Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Hujan deras turun membasahi bumi Jakarta malam itu. Seolah langit pun ikut bersedih menyaksikan penderitaan yang sedang menimpa hati dua insan yang saling mencinta namun dipisahkan oleh takdir dan kekuasaan.
Di dalam kamar yang luas dan dingin itu, Alexa duduk memeluk lutut di sudut ranjang besarnya. Matanya merah dan bengkak, air mata seakan tak pernah habis mengalir membasahi pipinya. Pikirannya kacau balau. Bayangan wajah Genesis terus menerus menghantuinya, menatapnya dengan tatapan kecewa dan sedih saat ia ditarik paksa masuk ke dalam mobil tadi siang.
Gen... maafkan aku... sungguh maafkan aku... batinnya berteriak pilu.
Ia ingin lari. Ia ingin keluar dari sini, kembali ke rumah kecil yang hangat itu, kembali ke pelukan anaknya. Tapi apa daya, pintu kamar dikunci dari luar, jendela dilengkapi pengaman, dan ada dua bodyguard besar yang berjaga tepat di depan kamarnya sepanjang malam.
Ia bukan lagi wanita bebas yang bisa pergi ke mana saja. Ia sekarang adalah Alexa Wijaya, tahanan di dalam sangkar emas milik keluarganya sendiri.
“Ting... ting... tong...”
Suara lonceng jam dinding bergema pelan, menandakan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan suara berat dan tegas.
Tok! Tok! Tok!
“Nona Alexa. Buka pintunya. Tuan dan Nyonya besar ingin bicara dengan Anda sekarang juga.”
Alexa mengangkat wajahnya perlahan. Napasnya tertahan di dada. Ia tahu, ini bukan sekadar bicara biasa. Ini adalah keputusan akhir yang akan menentukan nasibnya selamanya.
Dengan langkah gontai dan berat, ia berjalan mendekati pintu dan membukanya. Dua bodyguard itu langsung masuk, berdiri di sisi kiri dan kanan seperti patung batu, siap mengawasi setiap gerak-geriknya.
Tuan Wijaya dan Nyonya Wijaya masuk dengan wajah datar namun penuh wibawa yang menakutkan. Mereka duduk di sofa mewah yang ada di sudut kamar, menatap Alexa dengan tatapan meneliti yang membuat bulu kuduk Alexa meremang.
“Duduk, Alexa. Kami tidak mau banyak basa-basi,” suara Tuan Wijaya terdengar berat dan dingin, memecah keheningan yang mencekam.
Alexa menurut, duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan mereka, namun ia menundukkan wajahnya, tidak berani menatap mata mereka. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang dihukum karena melakukan kesalahan fatal.
“Kami sudah memikirkan semuanya dengan matang,” lanjut Tuan Wijaya lagi, tangannya saling bertaut di depan wajahnya.
“Kami tidak bisa membiarkan kondisi ini berlanjut. Kelakuanmu belakangan ini, hilang tanpa kabar, tinggal di tempat kumuh, bergaul dengan orang tak dikenal... itu semua sudah sangat memalukan nama baik keluarga Wijaya.”
Alexa menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa di sana ia bahagia, tapi tenggorokannya terasa tercekat, tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.
“Dan soal pemuda itu... Genesis namanya kan?” Nyonya Wijaya angkat bicara kali ini, suaranya penuh nada menghina.
“Kami sudah melakukan pengecekan. Kami tahu segalanya tentang dia. Anak yatim piatu, hidup susah, tidak punya masa depan jelas. Kamu pikir hubungan macam apa yang bisa kamu bangun sama orang seperti itu, Alexa?!”
“Dia bukan seperti yang kalian pikirkan!” Alexa akhirnya memberanikan diri menyela, suaranya bergetar hebat. “Dia orang baik! Dia sayang sama aku!”
“Sayang atau nafsu semata?!” potong Nyonya Wijaya dengan keras, membuat tubuh Alexa tersentak kaget.
“Jangan jadi bodoh, Nak! Dunia ini keras. Cinta saja tidak bisa mengisi perut. Dia mendekatimu pasti karena tahu kamu orang kaya! Dia memanfaatkan kelemahanmu!”
“BUKAN!” Alexa menangis tersedu-sedu, kepalanya berguncang kuat menolak kata-kata itu.
“Genesis tidak pernah minta apa-apa! Justru dia yang berkorban buat aku! Kalian tidak tahu apa-apa! Kalian tidak pernah berusaha mengerti!”
“CUKUP!”
Teriakan Tuan Wijaya menggema memenuhi ruangan itu, membuat seluruh penghuninya terdiam kaku.
“Kami tidak butuh penjelasan lebih lanjut! Fakta tetap fakta! Dia tidak pantas untukmu! Dan hubungan kalian HARUS berakhir malam ini juga!”
Wajah Alexa pucat pasi seketika. Darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir.
“Apa... apa maksud Ayah?” bisiknya takut.
Tuan Wijaya menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah keputusan yang bagai pisau tajam menggorok hati Alexa.
“Besok pagi... kamu tidak akan ada lagi di Jakarta.”
Mata Alexa terbelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“A-apa? Maksudnya?”
“Kami akan memindahkanmu ke villa keluarga di Puncak. Tempat yang jauh, tenang, dan aman. Di sana kamu akan dididik kembali, diperbaiki perilakunya, dan dipersiapkan sebaik mungkin untuk pertunanganmu dengan Tuan Genta,” jelas Nyonya Wijaya dengan nada dingin tanpa belas kasihan.
“Di sana tidak ada sinyal yang kuat, tidak ada teman, dan yang paling penting... TIDAK AKAN ADA YANG NAMANYA GENESIS.”
BRUG!!!
Jantung Alexa rasanya berhenti berdetak saat itu juga.
Dipindahkan? Dibawa pergi jauh?
Dan dipisahkan selamanya dari Genesis?!
“TIDAK! AKU TIDAK MAU!” Alexa berdiri dari duduknya, menolak keras dengan seluruh tenaga yang ada padanya.
“AKU TIDAK AKAN PERGI! AKU TIDAK MAU NIKAH DENGAN SIAPA-SIAPA KECUALI DENGAN DIA! KALIAN TIDAK BISA MEMAKSAKU!”
Ia menangis histeris, air mata mengalir deras membasahi seluruh wajahnya. Hatinya hancur berkeping-keping membayangkan harus meninggalkan Genesis lagi, bahkan kali ini jaraknya akan jauh lebih jauh dan waktunya tidak pasti kapan bisa bertemu lagi.
“Kami tidak meminta izin mu, Alexa! Kami MEMERINTAH!” Tuan Wijaya ikut berdiri, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak.
“Kamu itu anak kami! Harta kami! Masa depan kami! Kamu tidak punya hak untuk menentukan nasibmu sendiri! Kamu harus menikah dengan Genta demi menyelamatkan perusahaan kami! Itu sudah menjadi kesepakatan!”
“Tapi aku mencintainya! Aku sungguh mencintai Genesis!” teriak Alexa putus asa.
“Apakah kebahagiaanku tidak berarti apa-apa bagi kalian?! Hanya karena dia miskin, kalian merendahkannya?! Kalian kejam!”
“YA! KITA KEJAM! KARENA KITA INGIN KAMU HIDUP BAIK-BAIK!” balas Nyonya Wijaya tak kalah keras.
“Lebih baik kami terlihat kejam sekarang daripada melihatmu menderita nanti hidup susah sama laki-laki tak berguna itu! Paham kamu?!”
Suasana di kamar itu menjadi sangat panas dan tegang. Teriakan, tangisan, dan amarah saling bersahutan. Alexa berusaha sekuat tenaga mempertahankan cintanya, berusaha menjelaskan betapa tulusnya cinta antara dia dan Genesis, tapi semua kata-katanya seakan menghilang ditelan angin. Bagi orang tua itu, logika uang dan kekuasaan jauh lebih penting daripada perasaan seorang anak.
“Sudah cukup perdebatan ini,” Tuan Wijaya mengangkat tangannya memberi isyarat berhenti.
“Keputusan sudah bulat. Besok pagi pukul enam, mobil sudah siap di depan. Kamu akan berangkat ke Puncak. Dan selama di sana, semua akses komunikasimu akan kami batasi total.”
Ia melangkah mendekati Alexa, menatap manik mata anak gadis itu dalam-dalam.
“Terimalah kenyataan ini, Alexa. Lupakan pemuda itu. Dia bukan duniamu lagi. Duniamu ada di sini. Bersama kami. Bersama Genta.”
“TIDAKKK!!”
Alexa mencoba berlari menghampiri pintu, ingin meloloskan diri, ingin lari kembali ke pelukan Genesis malam itu juga, apa pun caranya. Tapi sebelum ia sempat mencapai gagang pintu, dua bodyguard besar itu dengan sigap menangkap kedua lengannya, menahannya dengan kuat sehingga ia tidak bisa bergerak sedikit pun.
“LEPASIN! LEPASIN AKU! AKU MAU PULANG! AKU MAU KETEMU GENESIS! GENESISSS!!”
Alexa meronta sekuat tenaga, menangis, menendang, dan berteriak memanggil nama orang yang paling ia cintai. Tapi semua sia-sia. Tubuhnya terlalu lemah dibanding kekuatan mereka.
Nyonya Wijaya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya, lalu berkata dengan nada datar dan mematikan.
“Bawa dia ke kamar tidur. Ikat tangannya kalau perlu. Pastikan dia tidak bisa lari malam ini. Dan besok pagi, pastikan dia masuk ke mobil.”
“SIAP, NYONYA!”
“TIDAK! TOLONG! JANGAN LAKUKAN INI PADAKU! AKU BISA GILA! AKU BISA MATI JAUH DARI DIA!” isak Alexa tak henti-henti saat tubuhnya diseret paksa menuju ranjang.
“Kamu akan terbiasa, Nak. Kamu akan lupa. Waktu bisa menyembuhkan segalanya,” ucap Tuan Wijaya dingin sebelum akhirnya berbalik badan dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Alexa yang sedang hancur lebur di dalam kegelapan dan kesendirian.
Pintu kamar ditutup rapat. Suara kuni diputar dari luar terdengar jelas.
Klik.
Alexa terbaring lemas di atas kasur empuk itu, tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal karena habis menangis dan meronta.
Mata kosongnya menatap langit-langit kamar yang tinggi dan megah itu.
Mereka menang.
Orang tuanya menang.
Mereka berhasil memaksanya kembali ke dalam kehidupan yang bukan miliknya.
Mereka berhasil memisahkannya dari Genesis untuk yang kedua kalinya, dan kali ini rasanya jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.
“Gen... sayangku... anakku...” bisiknya pelan di antara isak tangis yang menyakitkan.
“Maafkan Ibu... maafkan Alexa... Kita kalah... Kita kalah oleh dunia... Kita kalah oleh kekuasaan...”
Air matanya jatuh membasahi bantal sutra yang mahal itu.
“Tunggu aku... di mana pun aku berada... hatiku cuma milik kamu... selamanya...”
Malam itu, hujan semakin deras turun, seakan ingin menghapus semua jejak kebahagiaan yang pernah ada, dan membiarkan kesedihan merasuk ke dalam setiap sudut hati mereka yang sedang terluka parah.
Alexa dipaksa kembali. Dipaksa menjadi orang lain. Dipaksa melupakan cinta terbesarnya.
Dan di ujung sana, di rumah kecil yang sepi, Genesis tidak tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir ia bisa berharap Alexa akan kembali. Karena besok, sosok itu akan hilang ditelan jarak dan waktu.