Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 25: Meditasi dan Bekerja
Kamar itu sederhana.
Dua kasur terpisah berdiri di sisi kanan dan kiri ruangan. Dindingnya terbuat dari kayu tua yang dipoles seadanya, cukup bersih namun masih menyimpan aroma asap dan minyak dari lantai bawah penginapan.
Sebuah lampu kecil tergantung di sudut ruangan, memancarkan cahaya kuning lembut yang membuat bayangan bergerak pelan di permukaan dinding.
Tidak mewah.
Tidak luas.
Namun setelah enam hari perjalanan melewati ngarai, hutan, dan jalan berbatu, tempat itu terasa lebih dari cukup.
Daji langsung menjatuhkan tubuhnya ke salah satu kasur.
“Akhirnya…”
Suaranya penuh kelegaan.
Ia merentangkan kedua tangan, ekornya jatuh di sisi kasur, dan untuk beberapa saat ia hanya menatap langit-langit seperti seseorang yang baru saja selamat dari perang panjang.
Grachius berdiri di tengah ruangan.
Ia melihat sekeliling sebentar, lalu duduk di kasur lainnya.
“Aku akan tinggal di Baldr selama tiga hari.”
Daji menoleh.
“Lalu?”
“Aku akan meditasi.”
Daji berkedip.
“…tiga hari penuh?”
Grachius mengangguk.
“Untuk memperkuat fondasi kultivasi ku.”
Daji perlahan bangkit dari kasur.
“Lalu aku?”
Grachius meliriknya.
“Carilah pekerjaan.”
Hening.
Beberapa detik.
Lalu—
“Hah?!”
Daji duduk tegak, telinganya berdiri.
“Kau menyuruhku bekerja?”
“Ya.”
“Kenapa terdengar seperti itu hal yang sangat normal?”
“Karena memang normal.”
Daji menunjuk dirinya sendiri.
“Aku ini Daji. Rubah Penggoda. Siluman rubah. Aku tidak mencari pekerjaan.”
Grachius mengeluarkan kantong kecil dari balik pakaiannya, lalu menumpahkan isinya ke atas kasur.
Dua koin perak.
Lima koin perunggu.
“Dua Silvar. Lima Coppra.”
Daji menatap koin itu.
Lalu menatap Grachius.
“Dan?”
“Itu sisa uangku.”
“…oh.”
“Tidak cukup untuk bertahan lama.”
Daji menyipitkan mata.
“Kau yang membawaku ke Baldr.”
“Kau sendiri yang mengikuti ku.”
“Aku tidak mengikuti mu. Aku hanya… berjalan ke arah yang sama.”
“Selama beberapa hari.”
“Itu kebetulan panjang.”
Grachius menatapnya datar.
Daji menatap balik.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Lalu Daji mendecak keras dan bangkit dari kasur.
“Baiklah! Aku akan mecari pekerjaan. Tapi kalau ada yang mati karena aku kesal, itu salahmu.”
“Jangan membuat masalah.”
“Aku tidak janji.”
Daji membuka pintu dengan kasar, lalu keluar sambil menggerutu.
Grachius menatap pintu yang tertutup.
Kemudian ia menarik napas pelan, duduk bersila di atas kasur, dan menutup mata.
Dunia luar perlahan menjauh.
Napasnya turun.
Qi di dalam tubuhnya bergerak pelan, dalam, dan stabil.
Di balik ketenangannya, sesuatu yang gelap tetap ada.
Diam.
Namun kali ini, Grachius tidak menjauh.
Ia hanya membiarkannya berada di sana.
Tanpa memberi kendali.
Tanpa menyangkal keberadaannya.
...—...
Daji turun ke area penginapan dengan wajah masam.
Di lantai bawah, suasana Thorgar Skáli masih hangat. Beberapa dwarf duduk minum di sudut ruangan, sementara api perapian menyala besar.
Namun perhatian Daji langsung tertuju pada Thorgar.
Dwarf itu duduk di meja paling dekat dengan perapian, memegang Enjin seperti seorang pendeta memegang kitab suci. Matanya menyipit serius. Sesekali ia memiringkan pedang itu, memperhatikan pantulan cahaya di bilahnya.
Daji mendekat.
“Kau terlihat seperti jatuh cinta.”
Thorgar tidak mengangkat wajah.
“Diam. Aku sedang belajar.”
“Dari pedang?”
“Dari karya besar.”
Daji menyandarkan kedua tangan di meja.
“Kau butuh pekerja?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Daji mengerutkan kening.
“Kau bahkan belum bertanya aku bisa apa.”
“Aku tidak butuh pekerja.”
“Aku butuh uang.”
“Bukan urusanku.”
Daji memukul meja pelan.
“Kalian dwarf kejam sekali.”
Thorgar akhirnya menoleh.
“Kau bisa mengangkat gelas?”
“Aku bisa menghisap jiwa manusia.”
Thorgar diam.
“…jangan mulai dengan itu saat melamar kerja.”
Daji tersenyum tipis.
“Jadi kau punya pekerjaan?”
“Aku tidak. Tapi temanku mungkin punya.”
Daji langsung menegakkan tubuh.
“Siapa?”
“Helga. Pemilik bar di sisi barat Baldr. Dia selalu kekurangan pekerja karena pelanggannya kasar dan pegawainya sering kabur.”
“Pelanggan kasar?”
“Dwarf mabuk.”
Daji tersenyum.
“Kedengarannya menyenangkan.”
Thorgar menghela napas.
“Aku akan mengantarmu. Tapi kalau barnya hancur, aku tidak mengenalmu.”
...—...
Bar milik Helga jauh lebih ramai daripada penginapan Thorgar.
Begitu pintu terbuka, suara tawa keras para dwarf langsung menyambut mereka. Gelas-gelas kayu beradu di atas meja. Kursi bergeser. Seseorang bernyanyi dengan suara terlalu keras dan terlalu sumbang.
Aroma minuman keras, daging panggang, sup panas, dan asap kayu memenuhi udara.
Di balik meja panjang, seorang dwarf wanita bergerak cepat mengisi gelas demi gelas. Tubuhnya kekar, lengannya kuat, rambutnya dikepang pendek, dan matanya tajam seperti kapak yang baru diasah.
“Helga!” panggil Thorgar.
Dwarf wanita itu menoleh.
Lalu menatap Daji dari telinga sampai ekor.
“Apa ini?”
Daji menunjuk dirinya sendiri.
“Calon pekerja.”
Helga menatap Thorgar.
“Kau membawakan aku siluman rubah?”
“Dia butuh uang.”
“Aku butuh pegawai, bukan masalah.”
Daji tersenyum manis.
“Aku bisa menjadi pegawai yang bermasalah.”
Helga menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa keras.
“Bagus. Setidaknya kau jujur.”
Daji berkedip.
“Jadi diterima?”
“Kau bisa kerja berapa lama?”
“Tiga hari.”
“Cukup. Mulai sekarang.”
Daji terdiam.
“…sekarang?”
Helga menunjuk beberapa meja penuh gelas kosong.
“Angkat itu. Bawa minuman ke meja empat. Kalau ada yang menyentuh ekormu, pukul tangannya. Kalau ada yang menyentuh pelanggan lain, pukul wajahnya.”
Daji menatap Thorgar.
“Dia lebih menyeramkan darimu.”
Thorgar mengangguk.
“Ya.”
Hari kerja pertama Daji dimulai tanpa persiapan.
Ia membawa gelas besar yang beratnya hampir membuatnya mengumpat, menghindari pelanggan mabuk yang mencoba memanggilnya dengan panggilan aneh, dan beberapa kali menampar tangan dwarf yang terlalu penasaran pada ekornya.
“Hei, nona rubah! Tambah lagi!”
“Namaku Daji!”
“Baik, Nona Daji Rubah!”
“Aku akan menaruh gelas ini di kepalamu.”
Helga tertawa dari balik meja.
“Dia cepat belajar!”
Daji menggerutu sambil berjalan.
“Pekerjaan ini lebih melelahkan daripada berburu manusia…”
Namun anehnya—
ia tidak pergi.
...—...
Jauh dari Baldr, di hutan tempat Grachius dibesarkan, suara kapak terdengar berulang.
Tak.
Tak.
Purus memotong kayu dengan gerakan tenang.
Tidak ada tenaga berlebihan.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Setiap ayunan jatuh tepat.
Lalu angin berubah.
Purus berhenti.
Cahaya lembut muncul di antara pepohonan.
Vita melangkah keluar dalam wujud aslinya.
“Dia sudah tiba di Baldr.” katanya.
Purus menaruh kapak di samping potongan kayu.
“Sendiri?”
“Tidak.”
Vita tersenyum tipis.
“Seekor siluman rubah bernama Daji mengikutinya.”
Purus diam beberapa saat.
“Grachius membiarkannya?”
“Ya.”
“Menarik.”
Vita memandang hutan di sekitar mereka.
“Ia menghancurkan patung Sagitta di Heimdall.”
“Aku menduga ia akan membuat masalah.”
“Ia juga diburu empat Ksatria Templar.”
Purus menatapnya.
“Lalu?”
“Mereka mati.”
Tidak ada kejutan besar di wajah Purus.
Namun matanya sedikit lebih dalam.
“Api hitam?”
Vita mengangguk.
Hening sejenak.
Lalu Vita melanjutkan.
“Di Alfheim, ia membantu Light Elf dan Dark Elf melawan para Ksatria Templar.”
Purus sedikit menoleh.
“Dia membantu mereka?”
“Dan menanam benih perdamaian kecil di antara keduanya.”
Kali ini Purus benar-benar diam.
Lebih lama dari sebelumnya.
Vita memperhatikan reaksinya.
“Tidak seperti yang kau bayangkan?”
“Grachius berjalan dengan dendam.”
Purus menatap potongan kayu di tanah.
“Namun jika ia mulai mengubah tempat yang ia lewati…”
“Berarti jalannya bukan hanya tentang membunuh.”
Vita menyelesaikan kalimat itu.
Angin bergerak lembut di antara mereka.
Purus mengangkat pandangannya ke langit.
“Riak kecil.”
“Ya.”
“Dan riak kecil bisa menyebar jauh.”
Purus tidak menjawab.
Namun wajahnya menunjukkan bahwa ia memahami.
Perjalanan Grachius tidak lagi hanya menarik perhatian kuil dan dewa.
Ia mulai menyentuh dunia.
Dan dunia—
perlahan mulai menjawab.
...—...
Malam semakin hidup di bar Helga.
Daji bergerak di antara meja dengan ekspresi setengah malas, namun tubuhnya cekatan. Ia mulai tahu meja mana yang suka berteriak, siapa yang selalu menumpahkan minuman, dan siapa yang harus dipelototi agar tidak mencoba menyentuh ekornya.
Lalu pintu terbuka keras.
Sekelompok manusia petualang masuk.
Baju zirah mereka berdebu, senjata tergantung di pinggang, dan wajah mereka membawa kesombongan yang terlalu mudah dikenali.
Salah satu dari mereka mendorong dwarf kecil di dekat pintu.
“Minggir, pendek.”
Suasana bar menurun sedikit.
Helga menyipitkan mata.
Para petualang itu duduk sembarangan, menjatuhkan gelas dari meja, lalu tertawa.
“Tempat dwarf bau besi.” kata salah satunya.
“Minumannya kuat juga atau tidak?”
Beberapa dwarf mulai berdiri, namun ragu.
Mereka kuat.
Namun bukan semua orang terbiasa dengan perkelahian liar yang bisa berubah menjadi pembunuhan.
Daji memperhatikan dari balik meja.
Awalnya ia tidak peduli.
Lalu salah satu petualang menampar gelas dari tangan seorang dwarf tua hingga minumannya tumpah.
“Ambilkan lagi.”
Dwarf tua itu diam.
Daji menghela napas.
Ia keluar dari balik meja.
“Bayar gelasnya.”
Pemimpin petualang menoleh.
Lalu tersenyum.
“Oh? Apa ini? Pelayan dengan telinga lucu?”
Tangannya bergerak hendak menyentuh telinga Daji.
Buk.
Tinju Daji menghantam wajahnya.
Pria itu jatuh dari kursi.
Bar langsung sunyi.
Daji mengibaskan tangannya.
“Jangan sentuh aku pakai tangan kotor mu.”
Tiga petualang lain langsung berdiri.
Pertarungan itu singkat.
Daji bergerak lincah di antara meja. Satu pria jatuh karena kakinya disapu. Yang lain dihantam dagunya dengan siku. Yang ketiga mencoba menusuknya, namun Daji memutar tubuh dan menghantam pergelangan tangannya hingga pisaunya terjatuh.
Pemimpin kelompok itu bangkit dengan marah.
“Kau—!”
Daji sudah berada di depannya.
Tangannya mencengkeram leher pria itu.
Matanya menggelap.
Udara berubah tipis.
Pria itu mencoba melawan, namun tubuhnya mendadak melemas.
Qi mengalir keluar dari dirinya.
Masuk ke Daji.
Beberapa detik kemudian, pria itu jatuh ke lantai dengan wajah pucat dan napas lemah.
Daji berdiri diam.
Dan di belakangnya—
ekor kedua muncul.
Coklat.
Bergerak pelan di udara.
Seluruh bar membeku.
Daji menyadarinya.
Ia melihat tangan-tangan dwarf berhenti di gelas mereka. Mata-mata menatapnya.
Perasaan lama muncul.
Ah.
Sekarang mereka akan takut.
Atau membencinya.
Daji menurunkan tangan perlahan.
“…maaf.”
Suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Aku—”
“HAHAHA!”
Tawa keras meledak dari salah satu meja.
Dwarf tua yang tadi diganggu berdiri sambil mengangkat gelas.
“Bagus sekali, Nona Rubah!”
Lalu yang lain ikut bersorak.
“Pukulannya mantap!”
“Lihat wajah manusia itu!”
“Helga, pekerja barumu hebat!”
Helga berjalan mendekat dan menepuk punggung Daji keras sekali hingga Daji hampir maju tersandung.
“Kau kuat.”
Daji menoleh, bingung.
“Kau tidak… takut?”
Helga mengangkat alis.
“Selama bukan kau yang membuat masalah di barku, kau bebas melakukan apa yang perlu dilakukan.”
“Tapi aku…”
“Kau menghajar pembuat masalah.”
Helga menunjuk petualang yang tergeletak.
“Itu pekerjaan bagus.”
Daji diam.
Untuk pertama kalinya dalam dua ratus tahun, ia tidak langsung dipandang sebagai monster setelah memperlihatkan sisi asli dirinya.
Ia menatap dwarf tua yang mengangguk berterima kasih padanya.
Ada sesuatu yang aneh di dadanya.
Bukan lapar.
Bukan hasrat.
Bukan kesenangan karena berhasil memanipulasi seseorang.
Hangat.
Kecil.
Menyebalkan.
Daji menyentuh dadanya pelan.
“…apa ini?”
Helga mendorong nampan ke tangannya.
“Itu artinya masih ada meja yang belum dapat minuman.”
Daji menatapnya.
Lalu tertawa kecil.
“Dwarf benar-benar tidak punya rasa takut.”
“Takut tidak menghasilkan uang.”
...—...
Di kamar penginapan Thorgar Skáli, Grachius tetap duduk bersila dalam keheningan.
Qi mengalir semakin dalam di tubuhnya.
Stabil.
Terarah.
Fondasinya perlahan diperkuat dari dalam.
Di tempat lain, Daji bergerak di antara meja bar dengan dua ekor yang sesekali membuat pelanggan menoleh kagum.
Grachius berkembang melalui keheningan.
Daji berkembang melalui kebisingan, konflik, dan perasaan baru yang belum ia pahami.
Mereka berada di kota yang sama.
Namun berjalan melalui jalan yang berbeda.
Dan malam itu, Baldr tidak lagi terasa seperti sekadar tempat singgah.
Di antara suara palu, api tungku, doa Ferrum, dan tawa para dwarf—
sesuatu dalam diri mereka berdua mulai ditempa.
Pelan.
Tidak terlihat.
Namun nyata.
...A Novel By Franzzz...