NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Virtual Pertama

​Hujan deras mengguyur kaca jendela penthouse Menara Neovault, menciptakan tirai air yang memisahkan Arlan dari dunia luar. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu meja yang remang, Arlan duduk dengan bahu yang tampak merosot karena beban krisis yang kian menghimpit. Bau wiski yang kuat menguar dari gelas di tangannya, satu-satunya pelarian sementara dari ancaman maut dewan direksi.

​Tiba-tiba, sebuah nada dering yang tidak pernah ia dengar sebelumnya memecah kesunyian ruangan tersebut. Arlan tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya saat melihat layar laptop pribadinya menyala secara otomatis. Sebuah jendela percakapan video terenkripsi muncul di tengah layar, tanpa menampilkan wajah, hanya sebuah ikon siluet berwarna abu-abu.

​"Siapa ini? Bagaimana kau bisa menembus firewall pribadiku?" tanya Arlan dengan suara serak yang dipenuhi kepanikan.

​Ia mencoba menekan tombol untuk mematikan perangkatnya, namun kursor pada layar bergerak sendiri seolah dikendalikan oleh kekuatan hantu. Arlan segera meletakkan gelas wiskinya, menatap layar dengan mata yang membelalak saat sambungan audio akhirnya terhubung secara paksa. Ia bisa merasakan bulu kuduknya berdiri menghadapi kejanggalan ini.

​"Selamat malam, Tuan Valeska. Sepertinya kau sedang berada di ambang kehancuran yang sangat menarik," sahut sebuah suara dari balik speaker.

​Suara itu terdengar sangat dingin, stabil, dan memiliki wibawa yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Arlan mematung, kepalanya terasa berdenyut saat ia mencoba memproses frekuensi suara yang baru saja ia dengar. Ada sesuatu yang terasa sangat familiar pada intonasi itu, namun ia tidak mampu menaruh sidik jari ingatannya pada siapa pemiliknya.

​"Apakah kau peretas yang bertanggung jawab atas kekacauan logistik semalam? Katakan apa maumu!" teriak Arlan ke arah layar.

​Suara di seberang sana tertawa rendah, sebuah tawa yang tidak memiliki emosi sama sekali, seperti gesekan es di atas logam. "Kekacauan itu hanyalah kembang api kecil untuk menyambut kedatanganku. Panggil saja aku V, penyelamat atau penghancurmu, itu tergantung pada pilihanmu malam ini."

​"V? Aku tidak mengenal siapa pun dengan inisial sampah seperti itu. Berhenti bermain-main denganku sebelum aku melacak lokasimu!" Arlan mengancam dengan nada tinggi.

​V tetap tenang, seolah ancaman Arlan hanyalah angin lalu yang tidak memiliki bobot sama sekali. "Kau tidak akan bisa melacakku, Arlan. Sebaliknya, aku tahu setiap sen yang hilang dari rekening cadanganmu akibat keserakahan istrimu yang cantik."

​Arlan terdiam seketika, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Fakta bahwa orang asing ini tahu tentang rahasia terdalam Elena menunjukkan bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang berada di level berbeda. Ia kembali duduk di kursi besarnya, menatap siluet abu-abu di layar dengan penuh rasa ingin tahu yang mencekam.

​"Dari mana kau tahu tentang hal itu? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Arlan dengan nada yang mulai melunak.

​V membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik, menciptakan ketegangan yang sangat menyesakkan di udara. "Aku tahu segalanya, Arlan. Termasuk dosa-dosa yang kau pikir telah kau hanyutkan di sungai Rust yang gelap dan berbau karat itu."

​Mendengar kata sungai Rust, wajah Arlan berubah menjadi pucat pasi seolah seluruh darah di tubuhnya tersedot keluar dalam sekejap. Ia mencengkeram pinggiran mejanya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, rasa takut yang nyata mulai merayap di punggungnya. Ia teringat pada koordinat misterius yang ia terima di dalam amplop beberapa hari yang lalu.

​"Kau ... siapa sebenarnya kau ini? Kenapa suaramu terdengar begitu familiar?" bisik Arlan dengan suara yang gemetar hebat.

​"Mungkin aku adalah suara nuranimu yang sudah lama kau bunuh, atau mungkin aku adalah bayangan dari masa lalu yang datang untuk menagih janji," jawab V.

​Asha, yang kini berada di balik identitas V di distrik Rust, memegang mikrofon dengan tangan yang sangat stabil tanpa getaran sedikit pun. Ia melihat ekspresi ketakutan Arlan melalui kamera yang ia retas, merasakan kepuasan yang dingin di dalam dadanya. Ia telah melatih suaranya berbulan-bulan agar terdengar rendah dan tanpa cela.

​"Aku bisa membantumu mengatasi krisis likuiditas di hadapan dewan direksi, Arlan. Aku punya modal yang cukup untuk menutup lubang yang Elena buat," tawar V.

​Arlan menyipitkan matanya, kecurigaan alaminya sebagai pebisnis ulung mulai mencoba bangkit di tengah rasa takutnya yang besar. "Tidak ada bantuan gratis di dunia ini, terutama dari seseorang yang meretas sistemku secara ilegal. Apa kompensasi yang kau minta dariku?"

​V tersenyum tipis di balik layar yang gelap, sebuah senyum yang memancarkan kebencian murni yang telah mengkristal. "Kompensasi? Aku hanya ingin melihat Neovault kembali stabil, tentu saja dengan imbalan kontrol kecil pada beberapa proyek strategis di masa depan."

​"Aku tidak bisa menyerahkan kontrol perusahaan kepada orang asing yang bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya!" Arlan memukul meja dengan kepalan tangannya.

​V tertawa lagi, kali ini terdengar sedikit lebih tajam dan menyakitkan di telinga Arlan yang sudah mulai lelah. "Kau tidak punya kemewahan untuk memilih, Arlan. Empat puluh delapan jam dari sekarang, dewan direksi akan menendangmu keluar dari kantormu sendiri."

​Arlan terengah-engah, ia menyadari bahwa setiap perkataan V adalah kebenaran yang pahit dan tidak bisa ia bantah dengan kekuasaan apa pun. Ia menatap gelas wiskinya yang kosong, merasa seperti seorang pecundang yang sedang dipojokkan oleh hantu masa lalunya sendiri. Suara V terus terngiang, membangkitkan memori tentang Asha yang selalu bicara dengan lembut namun penuh keyakinan.

​"Kau mengingatkanku pada seseorang ... seseorang yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia ini," gumam Arlan pelan.

​"Banyak orang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini karena ulahmu, Arlan. Jangan terlalu sentimental, itu bukan gayamu," sahut V dengan nada mengejek.

​"Berikan aku bukti bahwa kau memang memiliki dana yang kau janjikan itu!" tuntut Arlan, mencoba mendapatkan kembali sedikit kendali.

​Seketika, sebuah notifikasi masuk ke ponsel pribadi Arlan yang tergeletak di meja samping laptopnya dengan bunyi denting yang nyaring. Arlan membukanya dan melihat sebuah bukti saldo di bank internasional yang jumlahnya cukup untuk membeli seluruh aset Menara Neovault. Matanya terbelalak, ia merasa sedang berhadapan dengan kekuatan finansial yang tidak terbatas.

​"Itu adalah bukti awal. Kesepakatan ini bisa menyelamatkan lehermu atau justru menjeratnya lebih kencang, itu terserah padamu," ujar V dingin.

​"Bagaimana aku bisa menghubungimu lagi jika aku setuju dengan persyaratanmu ini?" tanya Arlan, pasrah pada keadaan yang menjepitnya.

​Siluet di layar mulai memudar, namun suara V masih terdengar memberikan instruksi terakhirnya sebelum koneksi terputus total. "Aku yang akan menghubungimu. Jangan coba-coba mencari siapa aku, atau kau akan menemukan bahwa kematian adalah jalan keluar yang lebih mudah."

​Layar laptop Arlan tiba-tiba kembali ke tampilan desktop normal seolah-olah tidak pernah terjadi peretasan apa pun sebelumnya. Arlan terhuyung ke belakang dan jatuh ke kursi kerjanya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menarik napas dalam-dalam. Bau keringat dingin kini bercampur dengan rasa takut yang tak kunjung hilang dari benaknya.

​"Siapa sebenarnya V? Suara itu ... sangat mirip dengan Asha, tapi terasa jauh lebih mematikan dan tanpa belas kasihan," batin Arlan gelisah.

​Di distrik Rust, V melepaskan headset-nya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi tua yang mengeluarkan bunyi derit pelan. Ia menatap nelayan tua itu yang sedang memperhatikan monitor pemantauan dengan ekspresi penuh kekaguman sekaligus kewaspadaan. Ruangan itu kembali hening, hanya menyisakan suara tetesan air hujan yang bocor dari atap.

​"Kau melakukannya dengan sangat baik, V. Dia benar-benar ketakutan sekarang," puji nelayan tua itu sambil memberikan segelas air putih.

​V meminum air itu dengan perlahan, merasakan tenggorokannya yang sedikit perih setelah memaksakan suara rendah selama percakapan tadi. "Dia ketakutan karena dia merasa bersalah. Rasa bersalah adalah lubang hitam yang akan menariknya masuk menuju kehancuran total."

​"Tapi dia mulai mengenali suaramu, V. Apakah itu tidak akan berbahaya bagi identitasmu saat kau muncul nanti?" tanya nelayan itu lagi.

​V menggelengkan kepala, matanya menatap tajam ke arah visual Arlan yang tertunduk lesu di layar monitor yang kini sudah ia matikan. "Dia tidak akan percaya bahwa Asha masih hidup. Egonya akan meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah kemiripan suara yang tidak sengaja."

​Asha merasakan denyut di bahunya, bekas luka bakar yang ia peroleh dari malam berdarah itu terasa sangat panas sekarang. Ia tahu bahwa pertemuan virtual ini adalah awal dari kehancuran psikologis yang sistematis bagi pria yang pernah ia cintai. Ia telah membuang seluruh empatinya, menyisakan hanya predator yang siap menerkam mangsanya yang sedang limbung.

​"Biarkan dia merenung di tengah hujan malam ini. Biarkan ketakutan itu tumbuh menjadi paranoia yang melumpuhkan akal sehatnya," gumam V.

​Ia berdiri dan berjalan menuju jendela kecil di tempat persembunyiannya, menatap ke arah lampu-lampu kota yang tampak seperti permata dari kejauhan. Neovault sedang menunggu sang pemilik baru, dan V akan memastikan bahwa transisi kekuasaan itu akan dibayar dengan air mata dan darah. Tidak ada jalan kembali baginya, dan tidak ada pengampunan bagi Arlan Valeska.

​"Malam ini kau mendengar suaraku, Arlan. Segera, kau akan melihat wajah kematianmu sendiri," bisik V ke arah kegelapan.

​V memadamkan lampu terakhir di ruangan itu, membiarkan dirinya ditelan oleh kesunyian malam yang mencekam di distrik Rust. Rencana besar terus berlanjut, dan ia sudah menyiapkan langkah berikutnya yang akan mengguncang fondasi kota lebih keras lagi. Pertemuan virtual tadi hanyalah umpan, dan Arlan baru saja menggigitnya dengan sangat kencang.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!