"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Sindrom Ruang Kosong dan Ritual "Tahlilan" Jago
Kembali dari Singapura seharusnya menjadi momen paling membanggakan bagi Bagas dan Dira. Rekening bank mereka sekarang sudah terisi angka yang cukup untuk membeli satu toko kerupuk kaleng beserta pabrik-pabriknya di seluruh Jawa Barat. Tapi, begitu pintu rumah di Jakarta dibuka dan lampu dinyalakan, suasana terasa asing. Dingin. Dan sangat... lowong.
Bagas yang masih menggendong koper (dan Supra di pundaknya) terpaku di ambang pintu. Matanya langsung tertuju pada pojok ruang tamu yang biasanya dihuni oleh sosok semen setinggi satu meter berkacamata hitam. Sekarang, di sana hanya ada lantai yang bersih, mengkilap, dan sangat menyedihkan.
"Ndoro..." bisik Bagas dengan suara yang serak, seolah-olah dia baru saja kehilangan harta karun paling berharga. "Kok rumah kita rasanya jadi kayak lapangan futsal? Luas banget, tapi hampa."
Dira menaruh tasnya di atas sofa dengan lunglai. Menatap tempat kosong itu. Biasanya, kalau dia pulang kerja dengan kepala hampir meledak karena revisi klien, melihat tampang Jago yang "muka tembok" saja sudah cukup membuat stresnya hilang berganti tawa. Sekarang, tidak ada lagi tempat untuk menyampirkan tas punggungnya atau sekadar tempat curhat kalau Bagas lagi kumat telat mandi.
"Iya, Pir. Biasanya kalau gue masuk rumah, ada hawa-hawa mistis semen yang menyambut. Sekarang... cuma ada bayangan debu yang terbang kena lampu," sahut Dira sedih.
Supra pun tidak jauh beda. Kucing oranye itu melompat turun dari pundak Bagas, berjalan pelan mendekati pojok ruang tamu tersebut. Supra mengeong sekali, pelan dan panjang, kemudian menggaruk-garuk ubin kosong itu seolah-olah sedang mencari keberadaan "sahabat diamnya" yang selama ini selalu sabar dia kencingi kakinya kalau Bagas lupa ganti pasir.
"Supra, Jago nggak ada di situ lagi," ujar Bagas haru sambil berlutut di samping kucingnya. "Dia sudah jadi warga Manhattan, Pra. Dia mungkin sekarang lagi dipajang di gedung kaca pencakar langit, dikelilingi orang-orang yang ngomongnya pakai bahasa Inggris lancar, bukan kayak bahasa Inggris 'ngawur' Bapak lo ini."
Malam itu, rumah mereka tidak seseru biasanya. Tidak ada perdebatan soal siapa yang paling pantas memakai kacamata Jago. Bagas bahkan sempat terlihat duduk di pojokan itu sendirian, mencoba berpose mirip patung Jago untuk mengisi kekosongan, tapi malah dikira Dira lagi kesurupan jin penunggu komplek.
"Pir, udah lah! Jago itu sukses! Dia laku milyaran! Kita harusnya seneng!" omel Dira meski hatinya juga perih.
"Senang sih senang, Ndoro. Tapi Jago itu saksi sejarah. Dia tahu semua rahasia kita. Dia tahu warna daster lo yang paling bolong di bagian mana. Sekarang rahasia itu dibawa ke Amerika!" ratap Bagas.
Keesokan harinya, Bagas tidak tahan lagi. Bagas segera mengumpulkan tim intinya: Manda dan Jaka. Sesuai instruksi Bagas, mereka harus melakukan sebuah ritual yang disebut sebagai "Ritual Pelepasan Ikhlas dan Syukuran Jago".
Manda datang dengan membawa dupa aroma terapi cendana, segenggam tanah kuburan (yang katanya tanah dari taman galeri Singapura), dan beberapa lembar daun sirih. "Gue paham, Gas. Energi Jago itu sudah menyatu dengan struktur molekul rumah ini. Begitu dia dicabut secara paksa buat dibawa ke New York, terjadi lubang hitam kecil di pojokan itu. Kita harus tutup lubangnya sebelum ada roh lain yang numpang tinggal di situ."
Jaka datang dengan gaya paling perlente, membawa selembar sertifikat yang sudah dilaminating rapi. "Gue udah buatkan 'Piagam Pahlawan Semen Nasional' buat Jago. Kita bingkai, kita taruh di pojok itu sebagai pengganti eksistensi fisiknya. Secara psikologi pria berwibawa, kita butuh simbol untuk menggantikan objek yang hilang agar otak tidak mengalami depresi musiman."
Maka, terjadilah pemandangan paling absurd di komplek mereka sore itu. Bagas, Dira, Manda, dan Jaka duduk melingkar di atas laintai kosong di pojok ruang tamu. Di tengah-tengah mereka, Bagas meletakkan sebuah mangkok berisi mi instan soto spesial lengkap dengan telur setengah matang—makanan yang menurut Bagas sangat disukai Jago (meskipun Jago tidak punya mulut).
"Mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk Jago," ujar Bagas memimpin ritual dengan nada bicara mirip pembina upacara. "Terima kasih, Jago, sudah menjaga rahasia kancut bolong gue. Terima kasih sudah jadi tempat senderan pas gue pusing mikirin ide iklan. Dan terima kasih sudah membawa kami terbang ke Singapura meskipun berat lo hampir bikin pesawat gagal lepas landas."
"Amin," sahut Jaka dan Manda serempak. Supra duduk di tengah lingkaran, menatap mi instan itu dengan tatapan lapar.
"Seni itu abadi, tapi fisiknya fana," tambah Manda sambil menaburkan sedikit daun sirih ke lantai. "Semoga Jago di New York sana tidak terkena culture shock dan tetap menjaga frekuensi Tapir-nya."
Baru saja ritual itu selesai dan Bagas mau menyeruput mi instan "persembahan" itu, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi dengan kencang. Ting-nong! Ting-nong!
Dira membukanya dan menemukan seorang kurir dari ekspedisi internasional berdiri di depan pagar dengan sebuah truk box besar di belakangnya.
"Paket kayu super besar buat Bapak Bagas. Dari New York, Amerika Serikat."
Bagas, Jaka, dan Manda langsung berlari keluar. Mereka bahu-membahu membongkar peti kayu raksasa yang dikunci dengan baut-baut baja itu. Dira hanya bisa melongo, sementara tetangga kiri-kanan mulai keluar rumah, mengira Bagas baru saja beli kulkas dua belas pintu.
Begitu penutup kayu dibuka, Dira langsung menutup mulutnya karena kaget. Bagas jatuh terduduk, sementara Manda hampir pingsan karena katanya ada "lonjakan energi metalik" yang luar biasa kuat.
Di dalam peti itu berdiri sebuah patung ayam jago yang bentuk, ukuran, dan detailnya persis seratus persen dengan Jago Semen mereka.
Bedanya, yang satu ini terbuat dari perunggu murni yang mengkilap keemasan di bawah sinar matahari sore. Ada sebuah surat kecil yang dilaminating emas tertempel di dada patung itu:
"Monsieur Bagas, I am the collector from New York. Saya sangat mencintai Jago Anda, tapi saya merasa sangat bersalah memisahkan seorang seniman dengan 'belahan jiwanya'. Maka, saya memerintahkan pengrajin terbaik di Brooklyn untuk mencetak ulang Jago Anda ke dalam perunggu abadi ini. Anggaplah ini sebagai 'Kembaran Jago' yang akan menjaga rumah Anda selamanya. Jago yang asli sekarang sudah aman di galeri saya di Fifth Avenue, lengkap dengan kacamata hitam cadangan yang saya belikan dari brand ternama. Keep being crazy, My Friend!"
Bagas terdiam menatap patung perunggu yang berkilau mewah itu. Menyentuh permukaannya yang halus, kemudian menoleh ke arah Dira dengan mata berkaca-kaca.
"Ndoro... ini Jago, tapi versi yang sudah lulus S3 di Amerika," bisik Bagas haru.
Dira mendekat, mengelus kepala patung perunggu itu. "Iya, Pir. Bagus banget. Mengkilap, mahal, dan... berwibawa."
Bagas mengangguk, tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah. Bagas mengerutkan kening. "Tapi, Ndoro... ini terlalu rapi. Terlalu 'Aris'. Jago kita itu harusnya dekil, banyak retakan semennya, dan ada bekas kotoran laronnya. Ini mah namanya 'Jago Anak Senja'."
Tanpa babibu, Bagas masuk ke dalam rumah dan keluar lagi membawa sebuah spidol permanen hitam berukuran besar dan sisa-sisa selotip hitam dari Singapura.
"Pir! Lo mau ngapain?!" teriak Dira panik.
"Gue mau kasih dia 'Jiwa', Ndoro!" jawab Bagas semangat.
Dengan sangat telaten, Bagas mulai menggambar garis-garis retakan kasar di seluruh badan patung perunggu mahal itu agar kelihatan seperti semen pecah-pecah. Bagas juga menempelkan kembali kacamata hitam lamanya yang sudah patah gagangnya ke wajah patung perunggu tersebut menggunakan selotip hitam yang melilit di sekeliling kepalanya.
"Nah! Sekarang baru dia punya 'Aura Tapir'!" seru Bagas puas.
Jaka mengangguk setuju. "Secara estetika investasi, lo baru aja menghancurkan nilai perunggunya, Gas. Tapi secara estetika 'Geng Tapir', ini adalah mahakarya tingkat dewa!"
Manda langsung mendekatkan kristalnya. "Wah, energinya kembali! Sekarang frekuensinya sudah sinkron sama rumah ini! Selamat datang kembali, Jago Emas!"
Supra langsung melompat ke atas kepala patung perunggu yang sudah dicoret-coret spidol itu, lalu mulai mendengkur keras (purring). Suasana rumah yang tadinya hampa mendadak kembali terasa hangat dan "gila".
Dira tertawa kencang, merangkul Bagas. "Gue rasa meskipun Jago udah ganti jadi perunggu milyaran, kalau yang punya masih lo, tetep aja kelihatannya kayak barang rongsokan dari pasar loak ya, Pir."
"Itulah indahnya hidup, Ndoro. Yang penting bukan harganya, tapi seberapa banyak selotip yang bisa kita tempelkan di atasnya," sahut Bagas bijak (ngawur).
Rumah Bagas dan Dira kembali lengkap dengan kehadiran Jago Perunggu "edisi coret-coret". Tapi kebahagiaan mereka terusik saat ponsel Bagas berdering kencang. Nama pemanggilnya: Mama Ratna.
"BAGAS! DIRA! Mama baru saja dapat pengumuman! Berkat sambal terasi Mama di Singapura kemarin, Mama diundang untuk ikut audisi MasterChef Indonesia minggu depan! Kalian berdua harus jadi asisten Mama, bawa cobeknya, dan dandan yang rapi! Kita akan menghancurkan dapur nasional!"
Bagas dan Dira saling berpandangan. "Ndoro... kayaknya kita lebih baik balik ke Singapura lagi dan tinggal di bunker AC kemarin deh," gumam Bagas lemas.
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍