Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prosesi Menuju Neraka
Jalan setapak Hutan Eldrath yang biasanya asri dengan kicauan burung dan sinar matahari yang menembus dedaunan kini terasa seperti lorong menuju kuburan. Rombongan Akademi Sihir Royal Aethelgard bergerak lambat, seolah-olah waktu sendiri enggan beranjak. Suasana yang seharusnya penuh tawa karena kegiatan karyawisata telah berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam dan membekukan tulang.
Di barisan paling depan, sebuah kereta kuda militer berlapis baja sihir memimpin jalan. Roda-rodanya yang berat menggilas tanah berlumpur dengan bunyi krak yang menyakitkan telinga. Di atas kereta itu, sebuah kerangkeng besi hitam berukuran besar terpasang kokoh. Jerujinya dialiri sihir penekan tingkat tinggi yang terus berdengung rendah.
Di dalamnya, sosok Leon Gremory—atau apa pun yang tersisa dari Pahlawan Cahaya itu—sedang terengah-engah.
Kondisinya mengerikan. Seragam akademi putih kebanggaannya telah robek-robek, tercabik oleh transformasi paksa yang dialaminya. Kulitnya yang dulu halus kini sebagian besar telah mengeras, berubah menjadi sisik abu-abu kasar yang retak-retak dan berdarah. Tulang punggungnya menonjol aneh, seolah-olah ada duri yang mencoba keluar dari dalam tubuhnya.
Leon terikat oleh lima rantai cahaya suci yang membelit leher, kedua tangan, dan kedua kakinya. Setiap kali dia bergerak sedikit saja, rantai itu bersinar terang, membakar kulit bersisiknya.
Sszzt.
Asap berbau daging hangus mengepul tipis dari balik jeruji. Leon tidak berteriak. Suaranya sudah habis. Dia hanya mendesis pelan, matanya terpejam rapat menahan rasa sakit yang menyebar dari ujung saraf hingga ke sumsum tulangnya. Dia seperti makhluk terkutuk yang dipanggang pelan-pelan oleh sentuhan surga.
Di belakang kereta itu, para murid berjalan dengan langkah menyeret. Wajah mereka pucat, tertunduk menatap sepatu mereka sendiri. Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada yang berani menatap ke depan. Isak tangis tertahan terdengar di sana-sini, memecah kesunyian hutan. Mereka baru saja melihat idola mereka, simbol harapan mereka, berubah menjadi monster pembunuh pendeta. Dunia mereka telah runtuh.
Putri Aeliana berjalan tepat di samping Varian. Dia tidak berjalan dengan anggun seperti biasanya. Langkahnya goyah. Tangannya mencengkeram lengan baju Varian begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah-olah Varian adalah satu-satunya tiang yang menahannya agar tidak ambruk ke tanah.
Wajah sang Putri pucat pasi, matanya sembab dan merah. Dia menolak melihat ke arah kerangkeng di depan. Setiap kali kereta berguncang, tubuhnya tersentak kaget.
Klang.
Suara rantai beradu dari dalam kerangkeng terdengar saat kereta melintasi lubang jalan.
"Dia... dia bergerak lagi..." bisik Aeliana gemetar, suaranya sarat ketakutan murni. "Varian... bagaimana jika dia lepas? Bagaimana jika dia membunuh kita semua?"
Varian menoleh, menatap Aeliana dengan ekspresi lembut dan menenangkan yang telah dia latih sempurna di depan cermin. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Aeliana yang mencengkeram lengannya, memberikan remasan hangat.
"Tenanglah, Putri," jawab Varian, suaranya rendah dan stabil. "Rantai itu dibuat oleh sihir suci tingkat tinggi. Segel itu dipasang oleh para guru terbaik. Dia tidak akan bisa lepas. Kau aman bersamaku."
Aeliana mengangguk kecil, menelan ludah. Kata-kata Varian adalah satu-satunya hal yang masuk akal di tengah kegilaan ini. "Terima kasih... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku tanpamu."
Varian tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya terlihat di matanya. Namun, saat dia kembali menatap ke depan, ke arah kerangkeng Leon, tatapan lembut itu lenyap seketika. Digantikan oleh tatapan tajam, analitis, dan penuh antisipasi.
Dia tidak sedang menenangkan Aeliana. Dia sedang menunggu.
Darah iblis yang dia berikan pada Leon semalam bukanlah jenis biasa. Itu adalah darah High Demon tipe Berserker. Darah itu bereaksi agresif terhadap pengekangan. Semakin Leon ditekan, semakin kuat insting monsternya akan memberontak. Rantai cahaya itu bukan menahannya; itu sedang "memasak"-nya, memaksanya berevolusi lebih cepat untuk bertahan hidup.
Di lantai kerangkeng, tepat di samping kaki Leon yang telah berubah menjadi cakar reptil, tergeletak sebuah benda yang sangat tidak pada tempatnya.
Pedang Suci Excalibur.
Para pengawal bodoh itu sengaja melemparkannya ke dalam sana sebelum berangkat. "Mungkin aura suci pedang itu bisa menekan insting monsternya," kata salah satu guru dengan naif.
Itu adalah kesalahan fatal. Kesalahan yang Varian syukuri.
"Argh..." Leon mengerang di dalam kerangkeng. Kesadarannya timbul tenggelam.
Rasa sakit di tubuhnya tak tertahankan. Tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih parah. Dia ingat tatapan benci teman-temannya. Dia ingat teriakan "Pembunuh!".
Tanpa sadar, tangan kanannya yang sudah berubah menjadi cakar hitam meraba lantai kerangkeng, mencari pegangan. Jari-jarinya menyentuh dinginnya gagang pedang Excalibur.
Pedang itu, yang dulu bersinar hangat dan menyambutnya sebagai tuan, kini bereaksi liar. Pedang itu memiliki ego. Ia merasakan aura kegelapan pekat yang kini mengalir di tubuh Leon.
SZZZTTT!
Cahaya putih menyilaukan meledak dari gagang pedang. Itu bukan cahaya perlindungan. Itu adalah cahaya penolakan. Excalibur menolak disentuh oleh makhluk najis. Pedang itu membakar telapak tangan Leon dengan panas setara lava cair.
"GGRRAAAAHHH!"
Leon menjerit. Jeritan itu merobek udara siang, membuat kuda-kuda meringkik panik dan burung-burung beterbangan. Itu bukan suara manusia lagi. Itu adalah raungan binatang buas yang terluka dan dikhianati oleh satu-satunya hal yang tersisa baginya.
Rasa sakit fisik akibat penolakan pedang kesayangannya menjadi pemicu terakhir. Hati Leon yang sudah retak kini hancur berkeping-keping menjadi debu.
Pedang itu—simbol terakhir dari identitasnya sebagai Pahlawan, warisan keluarganya—kini menyakiti dirinya. Bahkan benda mati pun membencinya.
"PANAS! PERGI! PERGI DARIKU!"
Dengan amarah yang meledak dari keputusasaan terdalam, Leon menendang pedang itu sekuat tenaga dengan kaki monsternya.
TRANG!
Pedang Excalibur terlempar keluar melalui celah jeruji besi yang lebar. Pedang legendaris itu melayang di udara, berputar, dan jatuh menancap di tanah berlumpur dengan posisi miring.
Tepat di depan kaki Varian yang sedang berjalan.
Konvoi berhenti mendadak. Semua mata tertuju pada pedang itu.
Varian menatap pedang yang menancap di depannya. Bilahnya yang putih bersih kini tampak sedikit redup, bergetar pelan, seolah pedang itu sedang bersedih atau bingung karena kehilangan tuannya. Aura sucinya berdenyut lemah.
"Pedang Pahlawan..." gumam Varian, suaranya terdengar kagum (palsu).
Seorang Ksatria Pengawal yang berjalan di dekat situ berlari mendekat dengan panik. "Jangan sentuh itu, Nak! Itu artefak suci tingkat dewa! Hanya Pahlawan Terpilih yang bisa memegangnya tanpa terbakar! Mundur!"
Terlambat.
Sebelum ksatria itu selesai bicara, Varian sudah membungkuk. Gerakannya cepat namun santai. Tangan kanannya terulur dan mencengkeram gagang emas Excalibur.
Zing!
Pedang itu bergetar hebat di tangan Varian. Ia mencoba menolak tuan baru yang asing ini. Excalibur merasakan sesuatu yang mengerikan tersembunyi jauh di dalam jiwa Varian—aura Void yang lapar dan dingin. Pedang itu mencoba melepaskan gelombang kejut suci untuk melempar Varian.
Namun, Varian tidak melepaskannya. Cengkeramannya semakin kuat.
Di balik kacamata sihirnya, mata kanan Varian menyipit. Pupil vertikalnya berputar. Dia tidak menggunakan sihir gelap yang akan terdeteksi. Dia mengalirkan energi dari Jantung Naga Api Kuno yang ada di dadanya. Kekuatan naga yang dominan, otoriter, dan bersifat menaklukkan mengalir ke pedang itu.
"Diam," perintah batin Varian, suaranya bergema di dimensi spiritual pedang itu. "Tuanmu yang lemah sudah membuangmu. Kau hanyalah besi tua tanpa tuan. Sekarang tunduklah padaku, atau aku akan mematahkanmu jadi dua."
Tekanan mental dari Raja Iblis muda itu menghancurkan ego pedang suci tersebut.
Perlahan, getaran pedang itu berhenti. Cahaya penolakannya meredup, takluk pada kekuatan brute force Varian. Pedang itu menjadi diam dan patuh di tangannya.
Varian mencabut pedang itu dari tanah dengan mudah, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang bisa melihat.
"Aku mengamankannya!" seru Varian pada para pengawal dengan wajah polos dan sedikit terengah-engah, seolah itu usaha yang berat. "Pedang ini hampir melukai murid lain yang ada di belakangku!"
"B-Bagaimana bisa?" Ksatria itu ternganga, langkahnya terhenti. "Kau... kau bisa memegangnya? Kau tidak terbakar?"
Murid-murid lain mulai berbisik. "Varian memegang Excalibur?" "Apa artinya ini?"
Varian memasang wajah bingung yang meyakinkan. "Aku tidak tahu... Mungkin karena aku memiliki afinitas elemen cahaya juga?" ujarnya beralasan cepat, sambil memamerkan sedikit False Divinity (Cahaya Palsu) di ujung jarinya yang berpendar putih.
Itu adalah kebohongan yang brilian. Di saat semua orang kehilangan Pahlawan mereka, Varian secara halus memposisikan dirinya sebagai kandidat pengganti.
Namun, drama sesungguhnya baru saja dimulai.
Saat perhatian semua orang tertuju pada Varian dan pedang itu, sesuatu yang mengerikan terjadi di dalam kerangkeng.
Kehilangan pedang suci dari dekatnya berarti hilang sudah satu-satunya penekan aura iblis di sekitar Leon. Tanpa Excalibur yang menyerap energi negatif di dekatnya, transformasi Leon melaju tanpa rem.
Darah iblis mengambil alih sepenuhnya.
Tubuh Leon di dalam kerangkeng mengejang hebat. Tulang-tulangnya berbunyi krak keras, memanjang dan membesar dua kali lipat. Otot-ototnya membengkak merobek sisa bajunya. Tulang punggungnya menembus kulit, membentuk duri-duri tajam.
Rantai cahaya yang melilitnya mulai retak.
Krak... KRAK!
Bunyi pecahan kristal terdengar.
"Apa itu bunyi retakan?" tanya Aeliana panik, matanya melebar horor.
Varian tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak terlihat. Dia menatap kerangkeng itu dengan kepuasan seorang sutradara yang melihat klimaks filmnya.
"Itu bunyi kebebasan, Putri."