NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Trauma masa lalu / Kebangkitan pecundang / Antagonis Jahat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfee

Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Lebih baik mati

Hari demi hari, penderitaan yang diterima Ervana semakin tak terbendung. Tubuhnya semakin kurus dan punggung ringkihnya begitu penuh dengan bekas luka cambuk. Tidak ada lagi Ervana si karyawan kantoran yang sibuk mengejar target pasar, yang ada hanyalah gadis penuh luka lebam yang kerap meringkuk di sudut kamar kecilnya. Baju pasien bernomor 14 terlihat begitu kusam, sekusam wajahnya. Jika penampilannya seperti ini, tidak akan ada yang ragu jika gadis itu adalah orang gila yang lebih pantas menghabiskan waktunya di rumah sakit jiwa.

"Tuhan, kenapa semuanya serumit ini?" Gadis itu menjambak rambut kusutnya dengan gerakan khas gadis depresi. Dunia sepertinya menutup mata atas semua penderitaannya. Terhitung sudah enam bulan ia menghabiskan waktunya di tempat terkutuk ini. Luka bakar di tangannya belum sembuh. Ema, perawat terkutuk itu sengaja mendorong tubuhnya ke sebuah kobaran api saat terjadi kebakaran di bagian belakang rumah sakit beberapa hari lalu. Penderitaannya kian bertambah ketika beberapa pasien di tempat itu seperti mempermainkan lukanya, menganggap dirinya hanyalah gadis manja yang berpura-pura terlihat lemah di mata semua orang. Beberapa perawat bahkan tak perlu repot-repot untuk mencegah perbuatan buruk itu. Ema adalah salah satu gadis paling bahagia melihat Ervana terluka.

"Tuhan aku lelah". Isakan pilu itu bergema di sudut kamar sempit bernomor 14 itu. Dulu, Ervana begitu menyukai angka tersebut. Tidak menyangka jika 14 menjadi angka paling menakutkan dan selalu mengingatkannya pada kematian.

"Aku ingin mati". Ucapnya dengan lirih.

"Kau ingin mati? Kau pikir kau akan mati semudah itu? Aku bahkan belum puas menyiksamu". Ema datang sambil membawa segelas cairan entah apa isinya.

"Lihatlah putri kandung Tuan Efendi ini. Terlihat menjijikkan dan lebih pantas menjadi budak". Ema tersenyum sinis lalu menyiramkan cairan itu ke tangan Ervana yang terluka.

"Sakitttt". Ervana berteriak histeris. Urat lehernya bahkan menonjol sempurna. Sungguh, ia tak bisa menahan rasa sakitnya sekarang. Butiran keringat dan air mata membaur menjadi satu, membuat pandangannya menjadi kabur. Luka bakarnya terlihat melepuh karena cairan itu. Gila, Ema benar-benar gila! Perawat itu baru saja menyiramkan cuka ke tangan Ervana yang terluka. Kekejamannya benar-benar tak beralasan!

"Sakit? Itu bahkan tak seberapa dengan rasa sakit dan ketidakpercayaan diri Renita. Gadis itu sepertinya begitu berbahagia ketika ia berhasil merebut posisimu. Sebagai sahabat yang baik aku hanya perlu mendukung semua rencananya". Ema berbisik jahat sambil menekan luka Ervana dengan sengaja.

"To-tolong". Gadis itu berbisik dengan sisa-sisa tenaganya.

"Siapa yang mau menolongmu? Keluargamu bahkan membuangmu dengan sengaja. Mari bertaruh, Ervana. Aku yakin sekali jika tak ada lagi yang peduli dengan keselamatanmu karena kau tidak sepenting itu di mata keluargamu. Kakakmu bahkan menatapmu dengan tatapan jijik". Ema memberi tatapan mengejek khas seorang pembenci. Sambil perawat menepuk pelan pipi Ervana sebelum meninggalkan gadis menyedihkan itu.

"Ema benar! Aku sangat menjijikkan dan bodoh. Sampai saat ini bahkan tidak ada yang peduli dengan keadaanku. Aku beberapa kali nyaris mati di tangan Ema, namun tak ada yang bersedia menolongku. Aku benar-benar sendirian! Aku bodoh dan ceroboh. Aku terlalu naif dan menganggap jika keluargaku masih mempedulikanku". Ervana menatap nanar lukanya yang sekarang terlihat memerah karena cairan cuka itu.

"Aku tak lebih dari seorang tawanan sekarang". Gadis itu berbaring lemah di tempat tidur lusuhnya, berusaha mendekap erat segala rasa takut dan kesakitannya.

Sementara itu, berkilo-kilo meter jauhnya dari tempat menyedihkan itu, keluarga Moses tengah berbahagia karena putri angkat keluarga itu sebentar lagi akan dipersunting oleh Kevin Baskara. Beberapa persiapan kecil benar-benar membuat semua orang terlihat sibuk, berbanding terbalik dengan keadaan menyedihkan di rumah sakit jiwa yang menampung tubuh lemah Ervana. Lucas Moses meninggalkan keramaian ruang tamu itu lalu pergi ke kamarnya yang terletak di lantai dua rumah mewah itu.

Rumahnya terlihat begitu ramai karena keluarganya akan menyambut kedatangan keluarga Baskara yang akan datang untuk membahas tanggal pernikahan Renita dan Baskara. Di tengah hingar-bingar itu, Lucas merasakan sebuah kekosongan yang membuatnya gelisah.

"Perasaan apa ini?" Pria berkuasa itu menyentuh pelan dada kirinya.

"Ini terasa sangat asing. Aku tidak pernah merasa setakut ini. Apa yang akan terjadi?" Demi mengusir segala perasaan tak nyamannya, pria itu memilih menenggak sebotol minuman beralkohol yang baru saja ia ambil dari lemari penyimpanannya. Satu teguk, dua teguk, pria itu masih merasakan kegelisahan yang sama. Lucas bahkan tidak sadar telah menghabiskan sebotol cairan berwarna hitam pekat itu. Kepalanya terasa sangat pening sekarang. Efek minuman beralkohol membuat tubuhnya limbung. Pria itu nyaris terjatuh jika tangannya tidak menggapai pinggiran sofa kamarnya. Lucas mendudukkan tubuhnya di benda empuk itu.

"Ervana adikku yang malang dan menjijikan. Aku malu sekali punya adik sepertimu". Pria itu mulai meracau tak jelas.

"Kau bahkan tidak mau mencari perhatianku lagi. Kenapa? Karena kau sadar kau tidak pernah pantas mendapatkannya? Kenapa kau menggoda Morgan Aston hanya karena kau ingin bekerja di perusahaan milik pria angkuh itu? Aku bahkan akan membantumu jika kau memberikan sedikit kepatuhan. Coba kau bisa bersikap selembut Renita mungkin aku masih menyayangimu. aku tidak menyangka jika adik yang begitu kusayangi tumbuh menjadi gadis yang jahat dan menyebalkan. Kau menjijikkan, aku membencimu, Vana aku begitu membencimu". Di balik pintu kamarnya, Renita mendengar segala macam kalimat yang keluar dari bibir pria itu. Sebuah keberuntungan besar kini menjadi miliknya.

"Ternyata menyingkirkanmu tidak sesusah yang kupikirkan". Gadis itu tersenyum licik sebelum meninggalkan sang kakak yang masih sibuk meracau tak jelas. Malam ini, Lucas bermain-main dengan isi kepalanya, menambah daftar kesalahpahaman yang membuat hubungannya dengan sang adik kian renggang. Pria angkuh itu mungkin tidak akan pernah tau jika segala macam perbuatannya akan menjadi bumerang baginya di masa depan.

Kembali lagi ke kamar sepi itu. Saat ini Ervana menutupi tubuhnya dengan selimut lusuh di kamar itu. Tubuhnya menggigil hebat. Rasa nyeri menjalari sekujur tubuhnya. Batinnya mulai merapalkan segala macam doa permohonan yang dulu diajarkan ibunya, dulu sekali saat semua cinta dan perhatian masih menjadi miliknya.

"Tuhan, aku tidak kuat". Bibirnya bergetar ketika mengucapkan kalimat menyedihkan itu.

"Belum, belum saatnya untuk menyerah". Dalam kesakitannya, gadis itu berusaha menguatkan diri demi menjaga sisa-sisa kewarasan yang masih menjadi miliknya hingga saat ini. Malam itu, Ervana tidur sambil mendekap erat selimut lusuh itu, seolah-olah benda itu adalah pertahanan terakhir, senjata paling berharga yang akan menjadi miliknya sampai kapanpun.

1
EMA
Semangat kk lanjut nya 💪 💪
EMA
Semangat kk 💪💪💪
Afee: Makasih kaaa🥰
total 1 replies
EMA
Lanjut kk
Alvi
lanjut thorrrr🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!