Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
***
Setelah belasan jam membelah awan dengan jet pribadi klan Hutomo yang lebih menyerupai hotel bintang lima berjalan, sebuah helikopter jemputan akhirnya mendaratkan mereka di kawasan Zermatt, Swiss. Pegunungan Alp yang tertutup salju abadi menyambut mereka dengan kemegahan yang dingin, persis seperti pria yang kini berjalan di samping Karina dengan langkah tegap yang tak terpengaruh angin kencang.
Vila pribadi milik keluarga Darma berdiri kokoh di lereng bukit, sebuah mahakarya arsitektur kayu pinus dan kaca-kaca besar yang dirancang khusus untuk menangkap setiap sudut puncak Gunung Matterhorn yang ikonik.
Karina sempat terpana di beranda. Sebagai seorang idol papan atas, definisinya tentang liburan biasanya hanyalah berpindah dari dorm ke hotel saat tur, atau bersembunyi di balik masker di kafe sepi. Melihat hamparan salju yang berkilau seperti berlian di bawah matahari musim dingin membuatnya ingin melompat kegirangan. Namun, antusiasme itu menguap seketika saat ia melangkah masuk ke dalam kamar utama.
"Tunggu dulu," Karina berhenti mendadak di ambang pintu, hampir membuat pengawal di belakangnya menabrak punggungnya. Matanya mengerjap, menatap satu-satunya ranjang king size yang tertata rapi dengan selimut bulu angsa tebal dan tumpukan bantal sutra. "Mas Darma... tolong katakan kalau mata saya sedang lelah karena jetlag. Kenapa hanya ada satu kasur?"
Darma yang sedang melepas sarung tangan kulitnya menoleh datar, wajahnya tetap setenang permukaan danau yang membeku. "Matamu sehat, Karina. Dan tepatnya, hanya ada satu kamar utama yang memiliki sistem penghangat ruangan terpusat di vila ini. Kamar lain hanya memiliki perapian manual."
"Jangan bercanda! Kita sedang di Swiss, bukan di kos-kosan!" Karina berbalik, tangannya sudah berkacak pinggang di balik puffer jacket mahalnya. "Mas bilang mau belikan saya pabrik es krim kalau saya setuju ikut perjalanan bisnis ini, tapi masa menyewa vila dengan dua kamar yang layak saja tidak mampu? Hutomo Group sedang krisis finansial?"
Darma menghela napas pendek, sebuah tanda bahwa ia mulai menghadapi 'drama' harian istrinya. Ia menyampirkan jaketnya ke kursi kayu jati di pojok ruangan dengan gerakan yang sangat presisi.
"Pebisnis yang cerdas tahu cara menghemat energi dan sumber daya, Karina. Di luar sana suhunya mencapai minus sepuluh derajat. Menyalakan penghangat untuk dua ruangan besar secara terpisah adalah pemborosan yang tidak logis," jawab Darma tenang.
"Logis? Mas, ini soal privasi!"
"Privasi apa yang kamu bicarakan? Kita sudah sah secara hukum dan agama," potong Darma cepat. "Lagipula, demi alasan keamanan, kita harus berada dalam jangkauan radar yang sama."
Karina mendengus, wajahnya memerah entah karena dingin atau kesal. "Radar apa? Radar strategis keturunan Mas itu? Atau Mas takut saya kabur dan naik gunung sendirian?"
"Paparazi, Karina," Darma melangkah mendekat, auranya yang dominan seolah menyedot oksigen di ruangan yang kini terasa makin sempit. "Di balik bukit itu, di antara pohon-pohon pinus, ada lensa jarak jauh yang mungkin sudah mengintai sejak kita turun dari helikopter. Jika mereka melihat lampu di dua kamar berbeda menyala hingga pagi, atau bayangan kita berada di ruangan terpisah, besok pagi saham perusahaan saya dan kredibilitas ayahmu akan turun setidaknya satu persen. Kamu tahu berapa kerugiannya jika dikonversi ke jumlah toko es krim yang kamu minta?"
Karina terdiam, bibirnya mengerucut gemas. Argumen Darma selalu berlapis baja—sulit ditembus. "Selalu saja soal saham, angka, dan kerugian. Mas ini benar-benar tidak punya celah untuk menjadi romantis sedikit saja ya? Apa di otak Mas hanya ada tabel Excel?"
"Romantis itu variabel yang harganya mahal, Karina, dan biasanya tidak efisien untuk jangka panjang," Darma kini berdiri tepat di depan Karina. Aroma parfum sandalwood dan dinginnya udara luar yang menempel di tubuh pria itu menyerbu indra penciuman Karina.
Tangan Darma terulur, bukan untuk memeluk, melainkan untuk membantu membuka resleting jaket Karina yang tampak tersangkut di bagian leher.
"Berhentilah mengeluh. Lepaskan jaket ini sebelum kamu berkeringat dan malah jatuh sakit. Tubuh saya kaku karena penerbangan tadi, saya tidak punya energi untuk berdebat soal tata letak kamar."
Karina sempat membeku saat jemari Darma yang dingin menyentuh dagunya secara tidak sengaja ketika ia menarik ritsleting ke bawah. Kontak kulit itu terasa seperti sengatan listrik kecil.
"Mas... saya bisa buka sendiri. Jangan memperlakukan saya seperti anak kecil," gumam Karina pelan, matanya menghindari tatapan tajam Darma.
"Kalau kamu bisa sendiri, kamu sudah melepasnya dari lima menit lalu," bisik Darma dengan suara rendah yang berat, sedikit condong ke arah telinga Karina. "Diamlah. Jangan sampai saya menggunakan otoritas saya sebagai suami untuk membuatmu patuh dengan cara yang mungkin tidak akan kamu sukai di depan kamera paparazi."
Karina merinding. Ia tidak tahu apakah itu ancaman atau hanya cara Darma menggodanya, tapi yang jelas, jantungnya kini berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia sedang berada di atas panggung megah.
"Dasar kulkas berjalan," gumam Karina akhirnya, menyerah dan membiarkan suaminya membantu melepaskan lapisan pakaian musim dinginnya, sementara di luar sana, puncak Matterhorn mulai memerah tertimpa cahaya matahari terbenam.
**
Tiga hari di Swiss dihabiskan dengan sesi foto "mesra" di atas salju untuk konsumsi media sosial yang, seperti yang diprediksi Darma, sukses membuat internet lumpuh total. Namun, bagi Darma Mangkuluhur, sandiwara salju itu hanyalah pembuka. Agenda sesungguhnya baru dimulai saat jet pribadi mereka menyentuh aspal Paris, Prancis.
Malam itu, Paris sedang dalam suasana paling melankolis. Darma membawa Karina ke sebuah restoran legendaris yang tersembunyi di pinggiran Sungai Seine. Restoran itu telah ditutup sepenuhnya; tidak ada tamu lain, tidak ada kilatan lampu ponsel. Hanya ada alunan biola yang lirih dari pojok ruangan dan cahaya lilin yang temaram, memantul pada gelas-gelas kristal.
Karina tampil sangat anggun dengan gaun hitam haute couture yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Namun, meski penampilannya memukau, hatinya bergejolak hebat. Ia sempat mengira ini adalah momen manis yang dijanjikan Darma untuk menebus kekakuannya di Swiss. Sampai akhirnya, Darma meletakkan sebuah map kulit hitam tebal di atas meja, tepat di samping piring porselen mereka.
"Apa ini? Menu tambahan yang tidak ada di daftar?" tanya Karina, mencoba melucu untuk menutupi rasa gugupnya. Matanya melirik map itu, lalu beralih ke wajah suaminya yang masih tampak seperti patung marmer.
"Buka saja. Anggap ini adalah hidangan pembuka yang sebenarnya," sahut Darma singkat, jemarinya yang panjang mengetuk meja dengan irama yang tenang namun menuntut.
Karina membukanya perlahan. Pupil matanya membelalak saat membaca lembar demi lembar. Barisan nama staf agensinya di Korea, transkrip percakapan digital yang seharusnya sudah dihapus, hingga bukti aliran dana ke rekening gelap. Itu adalah berkas legal hasil investigasi intelijen keluarga Hutomo yang bekerja secepat kilat.
"Mas... ini..." suara Karina bergetar, ia mendongak menatap Darma dengan mata berkaca-kaca. "Ini bukti bahwa mereka sengaja mengedit foto skandal itu? Mereka yang menjebak saya?"
"Ya. Staf itu sudah kami 'amankan' di sebuah lokasi di Seoul," jelas Darma dengan nada sedingin es, seolah ia sedang membicarakan jadwal pengiriman logistik rutin. "Dalam seminggu, dia dan manajermu yang berkhianat itu akan muncul di depan kamera internasional. Mereka akan bersujud memohon ampun padamu. Saya juga sudah menyiapkan gugatan perdata yang akan membuat agensimu bangkrut dalam hitungan bulan jika mereka tidak memberikan kompensasi publik dan permintaan maaf tertulis."
Karina menatap tumpukan kertas itu dengan rasa haru yang mendalam, namun ada rasa takut yang terselip di balik rasa syukurnya. "Kenapa Mas sampai sejauh ini? Investigasi lintas negara seperti ini... biayanya pasti sangat besar, bukan? Mas tidak perlu menghancurkan satu agensi hanya untuk nama saya."
Darma menyesap air mineralnya perlahan, matanya yang tajam menatap Karina tanpa ampun, mengunci pergerakan wanita itu.
"Jangan salah paham, Karina. Jangan berpikir ini hanya soal sentimen atau pembelaan pahlawan kesiangan," ujar Darma, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Karena namamu sekarang adalah bagian dari ekuitas brand keluarga saya. Menghinamu berarti menghina martabat klan Hutomo dan keluarga besar saya. Saya tidak suka aset saya dicoreng atau dimanipulasi oleh orang-orang murahan seperti mereka. Jika ada yang ingin menghancurkanmu, mereka harus berhadapan dengan sistem saya dulu."
Darma tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan, melintasi meja kayu mahal itu hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Karina. Bau parfum sandalwood yang maskulin dan berwibawa mendominasi indra penciuman Karina, membuatnya sulit bernapas.
"Dan jangan lupa satu hal lagi, Karina... tujuan kita ke Paris bukan hanya untuk merayakan kemenangan hukum ini," bisik Darma, suaranya kini terdengar sangat posesif dan penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Kita ke sini untuk segera menyelesaikan poin-poin dalam kontrak kita yang tertunda di Swiss, bukan? Saya adalah pebisnis yang ingin melihat hasil yang nyata, dan saya ingin hasil itu terjadi malam ini juga, di Paris."
Karina merinding mendengar penekanan pada kata hasil. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa pria di depannya bukan hanya sekadar pelindung atau suami di atas kertas. Darma Mangkuluhur adalah seorang predator puncak yang kini sedang mengklaim haknya setelah memberikan perlindungan maksimal.
"Mas... Mas menakutkan kalau sedang begini," gumam Karina lirih, tangannya meremas serbet di bawah meja. "Mas terlihat seperti ingin menelan saya hidup-hidup."
Darma tersenyum tipis jenis senyum predator yang menemukan mangsa yang tepat, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada publik atau pemegang saham.
"Saya hanya seorang pebisnis yang ingin memastikan investasinya aman dan membuahkan hasil, Nyonya Darma. Saya sudah memberikan apa yang kamu butuhkan, nama baikmu kembali. Sekarang, giliranmu memberikan apa yang menjadi hak saya," Darma kembali bersandar ke kursinya, memberikan sedikit ruang napas bagi Karina.
"Sekarang, habiskan makan malammu. Kita tidak ingin membuang-buang waktu di sini sementara malam di Paris terlalu berharga untuk dilewatkan."
Malam itu, di bawah kerlip lampu Menara Eiffel yang terlihat dari jendela restoran, Karina menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam pusaran kekuasaan yang tidak mungkin ia hindari. Darma adalah tameng baja yang melindunginya dari dunia, tapi di saat yang sama, Darma adalah tuan atas takdir dan raga barunya.
****
Otw, malam pertama nih, wkwkkw