NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duet Piano Lily & Oliver

Kemenangan kecilku atas Isabella memberiku sedikit rasa percaya diri, tapi itu tidak menghilangkan rasa paranoiak yang terus berdenyut di belakang kepalaku.

Musuh di depan mata mudah dilawan. Musuh yang tersenyum padamu... itu yang berbahaya.

Sore ini, aku kehilangan jejak Lily.

Adikku itu seperti kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong. Dia terbang ke sana kemari, terpesona oleh setiap sudut Vane Manor, terlalu naif untuk menyadari bahwa ini adalah sarang laba-laba.

Aku mencarinya di kamarnya. Kosong. Boneka beruang raksasanya duduk sendirian di atas kasur. Aku mencarinya di taman belakang. Kosong. Hanya ada tukang kebun yang sedang memangkas mawar.

Samar-samar, aku mendengar suara piano.

Bukan permainan kaku dan sumbang yang biasa dimainkan Lily saat latihan. Ini adalah melodi yang mengalir lancar, rumit, dan... harmonis. Ada dua nada yang saling mengisi. Empat tangan.

Suara itu berasal dari Ruang Musik di sayap barat.

Aku berjalan cepat, langkahku tidak menimbulkan suara di karpet tebal. Perasaanku tidak enak.

Pintu ganda ruang musik itu terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari sore yang hangat masuk dan membanjiri lantai parket yang mengkilap.

Aku berhenti di ambang pintu, dan pemandangan di depanku membuat darahku mendingin.

Di depan grand piano hitam yang megah, duduk dua orang.

Lily duduk di bangku piano, jari-jarinya menari canggung di atas tuts. Dan tepat di sebelahnya, terlalu dekat, bahu mereka hampir bersentuhan, duduk seorang pemuda berambut cokelat ikal yang berantakan.

Oliver Vane.

Si bungsu.

Aku jarang melihatnya. Dia tidak ikut makan malam "penyambutan" yang mengerikan itu karena sedang pameran seni di kota lain. Dia berbeda dari Ciarán yang dingin atau Lucas yang kejam. Oliver terlihat... lunak. Dia memakai kemeja linen putih yang longgar dan celana korduroi cokelat yang terkena noda cat di lututnya.

"Bukan begitu," kata Oliver lembut, suaranya terdengar sabar. "Jari kelingkingmu terlalu tegang, Li. Lemaskan. Seperti ini."

Dia meletakkan tangannya di atas tangan Lily. Bukan dengan cara yang agresif, tapi membimbing. Dia menekan jari Lily ke tuts dengan lembut.

Ting.

Sebuah nada bening tercipta.

Lily tertawa. Tawa yang murni, lepas, dan bahagia. "Wah! Bunyinya beda kalau Kak Oliver yang ajarkan!"

"Itu karena kau bermain dengan perasaan, bukan dengan teknik," Oliver tersenyum. Senyumnya hangat, matanya menyipit ramah. Dia menatap Lily bukan sebagai hama, tapi sebagai... teman?

"Coba lagi," kata Oliver. "Ikuti aku."

Mereka mulai bermain bersama. Oliver memainkan nada dasar yang rumit, sementara Lily menekan tuts melodi sederhana di oktaf tinggi. Mereka tertawa saat Lily salah tekan, dan Oliver hanya menggeleng maklum tanpa mencemooh.

Pemandangan itu seharusnya indah.

Tapi bagiku, itu mengerikan.

Aku melihat serigala yang sedang bermain-main dengan domba sebelum memakannya. Aku melihat sejarah berulang. Ibuku dulu juga jatuh cinta pada pria Vane yang terlihat "berbeda" dan "baik". Dan lihat di mana Ibu berakhir? Di liang kubur tanpa nisan yang layak.

Orang-orang Vane tidak punya hati. Mereka hanya punya keinginan sesaat. Oliver mungkin terlihat seperti seniman yang sensitif, tapi darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan darah Julian.

Lily adalah mata rantai terlemah kami. Dia terlalu mudah percaya. Dia terlalu haus akan kasih sayang. Dan Oliver sedang memberinya air garam yang hanya akan membuatnya makin haus.

Aku tidak bisa membiarkan ini.

Aku melangkah masuk, tumit sepatuku sengaja kuhentakkan keras ke lantai kayu.

TOK. TOK. TOK.

Suara piano berhenti seketika. Tawa Lily mati.

Mereka berdua menoleh.

"Elara?" panggil Lily, matanya membulat kaget.

Aku tidak menatap Lily. Aku menatap Oliver dengan tatapan yang kutiru dari Ciarán. Dingin, tajam, dan penuh peringatan.

"Menjauh dari adikku," kataku datar.

Oliver berkedip, tampak terkejut dengan nada suaraku yang bermusuhan. Dia perlahan menarik tangannya dari atas tangan Lily, lalu mengangkat kedua tangannya seolah menunjukkan tanda menyerah.

"Hei, tenanglah," kata Oliver dengan senyum canggung. "Kami hanya bermain musik. Lily punya bakat, dia hanya butuh—"

Aku tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat itu.

Aku berjalan cepat melintasi ruangan, langkahku bergema keras di lantai kayu. Aku meraih pergelangan tangan Lily dan menariknya berdiri dengan kasar.

"Aduh! Kakak!" pekik Lily kesakitan.

"Kita pergi," desisku, menyeretnya menjauh dari bangku piano itu seolah bangku itu terbakar api.

"Tunggu sebentar!" Oliver berdiri, wajahnya yang ramah berubah menjadi bingung dan sedikit tersinggung. Dia melangkah maju menghalangi jalan kami. "Kau menyakitinya, Elara. Lepaskan tangannya."

"Jangan ajari aku cara mengurus adikku," balasku tajam, mataku menyipit. "Dan jangan pernah berpikir kau bisa menyentuhnya lagi."

Oliver mengerutkan kening. "Menyentuhnya? Aku cuma mengoreksi posisi jarinya. Apa masalahmu? Aku bukan Lucas. Aku tidak menggigit."

"Kalian semua sama saja," semburku.

Keringat dingin membasahi punggungku. Aku tidak melihat pemuda baik hati berbaju seniman di depanku. Aku melihat predator. Aku melihat senyum manis yang menyembunyikan taring.

"Kalian orang kaya suka sekali mainan baru, kan?" lanjutku, suaraku bergetar karena amarah yang bercampur ketakutan. "Kalian melihat sesuatu yang polos, yang rusak, lalu kalian memungutnya. Kalian bermain-main sebentar sampai kalian bosan. Lalu apa? Kalian membuangnya kembali ke tempat sampah."

"Elara, itu tidak adil," potong Oliver, nada suaranya mulai meninggi. "Aku hanya bersikap ramah."

"Ramah?" Aku tertawa hambar. "Tidak ada yang 'ramah' di rumah ini tanpa harga, Oliver. Aku tahu permainan kalian. Kau mendekatinya, membuatnya merasa spesial, membuatnya bergantung padamu... dan saat dia sudah menyerahkan hatinya, kau akan menghancurkannya."

Wajah Oliver memucat mendengar tuduhan itu. Dia mundur selangkah, seolah tertampar.

Lily berusaha melepaskan tangannya dari cengkeramanku. "Kak Elara, hentikan! Kak Oliver baik! Dia tidak jahat!"

"Kau diam!" bentakku pada Lily, cengkeramanku semakin erat hingga kulitnya memerah. "Kau bodoh, Lily! Kau terlalu bodoh untuk melihat bahaya! Kau pikir dia peduli padamu? Dia hanya kasihan! Atau lebih parah, dia sedang bosan dan kau adalah hiburan murah baginya!"

"Itu tidak benar!" teriak Lily, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kenapa Kakak selalu merusak semuanya?! Kenapa aku tidak boleh punya teman?!"

"Karena teman di rumah ini adalah musuh yang belum menyerang!"

Aku menarik napas panjang, menatap Oliver sekali lagi dengan tatapan penuh kebencian.

"Dengar baik-baik," ancamku pelan. "Adikku bukan kanvas untuk eksperimen senimu. Dan dia bukan mainan. Cari hobi lain. Lukis buah-buahan atau apalah. Tapi jangan pernah dekati Lily lagi."

Tanpa menunggu jawaban Oliver, aku menyeret Lily yang menangis keluar dari ruang musik.

Aku tahu aku kasar. Aku tahu aku menyakiti Lily. Tapi rasa takut di dadaku begitu besar hingga menelan semua logika. Aku lebih baik melihatnya menangis sekarang karena dilarang bermain, daripada melihatnya hancur nanti karena ditinggalkan.

Aku harus melindunginya. Meskipun itu berarti aku harus menjadi penjahat di matanya.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!