Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baju Bayi Warna Merah Muda
Langit sudah mulai gelap ketika Fatan berdiri di samping mobil, menunggu dengan sabar seperti biasanya. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, menciptakan pantulan cahaya di kaca mobil yang ia jaga.
Namun pikirannya… tidak setenang sikapnya.
Pertemuan tadi masih terngiang.
Viktor.
Buket bunga.
Dan cara pria itu berbicara seolah semuanya sudah berada dalam genggamannya.
Fatan menghela napas pelan.
“Aku tidak berhak memikirkan itu…” gumamnya dalam hati.
Pintu utama kantor terbuka.
Fatan langsung menegakkan tubuh.
Kanaya keluar lebih dulu, langkahnya tetap tenang seperti pagi tadi. Di belakangnya… Viktor berjalan santai, masih dengan aura percaya diri yang sama.
Pemandangan itu terasa… menusuk.
Namun Fatan menahan diri.
Ia membuka pintu mobil seperti biasa.
“Silakan, Bu,” ucapnya sopan.
Kanaya berhenti sejenak.
“Tidak perlu,” katanya tenang.
Fatan sedikit terkejut.
“Maksudnya, Bu?”
Kanaya menatapnya sekilas, lalu berkata,
“Saya pulang dengan Viktor.”
Sunyi.
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Fatan terasa mengencang.
Ia mengangguk pelan.
“Baik, Bu,” jawabnya.
Viktor tersenyum tipis, melirik Fatan sekilas sebelum membuka pintu mobilnya sendiri.
Namun Kanaya belum bergerak.
Ia kembali menatap Fatan.
“Kamu bisa pulang” katanya. “Mobilnya bawa saja.”
Fatan menunduk sedikit.
“Maaf, Bu,” jawabnya sopan. “Saya akan mengantarkan mobil ini ke rumah terlebih dahulu.”
Kanaya terdiam sesaat.
“Kamu tidak perlu,” katanya. “Tidak masalah.”
Fatan mengangkat wajahnya sedikit.
“Ini tanggung jawab saya,” ucapnya tenang.
Nada suaranya tidak keras, tapi tegas.
Kanaya menatapnya beberapa detik.
Seolah menimbang.
Lalu akhirnya mengangguk kecil.
“Baik,” katanya singkat.
Ia berbalik, berjalan menuju mobil Viktor.
Fatan berdiri diam.
Matanya tanpa sadar mengikuti langkah Kanaya.
Dan di saat itulah, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya
Kanaya… tidak menolak.
Tidak menjaga jarak seperti dulu.
Tidak bersikap dingin seperti yang ia ingat.
Ia hanya… berjalan berdampingan dengan Viktor.
Dan entah kenapa
itu terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata.
Fatan menunduk.
Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.
“Aku memang tidak punya hak…” bisiknya dalam hati.
Ia menarik napas dalam.
“Dia bebas memilih…”
Namun pikirannya tidak berhenti di situ.
Kenangan tentang Kanaya yang dulu kembali muncul.
Wanita yang selalu menjaga jarak dari Viktor.
Yang tidak pernah memberi ruang.
Yang tetap setia… meski tidak dicintai.
Dan sekarang
apakah waktu sudah mengubah semuanya?
Atau…
apakah Kanaya akhirnya memilih hal yang sama seperti Amira?
Memilih seseorang yang lebih layak.
Lebih mampu.
Lebih menghargainya.
Fatan tersenyum tipis, pahit.
“Wajar…” gumamnya.
Sangat wajar.
Apa yang bisa ia tawarkan sekarang?
Tidak ada.
Ia hanyalah seorang pria yang pernah menghancurkan kepercayaan dua wanita.
Dan kini berdiri di titik paling bawah dalam hidupnya.
Mesin mobil Viktor menyala.
Fatan mengangkat pandangan.
Kanaya sudah duduk di kursi penumpang di samping Viktor
Viktor di belakang kemudi.
Mereka tampak… serasi.
Setidaknya dari luar.
Fatan menahan napas sejenak.
Lalu menunduk.
Mobil itu perlahan melaju, meninggalkan area parkir.
Fatan tetap berdiri di tempatnya beberapa detik.
Sampai mobil itu benar-benar menghilang dari pandangan.
Baru kemudian ia bergerak.
Ia membuka pintu mobil yang tadi ia jaga, lalu duduk di kursi pengemudi.
Tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya.
Sunyi.
Tidak ada suara selain napasnya sendiri.
“Aku tidak boleh seperti ini…” katanya pelan.
Ia menutup mata sejenak.
Mengatur perasaan.
Menahan sesuatu yang hampir muncul.
“Kamu sudah memilih jalanmu, Fatan,” lanjutnya dalam hati. “Jangan kembali ke masa lalu.”
Ia membuka mata.
Menatap lurus ke depan.
“Dia juga sudah memilih jalannya.”
Kalimat itu terasa berat.
Namun… benar.
Fatan menyalakan mesin mobil.
Perlahan, mobil itu bergerak keluar dari area kantor.
Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi bayangan tadi.
Cara Kanaya berjalan.
Cara Viktor menatapnya.
Dan posisi dirinya… yang hanya bisa melihat dari jauh.
Ia tertawa kecil, hambar.
“Dulu aku punya segalanya…” gumamnya.
Ia menggeleng pelan.
“Sekarang… aku bahkan tidak punya hak untuk merasa sakit.”
Lampu merah menghentikan mobilnya.
Fatan bersandar sejenak, menatap jalan di depannya.
“Ini konsekuensinya,” katanya dalam hati.
“Terima… dan jalani.”
Lampu berubah hijau.
Mobil kembali melaju.
Perlahan.
Pasti.
Seperti hidupnya sekarang.
Tidak cepat.
Tidak mudah.
Tapi terus berjalan.
Dan di dalam diam itu, Fatan akhirnya mengakui satu hal
meskipun masih terasa sakit…
ia tidak ingin kembali menjadi orang yang sama seperti dulu.
Karena jika harus memilih
lebih baik ia berada di titik terendah seperti sekarang…
daripada kembali menyakiti orang yang pernah ia miliki.
Mobil terus melaju menuju rumah Kanaya.
Dan untuk pertama kalinya, meski hatinya berat
langkahnya tidak goyah.
Karena kali ini…
ia tahu batasnya
Mobil yang dikemudikan Fatan melaju tidak terlalu jauh di belakang mobil Viktor. Jarak itu cukup aman tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh seperti posisi yang tanpa sadar ia ambil dalam hidup mereka sekarang.
Sebagai bayangan.
Sebagai seseorang yang hanya bisa melihat… tanpa ikut terlibat.
Tangannya menggenggam setir dengan mantap, namun pikirannya tidak setenang itu. Bayangan di depan mobil yang membawa Kanaya dan Viktor terus menarik perhatiannya.
“Aku hanya mengantar mobil ini pulang…” bisiknya dalam hati.
Namun kenyataannya, ia tidak langsung berbelok ke arah rumah.
Ia tetap mengikuti.
Tanpa alasan yang benar-benar jelas.
Mungkin… karena ia belum siap melepaskan pandangan itu.
Beberapa menit kemudian, mobil Viktor melambat.
Lampu sein menyala.
Dan mobil itu berbelok masuk ke area parkir sebuah pusat perbelanjaan mewah.
Fatan mengernyit sedikit.
“Mall?” gumamnya.
Ia tetap mengikuti, menjaga jarak, lalu memarkir mobil tidak jauh dari sana.
Mesin dimatikan.
Namun ia belum turun.
Matanya tertuju ke depan.
Viktor sudah keluar dari mobil. Ia berjalan santai ke sisi penumpang, membuka pintu untuk Kanaya.
Gerakan yang dulu… mungkin tidak pernah ia lakukan.
Fatan menunduk sejenak.
“Sudah berbeda…” pikirnya.
Kanaya turun dengan tenang. Tidak ada ekspresi berlebihan. Hanya sikap biasa, seperti seseorang yang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.
Dan lagi-lagi
itu terasa asing.
Fatan menghembuskan napas pelan, lalu membuka pintu mobilnya sendiri.
Ia turun.
Berdiri.
Namun tidak langsung melangkah.
Sampai
“Fatan.”
Suara Viktor memanggilnya.
Fatan menoleh.
Viktor berdiri beberapa langkah di depan, menatapnya.
“Turunlah,” katanya santai. “Ikut kami.”
Fatan sedikit terkejut.
“Ikut…?” ulangnya.
Viktor mengangguk.
“Ya,” jawabnya. “Atau kau mau menunggu di mobil seperti patung?”
Nada itu terdengar ringan, tapi tetap mengandung tekanan.
Fatan menatap Kanaya sekilas.
Wanita itu tidak mengatakan apa-apa.
Tidak menolak.
Tidak juga mengiyakan.
Hanya diam.
Fatan menarik napas pelan.
“Baik,” jawabnya singkat.
Ia melangkah mendekat, menjaga jarak yang cukup.
Dan mereka bertiga… berjalan masuk bersama.
Pemandangan itu terasa janggal.
Sangat janggal.
Viktor di samping Kanaya.
Sementara dirinya… beberapa langkah di belakang.
Seperti posisi yang sudah ditentukan tanpa perlu dijelaskan.
“Ini tempatku sekarang…” pikir Fatan.
Di dalam pusat perbelanjaan, suasana ramai namun tetap elegan. Toko-toko dengan merek ternama berjajar rapi, lampu terang, dan musik lembut mengalun di udara.
Viktor berjalan santai, sesekali berbicara pada Kanaya.
Fatan tidak mendengar jelas.
Ia hanya mengikuti.
Sampai mereka berhenti di sebuah toko.
Fatan mengangkat pandangan.
Dan saat itulah… ia membeku.
Toko perlengkapan bayi.
Langkahnya terhenti sesaat.
Matanya menatap ke dalam.
Rak-rak penuh pakaian kecil, sepatu mungil, botol susu, dan berbagai perlengkapan lainnya tersusun rapi.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Untuk apa…?” bisiknya dalam hati.
Ia kembali melangkah, masuk mengikuti mereka.
Viktor sudah lebih dulu mengambil beberapa barang, tersenyum santai.
“Yang ini lucu,” katanya sambil menunjukkan sebuah baju bayi kecil berwarna pink.
Kanaya memperhatikan.
“Bahannya lembut,” jawabnya.
Nada suaranya… tidak dingin.
Tidak seperti biasanya.
Fatan berdiri di belakang, memperhatikan.
Tangannya perlahan mengepal.
Warna pink.
Baju kecil.
Sepatu mungil.
Semuanya terasa… terlalu spesifik.
Dan pikirannya mulai berjalan ke arah yang tidak ingin ia pikirkan.
“Apakah…?” gumamnya dalam hati.
Ia menelan ludah.
“Apakah Kanaya… sudah menikah dengan Viktor?”
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Dan sebelum sempat ia hentikan
pikiran lain menyusul.
“Dan mereka… memiliki bayi?”
Dadanya terasa sesak.
Ia mencoba mengalihkan pandangan, tapi tidak bisa.
Viktor dan Kanaya terlihat… bahagia.
Memilih bersama.
Berdiskusi ringan.
Tanpa jarak.
Tanpa beban.
Seperti… pasangan pada umumnya.
Fatan menunduk.
“Aku memang tidak tahu apa-apa lagi tentang hidupnya…” pikirnya.
Ia mengingat kembali setahun terakhir.
Ia sibuk dengan kejatuhannya.
Dengan perjuangannya.
Dengan usahanya untuk bangkit.
Sementara di sisi lain
mungkin Kanaya sudah melangkah jauh.
Sangat jauh.
Tanpa dirinya.
Fatan menarik napas dalam.
“Wajar…” bisiknya.
Sangat wajar.
Kanaya berhak bahagia.
Berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Berhak bersama seseorang yang… tidak menyakitinya.
Dan Viktor
setidaknya dari yang ia lihat sekarang
tidak tampak seperti pria yang dulu ia benci.
Fatan mengangkat pandangan lagi.
Melihat mereka.
Melihat bagaimana Viktor dengan santai memilih barang.
Melihat bagaimana Kanaya memperhatikan detail.
Dan untuk pertama kalinya
ia tidak hanya merasa sakit.
Ia juga merasa… kehilangan.
Kehilangan sesuatu yang dulu tidak pernah ia jaga dengan benar.
Tangannya mengepal lebih erat.
Namun kali ini… bukan karena marah.
Melainkan karena kesadaran.
Ia tersenyum tipis, pahit.
“Kalau ini benar…” gumamnya dalam hati, “maka… aku benar-benar sudah tertinggal jauh.”
Ia melangkah sedikit mendekat, cukup untuk mengambil beberapa barang yang Viktor minta.
“Fatan, ambil yang itu,” kata Viktor santai.
“Iya,” jawabnya.
Ia menurut.
Mengambil.
Memberikan.
Seperti perannya sekarang.
Tanpa protes.
Tanpa emosi yang terlihat.
Namun di dalam
ada sesuatu yang terus bergerak.
Kanaya memegang sebuah baju bayi kecil, menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Ini bagus,” katanya.
Viktor tersenyum.
“Ambil saja,” jawabnya.
Fatan menatap benda kecil itu.
Dan entah kenapa
dadanya terasa semakin berat.
“Untuk siapa…?” pertanyaan itu kembali muncul.
Namun kali ini, ia tidak berani menjawabnya.
Karena jawabannya
terlalu menyakitkan untuk dipastikan.
Fatan mengalihkan pandangan.
Menatap lantai.
Menahan semua yang tidak boleh keluar.
Dan di tengah keramaian itu
ia berdiri.
Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup Kanaya…
dan kini hanya menjadi saksi.
Tanpa peran.
Tanpa tempat.
Namun satu hal yang pasti
apa pun alasan di balik semua ini…
apa pun kenyataannya…
ia tidak lagi memiliki hak untuk bertanya.
Karena sejak awal
ia sendiri yang melepaskan segalanya.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?