Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PERJAMUAN DI ATAS DURI
Suara denting harpa yang mengalun di aula utama Istana Kepresidenan Diningrat malam itu terdengar seperti simfoni yang sempurna, namun bagi Rhea Candrakirana, melodi itu lebih menyerupai lonceng peringatan. Ia berdiri di ambang pintu besar bermotif ukiran kayu jati yang megah, meremas ujung gaun hitam sederhana yang ia sewa dengan separuh uang sakunya bulan ini.
Istana ini bukan sekadar bangunan; ini adalah sebuah altar kekuasaan. Lantai marmernya mengkilap hingga Rhea bisa melihat bayangan kegelisahannya sendiri di sana. Cahaya dari lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantul pada perhiasan berlian para tamu, menciptakan kilau yang menyilaukan mata—sekaligus memuakkan.
"Jangan tegang begitu, Rhea. Anggap saja ini makan malam di kantin kampus, hanya saja piringnya lebih mahal," bisik sebuah suara di sampingnya.
Rhea menoleh dan menemukan Zavier Diningrat Adhirdja, atau yang lebih akrab ia panggil Vier, sedang tersenyum lebar. Pria itu tampak sangat berbeda malam ini. Alih-alih jas laboratorium putih yang biasa ia kenakan di fakultas kedokteran, Vier mengenakan setelan jas tuksedo rancangan desainer ternama yang membuatnya terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng.
"Kantin kampus tidak memiliki ajudan dengan senjata api di setiap sudut pintu, Vier," balas Rhea dengan suara tertahan. "Kenapa kamu mengundangku ke acara ulang tahun pernikahan ayahmu? Aku merasa seperti semut di tengah kawanan gajah."
Vier tertawa kecil, suara tawanya yang renyah sempat mencuri perhatian beberapa sosialita yang lewat. "Karena kamu adalah satu-satunya orang normal yang kukenal. Jika aku tidak membawamu, aku mungkin akan mati bosan mendengarkan para politikus itu membicarakan indeks saham."
Vier menuntun Rhea masuk lebih dalam. Namun, saat mereka mendekati barisan kursi utama, langkah mereka terhambat oleh protokol. Seorang pria berseragam militer dengan wajah kaku mencegat mereka.
"Mohon maaf, Tuan Muda Zavier. Kursi Nona ini berada di area C," ucap ajudan itu dengan suara dingin.
Vier mengernyit. "Area C? Dia tamuku. Aku ingin dia duduk bersamaku di depan."
"Instruksi dari Ibu Negara, Tuan Muda. Area depan hanya untuk keluarga inti dan pejabat setingkat menteri."
Rhea menarik lengan jas Vier, memberi isyarat agar sahabatnya itu tidak memperpanjang masalah. Ia melihat ke arah deretan kursi paling depan. Di sana, di atas podium yang menyerupai takhta, duduk sang Presiden Diningrat berdampingan dengan istrinya, Cansu Alessandra Kusuma.
Cansu tampak sangat memukau. Di usianya yang masih tergolong muda untuk seorang Ibu Negara, ia memiliki kecantikan yang mengintimidasi. Gaun beludru hitamnya memeluk tubuh dengan sempurna, dan tatapannya yang sedingin es menyapu seluruh ruangan seolah ia sedang memeriksa barang-barang miliknya. Saat mata Cansu tak sengaja bersinggungan dengan Rhea, Rhea merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu bukan tatapan benci, melainkan tatapan merendahkan—seolah Rhea hanyalah butiran debu yang tak sengaja terbang masuk ke istananya.
"Tidak apa-apa, Vier," bisik Rhea. "Aku akan di belakang. Aku justru lebih nyaman di sana."
Dengan berat hati, Vier membiarkan Rhea berjalan menuju barisan paling belakang, di sudut remang-remang aula yang jauh dari sorot lampu kamera. Di sana, Rhea duduk di antara orang-orang yang—sepertinya—juga dianggap "pelengkap" dalam pesta ini.
Acara telah berlangsung selama satu jam, namun suasana justru semakin mencekam. Pidato Presiden Diningrat yang penuh bual tentang kesejahteraan rakyat tidak mampu menutupi kegelisahan yang menyelimuti tamu-tamu VIP di depan. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas jerami kering.
"Kenapa belum dimulai juga?" gumam seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah Rhea, matanya tak lepas dari jam tangan emasnya. "Presiden terus melirik ke pintu masuk."
"Dia belum datang," sahut pria di sebelahnya. "Siapa lagi kalau bukan sang 'Putra Mahkota' yang pemberontak."
Rhea terdiam, telinganya menajam. Ia tahu siapa yang mereka bicarakan. Adrian Diningrat Adhirdja. Kakak sulung Vier yang namanya selalu disebut dengan nada antara kagum dan ngeri di kampus. Rumor mengatakan bahwa Ian—begitu ia biasa dipanggil—adalah satu-satunya orang yang berani meludahi lantai istana demi menentang pernikahan ayahnya dengan Cansu empat tahun lalu.
"Lama sekali. Kapan acaranya dimulai sih?" keluh si wanita lagi.
Tanpa sadar, Rhea menyahut pelan, "Tentu saja menunggu Tuan Muda Ian datang."
Tepat setelah kata-kata itu keluar dari bibir Rhea, suara denting harpa berhenti mendadak. Keheningan yang tuli menyergap aula. Pintu ganda setinggi lima meter di ujung ruangan terbuka dengan debuman pelan namun tegas.
Cahaya lampu sorot dan puluhan kamera wartawan seketika berputar ke arah pintu.
Sepatu kulit yang mengkilap melangkah di atas marmer, menciptakan bunyi detak yang berirama tetap.
Tak. Tak. Tak.
Suara itu terdengar seperti detak jam menuju ledakan.
Seorang pria muncul dari kegelapan lorong. Ia memiliki tinggi badan yang mendominasi, sekitar 185 centimeter, dengan bahu lebar yang dibalut setelan jas klasik berwarna charcoal yang dijahit dengan presisi militer. Wajahnya adalah perpaduan antara ketampanan yang klasik dan ketegasan yang mematikan. Rahangnya mengeras, dan matanya—mata yang terlihat sangat lelah namun tajam seperti elang—menatap lurus ke depan, mengabaikan ratusan pasang mata yang memujanya.
Itulah Adrian. Sosok yang kehadirannya saja mampu merenggut oksigen dari dalam ruangan.
Semua tamu, seolah digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, berdiri dari kursi mereka dan menundukkan kepala saat Ian melintas. Bahkan para menteri yang paling sombong sekalipun tidak berani menatap matanya. Ian berjalan melewati barisan kursi tanpa ekspresi, aura perlawanan yang ia bawa begitu kuat hingga membuat siapa pun merasa kerdil.
Rhea terpaku. Ia belum pernah melihat seseorang yang tampak begitu berkuasa sekaligus begitu kesepian di saat yang bersamaan.
Ian berhenti tepat di hadapan podium. Ia tidak menunduk. Ia hanya berdiri di sana, menatap ayahnya, lalu mengalihkan pandangannya pada Cansu yang duduk di samping sang Presiden. Ian menyunggingkan sebuah smirk tipis—sebuah senyum mengejek yang begitu tajam hingga Rhea yakin itu mampu mencabik harga diri Cansu di depan publik.
"Ian?" tegur Cansu. Suaranya terdengar merdu namun penuh tekanan, tangannya meremas pegangan kursi kayu mahogani itu hingga jarinya memutih. "Haruskah anda terlambat di acara seperti ini? "
Sang Presiden menghela napas berat, matanya memancarkan kekecewaan sekaligus kerinduan. "Adrian, apa kamu tidak memiliki rasa hormat pada waktu?"
Ian tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan tanpa rasa humor. Ia melirik ke sekeliling, ke arah para tamu yang masih mematung menundukkan kepala.
"Kalian tidak membiarkan aku duduk?" Ian berucap santai, namun nadanya mengandung perintah. "Mau membuat mereka mematung selamanya seperti itu?"
Presiden Diningrat terdiam, kehilangan kata-kata untuk membalas keangkuhan putranya. Dengan isyarat tangan, ia mempersilakan Ian duduk di kursi kosong tepat di sebelah Vier. Begitu Ian duduk, barulah seluruh tamu berani kembali ke kursi masing-masing.
Pesta berlanjut, namun fokus semua orang kini hanya tertuju pada satu titik: punggung lebar pria di barisan depan itu.
Dua jam kemudian, Rhea merasa paru-parunya butuh udara segar. Protokol dan kepura-puraan di dalam aula mulai membuatnya mual. Ia menyelinap keluar melalui pintu samping menuju taman belakang istana yang luas.
Taman itu sepi, hanya ada suara air mancur yang gemericik dan harum bunga sedap malam yang mekar. Rhea berjalan menuju kolam ikan hias di pojok taman, tempat yang cukup gelap dan jauh dari pengawasan ajudan. Ia mengeluarkan kacamata hitam dari tasnya—kebiasaan aneh yang ia lakukan jika merasa cemas—namun ia tidak memakainya, hanya memainkannya di tangan.
Ia menatap langit malam yang bertabur bintang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar akibat suasana di dalam tadi. Namun, ia tidak sendiri.
Seorang pria berdiri membelakanginya di tepi kolam. Pria itu sudah melepas jasnya, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang kuat. Ia sedang menatap langit dengan posisi yang sangat statis, seolah ia sedang mencoba menghilang ke dalam kegelapan.
Rhea membeku. Ia tahu punggung itu.
Pria itu berbalik. Gerakannya tenang namun waspada. Saat mata mereka bertemu, Rhea merasa waktu berhenti berputar. Di bawah cahaya bulan yang pucat, wajah Adrian Diningrat tampak lebih manusiawi, namun juga lebih menakutkan.
"Penyusup?" tanya Ian. Suaranya rendah, berat, dan terasa seperti getaran di dada Rhea.
Rhea tersentak, kacamata hitam di tangannya terjatuh ke lantai marmer dengan bunyi klang yang nyaring. Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam, merasa wajahnya memanas karena malu dan takut.
"Nama?" tanya Ian Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat Rhea merasa ruang geraknya semakin sempit.
"Saya bukan penyusup! ", jawab Rhea dengan mengumpulkan keberanian.
" Nama? ", tanya ian sekali lagi dan lebih tegas namun tetap lembut dan santai.
"Rhea... Rhea Candrakirana," jawabnya dengan suara bergetar. "Saya mahasiswi kedokteran, teman Tuan Muda Zavier. Saya tamu di pesta ini."
Ian berhenti tepat di depan Rhea. Ia bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan sisa alkohol mahal dan asap rokok dari tubuh pria itu. Ian menunduk, menatap gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya itu. Gadis yang tampak gemetar seperti kelinci di depan serigala.
Tiba-tiba, sudut bibir Ian terangkat. Bukan smirk mengejek seperti di dalam aula tadi, tapi sebuah senyum tipis yang hampir tidak terlihat. Ia merasa lucu melihat ekspresi ketakutan Rhea, seolah-olah dirinya adalah monster yang siap menerkam.
"Rhea..." Ian mengulang nama itu dengan nada yang lebih lembut, namun tetap berwibawa. "Anda tahu, Rhea? Di tempat ini, menjadi teman Zavier adalah hal yang berbahaya. Dan berdiri di dekatku... itu jauh lebih berbahaya."
Ian membungkuk sedikit, mengambil kacamata hitam Rhea yang jatuh, lalu menyerahkannya kembali. "Pakai ini. Sembunyikan matamu yang jujur itu, karena di istana ini, kejujuran adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar."
Rhea menerima kacamatanya dengan tangan gemetar, tidak berani menatap mata Ian. Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat di bawah cahaya bulan ini adalah awal dari badai yang akan menghancurkan hidupnya—dan mungkin, satu-satunya cara bagi Ian untuk menemukan jalan pulang.
Di kejauhan, Cansu Alessandra berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah taman dengan tatapan yang sulit diartikan. Di tangannya, sebuah gelas anggur pecah, membasahi telapak tangannya dengan cairan merah yang menyerupai darah.