Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
“Pak, kita cek ke dalam aja. Gerbangnya bisa dibuka.”
Itu suara polisi dan membuat Shaka membeku. Wajahnya langsung memucat. Di luar area mushola, beberapa polisi terlihat memasuki lingkungan pesantren dengan langkah waspada. Senter di tangan mereka menyapu setiap sudut ruangan yang terdapat di pondok pesantren.
“Periksa tiap bangunan,” perintah salah satu dari mereka.
“Siap, Pak.”
Mereka tidak menemukan siapa pun di luar.
Tidak ada tanda-tanda pelaku yang bersembunyi. Namun gerbang pondok pesantren yang bisa dibuka membuat mereka curiga. Tidak mungkin mereka berhenti begitu saja.
“Kalau mereka masuk ke sini, kita gak boleh kecolongan,” lanjut pria itu lagi.
Langkah kaki mereka semakin menyebar.
Sebagian menuju asrama. Sebagian lainnya perlahan mendekat ke arah mushola. Di dalam mushola, Shaka bisa mendengar semuanya dengan jelas dan membuat napasnya kembali kacau. Tubuhnya menegang. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Tamat sudah aku. Kalau mereka masuk ke sini semuanya selesai." Ujar Shaka sembari mencengkeram pisau itu lebih erat. Matanya langsung kembali tertuju pada Ustadz Haidar.
Dan kali ini tatapannya berbeda. Lebih tajam dan berbahaya. “Dengerin gue baik-baik…” ucap Shaka pelan, hampir berbisik, tapi penuh ancaman. Ia melangkah lebih dekat dengan pisau yang kini benar-benar mengarah tepat ke tubuh Ustadz Haidar. Tidak ada jarak aman lagi. “Lo jangan coba-coba manggil mereka,” lanjut Shaka dengan suaranya yang serak.
Langkah kaki polisi semakin dekat, semakin jelas dan ustadz Haidar tetap diam di tempatnya, menatap Shaka. Shaka menelan ludah. Ketakutan, kemarahan, dan keputusasaan bercampur jadi satu.
“Kalau lo buka mulut sedikit aja…” bisik Shaka lagi, suaranya kini bergetar tipis, “Gue gak bakal mikir dua kali buat habisin nyawa lo.”
Tangan Shaka gemetar tapi pisau itu masih terarah ke hadapan ustadz Haidar.
“Gue serius,” tambahnya, hampir seperti memperingatkan dirinya sendiri juga. “Gue bisa lakuin itu.”
Langkah kaki di luar kini terdengar tepat mendekati mushola. Bayangan cahaya senter mulai terlihat dari celah pintu. Shaka menarik napas dengan tajam. Matanya tidak lepas dari Ustadz Haidar.
“Selamatkan gue” desis Shaka sekali lagi. " Atau gue habisin lo di sini.”
Ustadz Haidar tidak langsung menjawab. Di hadapannya, pisau itu masih terarah lurus ke tubuhnya. Jarak mereka terlalu dekat. Terlalu berbahaya untuk satu gerakan salah saja. Namun yang paling terasa bukan ujung pisau itu melainkan getaran di tangan pemuda di depannya. Shaka tampak gemetar. Bukan karena dingin, bukan karena ragu, tapi karena takut. Takut yang berusaha ia sembunyikan di balik ancamannya. Di balik sikap liar yang seolah siap melukai siapa saja.
Langkah kaki di luar terdengar semakin jelas.
Suara sepatu menghantam lantai sementara cahaya senter yang menyelinap dari celah pintu mulai bergerak-gerak, menyapu halaman mushola. Waktu mereka tinggal sedikit. Ustadz Haidar menarik napas pelan. Ia tahu, satu kata yang salah bisa membuat semuanya berakhir buruk. Bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk pemuda di depannya.
“Kamu dengar mereka, kan?” ucap ustadz Haidar akhirnya, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang tidak ingin memancing kegaduhan.
Shaka tidak menjawab, tapi matanya bergerak cepat ke arah pintu, lalu kembali lagi ke wajah Ustadz Haidar.
“T-turun… turunin pisaunya nak,” lanjut Ustadz Haidar, masih dengan nada yang sama tenangnya. “Kalau kamu terus seperti ini, kamu malah makin mencurigakan.”
“Gue gak butuh ceramah!” potong Shaka dengan cepat, suaranya masih bergetar.
“Ini bukan ceramah,” balas Ustadz Haidar. “Ini kenyataan.”
Suasana terasa hening untuk sejenak. Langkah kaki di luar semakin dekat dan Shaka bisa merasakannya, bisa mendengarnya, bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau pintu itu dibuka sekarang juga.
“Kamu bilang ingin selamat, kan?” lanjut Ustadz Haidar.
Kali ini, Shaka sedikit terdiam. Tatapannya masih tajam, tapi ada sesuatu yang berubah di dalamnya. Keraguan tipis yang hampir tidak terlihat.
“Tapi dengan pisau di tanganmu sekarang, kamu justru mempercepat dirimu untuk tertangkap,” tambah Ustadz Haidar pelan dan membuat Shaka menelan ludah.
Tangannya masih mencengkeram gagang pisau itu kuat-kuat namun gemetarnya semakin jelas.
“Lo gak ngerti apa-apa…” gumam Shaka, suaranya lebih rendah. “Kalau gue ketangkep, hidup gue selesai.”
Ustadz Haidar menatapnya lekat lekat.
“Kalau kamu melukai orang maka hidupmu juga selesai,” balas ustadz Haidar dengan tenang.
Langkah kaki di luar berhenti tepat di depan mushola. Shaka membeku, wajahnya semakin pucat. Suara seseorang terdengar dari luar dan dekat sekali.
“Kita coba cek disini.”
Cahaya lampu senter menyapu pintu dan membuat jantung Shaka seperti akan melompat keluar.
“Dengerin gue…” bisik Shaka cepat, suaranya kembali penuh tekanan. “Cepat lo keluar dan bilang ke mereka kalau gak ada siapa-siapa di sini. Ngerti?”
Ustadz Haidar tidak langsung menjawab.
“Turunin dulu pisaunya,” katanya lagi dan membuat Shaka menggeleng cepat.
“Gak ada waktu!”
“Kalau kamu percaya ingin diselamatkan…” suara Ustadz Haidar tetap tenang, “Kamu harus mulai percaya juga padaku.”
Kalimat itu menggantung di udara, membuat Shaka menatap ustadz Haidar dengan tajam.
Percaya? Setelah apa yang baru saja terjadi padanya? Setelah Ozy meninggalkannya begitu saja? Setelah semua orang yang pernah ia anggap “teman” justru jadi yang pertama mengorbankannya? Percaya adalah hal terakhir yang ia punya sekarang. Namun suara pintu di luar mulai bergerak. Seorang polisi sudah tepat di depan mushola. Tangan seseorang terlihat di gagang pintu.
Tanpa sempat berpikir panjang lagi, Shaka mendecak pelan, lalu menurunkan pisau yang ia todong kan ke arah ustadz Haidar dengan cepat. Ia kemudian mundur satu lalu berbalik, tanpa berkata apa pun lagi, Shaka berlari kecil ke arah sudut mushola yang tertutup pembatas saf. Ia berjongkok di sana, menahan napas, berusaha menyembunyikan dirinya sebaik mungkin. Tas berisi barang haram itu masih ia dekap erat. Jantungnya berdetak begitu keras sampai rasanya bisa terdengar ke seluruh ruangan.
Sementara itu ustadz Haidar tidak membuang waktu. Begitu Shaka menjauh, ia langsung berbalik dan melangkah cepat ke arah pintu mushola. Namun langkahnya tetap terkontrol, tidak tergesa-gesa untuk menghindari kecurigaan polisi. Tepat saat pintu itu mulai terbuka, Ia sudah berdiri di sana untuk menyambut kedatangan polisi polisi itu. Seorang polisi mendorong pintu sedikit lebih lebar. Senter di tangannya langsung menyapu ke dalam namun pandangannya langsung tertahan pada sosok di hadapannya.
Ustadz Haidar tampak tenang saat berdiri di ambang pintu, seolah memang sedang berada di sana sejak awal.
“Oh, maafkan kami, Pak,” ucap polisi itu, sedikit terkejut. “Kami tidak tahu ada orang di dalam.”
“Tidak apa-apa,” jawab Ustadz Haidar dengan suara pelan. “Ada yang bisa saya bantu?”
Polisi itu mengangguk cepat.
“Kami sedang mencari seseorang. Pelaku kriminal. Diduga masuk ke area sekitar sini.”
Tatapan Ustadz Haidar tetap terlihat tenang.
“Begitu ya.”
“Apakah Bapak melihat seseorang yang mencurigakan masuk ke dalam pesantren ini?” tanya polisi itu langsung.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.