NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesempatan di tengah Kebohongan

Suara itu masih terdengar nyaring di telingaku. Bagai berebut indera pendengaranku. Kupejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Kali ini, kuberanikan menantang mereka. Lewat zikir-zikir yang aku rapalkan. Sesekali kubacakan ayat Al Quran agar hati semakin tenteram. Tak lama setelah itu, suara-suara yang bergemuruh di telingaku itu, hilang.

Aku bergegas menuju kasur. Mengurung diriku di dalam selimut. Seraya memeluk Hamzah erat, berharap ketenangan dan rasa aman muncul dari dalam diriku. Setidaknya, malam ini aku berhasil mengontrol rasa takutku dengan tenang dan tanpa teriakan.

Kulihat Hamzah yang menggeliat seolah terganggu oleh pelukanku. Perlahan matanya terbuka. Aku lekas melelapkannya kembali dengan mengusap puncak kepalanya. Hingga ia kembali terlelap. Aku pun memutuskan tidur. Walau mata ini begitu sulit untuk lelap, tapi … akan kupaksa. Karena aku tak ingin suara menyeramkan itu kembali mengangguku.

***

“Sayang. Sayang, bangun.” Sebuah suara menyadarkanku dari tidur yang baru sekejap. Kubuka mataku yang begitu berat untuk dibuka. Ternyata ….

“Mas Afwan?” tanyaku kaget seraya memeluknya erat.

“Ya, Sayang,” jawabnya sembari turut memelukku dengan erat.

“Mas, kok udah pulang aja?”

“Ya, qaddarullah Syaikhnya sedang ada uzur. Jadi ditunda kajiannya jadi bulan depan. Emangnya, kamu nggak senang aku pulang? Aku balik lagi, ya.”

“Jangan!” cegahku seraya mencengkeram tangannya kuat. Ia tertawa, lantas mengecup lembut bibirku, hingga darahku berdesir.

“Mas! Ada Hamzah!”

“Hamzah udah aku pindahin ke kamarnya. Jadi, kita bisa bebas malam ini.

Aku bergidik lagi. Apa maksudnya bisa bebas malam ini? Semoga bukan hal yang memunculkan perilaku aneh bagiku lagi. Mas Afwan pun mulai membuka percakapan yang mencairkan suasana.

“Sayang seharian ngapain aja? Capek nggak?” tanyanya seraya membelai lembut wajahku.

“Secapek-capeknya kerjaan aku di rumah, lebih capek kamu, Mas di luar sana.”

Ia tersenyum menatapku. Sesekali ia mengecup lembut keningku, seraya membelai lembut rambutku. Tatapan itu, selalu teduh. Sangat jarang aku mendapatkan tatapan tajam dari matanya. Sorotnya selalu penuh makna cinta yang dalam. Tapi … kenapa aku belum bisa menaruh cinta lebih dalam lagi seperti yang ia berikan, ya Allah?

“Sayang,” panggilnya dengan nada yang menenangkan hati.

“Iya, Mas?” jawabku gugup saat mata kami bertamu.

“Aku … ingin segera punya anak dari kamu. Kapan kita bisa program, Sayang?”

Suaraku nyaris hilang saat mendengar kalimat tanya itu. Aku mematung bagai tanpa nyawa. Alasan apa yang harus kubuat demi agar ia mengganti topik perbincangan kami. Tapi, aku tak boleh demikian. Aku … harus tetap meresponsnya. Karena jika tidak, ia pasti akan kecewa.

“In sha Allah, Sayang. Semoga segera Allah mudahkan kita memiliki seorang anak lagi,” jawabku setelah lama hanyut dalam keheningan.

Ia mengangguk mantap. Lantas mengecup keningku sekali lagi. Entah sudah berapa kali hal itu ia lakukan sedari tadi. Ia tak pernah bosan untuk memanjakanku. Ia selalu ada di saat aku butuh. Ia … suami idaman yang diharapkan banyak wanita. Tapi … mengapa aku tak bisa menaruh cinta yang sama seperti yang ia berikan? Kenapa aku sedingin itu?

“Kita tidur, yuk. Sudah larut,” ajaknya seraya hendak beralih tidur.

“Mas,” panggilku. Ia sontak kembali menatapku dan terduduk.

“A … aku. Aku sayang, Mas.”

Senyumnya merekah seolah bahagia mendengar kalimatku. Ia lantas membawaku ke dalam dekapannya. Sebuah kecupan mendarat di keningku. Kupejamkan mata. Kubiarkan kecupan itu menjadi saksi betapa dalamnya kasih sayang yang ia berikan padaku.

“Aku … istri yang beruntung, Mas. Karena mendapatkan suami sebaik dan setulus, Mas.”

“Akulah juga beruntung. Karena mendapatkan istri sesalihah dirimu. Yang menjaga dirinya tetap suci untukku.”

Seketika air mata itu tumpah. Kata-katanya itu, mengubah suasana hatiku dalam waktu singkat. Aku tersedu di balik bahunya. Bukan untuk menangisi ketulusan ucapannya, melainkan teriris oleh kalimat akhir yang ia ucapkan. Suci? Jika saja ia tahu, mungkin ia akan enggan menyentuhku lagi.

Malam itu kami tutup dengan tidur di selimut yang sama. Saling memeluk satu sama lain. Mataku seolah berat untuk dipejam. Seolah kata-katanya barusan membuatku larut dalam kebimbangan dan tangis yang tertahan. Aku melepas pelukan itu perlahan. Namun, sepertinya Mas Afwan sadar akan itu. Ia kembali memelukku sebelum aku benar-benar pergi.

Kutuai senyuman kala menatap kedua mata yang kini telah benar-benar terpejam itu. Ia, bagai bayi yang tak bisa lepas dari dekapan ibunya. Hingga aku kembali memeluknya erat. Tiba-tiba … ia berkata.

“Jangan pergi ke mana-mana. Peluk aku terus,” cegahnya dengan mata terpejam.

Aku mengaminkan permintaannya tanpa suara. Kemudian, sebuah kecupan lembut kudaratkan di keningnya. Ia tersenyum bagai mendapatkan buah yang manis di indera perasanya. Hingga malam itu kami tutup dengan saling larut dalam pelukan yang hangat.

Hari-hari berjalan seperti rutinitas biasanya. Aku tetap dalam kepura-puraan. Pura-pura tersenyum walau gerimis di balik mata sering menyapa dalam sepi. Lima belas hari berlalu. Aku, mendapati datang bulan terhitung empat belas hari lamanya.

Entah mengapa aku sedikit bisa bernapas lega ketika mendapatkan menstruasi ini. Karena bagiku, saat menstruasi datang, itu tanda aku jadi lebih leluasa lagi mengerjakan pekerjaan rumah. Jeda yang diberi Allah dalam hal ibadah. Bukan nikmat, tapi setidaknya memberi napas.

Aku berjalan menuju toilet. Mengambil kain pel dan mengepel lantai yang terlihat kotor karena bekas bermain tepungnya Hamzah. Siang itu, Mas Afwan berada di rumah. Ia memerhatikanku sekilas saat sedang mengajarkan Hamzah membaca iqra'. Kemudian, suara baritonnya terdengar.

“Sayang, kamu keliatan pucat. Udah makan?” tanya Mas Afwan padaku. Ia mengkhawatirkanku.

Aku mengangguk sekilas sambil terus melanjutkan mengepel lantainya. Hingga kini, Mas Afwan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menujuku. Menyentuh keningku yang padahal tak panas sama sekali.

“Kamu nggak demam. Tapi kenapa pucat? Kita ke rumah sakit, ya,” tawarnya.

“Aku nggak apa-apa, kok, Mas. Ini masih bisa ngepel.”

“Jangan ngeyel. Ayo! Sekarang kita ke rumah sakit,” kulihat Mas Afwan bersiap mengganti pakaiannya. Lalu, berjalan mengambil kunci mobil dan menyuruhku mengganti pakaian. Aku tak bisa menolak kali ini. Hingga aku menuruti maunya.

***

“Ibu mengalami ketidakseimbangan hormonal yang disebabkan oleh stres dan aktivitas berlebih. Saya mau tanya, belakangan apakah Ibu sering mengalami stres berat dan aktivitas berlebih?” tanya seorang Dokter paruh baya lengkap dengan balutan hijabnya yang rapi.

Aku terdiam sesaat. Aku bahkan sama sekali tak merasa bahwa diriku kelelahan. Aku juga tidak ada pemicu stres berat belakangan. Karena, apa hal yang membuatku stres lagi? Suamiku, ia baik. Hamzah, tak banyak ulah. Kerjaan rumah, juga tak semelelahkan itu. Lantas, kenapa aku bisa mengalaminya? Berkaca dari masa lalu, aku memang sering mengalami ini.

“Dulu, saya juga sering, Dok mengalaminya. Sepertinya memang hal biasa, Dok.”

“Bukan. Ini bukan lagi hal biasa. Ini sudah termasuk penyakit, yang harus ditangani dengan obat. Ibu untuk saat ini saya berikan obat dulu untuk menstabilkan hormonnya. Supaya haidnya teratur, ya.”

“Baik, Dok,” jawabku seraya menerima secarik kertas berisi resep obat darinya.

“Silakan nanti ke kasir, ya, Bu,” ucap seorang perawat yang mendampingi dokternya.

Aku mengangguk lantas berlalu dari ruangan itu. Mas Afwan dan Hamzah telah menunggu di luar. Ia memerhatikan secarik kertas di tanganku. Lalu bertanya ….

“Ada obat?” tanyanya seraya memeriksa hasil diagnosisku.

“Ketidakseimbangan hormonal?”

“Iya, Mas.”

Ia lantas merangkul bahuku. Kemudian membantu proses pengambilan obat di kasir.

***

Malam itu, entah mengapa aku merasa bahwa aku lebih memilih untuk membiarkan haid ini bertahan agak lama. Sebab, jika aku telah suci, aka nada lagi sesuatu yang menakutkan terjadi padaku. Aku bukan tak ingin melayani suamiku, melainkan … aku takut dengan setiap reaksi yang menimpaku. Hingga sebuah pikiran masuk di kepalaku.

Sesuatu yang aku tak sadari bahwa hal itu berbahaya bagi kesehatan dan hubunganku dengan Mas Afwan. Setiap hari aku tetap membuka bungkusan obat itu. Namun, obatnya kubuang ke closet. Kulakukan itu selama berhari-hari. Hingga suatu malam, sebuah perkara muncul.

“Sayang. Kamu udah nggak haid lagi, kan? Ini sudah tujuh hari. Harusnya obatnya bereaksi. Kamu, sudah sembuh?”

Aku diam membeku. Pikiranku menerawang ke mana-mana. Kusembunyikan obat yang hendak kubuang kembali. Saat tanganku berada di belakang punggung, Mas Afwan menaruh curiga. Ia lantas menggapai tanganku dan melihat ada obat itu di dalam tanganku.

“Apa ini? Kamu masih minum obat? Obat yang lain udah habis?”

Aku mengangguk ragu. Mataku tersorot pada toilet. Aku, lupa satu hal. Aku belum menekan tombol flush pada closetnya. Di sana, ada dua butir obat yang aku tenggelamkan. Tapi, belum benar-benar tenggelam. Karena aku mendengar suara Mas Afwan memanggilku.

Saat mataku memancarkan rahasia di dalam toilet, Mas Afwan lantas beralih menuju toiletnya. Kemudian …

“Kenapa ada obat di sini, Adelin?!”

1
Key
kamu sih Mabora
Larasati: hahaha tulah ya menyesal kemudian
total 1 replies
Key
Ini beneran, naik jabatan bakal seseram ini?🗿
Larasati: ya benaran ada loo yang begitu.. gak percaya? riset aja hehe
total 1 replies
Key
ah seramnya punya keluarga ngedrugs🥲
Larasati: serem y.. takut bun bun kita hehe
total 1 replies
Key
Jangan🥲
EvhaLynn
Semangat Thor😉
Wednesday
bundir?
Larasati: menurut kakak gimana?
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
cerita yang menarik
Larasati: maa syaa Allah senang kakak suka 😍
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi sudah hadir kak 😍
total 1 replies
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Rizkia Mauli
penulisannya sangat bagus, alurnya menegangkan. aku baru baca tiga bab udah kerasa ketegangannya. sangat rekomended bagi yang suka alur menegangkan dan emosional.
Larasati: waaa makasi banyak dek atas ulasannya.. 😍😍 rajin2 mampir ya dek.
total 1 replies
ceefour
Yeayy... So sweet
Larasati: 😍 sweet ya. Alhamdulillah halal.
total 1 replies
ceefour
Waow cepet ya proses nikahnya
Larasati: kalau ustaz gitu main sat set.. hahaha
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku merasakan kekecewaan terhadap sosok Adelin, tapi... termasuk wajar gak sih jika diposisi seperti itu sampai sekalut itu dan akhirnya memilih hal buruk terhadap hidupnya? eh kayaknya wajar deh, aku pun pernah di masa tertekan jg melakukan hal bodoh sih hehe
Key: exactly, manusia memang bermacam² ya pemikirannya. But for me, ini seperti hal yang terlalu di paksakan.
total 4 replies
Rizkia Mauli
aku yakin adelin gak akan nerima deh, dari prolog aja mungkin itu baru pertama kalinya dia, jadi... ntah deh hehe
Larasati: hehe ayo bab berikutnya yuk
total 1 replies
Rizkia Mauli
Bugh ini.... apakah... antara benar-benar jatuh atau... suara orang yang datang menolong?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!