Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Iya, Ma. Malam itu aku mengusir Viola dalam keadaan hamil. Aku pikir dia hamil anak dari laki-laki lain." Rasta menunduk dalam. "Aku udah berdosa sekali, Ma. Aku gagal jadi suami sekaligus ayah. Lima tahun aku nggak kisah nafkah, nggak ngasi perhatian, kasih sayang. Viola jadi harus kerja demi anak yang dulunya tidak aku anggap."
Rasta juga mengeluarkan hasil tes DNAnya dengan Vita. "Aku udah tes DNA. Dan dia memang anak kandung aku."
Liana menggeleng, pelan-pelan dia mengusap bahau Rasta, lalu memeluk anaknya. "Kamu nggak salah, Ta. Mama yang salah. Maafin mama ya udah bikin kamu terpisah dengan Viola dan anak kamu. Mama minta maaf, mama menyesal."
Tidak segampang itu Rasta memaafkan mamanya. Kekecewaan Rasta tidak bisa menghilang begitu saja. Tapi ia tidak bisa meluapkan amarahnya dengan wanita ini. Wanita yang telah melahirkannya, seberapa besar pun kesalahannya.
"Mama jelasin sama aku, kenapa mama ngelakuin itu?" tanya Rasta, suaranya tercekat.
Pelukan mereka terlepas.
Liana meremas kedua tangannya. Ragu-ragu, ia menjawab, "Dari dulu mama nggak suka kamu berhubungan sama Viola, Ta, tapi kamu tetap maksa nikah sama dia."
"Why?" Rasta menahan rasa sesak yang bergumul di dadanya. "Kenapa mama segitu nggak sukanya sama Viola? Viola salah apa sama mama? Dia perempuan yang baik, dia cantik, dia selalu nemenin aku bahkan di saat aku nggak punya apa-apa."
Rasta tak habis pikir, alasan apa yang membuat mamanya sangat membenci Viola. Bahkan berpura-pura baik terhadapnya, berpura-pura sudah menerima dan menyayanginya hanya untuk mendepak dia dari dunianya Rasta. Bukankah itu sangat jahat?
Liana tidak memberi jawaban apapun. Dia hanya diam, menahan isakan sambil sesekali menghapus air matanya.
"Coba mama bayangkan seandainya aku nggak ketemu sama Viola dan anak aku sekarang. Aku akan bertambah menyesal, Ma. Aku hidup berkecukupan tanpa kekurangan, sementara anak aku nggak ikut merasakan harta yang aku miliki."
Liana mengusap-usap bahu Rasta, mencoba menenangkan anak lelakinya.
"Pasti kamu kecewa dan marah banget sama mama. Mama minta maaf, Ta."
Rasta berkata dengan suara tegas, "Yang harus Mama lakukan itu bertemu dan minta maaf sama Viola. Dia yang paling terluka, Ma. Bukan aku."
Liana menghapus air mata di pipi. Tidak mengangguk atau pun menggeleng, dia hanya diam. Nampaknya sangat berat baginya untuk meminta maaf dengan Viola.
Rasta berkali-kali menghela napas. Ia memejam, berusaha mengendalikan emosi yang menguasai dirinya.
"Yang paling membuat aku sedih sekarang ini Viola sudah kehilangan kepercayaan terhadap aku, Ma." Suara Rasta lirih, nyaris seperti bisikan.
Mendengar itu, wajah Liana terangkat. Dia menatap Rasta, lalu mencoba menebak. "Viola nggak mau kembali sama kamu?"
Liana tahu, selama lima tahun ini Rasta tidak pernah benar-benar melupakan wanita itu. Berkali-kali Liana mencoba mendekatkan Rasta dengan wanita pilihannya agar Rasta segera melupakan Viola.
Namun, dengan berbagai alasan, Rasta selalu menolak. Tidak pernah satu kali pun Liana berhasil membuat Rasta berkencan dengan perempuan lain.
Rasta menggeleng lemah. Mengingat kembali jawaban Viola semalam, membuat tenaganya seolah habis tak tersisa terenggut oleh kenyataan pahit.
Merasa sangat lelah, Rasta berjalan gontai ke kamarnya.
Liana terduduk, menghapus jejak air mata di pipi. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Kenapa Viola harus hadir lagi di hidupnya Rasta?" Liana menggeram tidak suka.
Kenapa pula Rasta harus mencari tahu tentang Yuda dan kenyataan masa lalu mereka?
Lima tahun ... Teryata waktu lima tahun tidak cukup untuk membuat Rasta berpaling dari Viola. Bahkan sekarang menjadi lebih rumit dengan kehadiran anak kandung Rasta.
**
"Kamu semalam nginep di mana sama Rasta?" Sinta bertanya dengan suara ketus.
Viola, sambil berusaha mengikat rambutnya, menjawab, "Nginep di hotel, Ma."
Sinta kontan melotot. "Hotel? Viola?! Kamu tidur sama Rasta di hotel?"
Viola menghela napas. "Ma ... Aku nggak tidur sama Rasta. Nggak mungkin. Rasta satu kamar sama Vita, aku tidur di kamar lainnya."
Sinta tidak serta merta mempercayai penjelasan Viola. Dia masih menatap curiga. Biar bagaimanapun sikap Rasta, pria itu pernah menjadi lelaki yang sangat dicintai Viola. Bukan tidak mungkin Viola akan tergoda, dan mereka sama-sama khilaf.
"Beneran, Ma..." kata Viola. "Sumpah, aku nggak tidur sekamar sama Rasta, apalagi sampai melakukan hubungan itu."
"Yakin?"
"Ma ... Nggak percayaan banget sih sama aku."
Sinta akhirnya menghela napas. "Ingat ya, Vi, kamu nggak bisa terus dekat sama Rasta. Hubungan Rasta ya hanya dengan Vita saja, kamu lebih baik jauhin dia."
Viola memasukkan ke dalam tas, beberapa barang penting yang akan dia bawa kerja. "Iya, Ma," jawabnya pelan.
Sinta tidak puas dengan jawaban itu, "Mama serius. Sebelum kamu baper lagi sama dia—"
"Nggak lah, Ma." Viola memotong ucapan mamanya, kemudian menggeleng. "Aku sama Rasta nggak akan lebih dari pada sekedar orang tuanya Vita."
"Aku juga mau genapin sebulan aja kerja di tempatnya Rasta, habis itu mau resign. Cari kerja di tempat lain biar gak terus ketemu sama dia tiap hari."
"Bagus deh."
"Aku berangkat kerja sekarang ya, Ma. Titip Vita, kayaknya nanti siang Rasta bakalan ke sini. Mama jangan ngelarang kalau dia mau ngajak Vita pergi."
"Hmmm."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. hati-hati, Vi "
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu