kecil aku, Puann! Kita kan hampir berdamai, hampir baikan!" suara Bahlil pecah. Ia sama sekali tak menyangka usahanya membuka luka masa lalu malah jadi sia-sia begini.
"Kita itu nggak pernah hampir apa-apa. Itu cuma aku yang lagi lemah, cuma aku yang lagi kangen kenangan lama aja," jawab Puann sambil menatap tajam ke manik matanya yang basah. "Sekarang semuanya udah jelas banget kok. Sidang tetap jalan, gugatan cerai nggak bakal aku batalin. Mulai detik ini, apa pun yang kamu omongin nggak ada artinya lagi buat aku."
"Puann, jangan gini dong ... Tolong deh, jangan ambil keputusan gegabah cuma gara-gara video itu. Aku mohon banget, kasih aku waktu. Kasih aku kesempatan terakhir ya?" pinta Bahlil sambil berlutut, tangannya mencoba menyentuh ujung baju istrinya tapi langsung ditepis.
"Kesempatan? Berapa kali sih aku udah kasih kesempatan ke kamu? Berapa kali aku maafin, terima alasan kamu, atau nangis sendirian gara-gara ulah kamu?" suara Puann makin dingin.
Puann berbalik badan, tak sanggup lagi menatap wajah penuh duka itu. Ia berjalan menuju pintu rumah tempatnya menginap dengan langkah mantap, meski hatinya terasa sangat perih.
"Mulai sekarang, anggap aja kita udah selesai. Sampai hari sidang, jangan cari cari aku, jangan hubungi aku, dan jangan coba minta maaf atau jelasin apa-apa," ucapnya sebelum membuka pintu
"Puann! Puann tunggu! Kamu salah paham!" teriak Bahlil.
Di balik dinding, Puann bersandar lemas sambil menutup mulut agar isak tangisnya tak terdengar. Ia merasa bodoh karena sempat berharap ada keajaiban yang menyatukan mereka kembali. Ia juga sadar, cerita trauma masa lalu ternyata tidak mampu menghapus semua rasa sakit yang ia terima selama ini.
Ia duduk di tepi kasur ruang tengah, lalu mengeluarkan kembali ponselnya. Tangan Puann gemetar saat membuka galeri foto yang berisi seluruh kenangan pernikahan mereka. Ada gambar hari pernikahan, momen sederhana di kontrakan, hingga saat mereka tertawa berdua dengan bahagia.
Dada Puann terasa sesak dan napasnya berat saat menyentuh layar. Ia mulai menekan tombol hapus satu per satu. Setiap kali satu foto hilang, rasanya ada bagian hatinya yang ikut tercabut. Ia teringat janji manis, pelukan hangat, dan kata cinta yang dulu diucapkan Bahlil. Semua itu kini terasa palsu, sama seperti video yang baru saja ia tonton.
"Aku harus kuat, harus bisa lupain dia. Dia bukan lagi suami aku, bukan lagi tempat aku pulang," gumamnya pelan di sela tangis.
Terakhir kali, ia menatap foto pernikahan mereka berdua yang tersenyum bahagia dan berjanji setia dalam suka maupun duka. Dengan mata terpejam rapat dan air mata makin deras, Puann menekan tombol hapus untuk terakhir kalinya. Foto itu hilang selamanya, sama seperti niatnya untuk mengenyahkan Bahlil dari hidupnya.
Di luar, Bahlil masih berdiri diam. Ia bingung dan tidak paham mengapa Puann yang tadi melunak dan menangis, kini berubah menjadi sosok yang sangat dingin dan keras.
Ia tak mengerti senjata apa yang dipakai Arifatul untuk menutup rapat pintu hati istrinya. Ia hanya sadar satu hal, waktunya makin sempit dan harapan menyelamatkan rumah tangganya makin menipis bahkan hampir lenyap sepenuhnya.
...***...
Surat panggilan sidang resmi dikirimkan kepada kedua pihak pada keesokan harinya. Dokumen itu memuat jadwal sidang pertama yang jatuh tepat dua minggu ke depan, waktu yang memiliki makna sangat berbeda bagi Puann dan Bahlil.
Bagi Puann, tanggal tersebut adalah momen penantian akhir. Bagi Bahlil, tanggal itu menjadi hitung mundur menuju kehancuran hidupnya.
Puann masih menginap di rumah Ririn dan bertekad tidak kembali ke kontrakan lama. Tempat itu kini hanya menyisakan rasa sakit serta kenangan yang berusaha ia hapus dari ingatan. Ia mengisi waktu luang dengan membantu urusan rumah tangga atau berdiam diri di kamar sambil menekan segala perasaannya.
"Kamu yakin nggak mau pulang dulu, Puann? Dua minggu itu cepet. Nanti pas hari H kamu butuh persiapan, baju, dan keperluan lain," tanya Ririn santai sambil duduk di teras sore itu.
"Nggak, aku lebih nyaman di sini. Di sana ... di rumah dia, aku pasti nggak kuat. Segala hal ngingetin aku sama janji dan kebohongan dia," jawab Puann sambil menatap jalanan kosong di depan. " Aku cuma mau dateng, tanda tangan, terus beres."
Ririn menghela napas lalu menepuk bahu sahabatnya secara perlahan. Ia sangat memahami beban berat yang dipikul Puann selama berbulan-bulan ini. "Ya udah, kalau itu keputusan kamu, aku dukung sepenuhnya. kamu berhak tenang dan bahagia. Kalau jalan keluarnya gini, ya udah jalanin aja."
Di lokasi lain, Bahlil mondar-mandir di ruang tengah dengan wajah pucat dan penuh kecemasan. Ia menggenggam surat panggilan itu erat. Ia memiliki waktu empat belas hari untuk memperbaiki keadaan, membuktikan ketidakbersalahannya, serta memenangkan kembali hati Puann.
"Dua minggu aja... Kalau aku diam aja, semuanya bakal berakhir," gumam Bahlil dengan suara bergetar menahan kepanikan yang mendera. "Aku nggak boleh nyerah. Harus ada cara, harus ada bukti lebih kuat, dan Puann harus percaya apa pun caranya."
Ia telah berkali-kali mendatangi tempat menginap Puann, namun selalu ditolak atau tidak dibukakan pintu. Pesan-pesan yang dikirim tak pernah dibalas, dan panggilan telepon selalu tidak diangkat. Ia makin menyadari posisinya semakin menjauh, sementara pria lain mulai mengisi ruang kosong dalam kehidupan Puann.