Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Ratu Aurelia melihat kotak itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia ingin membantu Kerajaan Zorvath, sedangkan di sisi lain, jika ia menggunakan ini, ia tidak tahu masalah apa yang akan menunggunya di depan sana.
----------
Bibi Ema memegang tangan Ratu Aurelia dengan pelan.
“Sebaiknya, Princess segera lanjutkan berkemas. Sebentar lagi kendaraan yang akan ke Desa Fuhan akan segera tiba,” ujar Bibi Ema.
“Terima kasih banyak, Bi,” balas Ratu Aurelia sambil kembali memeluk Bibi Ema.
“Tapi ap—”
Belum sempat Bibi Ema menyelesaikan kalimatnya, Ratu Aurelia sudah memotong,
“Tidak, Bibi. Mumpung ada kendaraan yang akan ke sana untuk mengirim bantuan ke Fuhan.”
Kerajaan lain saja peduli pada Zorvath, tapi kenapa para bangsawan justru seolah menutup mata? Untung saja bencana tanah longsor itu berada dekat Kerajaan Wales. Perjalanan ke sana tidak akan lama, batin Ratu Aurelia.
Ratu Aurelia melambaikan tangan ke arah Bibi Ema. Mobil yang membawanya perlahan bergerak menjauh dari rumah itu.
Di dalam mobil, Ratu Aurelia tidak sendirian. Dua perempuan duduk di sampingnya, sementara kursi depan hanya diisi seorang sopir.
“Perkenalkan, Kak. Namaku Lula, dan ini adikku, Mila,” ujar perempuan di sebelahnya dengan senyum ramah.
Ratu Aurelia menoleh, sedikit terkejut melihat wajah mereka yang begitu mirip.
“Kalian kembar?”
Mila mengangguk cepat, lalu tersenyum malu-malu.
“Iya… boleh ya kami memanggil Lady dengan panggilan Kakak?”
Ia melirik Ratu Aurelia sekilas.
“Soalnya Kakak cantik sekali,” lanjutnya dengan tatapan berbinar.
“Terima kasih. Kalian juga imut,” balas Ratu Aurelia sambil tersenyum lembut.
Mila semakin tersipu.
“Kakak kok bisa di desa kita? Apa Kakak anak Bibi Ema?” tanyanya.
“Bukan. Beliau sudah kuanggap sebagai bibi sendiri,” jawab Ratu Aurelia pelan.
“Oh…” ujar Mila.
Setelah itu, tidak ada percakapan lagi di antara mereka hingga mobil yang mereka kendarai tiba di Desa Fuhan.
Di sana, sebagian rumah masih tertimbun tanah. Banyak tenda pengungsian yang didirikan.
Mobil terus melaju hingga mereka tiba di pos pengungsian. Ratu Aurelia turun dan menghela napas melihat kondisi Desa Fuhan. Padahal kejadian itu sudah lama berlalu, tetapi wilayah ini belum juga pulih. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, kerajaan bisa mengalami krisis makanan. Desa Fuhan bukan hanya penghasil bahan pangan, tetapi juga jalur perdagangan Kerajaan Zorvath.
Di sudut tenda pengungsian, Ryker Blackwood Fleur—putra Archduke Ethan, penguasa wilayah ini—berdiri dengan mata membelalak, terkejut melihat kedatangan Ratu Zorvath. Ia segera menghampiri sang ratu dan menundukkan kepalanya.
“Salam, Yang Mulia Ratu. Semoga Anda selalu diberkahi para dewa,” ucap Ryker dengan napas memburu.
Melihat itu, banyak orang saling berpandangan, terkejut oleh perkataan Tuan Ryker.
“Salam, Yang Mulia,” ucap mereka hampir bersamaan, tubuh mereka sedikit membungkuk.
Ratu Aurelia hanya bisa menghela napas. Bukan karena ia tidak suka, tetapi jarak yang tercipta setiap kali orang-orang bersikap demikian selalu menjadi beban tersendiri baginya.
“Sudah, jangan terlalu formal. Saya ke sini hanya ingin melihat kondisi kalian. Di dalam mobil ada sedikit bantuan. Tolong diambil,” ucap Ratu Aurelia pelan.
“Terima kasih, Yang Mulia. Anda sudah peduli kepada kami saja, kami sangat bersyukur,” jawab Ryker sopan.
Ratu Aurelia kemudian berjalan menyusuri area pengungsian, ditemani Ryker di sisinya. Langkahnya melambat ketika tiba di pos pengobatan.
Tangisan anak-anak terdengar di berbagai sudut. Beberapa remaja dan orang dewasa terbaring di atas alas seadanya, wajah mereka pucat, napas terdengar berat.
Ratu Aurelia berhenti.
“Ada apa ini…” gumamnya pelan.
Ryker memalingkan wajahnya, enggan menatap apa yang dilihat Ratu Aurelia. Wajahnya sendu menyaksikan penderitaan orang-orang di sana.
“Kami tidak tahu kesalahannya di mana, Yang Mulia. Kami sudah meminta bantuan ke kerajaan. Pihak kerajaan pun telah menyetujuinya, tetapi sampai sekarang kami belum menerima bantuan obat maupun tenaga medis,” jelas Ryker dengan nada pelan.
Ratu Aurelia terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar penjelasan itu. Ia kemudian berbalik pergi dan meminta tempat untuk beristirahat sejenak.
----------
Tanpa sepengetahuan Ratu Aurelia, Ryker segera menghubungi pihak kerajaan.
Kehadiran sang ratu di Desa Fuhan benar-benar di luar dugaannya. Selama ini ia hanya mendengar kabar bahwa Ratu Aurelia telah meninggalkan kerajaan. Namun melihatnya berdiri di tengah para pengungsi hari ini, Ryker mulai berpikir—mungkin sang ratu hanya pergi untuk menenangkan diri.
----------
Kerajaan Zorvath
Sementara itu, jauh dari Fuhan, Liam menegang setelah menerima informasi baru. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Raja Reynold.
Setelah mengetuk pintu, Liam masuk ke ruangan itu.
“Salam, Yang Mulia. Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu Anda,” ucap Liam sambil menunduk hormat.
“Ada apa?” tanya Raja Reynold tanpa mengangkat kepala. Matanya masih terpaku pada tumpukan laporan di atas meja.
Liam menarik napas sejenak.
“Saya mendapat informasi bahwa Yang Mulia Ratu saat ini berada di Desa Fuhan.”
Mendengar itu, tangan Raja Reynold berhenti bergerak. Dengan gerakan pelan, ia memandang Liam dengan tatapan yang sulit diartikan.
_
_
_
_
_
29 Januari 2026
_
_
_
Happy Reading
_
_
_
Maaf typo masih bertebaran 🙏