NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

#7

Mobil Firza belum berjalan, pria itu hanya menyalakan mesinnya saja, agar pendingin udara bisa bekerja dan Abizar bisa minum susunya dengan suasana nyaman, tidak kegerahan. 

Begitulah putranya, tak suka disentuh orang asing yang baru pertama kali ia lihat, bila sudah terlanjur, maka perlu waktu sedikit lebih lama untuk menenangkannya. Abizar lebih suka berinteraksi dengan binatang, ketimbang bersama orang asing. Dia rewel karena merasa tak nyaman. 

Beberapa saat di dalam mobil, setelah dibisiki kata-kata lembut dan usapan sayang, balita itu pun mulai tenang, “Sudah, nangisnya? Mau minum susu?” 

Kedua kelopak matanya berkedip lucu, Firza yang gemas segera menciumi pipi gembul Abizar hingga anak itu tertawa geli. 

Firza membuka tas bekal berisi ASI yang sudah dikemas dalam botol susu untuk Abizar, bocah itu bersandar manja di dada sang ayah sambil menikmati susunya. Firza mengusap kepala dan rambut Abi, sambil bersenandung lirih, hingga kedua mata Abizar terpejam perlahan. 

Hening kembali menyelimuti setelah Abizar tidur, hanya suara nafas Abi dan hembusan angin dari lubang penyejuk udara yang terdengar. Karena mobil kedap suara, jadi hingar bingar di luar sana sama sekali tak terdengar. 

Suasana yang hening membuat Firza kembali teringat dengan pertemuan singkatnya dengan Resha beberapa saat yang lalu. Sama seperti pertemuan pertamanya, Resha terlihat rapuh, dan tubuhnya pun sangat kurus, terlalu kurus malahan. Tapi Firza sudah tahu penyebabnya, Resha sakit hingga kondisi tubuhnya pun berubah sedemikian rupa. 

Lalu, kenapa reaksi Firza berbeda dengan pertemuan pertama mereka? Kali ini Firza yang meninggalkan Resha, karena ia tak mau lagi di buat gila. Dulu ia pernah seperti orang gila mencari dan terus mencari keberadaan Resha, seperti musafir, tanpa map, dan tanpa informasi apapun. Bukankah itu gila? Tak hanya gila, tapi juga bodoh. 

Firza bersyukur dengan hidupnya saat ini, memiliki rumah yang nyaman, meski ukurannya tak sebesar rumah Biru, tapi semua itu hasil kerja kerasnya. Istri yang sempurna kecantikan serta kepribadiannya, dan paling utama adalah seiman seperti kata mamaknya. 

Lalu, kenapa di sisi lain hatinya masih ada rasa penasaran tersisa dalam dirinya? 

Apakah ia masih memiliki perasaan pada Resha? 

Benarkah, Firza? 

Jika iya, kamu adalah pria bodoh yang hakiki!

Sementara jelas sekali bahwa wanita itu dulu sengaja pergi meninggalkannya. Meski dengan alasan berobat, harusnya Firza tetap marah pada Resha. Tapi— 

•••

Hampir pukul 3 sore, dan Firza belum juga kembali, Ersha yang sedari pagi membantu Ummi Fitria mengerjakan kue pesanan, kini mulai resah. Karena sejak tadi ponselnya sama sekali tak berdering memberikan kabar. 

“Telepon saja, kalau kamu gelisah memikirkan Abizar,” kata Ummi Fitria yang sejak dua jam lalu memperhatikan kegelisahan Ersha. 

“Tidak apa-apa, Ummi. Jika tidak berkabar artinya Abi anteng sama ayahnya.” Ersha kembali melanjutkan menuang adonan putih ke masing-masing cup kue talam pandan. Setelah beberapa saat lalu, ia menyelesaikan risoles yang kini sudah dibekukan. 

“Setelah suami dan anakmu datang, kalian langsung pulang saja. Sisa pekerjaan Ummi sudah tidak banyak, lagipula masih ada yang menemani Ummi mengerjakannya.”

“Tapi, Um—”

“Baktimu pada suamimu lebih utama, dibandingkan pada Ummi, karena kamu seorang istri, paham?” tutur Ummi Fitria selalu, bila Ersha bersikeras ingin membantunya di toko. 

“Baiklah, Ummi.” Tak ada lagi bantahan, benar pula kata Ummi Fitria, begitulah wanita bila sudah bersuami. Meski Ersha tahu, suaminya tak keberatan, tapi Ummi Fitria berusaha tidak membuat Ersha dalam dilema. Bakti utama seorang wanita yang sudah menikah tetap pada pria yang menikahinya. 

Tak lama kemudian, Mobil Firza berhenti di depan toko kue milik Ummi Fitria. Wajah Ersha berbinar, melihat wajah dua lelaki kesayangannya menyembul dari balik kaca jendela mobil. “Mama—” sapa Abizar dengan suara riang, hilang seketika penat yang sejak tadi dirasakan oleh Ersha. 

Sesuai permintaan Ummi Fitria, mereka langsung pamit pulang, tak lupa, Ummi Fitria membungkuskan beberapa kue untuk dibawa pulang anak dan menantunya. 

•••

Setelah makan malam, Ersha segera meninabobokkan Abizar, karena tubuhnya sendiri sangat lelah. 

Firza pun sebisa mungkin membantu mengurangi beban pekerjaan rumah istrinya hingga semua selesai lebih cepat. Dan setelah memastikan pagar, pintu, dan jendela tertutup rapat, pria itu pun masuk ke kamar menyusul anak dan istrinya. 

Tempat tidur masih kosong, artinya Ersha masih di kamar Abizar. “Belum tidur?” tanya Firza dengan suara rendah. 

Ersha menoleh, dan memberi aba-aba agar Firza tak bersuara dulu. Karena Abizar baru saja ia pindahkan ke tempat tidur kecilnya. “Maaf,” kata Firza tanpa suara, ia ikut berdiri di belakang tubuh istrinya, menatap Abizar yang sudah terlelap memeluk guling kecilnya. 

Firza memeluk pinggang istrinya dari belakang, menciumi tengkuk dan leher Ersha, hal yang jarang ia lakukan di hari biasa karena mereka tidak pernah mengumbar kemesraan di depan Abizar. “Tidur, yuk.”

Tapi Ersha sudah paham apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, wanita itu pun merapikan kelambu Abizar kemudian meredupkan lampu kamar, Firza menunggunya dengan sabar hingga Ersha berbalik dan menggandeng tangannya. 

Lampu kamar mereka pun telah redup, tak butuh waktu lama, hawa di sekitar mereka ikut berganti. Ersha pasrah ketika suaminya mulai menuntut kepuasan dari tubuhnya, gerakan lembut pria itu seolah memberikan efek bius di tubuhnya yang lelah setelah seharian berjibaku di dapur. 

Ciuman Firza begitu lembut, mencecap penuh minat, serta syahwat yang kian memuncak karena seutuhnya diri Ersha adalah miliknya. 

“Bang—” 

Lenguhan suara manja Ersha membuat Firza makin bersemangat, hingga kedua tangannya bergerak dengan tidak sabaran, melepas sisa penghalang yang menutupi tubuh istrinya. 

Disaat semua rasa nyaris tumpah ruah bersama-sama, bayangan wajah Resha dengan kedua mata berlinang tiba-tiba melintas. Maka seperti pedal rem yang diinjak tiba-tiba, syahwat yang semula membumbung tinggi, tiba-tiba lenyap tersapu angin. 

Tidak, ini salah, Firza! 

Alam bawah sadarnya tiba-tiba memberikan peringatan, hukum zina akan berlaku, jika ia menyetubuhi istrinya, sementara yang terbayang di kepalanya adalah wajah dan nama wanita lain. 

Ersha tercengang melihat suaminya yang mendadak berhenti di tengah aktivitas mereka, pria itu merapikan kembali pakaian istrinya, mengabaikan godaan indah di depan mata. 

“Maaf, sepertinya aku kurang peka, istirahatlah, tubuhmu pasti lelah setelah membantu Ummi seharian.” 

Setelah mengucapkannya, pria itu pun beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar meninggalkan Ersha dengan ribuan pertanyaan dalam benaknya. Untuk pertama kalinya Ersha merasa di hempaskan setelah dibawa terbang tinggi menjulang. 

“Kamu kenapa, Bang?” bisik Ersha seorang diri, menatap pintu yang sudah tertutup rapat di belakang suaminya, meninggalkan sunyi yang entah kenapa terasa dingin mencekat. 

Apa jangan-jangan, wanita di dalam foto itu kembali muncul? Namun, Ersha menepis jauh-jauh prasangka tersebut. Memeluk sisa malam dalam kesendirian yang kosong. 

1
Patrick Khan
semoga niat jahat resa keduluan end tamat modar😂😂😂ahh jahatnya q😂🔪
Inarrr Ulfah
jagn mati dulu ya sa,,pengen liat aja kamu kejang2 liat er dapt yg lebih dari si Firza,dan semoga Firza gila talak...
Anonim
balikan????? gak seru ah
Hasanah Purwokerto
Aku ketularan bang Ahtar,,senyum senyum sendiri...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Tuh bang Ahtar...ada jalan buat pe de ka te,,,manfaatkan...🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Cieeeee..yg lagi modus...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Busuk hati bgt si Resha
Hasanah Purwokerto
Ersha bukan kamu ya,,yg hobinya merusak rumah tangga orang,,kamu tuh yg sukanya sm suami orang...😡👊👊👊
Hasanah Purwokerto
Maaf cuma dimulut saja
Hasanah Purwokerto
Ga akan bahagia kalian..
Hasanah Purwokerto
Setan berwujud manusia itu Er..
Hasanah Purwokerto
Cih....sundel bolong....pake pura pura
Hasanah Purwokerto
Maafmu ga ada guna Fir..
Hasanah Purwokerto
Biarin Firza sendirian..ga usah diajak ngobrol..
Hasanah Purwokerto
Preeeetttt laaaahhhj
Hasanah Purwokerto
Ersha ga melarang,,tp kamu yakin,,? Resha akan membiarkanmu pergi menemui Abizar..?
Hasanah Purwokerto
Tetap semamgat ya Rs...masa depanmu msh panjang,,semoga lebih cerah dr sblmnya...
Hasanah Purwokerto
Smg Ersha berjodoh dg Atar..
toh sama" single
Hasanah Purwokerto
Resha culas,,bermuka dua...😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!