Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih ada rasa
Tumpukan kertas, deringan telepon genggam dan kertas note tertempel pada kubikel menjadi pertanda bahwa wanita yang sedang memakai kacamata sambil memandangi laptop sedang tidak bisa diganggu sejak pagi.
Banyak hal yang harus di selesaikan. Revisi desain, klien baru yang membludak dan telepon dari orang tidak penting menjadi pemicu emosi wanita itu.
"Berhenti meneleponku atau aku akan membunuhmu!" teriak Rinjani pada penelepon dan menutupnya kasar.
Meletakkan gagang telpon secara asal sehingga terjatuh.
Zira yang menyaksikannya hanya bisa meringis. Liburan tidak serta menghilangkan temperamental atasannya, apalagi jika sudah menyangkut Irham.
Pelan-pelan Zira meletakan cup kopi di samping Rinjani, berupaya aksinya tidak menimbulkan suara.
"Zira."
"Iya." Zira yang hendak duduk langsung meluruskan tubuhnya.
"Saya butuh 1 karyawan lagi. Buka lowongan kerja atau mungkin kamu punya kenalan?" Tatapan Rinjani tertuju pada Zira. "Saya nggak bisa terus menetap, mungkin akan pulang pergi."
"Saya akan membuat desainnya Bu."
Rinjani melepas kecamata di wajahnya, meletakkan di atas meja. "Jadwal saya hari ini?"
"Full di dalam ruangan Bu. Untuk presentasi desain baru akan dijadwalkan ulang pada klien kita. Dan perihal revisi desain box sebelumnya sudah di acc oleh perusahaan makanan. Sisa mencari bahan yang diperlukan."
"Hindari penggunaaan plastik, selain mahal itu mencemari alam. Sarankan kemasan yang lebih praktis dan ekonomis. Saya lihat perusahaan ini masih baru."
"Baik Bu."
Yap Rinjani bergelut pada desain grafis yang mencakup banyak hal. Menerima beberapa pesanan dan revisi secara terbuka jika itu masih masuk akal.
Dan baru tahun ini perusahaan desainnya mulai dibanjiri pesanan sampai kewalahan sendiri.
"Mungkin beberapa bulan lagi kita akan pindah ke tempat yang lebih nyaman."
"Benarkah?" Zira tampak bahagia. Dia tahu pasang surut dan perjuangan Rinjani pada usaha ini. Dan mendengarnya akan pindah kantor tentu hal yang baik.
Rinjani mengangguk. "Makanya kita membutuhkan batuan. Nggak mungkin kamu mengurus semuanya. Kamu boleh pulang."
"Tapi ...." Zira tampak tidak enak.
"Ini tugas saya, jika butuh saya akan meneleponmu." Rinjani melempar senyum tipis.
Sepeninggalkan Zira, Rinjani kembali larut pada desain-desain yang dia buat. Memeriksa kertas note-revisi dari kliennya.
Banyak coretan yang dia buat pada kertas demi mendapatkan hasil yang bagus.
Rinjani tipe yang lebih fokus pada kertas dibandingkan layar. Sehingga dia akan menyelesaikan desainnya pada kertas meski harus membuang lembaran kertas akibat revisi berulang kali.
"Sangat melelahkan," gumamnya. Dia menumpu kepadanya di atas meja, menatap benda pipihnya yang ia senyapkan dari pagi.
Diraihnya benda pipih itu dan menemukan beberapa pesan dari Ikhram.
Saya baru saja bicara dengan ayah, katanya kamu kalau kerja suka lupa waktu.
Rinjani jangan lupa makan ya, kerja sewajarnya saja jangan terlalu memaksakan diri.
Sudut bibir Rinjani terangkat ke atas membentuk setengah lingkaran. Bukan karena perhatian Ikhram, melainkan foto yang pria itu kirimkan.
Gambar di mana boneka kesayangannya sedang duduk di kursi dan memakai helm proyek. Slide ke dua, gambar Ikhram mendekorasi ruangan yang semula ingin dia jadikan kantor tetapi selalu tidak punya waktu melakukannya.
Gambar itu membawanya pada ingatan paling menyebalkan dalam hidupnya. Karena rencana memiliki kantor di rumah nenek Ira ia sampai berganti status menjadi istri orang.
"Nggak ada yang salah dengan Ikhram. Yang salah adalah kenapa saya menikah dengan cara seperti itu," gumamnya.
Alih-alih membalas, Rinjani mengerjakan apa yang sempat tertunda beberapa menit lalu. Sampai tidak sadar bahwa matahari telah kembali ke persembunyiannya.
Rinjani memutuskan untuk pulang. Membereskan kertas yang berserakan di atas meja dan menyimpan desain yang telah selesai.
Ketika akan memasukkan sketsa ke laci atensinya malah tertuju pada fotonya bersama Irham.
Lantas kenangan manis yang mereka habiskan bertahun-tahun berputar di memorinya. Bagaimana Irham membuatnya jatuh cinta, bagaimana pria itu mampu meyakinkan dirinya bahwa dia adalah pria yang baik.
"Rinjani aku mencintaimu, aku nggak akan meninggalkanmu. Kamulah duniaku."
Sialnya, foto itu berhasil menciptakan embun di pelupuk mata Rinjani. Bohong jika dia mengatakan sudah lupa. Rasa cinta untuk Irham masih besar di hatinya dan sulit digantikan oleh orang lain.
Kisah cinta bertahun-tahun tidak bisa mengalahkan hubungan dadakan tiga minggu.
"Apa karena aku terlalu sibuk sampai dia merasa kesepian?" lirihnya. Air matanya berhasil membasahi pipih.
Bentakan dan amarah meluap-luap setiap kali bertemu atau menerima telpon dari Irham hanyalah pertahanan agar dirinya tidak terlihat rapuh.
Agar orang mengira Rinjani tidak bisa disepelekan meski tentang cinta sekalipun. Dan pada akhirnya ia ingat rasa sakitnya setelah kembali ke jakarta, kota penuh kenangan dia dan Irham.
"Berhenti menangis," lirihnya pada diri sendiri. Ia meremas foto selfinya saat liburan terakhir kali dengan Irham. Tiga bulan yang lalu di bali.
.
.
.
Nggak tau mau kasian sama Ikhram atau Rinjani. Komentarnya mana nih
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,