NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Wajah Gerry seketika pias saat menatap mata tajam Yudha. Ia masih ingat betul betapa mengerikannya pria di depannya ini saat pertemuan mereka yang terakhir.

​Namun, saat Gerry melirik belasan pengawal berbaju hitam yang berdiri di sekelilingnya, nyalinya berganti dengan keberanian palsu. Ia berteriak histeris, "Apa yang kalian lihat?! Cepat habisi dia!"

​Belasan pemuda berbaju hitam itu sempat tertegun sejenak sebelum tatapan mereka berubah menjadi beringas. Mereka menerjang maju secara bersamaan, bak sekumpulan serigala yang kelaparan.

​Sayangnya, Yudha tidak menganggap mereka sebagai ancaman. Dengan gerakan yang hampir tidak tertangkap mata, ia melancarkan serangkaian tendangan berputar. Kecepatannya mengerikan; ia tampak seperti bayangan putih kabur yang melesat di antara kepungan lawan.

​BUGH! BRAK!

​Suara benturan keras terdengar berulang kali saat tubuh para pengawal itu terpental menghantam dinding dan furnitur mewah di dalam ruangan.

​Yudha merasakan desiran angin dari arah belakang. Ia menghindar dengan gesit ke samping, lalu membalas dengan serangan lutut yang telak menghujam perut pria yang mencoba menyerangnya dari belakang. Pria itu langsung membungkuk menahan perih, keringat dingin mengucur deras di keningnya. Yudha mendengus dingin dan menendangnya hingga tersungkur jauh.

​"Hiat!" Beberapa serangan tongkat menyambar dari berbagai arah. Yudha mengerutkan kening, menangkap salah satu tongkat dengan tangan kosong, lalu menyodokkan sikunya ke dada lawan di belakangnya. Setelah pria itu memekik kesakitan, Yudha membantingnya ke lantai dengan teknik lemparan bahu, kemudian melakukan sapuan kaki yang menjatuhkan semua orang yang tersisa.

​Semua aksi itu terasa panjang jika diceritakan, namun sebenarnya hanya terjadi dalam beberapa embusan napas saja. Semua pengawal tangguh itu kini mengerang kesakitan di lantai.

​Tiba-tiba, seorang pria berotot kawat yang sedari tadi diam di pojokan maju dengan tatapan beringas. Ia berteriak keras dan melayangkan tinju maut ke arah Yudha.

​Yudha bisa merasakan bahwa meskipun pria ini tidak menggunakan tenaga dalam, kekuatannya sangat besar. Orang biasa pasti akan tewas atau cacat jika terkena pukulan itu. Namun, bagi Yudha, itu bukan apa-apa.

​Ia menangkap tinju pria itu, memutarnya dengan paksa hingga terdengar bunyi retakan tulang. Pria itu meraung kesakitan dan mencoba menendang, namun Yudha lebih cepat. Sebuah serangan lutut balasan mematahkan serangan kaki tersebut, disusul dengan dua pukulan keras ke arah kepala yang langsung membuat pria berotot itu tumbang tak sadarkan diri.

​Gerry kini benar-benar gemetar ketakutan. Ia tidak menyangka belasan orang pilihannya tidak sanggup menahan Yudha meski hanya semenit. Secara insting, ia mencoba memanfaatkan kekacauan itu untuk menyelinap pergi melalui pintu samping.

​Melihat Gerry berusaha melarikan diri, wajah Yudha semakin gelap. Dengan satu gerakan cepat, ia melesat dan melayangkan satu serangan telak ke arah punggung Gerry. Hantaman itu begitu kuat hingga Gerry tersungkur keras ke lantai, mengerang kesakitan sambil memegangi punggungnya yang terasa remuk.

​Setelah memastikan keadaan aman, Yudha buru-buru menghampiri Luna. Ia menatap wajah gadis itu dengan penuh kecemasan dan bertanya dengan suara bergetar, "Luna, kamu tidak apa-apa? Ada yang luka?"

​Begitu melihat Yudha berada tepat di depannya, segala rasa takut, trauma, dan sesak yang tertahan di dada Luna tumpah seketika. Ia langsung menghambur ke pelukan Yudha, menangis tersedu-sedu sambil membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

​"Yudha... akhirnya kamu datang! Aku takut sekali... aku pikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi!"

​Yudha merasakan dadanya sesak melihat kondisi Luna yang begitu rapuh. Ia membelai lembut rambut Luna, mendekapnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya. "Jangan takut lagi, aku sudah di sini," bisiknya penuh kasih. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Tidak akan pernah."

​Pihak kepolisian tiba tak lama kemudian. Yudha menggelengkan kepalanya dengan tatapan getir. Ia membatin, ternyata apa yang dikatakan orang-orang ada benarnya: polisi terkadang baru muncul untuk membereskan sisa-sisa kekacauan setelah urusan utama selesai. Empat petugas berseragam melangkah menghampiri Yudha dan Luna. Salah satu petugas di depan bertanya dengan nada tegas, "Kalian yang melapor?"

​Yudha mengangguk tenang. "Benar, Pak. Saya yang melapor," ujarnya, lalu menceritakan secara singkat kronologi penculikan tersebut.

​Pemimpin regu polisi itu melirik Gerry yang masih meringis di lantai, lalu memerintahkan anak buahnya, "Bawa dia."

​"Apa-apaan ini?! Lepaskan! Kalian tahu siapa saya?!" teriak Gerry panik saat kedua lengannya dicengkeram paksa oleh petugas. Ia meronta-ronta histeris.

​"Diam! Kalau berani berbuat, harus berani tanggung jawab," hardik salah satu polisi dengan tidak sabar sambil memberikan dorongan keras agar Gerry berjalan.

​Tepat saat Yudha hendak ikut ke kantor polisi wilayah setempat untuk memberikan keterangan sebagai saksi, beberapa mobil polisi lain tiba-tiba menderu masuk ke halaman vila. Yudha melirik polisi yang ada di sampingnya dengan dahi berkerut, menangkap gurat kebingungan yang sama di wajah para petugas tersebut.

Lima petugas berseragam baru turun dari mobil-mobil itu, melangkah angkuh menghampiri Yudha dan Gerry. Begitu melihat mereka, wajah Gerry yang tadinya pucat seketika berbinar.

​"Pak Inspektur! Tolong saya! Orang-orang ini masuk ke rumah saya tanpa izin dan memukuli saya sampai begini. Tangkap mereka!" teriak Gerry dengan suara yang kembali tinggi.

​Mereka saling kenal? Hati Yudha mencelos menyadari situasi ini.

​Petugas yang paling depan, yang tampaknya memiliki pangkat paling tinggi, berkata kepada polisi yang tadi menahan Gerry, "Saya dari Unit Reserse Kriminal Polrestabes Pusat. Ini identitas kami. Kasus ini resmi diambil alih oleh pihak pusat." Ia mengacungkan kartu tanda anggotanya di depan wajah para polisi lokal tersebut.

​Mendengar hal itu, polisi lokal yang membantu Yudha keberatan. "Tapi Pak, kejadiannya ada di wilayah hukum kami. Sesuai prosedur, penanganan kasus dibagi berdasarkan TKP. Kenapa tiba-tiba diambil alih?"

​Polisi dari pusat itu tersenyum tenang, namun dingin. "Baru saja ada laporan masuk mengenai penyerangan dan masuk tanpa izin ke properti pribadi. Karena kedua laporan ini berkaitan, kami memutuskan untuk menggabungkannya. Saya rasa lebih tepat jika pihak pusat yang menangani," ujarnya santai, mengabaikan protes rekan sejawatnya.

​Para polisi lokal itu saling pandang, merasa tidak berdaya. Meskipun secara prosedur terasa ganjil, intervensi dari tingkat yang lebih tinggi bukan hal baru, apalagi mengingat pengaruh keluarga Gerry di kota ini. Dengan berat hati, mereka terpaksa melepaskan cengkeraman pada Gerry.

​Yudha segera paham bahwa polisi-polisi baru ini berada di pihak Gerry. Ia menatap mereka tajam dan berkata, "Pak Petugas, benar dan salah sudah sangat jelas di sini. Korban penculikannya ada di depan mata Anda, kenapa tidak bertanya padanya dulu?"

1
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!