Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Bisikan Nurani
Restu berjalan menyusuri jalanan yang basah dan gelap. Hujan masih turun membasahi tubuhnya, namun ia tidak peduli. Di balik jaketnya, genggamannya pada gagang golok terasa begitu erat, dingin, dan mematikan. Matanya menatap lurus ke depan, kosong dan gelap.
Pikirannya hanya satu: Dapatkan uang, bagaimanapun caranya.
Di kejauhan, terlihat sebuah mobil berhenti di lampu merah. Seorang wanita sendirian di dalamnya, sedang memainkan ponsel. Itu target yang mudah. Jalanan sepi, tidak ada saksi. Hanya perlu beberapa langkah, todongkan senjata, ambil dompetnya, dan masalah selesai.
Jantung Restu berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ia perlahan mendekat, langkahnya pelan namun pasti. Tangannya sudah siap mencabut golok dari sarungnya.
Satu langkah lagi...
Dua langkah lagi...
Tiba-tiba, bayangan wajah orang tuanya melintas di benaknya. Wajah ayahnya yang dulu selalu mengajarkan kejujuran, dan wajah ibunya yang selalu berpesan agar ia menjadi orang baik.
'Nduk, jadilah orang yang berguna. Jangan pernah menyakiti orang lain, sekalipun hidupmu susah...'
Suara itu bergema jelas di telinganya.
Lalu, bayangan wajah anak-anaknya muncul. Meisya, Maya... Mereka masih kecil, mereka masih membutuhkan bimbingan Papa. Bagaimana jika Papa mereka tertangkap? Bagaimana jika Papa mereka mati tertembak atau dipenjara karena jadi perampok? Apa kata dunia? Apa yang akan mereka rasakan seumur hidup memiliki ayah penjahat?
"JANGAN!!!"
Restu berteriak dalam hati. Ia menepuk kepalanya sendiri dengan keras seolah ingin memukul keluar pikiran jahat itu.
'Apa yang aku lakukan?! Aku ini ayah! Aku ini suami! Bukan penjahat! Aku tidak boleh menghancurkan masa depan mereka dengan cara kotor ini!'
Nurani yang paling dalam akhirnya menang. Tangan yang tadi siap mencabut golok itu gemetar hebat, lalu perlahan melemah dan turun ke samping. Air mata kembali mengalir bercampur air hujan.
"Maafkan aku... Maafkan aku..." gumamnya berkali-kali. Ia tidak jadi mendekati mobil itu. Rasa nekatnya lenyap seketika, digantikan oleh rasa jijik pada dirinya sendiri yang sempat berpikir sejauh itu.
Restu membalikkan badan. Ia tidak kuat berdiri di situ lagi. Ia tidak kuat melihat jalanan, tidak kuat melihat manusia. Ia ingin lari. Lari sejauh mungkin dari dunia ini.
Tanpa sadar, kakinya bergerak semakin cepat. Berlari. Lari tanpa arah, lari tanpa tujuan. Ia meninggalkan jalan aspal, menyeberang sawah, lalu masuk ke area perbukitan yang dipenuhi pepohonan lebat.
"Hutan"
Hanya ini kata yang terpikir oleh Restu untuk menumpahkan rasa yang berkecamuk di hatinya saat ini.
Ia terus berlari masuk semakin dalam, menerobos semak belukar, tak peduli kaki dan tangannya tergores duri. Hujan membuat tanah menjadi licin dan berlumpur, namun ia tak berhenti.
Ia hanya ingin menghilang. Ingin bersembunyi dari semua masalah, dari semua tuntutan, dari semua orang yang menyakitinya.
Hingga akhirnya, napasnya tersengal-sengal hebat. Kakinya tak sanggup lagi berlari. Tubuhnya jatuh tersungkur di atas tanah yang basah dan lembap, tepat di tengah hutan yang sangat sunyi dan gelap.
Suasana di sana mencekam. Hanya terdengar suara desiran angin yang menerpa dedaunan dan suara rintik hujan. Tidak ada lampu, tidak ada suara kendaraan, tidak ada manusia. Hanya ada dia, dan kesunyian yang memilukan.
Restu merangkak lalu duduk bersandar di batang pohon besar yang kokoh. Ia mencabut golok dari balik jaketnya, lalu melemparnya jauh ke semak-semak dengan penuh emosi.
"AARRGGHH!!!"
Ia berteriak sekuat tenaga, melepaskan semua kepedihan, semua amarah, dan semua keputusasaan yang menumpuk di dadanya. Teriakan itu menggema di antara pepohonan, namun tak ada satu pun yang menjawab selain gema suaranya sendiri.
"Tuhan... kenapa hidupku sekejam ini...?"
Isaknya Restu pelan, kepalanya tertunduk dalam di antara kedua lututnya.
"Aku sudah berjanji jadi baik... aku sudah berjanji tidak jahat... tapi kenapa Engkau biarkan aku jadi gelap mata begini..."
Di tengah hutan yang sunyi dan gelap itu, Restu merasa benar-benar sendirian di dunia ini. Terasing. Terbuang namun untuk berpikir jahat lagi, Restu tidak berani memikirkannya lagi selain.pertolongan Tuhan. hingga dia coba bangkit untuk.berdiri untuk meninggalkan hutan ini
"Tuhan......tolonglah hamba Tuhan"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi