NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pelukan itu sangat erat. Naya bahkan bisa merasakan cairan hangat yang perlahan membasahi punggungnya.

“Kamu terluka,” ujar Naya pelan.

Ia mengangkat wajahnya, menatap pipi Lucio yang tampak tergores di beberapa bagian. Nafasnya sedikit tercekat ketika menyadari sesuatu. Cairan hangat yang ia rasakan di punggungnya kemungkinan besar adalah darah yang mengalir dari luka di tangan Lucio.

Lucio tidak menjawab.

Ia hanya menarik napas panjang, lalu perlahan duduk di tanah sambil tetap menjaga Naya berada dalam pelukannya.

Tes… tes… tes…

Keduanya mendongak hampir bersamaan.

Langit malam yang gelap gulita mulai menurunkan rintik-rintik hujan. Tidak ada bulan, tidak ada bintang, hanya awan hitam yang menggantung di atas mereka.

“Hujan,” gumam Naya.

Senyum tipis terlukis di bibirnya. Ia mengangkat telapak tangannya, membiarkan beberapa tetesan hujan jatuh dan pecah di atas kulitnya.

Rintik-rintik itu semakin rapat.

Tak lama kemudian, tiga mobil yang tadi berhenti agak jauh mulai bergerak mendekat dan berhenti di pinggir jalan. Pintu mobil terbuka, dan dua pria seumuran Lucio keluar sambil membawa payung.

Naya langsung mengenali mereka.

Pria berambut pirang gelap dengan kulit agak cokelat adalah Mateo, seorang produser film terkenal. Naya pernah menonton beberapa film yang diproduksinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Mateo ternyata memiliki hubungan dengan Lucio.

Apa mereka bersahabat?

Pria yang satu lagi memiliki potongan rambut cepak dengan wajah tampan dan maskulin. Tatapannya tajam, namun ekspresinya penuh kekesalan.

Dialah Arlo.

“Lu!”

Arlo segera menghampiri dan membantu Lucio berdiri.

“Kamu sudah gila, hah?!” omelnya kesal. “Bisa-bisanya kamu melompat keluar saat mobil sedang melaju!”

“Berhenti mengoceh tidak jelas,” balas Lucio. “Antarkan aku ke rumah sakit.”

Ia melepaskan tangan Arlo dengan sedikit kasar, lalu mengambil payung dari tangan pria itu.

Sementara itu Mateo menghampiri Naya.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan nada ramah.

Ia membantu Naya berdiri dengan hati-hati, lalu mengangkat payung untuk melindunginya dari hujan yang kini mulai turun lebih deras.

“Ya, aku baik-baik saja. Tapi…”

Naya melirik ke arah Lucio yang masih terlihat berdebat dengan Arlo beberapa langkah dari mereka.

Mateo mengikuti arah pandang Naya.

“Dia juga baik-baik saja,” katanya santai. “Lucio itu seperti balok keras yang sulit dihancurkan.”

Arlo terkekeh kecil mendengar itu.

“Masuk ke mobil.”

Suara Lucio terdengar datar. Ia menunjuk mobil yang berada di tengah, memberi isyarat agar Naya masuk ke sana.

“Jangan terlalu galak, Lu,” komentar Arlo sambil menggeleng.

“Kita ke rumah sakit dulu.”

Lucio mengabaikan komentar itu. Ia menarik tangan Naya dengan lembut, lalu membukakan pintu mobil untuknya. Setelah Naya masuk, Lucio ikut duduk di sampingnya.

Arlo dan Mateo kembali ke mobil mereka masing-masing.

Tak lama kemudian, ketiga mobil itu bergerak meninggalkan jalan yang sepi dan kembali menuju kota.

Di dalam mobil, suasana terasa sunyi, hanya terdengar suara mesin mobil dan suara hujan yang turun semakin deras.

Naya menatap keluar jendela, melihat tetesan hujan yang berlari di kaca. Kecemasan perlahan menyeruak masuk ke dadanya.

Apa yang akan terjadi dengan ayahnya setelah ini?

Apakah Lucio benar-benar akan membunuhnya?

Perlahan Naya melirik ke samping.

Lucio sedang memejamkan mata. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras menahan rasa sakit. Beberapa tetes darah masih mengalir dari luka di tangannya.

Namun meski terlihat begitu lelah dan terluka, genggaman tangannya pada Naya masih terasa kuat seolah ia tidak berniat melepaskannya sama sekali.

Hampir saja Naya memanggil namanya. Bibirnya sudah terbuka, namun suaranya tercekat di tenggorokan.

Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tetapi keberanian itu tidak kunjung muncul. Pada akhirnya Naya hanya menelan semuanya kembali.

Ia mengalihkan pandangannya ke jendela mobil, memperhatikan tetesan hujan yang terus berlari di atas kaca. Rintik hujan yang jatuh tanpa henti itu sedikit banyak membantu mengalihkan kegelisahan yang memenuhi dadanya.

“Kita akan singgah di rumah sakit terdekat, Tuan,” ujar Mario dari balik kemudi. Pria itu adalah asisten pribadi Lucio, yang sejak tadi mengemudikan mobil dengan wajah serius.

“Ya,” jawab Lucio singkat tanpa membuka mata.

Nada suaranya terdengar datar, seolah menahan rasa lelah dan sakit yang bercampur menjadi satu.

Setelah itu mobil kembali dipenuhi keheningan. Tidak ada yang berbicara lagi.

Beberapa menit kemudian, Mario memperlambat laju mobil dan membelokkannya ke halaman sebuah rumah sakit yang masih terang oleh lampu-lampu malam.

Mobil-mobil itu berhenti di area parkir rumah sakit. Pintu mobil terbuka hampir bersamaan. Mateo dan Arlo segera turun dan berjalan mendekat.

Kedua sahabat Lucio itu dengan sigap hendak membantu Lucio berjalan, melihat kondisi pria itu yang jelas tidak baik-baik saja.

“Jangan berlebihan. Ini hanya luka kecil,” dengus Lucio.

Ia menjauhkan diri dari keduanya, lalu melangkah lebar menuju pintu masuk rumah sakit, seolah luka-luka di tubuhnya sama sekali tidak berarti.

“Ayo, Naya. Lukamu juga harus diobati,” kata Mateo sambil menoleh pada gadis itu.

“Aku hanya terluka sedikit,” gumam Naya pelan.

Ia melirik sekilas lututnya yang tergores, lalu mengingat beberapa lebam di punggungnya yang masih terasa nyeri. Dibandingkan dirinya, Lucio jelas terluka jauh lebih parah, semua itu karena pria itu melindunginya.

“Tetap saja harus diobati. Luka kecil pun bisa infeksi,” ujar Mateo santai.

Tanpa ragu ia merangkul bahu Naya, bersikap sok akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Kemudian ia setengah menarik Naya berjalan menuju lobi rumah sakit, menyusul Lucio yang sudah lebih dulu masuk.

“Jaga sikapmu, Teo,” Arlo yang berjalan di belakang mereka memperingatkan dengan nada datar.

“Ck!”

Mateo berdecak kesal dan langsung melepaskan rangkulannya dari bahu Naya.

“Hanya mencoba akrab dengan teman baru,” katanya lagi, setengah mengangkat bahu seolah tidak merasa bersalah sama sekali.

Mereka akhirnya masuk ke salah satu ruangan. Lampu putih di ruang perawatan menyala terang, memantulkan cahaya dingin yang membuat luka-luka di tubuh mereka terlihat semakin jelas.

Seorang dokter paruh baya bersama dua perawat sibuk memeriksa Lucio lebih dulu. Jasnya sudah di lepas dan diletakkan di kursi, memperlihatkan kemeja putih yang sebagian basah oleh darah dan air hujan.

“Lukanya cukup dalam,” gumam dokter sambil membersihkan luka di lengan Lucio dengan cairan antiseptik.

Lucio bahkan tidak bereaksi ketika kapas yang dingin menyentuh kulitnya.

Perawat lain berdiri di depan Naya, dengan lembut membersihkan luka gores di lututnya.

“Ini akan sedikit perih,” kata perawat itu pelan.

Naya mengangguk kecil.

Saat cairan antiseptik menyentuh lukanya, ia sedikit meringis, jari-jarinya mencengkeram tepi ranjang.

Di sisi ruangan, Mateo berdiri sambil melipat tangan di dada, memperhatikan semuanya dengan wajah tidak sabar.

“Serius, Lu,” katanya sambil menggeleng. “Aku masih tidak percaya kamu benar-benar melompat dari mobil yang sedang melaju.”

Lucio tidak membuka mata.

Ya, pada awalnya ketiga sahabat itu memang berada di mobil yang sama dengan Arlo yang mengemudi. Sementara dua mobil lainnya diisi oleh beberapa anak buah Lucio.

“Kalau kamu ingin bunuh diri, setidaknya jangan melibatkan mobil mahal milikku.”

Arlo yang bersandar di dinding langsung mendengus.

“Mobilmu?” balasnya sinis. “Yang menyetir tadi siapa?”

Mateo menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bangga.

“Ya, aku.”

“Justru itu masalahnya,” potong Arlo cepat. “Dengan cara menyetirmu, kita semua hampir mati bahkan tanpa Lucio melompat keluar.”

“Hei!” Mateo menatapnya tidak terima. “Mengemudiku sangat profesional.”

“Profesional?” Arlo mengangkat alis. “Kamu hampir menabrak trotoar dua kali.”

“Itu karena kamu terus berteriak di sampingku!”

“Karena kamu hampir menabrak trotoar!”

“berisik!” desis Mateo kesal.

Di sisi lain ruangan, Mario berdiri dengan tenang di dekat pintu. Kedua tangannya terlipat rapi di depan tubuhnya, ekspresinya datar seperti biasa, dan lagipula keributan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Naya melirik sekilas ke arah mereka, sedikit bingung.

Dokter yang sedang menjahit luka di lengan Lucio bahkan sempat menghela napas tipis.

“Kalian bisa sedikit lebih tenang?” katanya tanpa menoleh. “Ini rumah sakit, bukan pasar.”

Mateo langsung mengangkat kedua tangannya menyerah.

“Baik, baik. Saya diam.”

Namun hanya lima detik kemudian ia kembali membuka mulut.

“Tapi serius, Lu. Melompat dari mobil? Itu sangat dramatis. Kamu menonton terlalu banyak film.”

Arlo menggosok wajahnya dengan frustasi.

“Kadang aku benar-benar ingin memukulmu.”

“Silakan,” balas Mateo santai. “Tapi tunggu sampai dokter selesai menjahit dia dulu.”

Naya hampir tersenyum kecil melihat mereka.

Berbeda dengan Mateo dan Arlo yang terus berdebat, Mario masih berdiri diam di tempatnya. Sementara itu Lucio akhirnya membuka mata perlahan.

Tatapannya langsung tertuju pada Naya.

“Lukamu?” tanyanya singkat.

“Tidak parah,” jawab Naya pelan.

Lucio mengangguk kecil, lalu kembali memejamkan mata saat dokter mengikat perban di lengannya.

Mateo menatap mereka bergantian, lalu menghela nafas panjang.

“Luar biasa,” gumamnya. “Kalian berdua hampir mati, tapi tetap bisa saling menatap seperti adegan film romantis.”

Naya hampir melotot, itu bukan adegan romantis. Apa yang dilakukan oleh Lucio sudah hampir seperti perampokan. Lucio merampoknya dengan bonus hampir membuat nyawanya melayang karena keluar dari mobil saat mobil melaju.

“Teo,” kata Arlo geram.

“Ya, ya. Aku diam.” Mateo mengangkat tangan lagi.

Mateo akhirnya berhenti mengoceh, dan mulai menyibukkan diri dengan ponsel.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!