NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden di Balkon

Elara terdiam.

“Aku—aku tidak apa-apa, Tuan Marquis. Tolong lepaskan.”

Seraphina mengamati mereka berdua.

Tatapannya tidak marah. Tidak pula tersinggung.

“Lepaskan dia, Lucein,” ucap Seraphina tenang.

Lucein melepaskan tangannya perlahan.

Elara berdiri, menunduk dalam.

“Aku sungguh minta maaf, Lady Seraphina. Aku tidak bermaksud mengganggu.”

Seraphina tersenyum tipis—senyum bangsawan sejati.

“Tidak perlu meminta maaf,” katanya lembut.

“Insiden kecil tidak seharusnya membuatmu ketakutan, Elara.”

Elara mengangguk kaku.

“Iya, Lady.”

Elara melangkah mundur, meninggal area balkon.Namun begitu sampai di lorong samping aula, kakinya melemah.

“Elara.”

Suara itu membuatnya berhenti.

Eryn berdiri di ujung lorong, membawa dua kue di tangan nya. Wajahnya ceria, sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.

“Aku mencarimu ke mana-mana,” ucapnya ringan.

Namun wajah Elara tampak pucat.

"Kau kenapa? Kau baik-baik saja?"

“Aku… baik-baik saja.”

Eryn menyipitkan matanya.

“Jangan bohong. Aku mengenalmu lebih dari tujuh tahun Elara dan wajahmu juga sangat pucat.”

Elara diam. Eryn menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas.

“Baiklah. Mari keluar sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban, Eryn menarik Elara ke taman samping.

***

Di sisi lain, di balkon—

Seraphina berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pagar besi. Angin malam menggerakkan helaian rambut keemasannya.

“Kau tidak perlu merasa bersalah,” ucapnya tiba-tiba.

Lucein menoleh.

“Apa maksudmu?”

Seraphina tersenyum kecil.

“Ekspresimu sejak pengumuman tadi. Kau tidak bahagia.”

“Sepertinya tanpa perlu aku jawab kau tahu ini adalah pernikahan politik,” jawab Lucein datar.

“Benar, karena itu, aku tidak menuntut hatimu.” sahut Seraphina tenang.

Wanita itu menoleh menatap Lucein langsung.

“Aku hanya menuntut kejujuran.”

Lucein terdiam.

“Gadis itum.Bukan sekadar pelayan, bukan?”

“Apa pun yang kau pikirkan, itu tidak relevan. Lady Seraphina.” kata Lucein.

Seraphina tertawa kecil, tanpa ejekan.

“Kaum pria selalu mengatakan itu ketika sesuatu justru sangat relevan.”

Seraphina melangkah mendekat, menatap mata Lucein dengan ketenangan yang membuatnya sulit menghindar.

“Tenanglah, Lucein. Aku tidak cemburu.”

“Lalu apa yang kau inginkan?” tanyanya dingin.

"Tidak ada, karena aku tahu perihal jatuh cinta itu tidak bisa dipaksakan." Jawab Seraphina.

Seraphina merapikan dasi Lucein sekali lagi.

“Aku adalah calon istrimu. Bukan musuhmu, tuan Lucien.” bisiknya, lalu Seraphina melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan Lucein sendirian.

**

Di taman samping.

Elara duduk di bangku batu, menatap kolam yang memantulkan cahaya lampu taman yang berkilau itu.

Eryn berdiri di sampingnya sejenak, lalu menyodorkan sapu.

“Gunakan,” katanya santai.

“Aku tidak akan berpura-pura tidak melihat mata merahmu.”

Elara menerima kain itu, menggenggamnya erat.

“Aku… merasa bersalah, Eryn,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih.

Eryn menoleh, alisnya terangkat.

“Bersalah karena apa? Kau sedang tidak mencuri, bukan?”

Elara menggeleng pelan.

“Aku mengganggu mereka.”

“Siapa?” tanya Eryn, kini tampak lebih serius.

Elara menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara hampir berbisik,

“Aku melihat… Tuan Marquis dan Lady Seraphina.”

Eryn menyipitkan mata.

“Lalu?”

“Mereka sedang… bersama.”

Elara menunduk. “Aku tidak sengaja berada di sana, melihat mereka berciuman dan aku tidak sengaja menjatuhkan gelas. Aku merusak momen mereka.”

Eryn tertawa.

Tertawa lepas, tanpa menahan diri.

Elara tersentak, menoleh cepat.

“Eryn? Ini bukan hal lucu.”

Eryn mengusap matanya, masih tertawa kecil.

“Maaf, maaf. Aku hanya… sungguh tidak menyangka.”

“Menyangka apa?”

“Bahwa yang membuatmu pucat setengah mati sejak tadi, hanya karena kau tak sengaja melihat sepasang tunangan berciuman.”ujarnya sambil menggeleng tak habis pikir,

Elara menggigit bibirnya.

“Itu tidak pantas, Eryn. Aku seharusnya tidak ada di sana.”

Eryn menghela napas, lalu duduk di bangku yang sama.

“Elara, tidak perlu dipikirkan kau tidak mengganggu apa pun. Mereka berdiri di balkon terbuka,jadi sudah sewajarnya akan ada yang melihat.”

Elara menatap kolam kecil itu lagi.

“Tetap saja… aku merasa bersalah, harusnya aku tidak kesana.”

“sudahkah, ayo .”

Eryn berdiri, menepuk bahu Elara pelan.

“Ayo. Keringkan matamu. Pesta belum selesai, dan kau tidak perlu merasakan hal itu..”

Eryn membantu Elara berdiri. Keduanya kembali menuju aula dengan langkah tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Namun dari balkon utama, sepasang mata mengikuti mereka.

Lucein berdiri di balik pilar marmer, tatapannya jatuh tepat pada Elara—yang berjalan di sisi Eryn. Entah mengapa Lucien tidak menyukai kedekatan mereka.

Lucien kembali ke tengah aula, wajahnya kembali menjadi topeng bangsawan yang dingin dan sempurna. Hingga sampai pesta berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!