NovelToon NovelToon
Buried By Love, Reborn As Disaster

Buried By Love, Reborn As Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Budidaya dan Peningkatan / Harem / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.

Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.

Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.

Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Hitam Pertama

Lin Feiyan dipanggil tanpa pengumuman.

Tidak ada lonceng sekte, tidak ada pemanggilan resmi, bahkan tidak ada murid pengantar. Sebuah slip giok hitam muncul di meja kamarnya menjelang senja, dingin ketika disentuh, berat meski ukurannya kecil. Nama Ru Lan terukir tipis di sudutnya, nyaris tidak terlihat kecuali Feiyan memperhatikannya dengan saksama.

Isinya singkat.

Sebuah perintah, bukan permintaan.

Feiyan berdiri cukup lama di depan meja, membaca ulang kalimat yang sama berulang kali. Tidak ada penjelasan, tidak ada konteks, hanya koordinat lokasi dan satu instruksi sederhana: selidiki, lalu kembali. Kata-kata itu terasa ringan di permukaan, namun tekanan yang mengikutinya membuat tengkuknya terasa dingin.

Ia menelan ludah, menggenggam slip giok itu, lalu menyimpannya ke dalam jubah.

Menolak tidak pernah menjadi pilihan.

Lokasi yang ditunjukkan berada jauh di luar jalur latihan biasa. Bahkan murid inti jarang mendekati wilayah itu kecuali dalam misi kelompok. Feiyan berjalan sendiri, meninggalkan batas aman sekte, melewati hutan yang semakin sunyi seiring langkahnya menjauh.

Udara berubah.

Semakin dalam ia melangkah, semakin terasa bahwa Qi di sekitarnya tidak mengalir dengan wajar. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu keseimbangan alam, membuat energi spiritual berputar tidak beraturan. Daun-daun tidak bergoyang meski angin berhembus, dan suara serangga perlahan menghilang.

Feiyan berhenti sejenak.

Napasnya berat, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena tekanan halus yang menekan dadanya dari segala arah. Nalurinya berteriak bahwa tempat ini salah. Terlalu sunyi, terlalu tertata untuk sesuatu yang seharusnya liar.

Namun ia tetap melangkah.

Setiap langkah terasa seperti melewati batas yang seharusnya tidak ia sentuh.

Ia tiba di sebuah cekungan batu yang dikelilingi tebing rendah. Tanahnya hitam, seperti pernah terbakar, namun tidak ada bekas api. Qi di sini berkumpul dengan cara yang aneh, berlapis-lapis, saling menekan hingga terasa berat di kulit.

Feiyan menurunkan pusat gravitasinya, bersiaga.

Matanya bergerak cepat, mengamati setiap sudut. Tidak ada tanda kehidupan, tidak ada aura yang jelas, namun perasaan diawasi semakin kuat. Seolah-olah tempat ini sendiri sedang menunggunya.

Detik demi detik berlalu.

Lalu—

Tekanan itu berubah.

Aura asing muncul tanpa peringatan, meledak keluar dari bayangan tebing seperti gelombang dingin yang menghantam langsung ke tubuhnya. Feiyan tersentak, lututnya hampir menyentuh tanah sebelum ia memaksa diri untuk bertahan.

Sosok itu melangkah maju.

Tidak tergesa, tidak pula ragu.

Tubuhnya diselimuti Qi gelap yang padat, bukan liar, melainkan terkendali dengan sempurna. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar ringan, cukup untuk memberi tahu Feiyan satu hal yang jelas.

Ini bukan lawan yang selevel.

Napas Feiyan tersendat. Tenggorokannya kering. Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya, Qi mengalir ke meridian, namun terasa lambat, berat, seolah ditekan oleh sesuatu yang jauh lebih besar.

Sosok itu berhenti beberapa langkah darinya.

Tidak ada kata-kata.

Tekanan Qi saja sudah cukup untuk membuat peringatan yang kejam.

Feiyan mengerti saat itu juga. Tugas ini bukan penyelidikan. Ini bukan misi pengumpulan informasi. Ini adalah umpan.

Dan dia adalah mangsanya.

---

Serangan datang tanpa aba-aba.

Feiyan meloncat ke samping, nyaris terlambat. Tempat ia berdiri sebelumnya meledak, batu hitam terbelah seperti kertas. Gelombang Qi menghantam tubuhnya, membuat dadanya terasa sesak.

Ia tidak berpikir untuk menyerang balik.

Ia hanya ingin bertahan.

Teknik demi teknik ia keluarkan, gerakan yang telah ia latih ratusan kali, namun semuanya terasa kecil di hadapan tekanan itu. Setiap benturan membuat lengan dan kakinya bergetar, setiap blok memaksa Qi-nya berfluktuasi lebih kacau.

Musuh itu tidak terburu-buru.

Seolah-olah sedang mengamati, mengukur, mendorong Feiyan sedikit demi sedikit ke tepi jurang. Serangan-serangannya terukur, cukup kuat untuk melukai, namun tidak langsung mematikan.

Feiyan mundur, napasnya terengah. Darah merembes dari sudut bibirnya, jatuh ke tanah hitam tanpa suara.

Dadanya berdenyut.

Awalnya samar, seperti sebelumnya. Namun kali ini berbeda. Rasa panas dan dingin datang bergantian, jauh lebih jelas, jauh lebih nyata. Seolah ada sesuatu di dalam dadanya yang terbangun oleh ancaman ini.

Void Crack.

Nama itu terlintas di benaknya tanpa alasan yang jelas. Retakan itu terasa seperti ruang kosong yang bergetar, merespons setiap gelombang tekanan yang menghantamnya.

Feiyan menggertakkan gigi.

Ia tidak tahu apa itu, tidak tahu bagaimana mengendalikannya. Yang ia tahu hanya satu hal—jika ia lengah sedetik saja, ia akan mati di tempat ini.

Ia bergerak lagi, lebih putus asa daripada terampil. Setiap langkahnya dipandu naluri, bukan perhitungan. Tanah di bawah kakinya retak, Qi di sekitarnya semakin kacau.

Musuh itu akhirnya maju lebih dekat.

Tekanan meningkat.

Feiyan merasakan dunia menyempit, suara berdenging di telinga, pandangan mulai kabur di tepinya. Tubuhnya berteriak untuk berhenti, untuk jatuh, namun sesuatu di dadanya menolak.

Bukan dengan kekuatan.

Dengan kekosongan.

Di kejauhan, jauh dari cekungan batu itu, Ru Lan berdiri di sebuah titik pengamatan tersembunyi. Jubahnya tidak bergerak meski angin malam berhembus. Tatapannya tenang, dingin, mengikuti setiap fluktuasi Qi dari jauh.

Tangannya memegang catatan hitam.

Nama Lin Feiyan tertera di halaman yang telah dipenuhi simbol dan garis evaluasi. Tidak ada emosi di wajahnya saat tekanan di lokasi tugas melonjak, saat fluktuasi Qi Feiyan mulai tidak stabil.

Ia menunggu.

Bukan dengan harapan.

Dengan kepastian.

Dan di saat aura gelap itu mendorong Feiyan ke batasnya, Ru Lan sedikit memiringkan kepala, seolah memperhatikan detail yang menarik.

Retakan itu mulai merespons.

Masih belum pecah.

Belum cukup.

Ia tidak menghentikan pengamatan.

Belum sekarang.

Serangan berikutnya datang lebih cepat dari sebelumnya.

Feiyan bahkan tidak sempat mengatur napas ketika tekanan Qi menghantamnya dari depan, memaksa tubuhnya terlempar ke belakang. Punggungnya membentur dinding batu cekungan dengan bunyi tumpul, udara keluar dari paru-parunya sekaligus. Pandangannya menghitam sesaat, telinganya berdenging, dan dunia terasa miring.

Ia jatuh berlutut.

Tangannya menekan tanah hitam yang dingin, jari-jarinya gemetar hebat. Qi di dalam tubuhnya berputar liar, tidak lagi mengikuti jalur yang ia kenal. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan es, menusuk dari tenggorokan hingga ke dada.

Sosok itu melangkah mendekat.

Langkahnya tidak tergesa, tidak pula ragu. Setiap tapakan kaki membuat tekanan di sekeliling Feiyan semakin padat, seolah udara itu sendiri berubah menjadi beban. Feiyan mencoba bangkit, namun lututnya goyah. Tubuhnya tidak lagi sepenuhnya patuh.

Dadanya berdenyut lagi.

Kali ini, rasa itu tidak bisa diabaikan.

Bukan sekadar sensasi samar seperti sebelumnya, melainkan sesuatu yang benar-benar terasa berada di dalam tubuhnya. Sebuah retakan dingin yang berdenyut pelan, menyebarkan rasa kosong yang aneh ke seluruh dadanya. Void Crack tidak lagi diam. Ia bereaksi, seolah-olah memahami bahwa kematian berada tepat di depan.

Feiyan terengah, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Apa… ini…” gumamnya tanpa suara.

Musuh itu mengangkat tangan.

Qi gelap berkumpul di telapak tangannya, memadat dengan kecepatan yang membuat kulit Feiyan terasa perih meski jaraknya masih beberapa langkah. Tekanan itu begitu besar hingga instingnya menjerit, memerintahkan tubuhnya untuk menghindar.

Namun ke mana?

Tidak ada celah.

Serangan itu dilepaskan.

Pada saat itulah waktu terasa melambat.

Feiyan melihat gelombang Qi gelap itu mendekat, merasakan kematian yang dingin dan pasti. Dalam sepersekian detik, pikirannya kosong. Tidak ada teknik, tidak ada strategi, tidak ada harapan menang.

Hanya satu dorongan naluriah.

Bertahan.

Void Crack berdenyut keras.

Rasa panas dan dingin meledak bersamaan di dadanya, diikuti sensasi seolah sesuatu di dalam dirinya retak lebih jauh, membuka ruang kosong yang lebih dalam. Qi Feiyan tersedot sesaat, bukan ke luar, melainkan ke dalam kekosongan itu.

Tubuhnya bergerak tanpa perintah sadar.

Bukan dengan kecepatan luar biasa, bukan dengan lonjakan kekuatan yang mencolok. Ia hanya… bergeser. Seperti meleset setengah langkah dari garis kematian yang seharusnya mengenainya.

Serangan itu menghantam tanah di sampingnya.

Ledakan besar mengguncang cekungan batu, batu hitam beterbangan, tanah terbelah. Gelombang kejut menghantam tubuh Feiyan, membuatnya kembali terlempar, namun kali ini ia masih hidup.

Ia berguling beberapa kali sebelum akhirnya terhenti, tubuhnya terkapar telentang.

Napasnya tersengal, dada naik turun dengan cepat. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, tulang-tulangnya berteriak, namun ia masih bisa merasakan jantungnya berdetak.

Ia masih hidup.

Musuh itu berhenti.

Untuk pertama kalinya, aura di sekelilingnya berubah tipis, hampir tak terlihat, seperti jeda kecil dalam tekanan yang konstan. Sosok itu menatap Feiyan cukup lama, seolah menilai sesuatu yang baru saja terjadi.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kejutan yang berlebihan.

Hanya pengamatan dingin.

Beberapa detik kemudian, aura gelap itu perlahan menyurut. Sosok tersebut mundur satu langkah, lalu dua, sebelum akhirnya menyatu kembali dengan bayangan tebing, menghilang seolah tidak pernah ada.

Tekanan itu lenyap.

Keheningan kembali menyelimuti cekungan batu.

Feiyan terbaring tanpa bergerak.

Butuh waktu lama sebelum ia berani menarik napas lebih dalam, memastikan bahwa serangan berikutnya tidak datang. Dadanya masih berdenyut hebat, Void Crack terasa jelas, seperti retakan es yang tertanam di jantungnya.

Ia mengangkat tangan dengan susah payah, menekannya ke dada.

Dingin.

Kosong.

Nyata.

Ini bukan ilusi. Ini bukan perasaan yang bisa diabaikan begitu saja. Sesuatu di dalam dirinya telah berubah, dan perubahan itu terjadi di ambang kematian.

Feiyan tertawa pendek, serak, hampir tidak terdengar.

“Aku… nyaris mati…”

Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena luka, tetapi karena kesadaran yang datang terlambat. Tugas ini tidak pernah dimaksudkan untuk ia selesaikan dengan aman. Ini adalah ujian yang dirancang untuk memaksanya menyentuh batasnya.

Ia tidak tahu siapa yang mengatur semuanya.

Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah nama muncul tanpa perlu dipanggil.

Ru Lan.

Dengan sisa tenaga, Feiyan memaksa dirinya duduk. Setiap gerakan terasa menyakitkan, namun ia tidak berani berlama-lama di tempat ini. Nalurinya mengatakan bahwa cekungan batu ini bukan tempat untuk beristirahat.

Ia berdiri tertatih, lalu berjalan pergi, meninggalkan jejak darah tipis di tanah hitam.

Dadanya masih berdenyut sepanjang perjalanan pulang.

Sementara itu, di tempat yang jauh dari medan tugas, Ru Lan menutup catatan hitamnya.

Pena di tangannya berhenti bergerak setelah menuliskan satu kalimat terakhir. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya, tidak ada kepuasan yang jelas, hanya ketenangan dingin seseorang yang mendapatkan data yang ia inginkan.

“Satu langkah lagi, dan dia akan pecah.”

Ia menutup buku itu perlahan.

Di balik bayangan, matanya berkilat singkat.

Retakan itu kini benar-benar ada.

Dan eksperimen baru saja dimulai.

1
lix
like dan komen nya jangan kelupaan😁👍
miss_e story
iklan buatmu
mary dice
Jika retak tak akan pernah kembali utuh namun kebangkitan Feiyan akan menumbuhkan tunas baru yang lebih kuat
Shadow: what ???
total 1 replies
knovitriana
update Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!