Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM ITU
Tania tak tega melihat Lingga tampak frustasi, ia pun mempersilahkan Lingga masuk ke rumahnya. Kondisi di luar juga hujan sangat deras.
"Kamu apa kabar?" tanya Lingga canggung saat Tania menyodorkan secangkir cokelat panas.
"Aku baik, Ngga!" jawab Tania masih sempat melontarkan senyum kecil, tak bisa dipungkiri Tania juga sakit, namun ia tak mau menunjukkan saja.
Sedangkan Lingga hanya tersenyum kecut sembari menatap cangkir cokelat hangat itu. Ternyata hanya dirinya yang tak baik, Tania terlihat baik-baik saja. Haruskah dia kecewa?
"Gimana kantor? Abang sudah tak mau kasih kabar tentang kamu, Sayang. Bahkan aku serasa ingin kembali ke kantor Abang saja," ucap Lingga sendu.
"Pak Yovi benar kali, Ngga!" sepertinya Lingga tak setuju dengan pendapat Tania, apa-apaan bela sang kakak yang tujuannya agar tak tahu kabar Tania. "Pak Yovi memikirkan masa depan kamu, sebagai kakak, tentu khawatir kalau ada masalah dengan orang tua kamu, apalagi itu karena aku."
"Kamu bisa ya ngomong sesantai itu?" sindir Lingga tak suka Tania begitu tenang. Harusnya saat bertemu begini, keduanya berpelukan. Melebur rasa rindu setelah beberapa hari tak bertemu.
"Bisa lah, kamu tahu aku sangat realistis. Di saat aku sudah tak punya harapan, aku tak mau berjuang. Apalagi harus melawan papa kamu yang punya uang dan koneksi. Sadarlah, Ngga. Kalau kamu tetap memaksa kita berhubungan, aku yang bisa celaka juga. Tolong berpikirlah dewasa," Tania harus menjelaskan dengan sangat lembut, agar tak menyinggung amarah Lingga, khawatir salah paham juga, dipikir Tania bisa bahagia tanpa Lingga.
Lingga menatap Tania dengan intens, apa yang diucapkan perempuannya memang benar. Ia sangat paham resiko yang akan diterima bila melawan sang papa. "Lusa aku sudah menjadi suami orang, aku gak rela, Sayang. Aku masih mau sama kamu," Lingga menunduk lemah. Tak lama bahunya pun naik turun, tanda kalau dia menangis.
Sebagai seseorang yang masih mencintai Lingga, Tania tak tega. Ia mendekati pria itu dan merangkul pundaknya, seolah memberikan kekuatan. Harusnya yang hancur Tania, tapi Lingga serapuh ini.
"Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku ingin menikah sama kamu, tapi aku tak punya keberanian untuk mewujudkan pernikahan itu," ucap Lingga dengan sesunggukan sembari menatap wajah ayu Tania.
Tania menahan tangis, jangan sampai terlihat lemah dan takut kehilangan Lingga. Ia tak mau menghalangi rencana papa Lingga, ia ingin hidup damai tanpa terusik ancaman. Tania mengusap air mata Lingga, "Pelan-pelan, mungkin saat ini kita berat, tapi lama-lama kita akan terbiasa dengan status kamu, Ngga!" Lingga menggeleng, ia menyentuh tangan Tania lalu menciumnya, terlihat kalau dia sangat menyayangi perempuan ini.
"Sampai berapa lama, kita hidup bersama 4 tahun, Sayang. Bayangan kamu terlalu kuat dalam memori otakku," keluh Lingga, serasa otaknya ingin pecah saja bila tak bertemu dengan Tania akhir-akhir ini.
"Lalu kita bisa apa Sayang?" Tania tak tahu harus meyakinkan Lingga seperti apa, lelaki itu tampak masih enggan melihat tunangannya.
"Entahlah, aku hanya ingin menikmati malam ini sama kamu," pinta Lingga dan tak lama langsung mencium Tania. Kecupan lembut berubah menjadi lumatan, Tania yang awalnya mendorong pundak Lingga, akhirnya membiarkan lelaki itu menguasai bibirnya, seperti malam-malam saat mereka tinggal bersama.
"Please jangan, Ngga. Aku gak mau hidupku makin ruwet, aku sudah tidak minum pil KB sejak kita pisah," cegah Tania di sela-sela lumatan. Tapi Lingga tak peduli, ia ingin menciptakan kenangan berharga sebelum menikah dengan Calista. Ia seolah tuli dengan rengekan Tania.
Sedangkan Tania sendiri akhirnya mengalah, kesedihan Lingga tampak di matanya. Ia tak tega. Tania membiarkan tangan Lingga mulai menjamah bagian sensitifnya, tubuh Tania pun merespon, dan diakui sangat rindu dengan kegiatan panas ini.
Persetan tunangan orang, Tania pun membalas perlakukan Lingga tak kalah aktif. "Aku merindukanmu Tania, sungguh," racau Lingga di sela-sela penyatuan. Tania pun tak kalah semangatnya, ia melumat bibir Lingga seolah lelaki di atasnya ini adalah miliknya.
melakukan hingga beberapa kali, tak memikirkan efek yang ditimbulkan, meski Tania sadar saat ini mungkin bukan masa suburnya. Keduanya tertidur dengan berpelukan, Tania sangat nyaman dalam dekapan Lingga.
Menjelang pagi, ponsel Lingga berdering. Lelaki itu bangun, dan melihat siapa yang menghubunginya. "Papa," gumam Lingga, langsung menjawab panggilan itu.
"Puas sudah minta jatah mantan? Pulang atau papa akan membuat perempuan itu menderita!" ucap papa tegas, dan membuat nyali Lingga ciut.
Perlahan ia mengeser tangan Tania yang membelit di pinggangnya, mengecup kening Tania dengan sayang. "Maaf," bisik Lingga kemudian merapikan diri dan pergi dari rumah mantan kekasihnya.
Tania bangun saat matahari sudah mulai terik, tak ada Lingga, ia hanya terduduk lalu menangis.
"Kamu bodoh, Tania. Sekali lagi kamu bodoh, mau saja memberi jatah mantan pada Lingga, berujung ditinggalkan," gumam Tania dengan tangisan yang menyesakkan hati.
Tidak ada pikiran Tania untuk beli pil penunda pembuahan, yang ia rasakan hanya kesedihan karena mungkin malam tadi adalah malam terakhirnya bersama Lingga.
Capek menangis, Tania bangkit dan bersiap ke kantor. Sepanjang perjalanan kantor dia kembali menangis, berhenti saat mau naik lift. Begitu bertemu Siska, tangisan Tania pecah seketika. Ia memeluk erat rekan kerjannya, sampai Siska sendiri bingung. Tak biasanya Tania berangkat ke kantor dalam keadaan sekacau ini.
"Kamu kenapa, Tania?" tanya Siska bingung.
"Biarkan aku memelukmu, Sis. Hati aku sakit banget, aku putus sama pacar aku," curhat Tania sekenanya.
"Emang kamu punya pacar?" tanya Siska heran.
Tania mengangguk, dan makin menjadi tangisannya, hingga beberapa rekan kantor lain saling bermain mata menanyakan apa yang terjadi.
"Pacar kamu siapa?" tanya Siska penasaran, selama 4 tahun kerja bareng, tak sekalipun Tania kepergok jalan dengan cowok.
"Kita LDR-an, selama ini dia kuliah di luar negeri, tapi tadi malam dia bilang kalau dia punya pacar bahkan akan menikah di sana, sesama dokter," Tania terpaksa mengarang cerita agar Siska tak menebak siapa kekasih Tania selama ini. Ia memberi perumpamaan seperti kondisinya saat ini, Lingga akan menikah, dan calon istrinya berasal dari keluarga yang setara dengan Lingga.
"Kasih tahu nomor pacar kamu, biar aku sleding tuh kaki sampai tak bisa jalan. Kok bisa-bisanya putusin kamu, dan main nikah saja. Gak mungkin sekali mereka baru dekat, pasti sudah lama dan sudah merencanakan pernikahan itu," gumam Siska ikut kesal. Tania hanya mengangguk saja. Biarkan Siswa punya pikiran seperti itu, agar Tania tak susah mencari alasan.
Sedangkan Lingga sekarang duduk dengan tegang, berhadapan dengan sang papa. Ternyata papa menyodorkan perjanjian agar Lingga fokus pada rumah tangganya, dan tidak berhubungan lagi dengan Tania.
"Silahkan baca dan pahami konsekuensi bila kamu melanggarnya, dan kamu tahu kan papa tidak akan main-main!" ucap beliau dengan tatapan tajam pada si bungsu.
GO go Tania semangat