Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Tidak Punya Sopan Santun
Shafiya berada di dalam mobil bersama dengan Arash dengan mobil tersebut berhenti di kediaman kedua orang tua Shafiya. Akhirnya Arash memang menemani Shafiya.
"Tunggu apa lagi? kau tidak berniat untuk turun? Bukankah kau sudah tidak sabar pulang ke rumahmu?" tanya Arash.
"Kamu akan menginap di sini sampai besok?" tanya Shafiya tampak ragu.
"Bukankah aku harus bertemu dengan ayah mertuaku, tiba-tiba saja aku merindukannya dan ingin sekali banyak berbicara dengannya," jawab Arash.
Shafiya justru terlihat begitu khawatir, dia sudah mulai mengenali tabiat suaminya itu yang sangat jahat.
Arash membuka sabuk pengamannya dan ingin keluar dari mobil tersebut namun ditahan Shafiya.
"Ada apa?" tanya Arash.
"Aku punya cara sendiri untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya, aku sangat yakin Abi tidak mungkin melakukan hal itu, jika memang Abi yang menabrak Chantika, dia sudah pasti bertanggung jawab. Jadi biarkan aku menyelesaikan semua ini," ucap Shafiya.
"Apa itu artinya kau mencegahku untuk aku tidak mengatakan kepada keluargamu dengan tujuanku untuk menikahimu? Kau takut keluargamu akan sedih dan merasa berdosa dengan kesalahan mereka karena kau yang menjadi korban?" tanya Arash.
"Aku tidak takut dengan apapun, hanya saja aku merasa terlalu bodoh jika membiarkan seseorang penuh dengan dendam yang belum tentu benar," jawab Shafiya penuh dengan penekanan.
Arash tidak menanggapi perkataan istrinya dan melanjutkan keluar dari mobil dan kemudian disusul Shafiya.
"Asalamualaikum!" Arash sudah terlebih dahulu membuka pintu kediaman Shafiya dengan sopan mengucapkan salam kepada orang tua Shafiya yang berada di ruang tamu.
"Walaikumsalam," sahut Abi Thoriq tersenyum berdiri dari tempat duduknya begitu juga dengan Kanaya dan Umi Laina juga ikut berdiri.
"Shafiya....." Kanaya bahkan berlari kecil menghampiri Shafiya dan memeluk adiknya itu begitu erat.
"Sungguh aku sangat merindukanmu, kita benar-benar sudah lama tidak bertemu," ucap Kanaya.
"Shafiya juga kak," sahut Shafiya sudah saling melepas pelukan dengan Kanaya.
Shafiya menoleh ke arah sang suami
Ternyata Arash tidak terlalu sopan dan bahkan tidak mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Bagaimana kabar kamu Shafiya?" tanya Umi.
"Alhamdulillah Shafiya baik-baik saja Umi," jawabnya dengan terpaksa berbohong.
Bagaimana mungkin keadaannya baik-baik saja sementara pernikahannya begitu rumit dan bahkan bisa dikatakan setiap hari Shafiya harus meneteskan air mata karena pernikahannya.
"Hmmmm, apa tamu yang datang ke rumah ini tidak disuruh untuk duduk?" pertanyaan Arash cukup nyelekit sehingga terjadi keheningan seketika membuat mereka menatap heran ke arah Arash.
"Kenapa melihat saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan perkataan saya?" tanyanya mengangkat kedua barunya benar-benar tidak punya sopan santun dan ingin menunjukkan kepada kedua orang tua Shafiya bahwa dia memang tidak akan pernah menghargainya orang-orang yang ada di rumah itu.
"Iya, silahkan duduk Arash," Umi langsung peka dengan sopan mempersilahkan.
Arash tersenyum kemudian langsung duduk melewati begitu saja Thoriq. Thoriq sampai menoleh ke belakang melihat bagaimana Arash begitu juga cuek, duduk dengan santai dan bahkan mengangkat satu kakinya di atas pahanya.
Umi dan Abi saling melihat satu sama lain dan sementara pandangan Kanaya tertuju pada Shafiya.
"Shafiya apa semua baik-baik saja?" tanya Kanaya berbisik pelan.
"Iya," Shafiya lagi-lagi harus berbohong dengan menganggukkan kepala.
Akhirnya mereka semua menyusul untuk duduk di ruang tamu.
"Arash kamu ingin minum apa?" tanya Umi dengan berbaik hati menawarkan minuman pada menantunya itu.
"Hmmmm, apapun itu, apa yang menjadi favorit di rumah ini mungkin bisa saya coba," jawabnya.
"Baiklah! .... Bi...." Umi memanggil pelayan di rumah itu untuk membuat minuman.
"Saya pikir minumannya akan dibuat langsung oleh pemilik rumah," sahut Arash terdengar sinis.
"Hmmm, biar saya yang membuatkannya," sahut Kanaya dengan langsung peka.
"Tetapi bukan kamu yang menawarkan minuman itu kepada saya," sahut Arash.
"Baiklah, Umi akan membuat minuman untuk kamu. Kamu merupakan menantu di rumah kami dan ini pertama kali kamu datang ke rumah kami setelah menikah, memang sudah sewajarnya saya sebagai ibu menjamu menantunya dengan tangan sendiri," sahut Umi.
"Tidak Umi. Shafiya sendiri yang akan membuatkan minumannya," Shafiya berdiri dari tempat duduknya.
Dia tidak ingin uminya direndahkan oleh Arash bahkan sampai memerintah untuk membuat minuman.
"Sayang....." Arash menahan tangan itu dan bahkan berbicara begitu manis membuat Shafiya sampai tidak jadi melangkahkan kakinya.
"Kamu selalu gagal membuat minuman untukku, masa iya aku harus meminum buatan kamu yang tidak cocok di tenggorokanku lagi ketika berada di rumah kamu," ucap Arash.
Shafiya mengerutkan dahi, sangat kesal dengan perkataan Arash dengan semua kebohongannya.
Arash bahkan tidak pernah mencicipi sedikit saja apa yang dia buat dan sekarang seolah-olah semua yang dia lakukan tidak cocok di Arash.
"Sudahlah Shafiya, biar Umi buatkan saja," sahut Umi tidak ingin banyak drama di ruang tamu itu dan langsung berdiri dari tempat duduknya meninggalkan ruang tamu.
"Duduk lagi sayang," ucap Arash dengan tersenyum dan mengarahkan matanya pada kursi di sebelahnya.
Shafiya benar-benar menahan diri atas tingkah suaminya itu.
"Shafiya kamu harus banyak belajar lagi untuk menjadi seorang istri agar semua makanan dan minuman yang kamu sajikan pada suami kamu cocok di lidah suami kamu. Karena biasanya akan ada kebanggaan bagi seorang suami jika segala sesuatu disiapkan oleh istrinya," sahut Kanaya memberi saran.
"Kamu dengarkan sayang masukkan dari Kakak kamu, agar kamu bisa belajar menjadi istri yang patuh," ucap Arash dengan tersenyum.
Shafiya tetap saja terlihat begitu kesal dan berusaha untuk tenang dan sementara Abi merasa ada yang tidak beres, perhatiannya sejak tadi tertuju pada Shafiya yang sangat jelas menyembunyikan sesuatu dan tertekan.
Arash bertingkah di rumahnya, Umi sudah selesai membuat minuman dan sekarang dicicipi olehnya. Untung saja tidak ada drama yang ditimbulkan oleh Arash, mengingat selama ini pria itu selalu saja membuat banyak masalah.
"Umi senang kalian berdua datang sebelum acara dimulai dan dengan begitu bisa membantu untuk mempersiapkan acara syukuran besok," sahut Umi.
"Ya, pekerjaan saya cukup banyak tetap tidak ada salahnya untuk ikut berpartisipasi," sahut Arash dengan tersenyum.
"Terima kasih Arash. Kamu sudah meluangkan waktu kamu untuk datang ke rumah ini," sahut Abi
"Sama-sama," sahut Arash tersenyum.
"Shafiya kamu sebaiknya ajak suami kamu untuk beristirahat ke kamar kalian. Meski kamu tidak berada di rumah ini, Umi selalu membersihkan kamar kamu dan semoga saja Arash jangan tinggal di kamar kamu," ucap Umi.
"Baik Umi," sahut Shafiya.
****
Arash saat ini sudah berada di kamar Shafiya. Kepalanya berkeliling melihat kamar yang rapi dan bersih itu dengan nuansa warna biru bercampur dengan pink.
Layaknya kamar wanita, selain lemari besar tempat tidur cukup luas, Shafiya juga memiliki meja belajar dengan rak buku tertempel pada dinding. Shafiya memang hobi belajar dan banyak jenis buku menjadi koleksinya.
Arash berjalan menuju meja tersebut, tangannya tampak gatal melihat buku seperti diary berwarna pink itu.
Ketika Arash ingin mengambilnya dan tiba-tiba saja sudah terambil begitu cepat membuat Arash menoreh ke belakang dan ternyata itu adalah Shafiya.
"Jangan menyentuh apapun di kamarku!" tegas Shafiya memasukkan buku tersebut ke dalam laci dan dikunci.
"Hah!" Arash melihat tingkah istrinya itu mendengus kasar.
"Saya juga tidak tertarik untuk menyentuh apapun di kamar ini," jawabnya.
"Kalau begitu untuk apa jalan sana jalan sini dengan mata jelalatan melihat ini dan itu?" tanyanya.
"Terserah saya, yang mempunyai organ tubuh panca indra itu adalah saya!" tegas Arash.
"Kamu benar-benar keterlaluan!" Shafiya menekan suaranya menatap wajah Arash.
"Kenapa harus memperlakukan kedua orang tua saya seperti itu? Apa kamu tidak bisa berpura-pura seperti tidak terjadi apapun dalam pernikahan kita dan tidak harus bertingkah seperti itu yang tidak menghargai kedua orang tua saya!" tegas Shafiya.
"Sayangnya saya tidak bisa berpura-pura seperti kamu dan kedua orang tua kamu seolah-olah tidak terjadi apa-apa," jawab Arash dengan tersenyum miring.
Bersambung.....