Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Mentor Berdarah Dingin dan Tarian Bertahan Hidup
Wastafel keramik di toilet perempuan lantai dua itu terasa sedingin es saat Dara Kirana mencengkeram tepiannya. Ia menunduk, membiarkan keran air menyala menderas, menenggelamkan suara detak jantungnya sendiri yang berpacu tak keruan.
Dara menangkupkan air dingin ke wajahnya, mengusapnya dengan kasar. Saat ia mendongak menatap cermin yang sedikit buram oleh noda air, pantulan dirinya terlihat memprihatinkan. Lingkaran hitam samar mulai terbentuk di bawah matanya.
Mempertahankan Napas Akar secara pasif sepanjang hari di sekolah ternyata membutuhkan konsentrasi mental yang luar biasa. Tubuhnya memang tidak lelah karena ia menggunakan energi bumi, namun otaknya dipaksa bekerja ganda—memperhatikan pelajaran guru Matematika di depan kelas, sekaligus menancapkan kesadarannya ke dasar tanah vulkanik Marapi agar auranya tetap tertutup rapat dari radar Willem van Deventer.
Ditambah lagi dengan ancaman terselubung Gendis di lorong loker pagi tadi. Serigala betina itu telah memperjelas posisinya: ia menganggap Dara sebagai parasit bagi Bumi Arka dan kawanan Ajag.
Dara menghela napas panjang, meneteskan air dari dagunya. Papan catur di Lembah Marapi semakin rumit. Ia tidak hanya harus berhadapan dengan mayat hidup kolonial, tetapi juga intrik dan ego dari sekutunya sendiri.
Tiba-tiba, suara keran air yang menderas mendadak mengecil, lalu mati sepenuhnya.
Suhu di dalam toilet perempuan itu anjlok drastis. Bukan dingin yang menusuk karena es, melainkan udara yang mendadak menjadi sangat kering dan menekan, seolah seluruh kelembapan di ruangan itu baru saja dihisap habis oleh hawa panas yang tak terlihat.
Bulu kuduk Dara meremang. Lewat pantulan cermin di hadapannya, ia melihat pintu toilet terbuka perlahan tanpa suara berderit.
Sesosok siluet tinggi dan ramping melangkah masuk. Gadis itu mengenakan seragam SMA Nusantara yang disetrika licin sempurna, roknya sedikit lebih pendek dari standar, memamerkan kaki jenjangnya yang melangkah layaknya seekor kucing besar yang sedang memojokkan mangsanya. Rambut hitam panjangnya diikat tinggi, mengekspos leher dan rahangnya yang tegas.
Maya Bagaskara.
Kakak perempuan Indra itu berdiri di tengah ruangan. Mata hazel-emasnya yang tajam menatap pantulan Dara dari cermin. Maya memutar kunci selot pintu toilet di belakangnya dengan bunyi klik yang bergema sangat keras di ruangan berlapis keramik tersebut.
Dara refleks memutar tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke wastafel. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia langsung memanggil Napas Akar-nya, bersiap memancarkan cahaya biru jika gadis Cindaku di depannya ini berniat menyerang.
"Simpan cahayamu, Gadis Kota," ucap Maya dingin. Nada suaranya tidak tinggi, namun memancarkan wibawa dan arogansi yang sama persis dengan adiknya. "Kalau aku berniat membunuhmu, aku sudah merobek lehermu sebelum kau sempat berkedip menatap cermin itu."
Dara tidak melonggarkan pertahanannya. "Lalu apa maumu, Maya? Menghalangi jalanku di toilet sekolah bukanlah caramu untuk sekadar menyapa."
Maya melipat kedua lengannya di bawah dada. Ia melangkah perlahan mendekati Dara. Sepatu pantofel hitamnya tidak menghasilkan suara tapak sedikit pun di atas lantai keramik. Gerakan Maya begitu luwes, anggun, sekaligus mematikan.
"Aku mengawasimu sejak pagi tadi," Maya memulai, matanya memindai Dara dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku melihat bagaimana kau menekan auramu. Kakekmu rupanya mulai mengajarkan cara bersembunyi yang benar. Dan aku juga melihat bagaimana anjing betina liar itu—Gendis—menyudutkanmu di lorong loker."
Dara terdiam. Ia tidak tahu bahwa Maya ada di sana. Penyamaran Cindaku memang luar biasa.
"Aku membencimu, Dara Kirana," ucap Maya tiba-tiba, sebuah deklarasi permusuhan yang diucapkan dengan nada yang sangat datar, seolah ia sedang membacakan fakta cuaca.
Pernyataan itu membuat dada Dara sedikit sesak, meski ia sudah menduganya.
"Aku membenci fakta bahwa darah manusiamu adalah satu-satunya hal yang bisa merantai monster di dalam diri adikku," lanjut Maya, matanya memancarkan kepedihan yang disembunyikan di balik lapisan baja. "Indra adalah pewaris takhta klan kami. Dia dilahirkan untuk menjadi raja yang tidak tertandingi. Namun sejak kau datang, dia bertingkah seperti penjaga anjing yang rela merendahkan martabatnya. Dia mempertaruhkan nyawanya melawan Willem. Dia menahan Nafsu Rimba-nya hingga urat nadinya nyaris pecah hanya agar tidak melukaimu."
Maya menghentikan langkahnya tepat satu meter di hadapan Dara.
"Tapi yang paling aku benci..." suara Maya bergetar tipis, "...adalah fakta bahwa tanpa dirimu, adikku akan membusuk di dalam kutukannya sendiri. Kau memadamkan apinya di dalam gua itu. Kau memberikan sisa kewarasan yang tidak pernah bisa kuberikan sebagai kakaknya."
Dara menatap mata emas Maya. Di balik tatapan tajam dan membunuh itu, Dara melihat sosok seorang kakak perempuan yang sangat putus asa dan menyayangi adiknya lebih dari apa pun di dunia ini. Maya Bagaskara rela membakar dunia asalkan Indra bisa tersenyum layaknya manusia normal.
"Maya, aku tidak pernah bermaksud—"
"Jangan memotong ucapanku," desis Maya tajam, mengembalikan postur angkuhnya. "Kau mungkin bisa menyembunyikan auramu dari Willem dengan ilmu napas kakekmu itu. Dan kau mungkin bisa mengandalkan Indra serta Bumi Arka untuk merobek siapa saja yang mencoba menyerangmu. Tapi kau lupa satu hal mendasar, Manusia."
Maya mencondongkan wajahnya, menatap lurus ke mata Dara. "Indra dan Bumi tidak bisa berada di sisimu dua puluh empat jam sehari. Willem van Deventer bukan sekadar entitas gaib; dia adalah jenderal militer. Dia memiliki pengikut manusia, pembunuh bayaran, dan mayat hidup yang bisa bergerak di tempat yang tidak terpikirkan. Kakekmu mengajarimu cara bersembunyi. Tapi apa yang akan kau lakukan jika mereka sudah berada tepat di depan wajahmu?"
Pertanyaan itu menohok logika Dara. Maya benar. Sihir birunya butuh fokus. Ia rapuh secara fisik. Jika ia disergap dari titik buta sebelum sempat bereaksi, ia akan mati.
"Kau ingin bertahan hidup di lembah ini?" tantang Maya. "Kau ingin memastikan adikku tidak mati karena harus terus menjadi tameng hidupmu?"
Dara menegakkan punggungnya, membalas tatapan Maya dengan tekad yang tak kalah keras. "Apa yang harus aku lakukan?"
Sudut bibir Maya melengkung membentuk senyum predator yang dingin. "Ikut aku. Jam istirahat ini akan menjadi kelas pertamamu tentang bagaimana caranya tidak mati sebagai mangsa."
Alih-alih kembali ke kelas, Maya membawa Dara menyelinap ke sayap timur sekolah, menuju sebuah gudang penyimpanan alat olahraga tua yang sudah tidak terpakai sejak tahun lalu. Tempat itu berdebu, dipenuhi oleh tumpukan matras bekas, ring basket berkarat, dan bau apek khas ruangan tertutup.
Sinar matahari masuk melalui jendela ventilasi tinggi, menyorot area kosong di tengah ruangan yang beralaskan lantai kayu kusam.
Maya berjalan ke tengah ruangan. Ia melepas dasi seragamnya, melemparnya ke atas tumpukan matras, lalu membuka dua kancing teratas kemejanya. Ia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang dan proporsional.
"Letakkan tasmu," perintah Maya tanpa basa-basi.
Dara menuruti perintah itu dengan jantung yang berdebar kencang. Ia meletakkan tasnya, melepas jaket denimnya, dan berjalan ke tengah ruangan.
"Indra dan serigala bodoh itu tidak akan pernah mengajarimu hal ini karena mereka terlalu sibuk memanjakanmu," Maya memutar pergelangan tangannya, melakukan pemanasan kecil. "Sebagai Pawang, kau adalah pusat gravitasi. Energi alam meresponsmu. Tapi energi itu tidak akan berguna jika tulang lehermu patah lebih dulu."
Maya menatap Dara tajam. "Aku tidak akan mengajarimu cara memukul. Fisik manusiamu tidak akan pernah bisa menyamai kulit tebal seorang Cindaku atau daya tahan mayat hidup. Meninju mereka sama saja dengan menghancurkan tanganmu sendiri. Aku akan mengajarimu cara menghindari kematian."
"Cara menghindar?"
"Membaca pergerakan," ralat Maya. Gadis Cindaku itu merendahkan kuda-kudanya. Mata hazelnya mendadak menyala menjadi emas terang. Suhu ruangan seketika naik beberapa derajat. "Predator selalu memiliki pola (tell) sebelum menerkam. Perubahan arah angin, pergeseran otot bahu, dan letak pijakan kaki."
"Maya, aku manusia biasa. Mata remajaku tidak bisa mengikuti kecepatan kalian—"
WUSSH!
Sebelum Dara sempat menyelesaikan kalimatnya, siluet Maya menghilang dari pandangannya.
Angin keras menyapu wajah Dara, dan detik berikutnya, ia merasakan hantaman keras pada bagian belakang lututnya. Kakinya ditekuk paksa dari belakang. Dara jatuh terjerembap ke atas lantai kayu berdebu dengan bunyi debuk yang keras. Napasnya tercekat saat siku lengan Maya menekan punggungnya, mengunci tubuhnya di lantai.
"Mati," bisik Maya dingin tepat di telinga Dara. "Jika aku adalah Noni Anneliese, taringnya sudah menembus nadimu."
Maya melepaskan kunciannya, berdiri kembali, dan menatap Dara yang terbatuk-batuk sambil berusaha bangkit.
"Kau terlalu bergantung pada mata fisikmu," tegur Maya keras. "Kau adalah Pawang Rimba. Kakekmu mengajarimu Napas Akar untuk menyerap energi bumi, bukan? Lalu kenapa kau tidak menggunakan energi bumi itu sebagai radarmu?!"
Dara mengusap lututnya yang ngilu. Ia menatap Maya, menyadari maksud gadis itu.
"Saat seekor harimau akan melompat," Maya mempraktikkannya dalam gerakan lambat, menekan kaki kanannya ke lantai. "Energi kinetik akan disalurkan ke tanah. Bumi di bawah kakinya akan menerima tekanan sepersekian detik sebelum tubuhnya melayang. Kau terhubung dengan tanah, Dara! Jangan lihat tubuhku. Rasakan pijakanku melalui akar di telapak kakimu!"
Dara memejamkan matanya erat-erat. Ia bangkit berdiri. Perkataan Maya adalah sebuah pencerahan taktis yang belum pernah diajarkan Kakek Danu. Kakeknya mengajarinya cara mengendalikan energi, tapi Maya mengajarkannya cara mengaplikasikan energi itu dalam medan pertempuran.
Dara merentangkan kakinya, membuka kuda-kuda selebar bahu. Ia menarik napas dari telapak kakinya. Sensasi dingin merambat naik. Ia menancapkan kesadarannya ke lantai kayu tersebut, membiarkan pikirannya meluas, merasakan setiap serat kayu dan debu di ruangan itu.
"Sekali lagi," tantang Dara, suaranya kini jauh lebih tenang.
Maya menyeringai. "Jangan menangis kalau tulang rusukmu retak."
Gadis Cindaku itu kembali melesat. Kali ini, Dara tidak mencoba mencari bayangan Maya dengan matanya. Ia merasakan tekanan berat yang mendadak muncul di lantai kayu sebelah kirinya. Udara di sekitarnya terdistorsi oleh hawa panas.
Kiri bawah.
Dara memutar pinggangnya secara ekstrem ke arah kanan, menjatuhkan tubuhnya sedikit ke depan.
Kaki Maya melintas dengan kecepatan tinggi, menyapu ruang kosong tepat di titik letak lutut Dara berada sedetik yang lalu. Maya sedikit terkejut melihat serangannya meleset, namun insting predatornya langsung mengoreksi posisi. Ia menggunakan momentum tendangan itu untuk berputar, mengayunkan sikunya ke arah kepala Dara.
Dara merasakan pergeseran angin yang sangat keras dari arah atas. Ia tidak sempat menghindar.
Sebagai refleks absolut, Napas Akar-nya bereaksi. Daripada memancarkan cahaya biru, Dara memadatkan energi bumi di lengan kirinya, menjadikannya sekeras batu karang. Ia mengangkat lengannya untuk menangkis siku Maya.
BAM!
Benturan itu membuat Dara terdorong mundur tiga meter. Lengannya kebas luar biasa, seolah baru saja dipukul dengan tongkat bisbol. Namun, tulangnya tidak patah. Ia berhasil menahan serangan fisik seorang Cindaku!
Maya mendarat dengan anggun, menatap Dara dengan mata emas yang membulat takjub. Uap panas tipis mengepul dari kulitnya, menandakan ia benar-benar menggunakan sebagian tenaga aslinya.
"Kau menahannya," gumam Maya, sebuah nada penghormatan tanpa sadar menyusup ke dalam suaranya.
Dara terengah-engah, memegangi lengannya yang kebas namun berdenyut dengan pendar biru redup yang langsung melakukan proses penyembuhan otomatis pada memarnya. Ia memaksakan senyum lelah. "Kau guru yang jauh lebih menyiksa daripada guru penjaskes kita."
Maya mendengus pelan, senyum tipis—senyum tulus pertama yang pernah Dara lihat dari wajah gadis itu—terbentuk di bibirnya. Pendar emas di matanya meredup, kembali menjadi warna hazel.
Maya berjalan menghampiri tumpukan matras, mengambil dasinya dan mengancingkan kembali kemejanya. Latihan hari ini telah selesai.
"Energi Pawang di dalam darahmu merespons dengan sangat baik," kata Maya, membelakangi Dara. "Kau tidak seburuk yang kukira. Setidaknya, kau cukup cerdas untuk tahu kapan harus menghindar dan kapan harus menahan."
Dara memungut jaket denimnya. "Terima kasih, Maya. Kau tidak perlu melakukan ini... maksudku, kau membenciku."
Maya berbalik, wajahnya kembali mengenakan topeng kaku bangsawan Bagaskara. Namun, sorot matanya tidak lagi memancarkan permusuhan yang membuta.
"Aku melakukan ini untuk Indra," ralat Maya dingin, meski tindakannya berbicara lain. "Jika kau mati karena tersandung kakimu sendiri saat Willem menyerang, Indra akan kehilangan akal sehatnya secara permanen. Aku melatihmu agar kau bisa hidup cukup lama untuk menyembuhkannya."
Dara mengangguk pelan, menerima alasan itu. Ia mulai menyadari bahwa di balik keangkuhan klan Cindaku, mereka memiliki loyalitas kekeluargaan yang luar biasa kuat. Maya adalah perisai pelindung Indra dari bayang-bayang, sama seperti Indra melindungi Dara.
"Satu hal lagi," Maya menghentikan langkah Dara saat gadis manusia itu hendak memutar kenop pintu gudang.
Dara menoleh. Maya menatapnya dengan ekspresi yang sangat serius, lebih serius dari saat ia melesatkan serangannya tadi.
"Jangan pernah mempercayai Serigala Betina itu," bisik Maya, merujuk pada Gendis. "Ajag jantan seperti Bumi mungkin akan mengikatkan dirinya pada wibawamu sebagai pemimpin mereka. Tapi Ajag betina digerakkan oleh insting keibuan dan hierarki kawanan. Gendis melihatmu sebagai manusia asing yang mengacaukan struktur kepemimpinan Bumi. Di matanya, kau adalah benalu yang harus dipotong agar pohonnya bisa tumbuh tegak."
Maya mengambil langkah maju. "Cindaku membunuh musuhnya dari arah depan. Kami menatap mata mereka saat kami merobek leher mereka. Tapi Ajag... mereka membunuh secara diam-diam. Mereka menggunakan taktik, pengepungan, dan pengkhianatan. Berhati-hatilah pada Gendis. Aku mencium niat busuk dari aroma napasnya."
Peringatan itu menggantung berat di udara gudang yang berdebu.
Dara menelan ludah, membayangkan tatapan tajam Gendis pagi tadi. "Aku akan mengingatnya, Maya."
"Sebaiknya begitu," Maya mendorong pintu kayu itu hingga terbuka, membiarkan cahaya matahari siang menyilaukan mata mereka. "Bersihkan debu di seragammu. Jam pelajaran ketiga akan segera dimulai, dan aku tidak ingin orang-orang berpikir seorang Bagaskara menghabiskan waktu dengan murid biasa di gudang kumuh."
Dengan keangkuhan khasnya yang kembali terpasang rapi, Maya berjalan menyusuri lorong, meninggalkan Dara yang masih berdiri di ambang pintu.
Dara menatap kedua telapak tangannya sendiri. Rasa sakit di punggungnya dan memar di lengannya adalah bukti nyata dari pelajaran pertamanya. Maya tidak hanya mengajarinya cara menghindar; Maya telah mengajarinya bahwa kekuatan Pawang bukan hanya soal memancarkan cahaya, melainkan tentang mengintegrasikan energi alam dengan pertahanan fisiknya.
Lebih dari itu, Dara baru saja memenangkan satu sekutu yang sangat mematikan. Sang kakak berdarah dingin itu kini berdiri di pihaknya. Papan catur Lembah Marapi mulai berubah, dan Dara tidak lagi menjadi bidak yang hanya bisa berlari ke belakang. Ia mulai belajar bagaimana cara melangkah maju untuk memakan menteri musuhnya.