NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Melawanku? Kau Masih Terlalu Hijau

"Itu luar biasa! Bagus sekali! Mengagumkan!"

Pujian terus datang dari penjuru ruangan. Dari dokter yang Alvian kenal, sampai dokter yang tidak tahu namanya. Mereka mengagumi apa yang dilakukan Alvian.

Bahkan Dokter Heru di samping menepuk pundaknya.

"Bagaimana cara kamu melakukannya? Kami yang ada di sini, hampir semua, adalah dokter teregistrasi. Di antara kami bahkan ada banyak dokter senior, termasuk dokter ortopedi konsultan tulang belakang dan dokter bedah saraf. Mereka bahkan tidak bisa melihatnya, bagaimana bisa kamu memberikan diagnosis yang begitu akurat tanpa laporan MRI?"

Tentu saja, semua menunggu penjelasan yang masuk akal. Tidak hanya dr. Heru, tapi Clarissa, dokter-dokter senior, tak terkecuali dr. Hendra yang sedari tadi memperhatikan dari lantai dua juga menunggu jawaban Alvian.

Alvian menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal. Niatnya cuma bantu jaga nama keluarga malah cara diagnosis nya yang spontan mengejutkan semua orang.

"Ah! Ini... Ini mungkin kebetulan. Cuma lihat cara jalannya agak aneh, juga masuk sambil pegang pinggang. Dari sana sudah pasti ada yang salah dengan saraf nya," ucap Alvian, menjelaskan.

Namun seperti yang dikatakan dr. Nurkhozin sebelumnya, tidak ada yang namanya kebetulan. Dokter di ruangan itu tentu memiliki pemikiran yang sama.

"Ha-ha-ha-ha... Saya paham. Saya paham." Dokter Heru tiba-tiba tertawa dan tepuk tangan. Dia merangkul Alvian, berbisik kepadanya, "Tidak mau pamer, sangat rendah hati. Saya benar-benar tidak salah menilai kamu."

Alvian hanya tersenyum setengah meringis. Ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu, menjauh dari semua orang.

Di sisi lain, teman-teman Clarissa juga tak melewatkan kesempatan untuk memuji Alvian.

"Clara, aku pikir suami kamu cuma dokter umum biasa. Tidak disangka bisa memberi diagnosis akurat hanya dengan melihat cara pasien jalan. Apa dia punya kemampuan super?"

"Iya Clara. Suami kamu hebat juga, sampai-sampai Bayu lari, tak berani mengangkat wajahnya."

Clarissa memperhatikan Alvian lebih serius. Saat Alvian meninggalkan kerumunan, dia mengambil kesempatan menyusulnya.

___

Balkon.

"Fyuh! Akhirnya tidak ada orang." Alvian menyandar di tembok, menyalakan rokok. Sekilas menatap ke dalam melalui jendela kaca, untuk kesekian kalinya menghembuskan nafas.

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

Sebuah suara datang dari samping. Alvian spontan menoleh, menemukan Clarissa berdiri sambil melipat tangannya.

"Eh, Istri." Alvian matikan rokok, lalu membuangnya di tong sampah. "Lagi ngerokok, di dalam agak gerah."

Clarissa diam cukup lama, sebelum pada akhirnya menanyakan pertanyaan yang mengganggu pikirannya. "Tadi, bagaimana kamu bisa diagnosis seakurat itu?"

"Oh! itu.. Cuma kebetulan. Kebetulan lihat cara jalannya yang aneh, asal tebak, eh ternyata benar."

Clarissa menatap Alvian dengan serius. Tahu jika suami dalam KTP-nya itu sedang menutupi sesuatu.

Lagipula, siapa yang percaya diagnosis seperti itu hanya sebuah kebetulan? Alvian bahkan dapat menjelaskan dengan detail, seolah benar-benar yakin dengan hasil diagnosisnya.

Tidak semua dokter memiliki kemampuan diagnosis setajam itu. Clarissa bahkan belum pernah melihat secara langsung seorang dokter melakukannya. Hanya Alvian, dan itu sungguh membuatnya terkejut.

"Pesta akan berlangsung sampai malam. Tapi besok aku harus bekerja, jadi aku akan pulang. Bagaimana denganmu?"

"Oh, tentu saja ikut pulang. Aku pergi ke mana istri pergi," ucap Alvian.

Mereka berpamitan terlebih dahulu ke dr. Hendra dan Bu Diany. Juga beberapa kenalan yang bersinggungan jalan.

Sekitar jam sebelas mereka sampai di rumah. Clarissa langsung naik ke lantai dua, sementara Alvian duduk di sofa.

___

Keesokan paginya, Alvian bangun seperti biasa, pergi ke dapur bersiap membuat sarapan. Namun Bi Irah memberitahu jika Clarissa sudah pergi ke rumah sakit sejak subuh, karena ada keadaan darurat.

Ting!

Pesan dari "Istri Galak Tapi Cantik" masuk ke HP Alvian. Isinya, "Sudah bangun? Cepat ke rumah sakit. Ada kasus. Papa minta kamu ikut."

Alvian lepas kembali apron dan membalas pesan tersebut.

"Oke. OTW."

Tak lupa Alvian juga kirim pesan ke Mbak Sari agar buka kliniknya agak siang.

 

RS Sentral Nusantara. Ruang Direktur.

Tiga orang sudah duduk di ruangan tersebut. Mereka adalah dr. Hendra, dr. Heru dan Clarissa. Ketiganya menunggu kedatangan Alvian, yang masuk ruangan dengan santai, melenggak-lenggok, langsung duduk di samping Clarissa.

"Ada apa, Pa? Katanya ada kasus."

Dokter Hendra mengangguk samar. "Ya. Ini kasus keluarga Menteri. Jatuh di kamar mandi, suspect fraktur collum femur. Tapi keluarganya susah. Tidak percaya omongan dokter."

"Lho, tidak percaya dokter? Kok aneh?" Alvian garuk kepala.

"Maksudnya, mereka sulit mencerna apa yang disampaikan dokter. Jadi perlu dokter yang pandai bicara, untuk memberikan pemahaman kepada keluarganya." Dokter Heru berhenti sejenak, "Clara bilang kamu cocok untuk tugas ini, jadi minta kamu datang."

"..."

Alvian menoleh ke samping, memandang Clarissa. Tak bicara, membuat Clarissa gugup sendiri.

"A-apa? Bukankah kamu biasanya sangat suka bicara? Jadi apa salahnya menggunakan kelebihan itu untuk memberi pengertian ke keluarga pasien?"

Alvian masih tak bicara, tapi kemudian tiba-tiba tersenyum. Berseru, "Ya. Ternyata Istri sangat mengenalku. Ini memang tugas yang cocok. Aku akan mencobanya, Pa."

Dokter Hendra, Dokter Heru terkejut dengan seruan Alvian. Tapi mereka tak mau ambil pusing, dan segera memberikan laporan hasil pemeriksaan kepada Alvian agar memahaminya.

 

Ruang VVIP. Jam 12.45 WIB.

Pria tua berbaring di atas bed dengan kaki kanan bengkok, muka menahan sakit. Di sampingnya, istri, anak dua, menantu satu. Semua pakai jas, tegang.

Clarissa selesai memeriksa, membuat catatan, lalu memberikannya kepada Alvian. Kali ini Alvian yang menghadap langsung keluarga pasien.

"Ini hasil pemeriksaannya, Bu. Tulang paha Bapak itu sudah sangat rapuh, keropos, faktor usia. Gerakan intens berulang bisa membuat keadaannya lebih parah. Berpotensi tidak bisa jalan. Tapi kalau kelamaan tiduran, juga bisa buat masalah. Paru-paru bisa kemasukan 'minyak' dari tulang."

Keluarga hening sesaat. Muka masih tegang. "Lalu Dok? Kita harus bagaimana?"

Anak menteri yang pertama bertanya, "Bisa jalan lagi nggak, Dok? Soalnya Bapak mau nyalon lagi tahun depan."

Alvian garuk kepala, tersenyum tak berdaya. "Untuk ini, Bapak harus operasi."

"..."

Saat keluarga masih mencerna, Clarissa menambahkan. "Setelah operasi nanti Bapak 3 bulan weight bearing, bertahap. 6 bulan bisa kembali aktivitas normal dengan walker, sambil jalani fisioterapi secara intensif."

Mereka menatap Alvian. "Kata dr. Clara, maksudnya, 3 bulan Bapak latihan jalan pake tongkat, 6 bulan sudah bisa kampanye lagi. Tapi jangan joget dulu."

Mereka mengangguk. "Kami paham sekarang. Tolong Bapak ya, Dok. Semoga operasinya berjalan lancar."

"Tenang saja Bu. Tim dokter Rumah Sakit Sentral Nusantara termasuk yang terbaik di kota ini. Mereka pasti memberikan yang terbaik."

"Iya. Kami percaya. Terima kasih ya Dok."

Clarissa yang melihat pembicaraan berjalan begitu lancar hampir tak bisa mempercayainya. Padahal sebelumnya mereka juga memberikan penjelasan yang mirip, tetapi seolah yang mereka katakan dianggap terlalu berlebihan.

Mereka pamit keluar, saat itu dr. Hendra sudah berdiri di depan pintu dan memberi Alvian sebuah jempol.

"Kerja bagus."

Alvian tersnyum. Pada saat yang sama melirik Clarissa, seperti sengaja memberi kode.

"Istri, karena tugas sudah selesai? Bukankah harus ada imbalan?"

Clarissa menyatukan alis, berkata, "Apa? Kamu minta bayaran?"

Alvian menggelengkan kepala, tapi tak bicara.

"Lalu apa?" tanya Clarissa.

Dokter Hendra yang paham situasi tidak mau berada di antara muda-mudi itu. "Kalian bicara saja yang tenang. Papa mau kembali ke ruangan."

"Eh! Pa... " Clarissa memanggil tetapi dr. Hendra sudah masuk ke dalam lift. Dia menghembuskan nafas, melirik Alvian. "Katakan. Bilang saja mau apa, nanti aku belikan."

Namun alih-alih bicara, Alvian menarik tangan Clarissa dan pergi ke kantin yang ada di lantai dua.

Dia meminta Clarissa duduk di meja, sementara dirinya mengambil makanan.

"Sebenarnya imbalan apa yang kamu inginkan?" tanya Clarissa, lagi.

Alvian sudah menyuap nasi ke mulutnya. Bicara sambil mengunyah. "Ini. Ini imbalannya. Sarapan di kantin rumah sakit. Sudah mirip kencan romantis, kan?" Dia menaik-turunkan alisnya, menggoda.

Saat itu rekan-rekan IGD datang, termasuk Maya, dokter koas. "Eh, Dok Clara, pantas tidak terlihat dari tadi. Rupanya sedang kencan di sini."

Mata Clarissa melotot. Hanya saja mulutnya kalah cepat dengan Alvian. "Benar. Kami memang sedang kencan, jadi kalian jangan ganggu dulu ya. Hush... Hush... "

Maya mengerucutkan bibir, tapi pergi sambil tertawa. Begitupula dengan rekan dokter lainnya. Sedangkan Clarissa hanya bisa diam. Merengut, tapi tetap makan soto yang diambilkan Alvian.

"Cepat habiskan. Jangan banyak bicara, nanti aku tinggal."

___

SCBD. Jam 23.00 WIB.

Tuan Keempat sedang mendengerkan laporan. "Gimana? Sudah tahu siapa 'Dokter' yang lumpuhin Bram?"

Anak buah menggelengkan kepala. "Belum, Tuan. Tapi... ada berita tentang menantu Direktur Rumah Sakit Sentral Nusantara, dr. Hendra. Dia hanya dokter klinik, tapi kemarin di pesta berhasil diagnosis L5-S1 sekali lihat."

Tuan Keempat menghisap cerutu, perlahan mengangkat wajah menatap anak buah di depannya. "Dokter klinik? Apa hebatnya? Mungkin cuma kebetulan."

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!