NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Sebatang Plastik Putih

Krieeet.

“Umi, lagi apa?” Mataku membelalak saat suara kecil itu memanggilku. Aku menjatuhkan pisau itu. Kaget dengan suara Hamzah di belakangku. Lantas, aku kembali mengambil pisau itu dan berpura-pura mengambil satu buah pir yang ada di dalam kulkas.

“Umi mau ngemil buah, Sayang. Hamzah mau?” tawarku seraya menahan napas.

Ia mengangguk setuju. Kemudian duduk di meja makan dengan mata yang kembali terpejam. Tanganku gemetar tak tertahankan saat pisau ini memotong buah pir. Kucoba menenangkan diri sejenak. Kuraba jantungku yang debarnya sedari tadi tak kunjung usai. Kutarik napas perlahan hingga gemetar tanganku akhirnya berakhir.

Aku memotong-motong kecil buah pir itu agar Hamzah mudah memakannya. Ia terbangun saat aku duduk di sampingnya dan menyuguhkan buah tersebut padanya. Ia lantas memakan buah itu dengan lahap.

“Umi, kenapa belum tidul?” tanyanya penasaran padaku.

Aku tersenyum memandangnya. Membelai lembut rambutnya, lalu menjawab.

“Umi belum ngantuk, Sayang,” jawabku seraya tersenyum.

“Iya? Kenapa Umi? Umi main hape, ya?” Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Kucium puncak kepalanya lalu menyubit pelan pipinya.

“Umi, Hamjah besok mau main lagi sama Umi. Kita main apa lagi Umi?” Aku tertegun seketika. Ternyata, anak ini masih membutuhkanku. Ia bahkan ingin mengajakku bermain esok hari. Aku tak bisa bayangkan apa yang terjadi jika tadi aku memilih mati di tanganku sendiri. Akan seperti apa hidupnya setelah itu terjadi. Aku tersenyum getir lalu menjawab.

“In syaa Allah besok ya, Sayang Umi pikirkan. Hm, mungkin kita melukis atau mewarnai? Hamzah mau main apa?”

“Hamjah mau main … ah menggambal aja deh, Umi. Hamjah mau menggambar robot Hamjah. Tapi nggak pakai matanya Umi. Nggak boleh kata Allah.”

“Iya, Sayang,” jawabku seraya memeluknya dan tersenyum.

“Hamjah udah buah pirnya Umi. Udah habis,” ucapnya sambil memberikan piring plastik kosongnya kepadaku.

“Oh, udah ya, Nak? Hamjah bisa taruh sendiri di wastafel dapur?”

“Bisa, Umi.” Hamzah pun bergegas menuju wastafel dapur sambil membawa piring plastik kosongnya tersebut.

Aku membawa Hamzah ke dalam kamarnya. Menidurkannya dengan penuh kasih sayang. Hingga akhirnya ia terlelap sudah. Aku menatap nanar ke arah lemari baju Hamzah. Mencoba menemukan sesuatu yang bisa aku temukan di dalamnya. Entah kenapa terbesit inginku untuk menemukan sebuah album kenangan milik Mas Afwan dan Hamzah.

Berhasil, aku menemukannya. Sebuah album kenangan keluarga kecil mereka dulu, kutemukan di laci lemari baju. Kuperhatikan, taka da satu pun tampak di setengah halaman ini foto Mbak Zahra rahimahallah istrinya Mas Afwan. Aku tersenyum saat melihat foto Hamzah ketika ia masih bayi. Ada foto di mana Mas Afwan menggendongnya. Hingga di halaman terakhir, aku baru menemukan.

Ya, sebuah foto mantan istri Mas Afwan tanpa mengenakan cadar sambil menggendong Hamzah bayi. Ia berdiri menatap ke arah kamera sambil tersenyum. Senyumannya benar mirip sekali denganku. Bentuk tubuhnya yang kecil dan tidak terlalu tinggi. Semuanya benar-benar seperti diriku. Hanya saja, mat aitu jauh lebih teduh.

Ada sesak yang tertahan di dada kala memandang album itu. Keluarga ini begitu bahagia sebelum ada aku. Namun sekarang, Mas Afwan sudah jarang terlihat menampilkan senyuman tulus seperti di foto tersebut.

“Sayang?” Suara Mas Afwan mengagetkanku. Aku lantas menaruh kembali album tersebut ke dalam laci lemari baju Hamzah dengan tergesa. Lalu menghadap pada Mas Afwan.

“Kamu kenapa belum tidur, Sayang?” tanya Mas Afwan seraya memandang ke arah lemari baju Hamzah.

Aku menundukkan kepala, tak berani menantang mata Mas Afwan yang tampak curiga.

“Kita tidur, yuk!” ajaknya sambil merangkul bahuku dan membawaku ke kamar.

Di kamar, aku dan Mas Afwan kembali hendak melanjutkan tidur. Mas Afwan menyelimuti tubuhku dengan selimut. Lantas, ia membawaku ke dalam dekapannya. Aku memeluknya dengan canggung seraya tersenyum haru karena ternyata, ia tak lagi marah padaku.

Air mataku lagi-lagi mengalir tanpa permisi. Aku hampir saja membunuh diriku sendiri sebab ia bersikap tak acuh. Padahal, Mas Afwan masih menaruh rasa sayangnya padaku. Ia membelai lembut rambutku kemudian mengecup lembut keningku. Lalu, mata itu terpejam.

Kuperhatikan ia dalam tidurnya. Wajah lelahnya, selalu saja berhasil membuatku luluh dan ingin menangis. Mengingat betapa ia berusaha semaksimal mungkin menafkahi keluarga kecilnya. Ia … terlalu baik untuk orang sepertiku.

“Kamu kenapa mandang aku?” Aku terkaget mendengar suaranya. Ternyata ia masih terbangun. Lekas aku tutup mataku dan berpura-pura lelap. Tiba-tiba, ia tertawa kecil. Lantas menaruh tangannya ke wajahku. Kemudian, satu kecupan hangat itu ia daratkan ke bibirku. Sontak aku membuka mata. Kaget dengan tindakannya barusan.

“Mau dicium, kan? Mau lagi?”

“Udah, Mas. Aku malu.”

“Masih malu? Kan kita sudah sah lama. Kenapa harus malu?”

“Aku udah ngantuk. Kita tidur aja.”

“Ya, gitu, dong. Yuk!”

“Yuk, apa?”

“Menurut kamu apa?”

“Iya, tidur.”

Ia lantas tertawa kecil. Seraya menyubit pelan pipiku.

***

Pagi itu cuaca cerah dan suasana jauh lebih damai dari hari-hari kemarin. Cicitan burung terdengar merdu di luar rumah. Mas Afwan tampak tengah mengajak Hamzah bermain bersama. Yaitu, melukis gambar robot sebagaimana yang Hamzah mau semalam. Mereka tampak bahagia bermain bersama.

Aku pun datang membawakan cemilan untuk mereka—bolu tape hangat yang baru saja keluar dari oven. Hamzah tampak bahagia menyambut kue bolu bikinanku. Ia lantas tersenyum bahagia dan mengambil sepotong kue itu dengan tangan mungilnya.

“Hati-hati panas ya,” ucapku memperingatinya.

“Syukron, ya Umi. Jazaakillahu khail.”

“Wa jazaakallahu khail, Nak,” jawabku lantas duduk di samping Hamzah.

“Sayang, bisa kita bicara sebentar?” tanya Mas Afwan padaku seraya berjalan menuju ruang tamu.

Aku mengangguk sambil mengikuti langkahnya. Kami diam sejenak sebelum Mas Afwan benar-benar membuka topik pembicaraan. Ia terlihat gugup sambil meremas-remas tangannya. Aku, ikut mengekspresikan rasa gugup yang sama sepertinya. Hingga akhirnya sebuah kata terucap dari bibirnya.

“Maaf. Belakangan Mas mudah emosi sama kamu.” Aku mendongak memerhatikannya yang kini tertunduk menatap lantai ruang tamu. Mataku mulai memanas seolah ingin menumpahkan hujan kembali.

“Tapi itu udah berlalu. Sekarang, Mas mau nanya. Apa kamu mau maafin Mas?” Aku lekas mengangguk seraya menuai senyuman padanya.

“Aku juga minta maaf, Mas. Karena belakangan ini selalu menyusahkan hati Mas.”

Ia menggeleng. Lantas menatapku lama. Tatapan itu begitu teduh dan seolah menyimpan sesuatu di dalamnya. Tak lama, sepasang mata itu tampak berkaca-kaca. Kemudian, ia lekas menepisnya dengan senyuman dan tawa. Aku membalas senyum dan tawa itu dengan reaksi yang sama dengannya.

Tiba-tiba, ia kembali bersuara setelah kami saling canda dan tertawa.

“Sayang, Mas mau tanya.”

“Apa, Mas?” Ia tampak sedang merogoh saku bajunya. Lalu mengeluarkan sesuatu yang kini membuatku membeku.

“Kamu baru aja selesai haid, kan? Tapi … testpack ini buat apa? Kenapa ada di tong sampah?”

Seketika pasokan oksigen di paru-paruku menguap entah ke mana. Aku mematung menatap testpack yang kemarin kubuang ke tong sampah. Sebuah testpack yang telah lama berada di dasar tasku.

Seketika memori kelam di masa lalu itu kembali terulang. Lidahku mendadak kelu, membeku bersama rahasia kelam yang mati-matian kukubur sendirian. Ingatanku terlempar kembali pada memori silam. Saat di mana aku mematung menunggu jawaban di toilet umum itu.

1
Key
ehm ... ini awal pertemuan ya
Larasati: iya 🤭
total 1 replies
Key
Ridho, gini aja deh ... kita jujur²an. Mau bogem kanan apa bogem kiri?
Larasati: kanan aja biar lebih kuat hahaha 😄
total 1 replies
Key
Woi, nggak pantes banget 🥲
Larasati: memanng si ridho ni harus disentil mulutnya memang 🫩
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Adelin
Larasati: salam kenal kembali mas wawan.. 😍
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kasihan adelin
Larasati: ya kak... di bab berikutnya lebih kasian /Scowl/
total 1 replies
Key
sekompleks itu ya kehidupan, hemzzz
Larasati: iya ... caapek memang dunia oh dunia 🫩
total 1 replies
Key
kamu sih Mabora
Larasati: hahaha tulah ya menyesal kemudian
total 1 replies
Key
Ini beneran, naik jabatan bakal seseram ini?🗿
Larasati: ya benaran ada loo yang begitu.. gak percaya? riset aja hehe
total 1 replies
Key
ah seramnya punya keluarga ngedrugs🥲
Larasati: serem y.. takut bun bun kita hehe
total 1 replies
Key
Jangan🥲
EvhaLynn
Semangat Thor😉
Wednesday
bundir?
Larasati: menurut kakak gimana?
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
cerita yang menarik
Larasati: maa syaa Allah senang kakak suka 😍
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi sudah hadir kak 😍
total 1 replies
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!