Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di tengah kegelapan
Tiga hari masa skorsing terasa seperti tiga tahun bagi Adel. Ia tidak boleh masuk kelas, tidak boleh berkumpul dengan teman-teman, dan harus berdiam diri di rumah atau diizinkan pergi hanya untuk bekerja.
Setiap kali ia melewati gerbang sekolah dengan seragam yang sama, tapi status yang berbeda, tatapan orang-orang terasa begitu menyakitkan. Ada yang memandang kasihan, ada yang memandang sinis, dan Rina tentu saja memandangnya dengan tatapan menang seolah baru saja memenangkan perang besar.
Namun, Adel memilih untuk tidak peduli. Ia mengalihkan seluruh energinya ke tempat lain. Siang hari, ia bekerja lebih giat di warung Bu Min. Tangan kecilnya yang memar karena sering terkena air sabun dan gesekan piring, tak henti-henti bergerak.
"Del, istirahat dulu dong. Kamu ini kerja kayak orang lagi lari dari kejaran hantu," kata Bu Min sambil menyodorkan segelas teh manis hangat.
Adel tersenyum lelah, menyeka keringat di dahinya. "Gapapa Bu, makin banyak kerja, makin cepat lupa sama pikiran yang berat. Lagian Adel butuh duit buat beli obat Ibu."
Bu Min menggelengkan kepala, kagum sekaligus prihatin. "Kamu ini anak luar biasa, Del. Tuhan pasti nggak bakal tidur lihat usaha kamu. Suatu hari nanti, kamu pasti bakal jadi orang sukses yang bikin mereka semua melongo."
Malam harinya, saat Adel pulang membawa hasil kerjanya, ia mendapati ibunya terbaring lemah. Napas ibunya terdengar berat dan bunyi ngik-ngik. Hati Adel mencelos.
"Bu... Ibu kenapa? Demamnya naik lagi ya?" tanya Adel panik, memegang dahi ibunya yang panas membara.
Ibunya tersenyum tipis, berusaha terlihat kuat meski tubuhnya gemetar. "Ibu gapapa Nak... Cuma kecapekan dikit. Kamu gimana di sekolah? Masih baik-baik aja kan?"
Adel menunduk, air matanya jatuh menetes ke tangan ibunya. Ia tidak sanggup berbohong, tapi juga tidak tega membuat ibunya sedih.
"Maafin Adel ya Bu... Adel lagi ada masalah sedikit. Tapi Ibu tenang aja, Adel nggak salah apa-apa. Adel cuma lagi diuji sama Tuhan," jawab Adel terbata-bata.
Ibunya mengangkat tangan yang kurus itu, mengusap kepala Adel penuh kasih sayang.
"Dengerin Ibu ya, Nak... Hati manusia itu gelas yang kecil. Kalau kamu isi dengan dendam dan kesedihan, kamu nggak bakal punya tempat buat kebahagiaan. Biarkan mereka bicara apa saja, biarkan mereka menghina. Anggap saja angin lalu."
"Ingat, harga diri kita nggak ditentukan oleh apa yang orang lain katakan, tapi oleh apa yang Tuhan tahu tentang kita. Kamu anak baik, anak jujur, dan anak pekerja keras. Itu sudah lebih dari cukup buat Ibu."
Kata-kata itu menjadi obat yang paling manjur bagi hati Adel. Ia memeluk ibunya erat-erat, menangis melepaskan semua beban yang dipendamnya selama ini. Di pelukan ibunya, ia merasa aman, seolah dunia luar yang kejam itu tidak ada.
Di hari ketiga masa skorsing, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Saat Adel sedang mencuci tumpukan piring di belakang warung, ia melihat Lina dan beberapa teman pengurus OSIS lainnya berlari menghampirinya. Wajah mereka terlihat panik tapi bersemangat.
"DEL! DEL! KABAR BAGUS!" teriak Lina dari kejauhan.
Adel segera mengeringkan tangannya dan keluar. "Ada apa, Lin? Kenapa kalian bolos?"
"Bukan bolos Del! Kita habis dari ruang Kepsek!" jawab Lina sambil terengah-engah. "Ternyata, banyak banget siswa yang nandatangani petisi buat minta kamu balik lagi! Bahkan beberapa wali murid lain juga protes lho, bilang keputusan sekolah nggak adil!"
"Benar Del! Kita juga udah buktikan kalau semua laporan keuangan kamu rapi banget, nggak ada satu sen pun yang hilang! Jadi tuduhan korupsi itu murni fitnah!" tambah salah satu temannya.
Mata Adel terbelalak tak percaya. "Jadi...?"
"Jadi kamu bebas Del! Skorsing kamu dicabut! Pak Kepsek minta kamu besok pagi langsung masuk sekolah dan kembali menjabat sebagai Ketua OSIS! Beliau minta maaf karena sempat ragu sama kamu!" jelas Lina panjang lebar.
Adel terdiam. Air matanya kembali menetes, tapi kali ini air mata kelegaan dan kebahagiaan. Ia menatap langit malam yang bertabur bintang.
Jawaban doa Ibu... Jawaban kerja kerasku... Akhirnya datang juga, batinnya bersorak.
"Tapi Del, ada satu hal lagi," kata Lina tiba-tiba, suaranya menjadi pelan dan serius.
"Apa itu?"
"Tante Mira dan Rina... Mereka marah besar tahu kalau kamu dibebaskan. Katanya, mereka nggak terima dan bakal cari cara lain buat jatuhin kamu. Mereka bilang, perang belum selesai."
Adel tersenyum tipis, kali ini senyum yang penuh keyakinan. Tidak ada lagi rasa takut di matanya.
"Biarkan saja Lin. Kalau dulu aku gemetar cuma dengar nama mereka, sekarang... aku siap hadapi mereka berapa pun. Aku sadar satu hal: Orang yang berjalan di jalan yang benar, nggak akan pernah sendirian. Tuhan sama aku, kalian juga sama aku."
Adel mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Badai mungkin masih akan datang, tapi ia sudah belajar cara berlayar di tengah ombak besar. Esok hari, ia akan kembali ke sekolah, bukan sebagai gadis yang mudah ditindas, tapi sebagai pemimpin yang tangguh dan tak tergoyahkan.