Tidak semua cinta masa kecil disebut cinta monyet buktinya cinta Kania Atilyah dan Azra Zavier bertahan dari mereka masih kecil hingga dewasa.
Tapi sayang karena perpisahan mereka yang cukup lama membuat mereka saling tak mengenali.
Puncak masalah adalah ketika sang sepupu yang benci pada Kania mengaku sebagai sang cinta masa kecil Azra dan memisahkan mereka dengan cara yang kejam.
Yuk, jadikan novel ini sebagai favorit supaya bisa selalu mengikuti up dari D'Wie!
Jangan lupa baca juga novel D'Wie lainnya ya!
* Livina,izinkan aku bahagia
*Cinta yang lain
(Masih gantung, gak usah baca.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.21 Pergi ke desa David
Azra menerima ajakan David untuk berlibur ke desanya. Karena perusahaan tempatnya bekerja merupakan miliknya sendiri,jadi ia bebas bisa meninggalkannya. Namun, semua tetap harus dalam pengawasannya dan orang-orang terpercayanya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dengan mobil yang ia kendarai secara bergantian dengan David, akhirnya tibalah mereka di desa kelahiran David.
"Wah, benar kata Lo ,Vid! Desa lo bener-bener bagus dan indah, udaranya juga hmmm ... sangat sejuk. Bisa-bisa gua betah ni tinggal disini." puji Azra saat melihat ke sekeliling desa saat dalam perjalanan ketika sudah memasuki area desa David
"Desa gua emang bagus banget cuma sayang pembangunannya masih belum merata, belum dapat perhatian dari pemerintah soalnya. Malah fasilitas pendidikannya hmmm ... sangat jauh dari kata layak, tenaga pengajarnya juga minim. Untung gua punya paman di kota jadi gua bisa numpang disana supaya bisa lanjut sekolah di kota." jelas David menceritakan kondisi desanya ,"Nah, itu rumah gua, Zra! Yang pager ijo." ucap David lagi sambil menunjuk ke rumahnya yang sudah tak jauh lagi
Azra pun memarkir mobilnya di depan pagar rumah David, karena pagar rumah David kecil hanya muat untuk dimasuki kendaraan motor, mobil tak bisa masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum buk, pak." ucap David ketika sudah berdiri di depan rumah
Tak lama keluar lah wanita paruh baya yang merupakan ibu dari David, yaitu bu Nita.
"Wa'alaikumsalam. Ya Allah nak,kamu kok pulang gak bilang-bilang sih?" sambil menyambut uluran tangan dari David yang ingin mencium punggung tangannya sebagai wujud penghormatan seorang anak pada sang ibu
"Kan namanya surprise buk. Kejutan ... heheh ..." kekeh David
"Buk, kenalin,ini temen David ,Azra, kalo di luar, kalo di kantor atasan David." David mengenalkan Azra kepada sang ibu
"Assalamualaikum buk, kenalin saya Azra, temennya David." sambil mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan bu Nita
"Wa'alaikumsalam nak. Wah,temen kamu cakep banget, Vid,kayak bintang sinetron!" puji bu Nita
"Tapi tetap cakepan David kan, buk!" sambil mengedipkan sebelah mata
"Ikh, kepedean banget kamu ,Vid. Iya cakep, tapi liatnya pake teleskop."ejek bu Nita
"Ah, ibuk, sama anak sendiri kok malah ngatain sih." cibir David
Azra hanya terkekeh saja melihat interaksi ibu dan anak itu. Seketika Azra teringat sang mama yang masih kecewa padanya. Sang mama juga senang bercanda. Tapi semenjak Kania menghilang, canda tawa sang mama pun menghilang, membuatnya makin frustasi. Bahkan adiknya sendiri pun, Azril menjauhinya. Membuat dirinya makin frustasi, sudah salah paham,nkehilangan teman kecilnya sekaligus istri, mama kecewa, dan dijauhi sang adik. Ibarat pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga, tersiram comberan lalu terserempet mobil. Sangat miris.
"Oh ya buk, bapak mana?" tanya David sambil celingak-celinguk mencari ke dalam rumah,mereka kini tengah berada di ruang tamu rumah David.
"Kamu kayak gak tau bapakmu aja, Vid. Kalo jam segini mah, pasti bapak lagi kasi makan anak-anaknya yang berkumis dan berkulit licin." ucap sang ibu
Azra mengernyit bingung,"anak-anak berkumis dan berkulit licin? Apa itu?" Azra penasaran
"Woy, bengongin apa sih lo!" David memukul bahu Azra yang sedang melamun. "Oh aku tau, lo lagi mikirin kata ibuku tadi kan? Anak-anak berkumis dan berkulit licin, iya kan!" tanya David seolah sudah paham kenapa Azra berwajah bingung
"Iya, itu anak apaan ya? Adik elo ,Vid?" tanya Azra bingung
"Wkwkwk ... enak aja adik gua, emang gua ikan apa. Anak-anak berkumis dan berkulit licin itu ikan lele. Bapak demen pelihara ikan lele. Malah bapak sudah membudidayakan lele sebagai salah satu mata pencaharian penduduk sini Zra, selain dari bertani tentunya." jelas David panjang lebar sedangkan Azra hanya ber'Oh ria saja.
"Lo masukkin tas lo disini aja ,Zra. Ini emang kamar dibuat khusus kalo ada tamu yang berkunjung ke desa. Lo bisa istirahat dulu. Gua juga mau beresin barang gua di kamar. Kamar gua yang itu tuh,yang ada poster Park Shih Hye." sambil menunjuk ke arah kamarnya
"Wait wait, yang bener aja lo , Vid, masa' depan pintu di tempel poster artis korea, lo halu seakan dia jadi cewek lo ya?"
David hanya terkekeh sambil menggosok tengkuknya yang tak gatal.
"Soalnya bu guru yang gua taksir itu mirip banget sama Park Shin Hye, jadi buat obat kangen, gua pasang poster itu deh." bisik David di telinga Azra, ia pun berlalu meninggalkan Azra yang sedang berfikir.
'Wajahnya kok mirip banget sama Kania, ya!' gumamnya dalam hati
Setiba di dalam kamar, Azra langsung membuka aplikasi gogogol dan mengetik nama Park Shin Hye sesuai yang tertulis di poster pintu kamar David, soalnya ia buta ejaan bahasa Korea. Entah mengapa ia tiba-tiba penasaran dengan artis dari negeri ginseng tersebut.
Deg ...
"Benar-benar mirip. Apa mungkin bu guru yang dimaksud David itu, Kania? Kania juga seorang guru dan ia telah menghilang hampir 6 bulan yang lalu. Semoga itu memang Kania, walau aku harus bersaing dengan David, aku rela asal aku bisa menemukanmu." ucap Azra sambil terus menatap foto-foto Park Shin Hye