"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
"Yuri, ayo kita makan siang dulu, jangan
urusin kerja terus. Kita juga butuh makan loh," Kata Lia, dan Airin
khawatir dengan keadaanku sudah terlihat pucat. Kemarin malam aku juga lembur lagi, entah kenapa pekerjaanku
tidak ada habisnya.
"Aku enggak apa-apa kok, kalian duluan
aja ke kantinya, nanti aku ke sana kok.”
"Yuri, udah stop dulu, nanti aku bantu
deh kerjaan punya kamu. Yang penting kamu makan siang dulu biar ada tenaganya
ya." Tapi tetap saja aku fokus
dengan pekerjaanku.
"Ini kalau ada Pak Adi pasti langsung
diseret keluar ini," ucap Lia, yang
memang tahu bahwa Adi sangat menyukai Yuri, hanya saja Yuri tidak terlalu
menanggapinya.
"Mbak Lia apa si!" Aku berdengus
kesal, kenapa harus bawa-bawa nama Adi, aku paling enggak suka kalau masalah
ini dikaitkan dengan Pak Adi.
“Ya, sudah Mbak. Kita duluan aja ke kantin. Si
Yuri nanti juga ke kantin.”
“Kita berdua duluan ya.” Akhirnya Airin sama
mbak Lia pergi ke kantin, aku masih sibuk dengan berkas laporanku. Sudah hampir
20 menit aku masih bekerja, tak sengaja mataku menoleh ke arah lain, aku lihat Pak
Adi beserta teman-temannya baru selesai istirahat di kantin, semoga saja ia
tidak melihat ke sini.
“Yuri!” Tepat dugaanku, akhirnya dia ke sini
juga. Pastilah aku disuruh istirahat dulu.
"Kamu enggak makan siang?” aku hanya
melihatnya dan tersenyum padanya.
“Yuri! Saya tahu pekerjaan kamu banyak, bahkan
kamu sampai lembur beberapa hari ini. Tapi kan kamu juga butuh makan, jangan
terlalu overlah dalam bekerja. Saya juga kerjaan banyak, tapi saya sempatkan
untuk istirahat kok!” Terlihat wajahnya sedikit kesal denganku. Aku pun
menghentikan pekerjaan, kalau sudah begini aku tidak bisa melanjutkan lagi.
Dari pada kena omel, mending pergi aja deh.
“Iya, Pak. Maaf, tapi sedikit lagi saya—“
"Sekarang saya pengen kamu makan siang,
saya enggak mau tahu, kelar atau tidak
kelar pekerjaan harus makan, dan juga istirahat pada jam makan siang, mengerti
ucapan saya Yuri!" Adi menyela ucapanku, aku langsung berdiri dari kursi
dan berjalan keluar.
“Kalau begitu saya permisi Pak.” Akhirnya aku
turun ke lantai bawah menuju kantin, padahal aku sedang tidak ***** untuk
makan. Dari pada makan yang berat-berat, mending makan camilan aja, saat di
dalam lift aku sibuk main ponsel. Sampai lift terbuka, aku pun masih sibuk bermain ponselku.
Saat aku ingin melangkah keluar, aku dikagetkan
dengan segerombolan para atasan, saking kagetnya aku menjatuhkan ponselku. Aku
tidak tahu jika mereka semua akan
menaiki lift khusus karyawan, biasanya mereka akan menaiki lift khusus para
atasan. Tapi kenapa mereka malah naik lift khusus karyawan?
Dengan perasaan tidak enak, aku tersenyum.
Jantungku berdetak kencang, aku takut berhadapan dengan para atasan. Perlahan
aku keluar menuju lift, sambil menganggukkan kepalaku.
Saat sudah keluar dari lift, aku ingat,
ponselku masih di dalam lift, saat ingin membalikkan badan. Tahu-tahu salah
satu dari mereka sudah berdiri dari hadapanku dan menyerahkan ponsel yang tadi
tertinggal di dalam lift.
“Ini ponsel kamu kan? Ponsel kamu masih
tertinggal di dalam lift, pasti kamu lupa untuk mengambilnya!” Mataku terbelalak
ketika tahu siapa yang mengembalikan ponselku, ternyata dia Direktur dari perusahaan
Daya Makmur.
Ya, Allah. Kenapa harus ketemu lagi sama dia?
Aku malu banget. Aku menelan ludahku, aku sangat gugup. Dengan tangan bergetar
aku menerima ponselku.
“Te-terima kasih Pak,” ucapku takut-takut.
“Pak Alex, mari masuk,” ucap Pak Tono selaku
HRD. Saat dia memanggil nama laki-laki yang ada di depanku, aku sedikit
tersentak kaget.
“Iya, Pak.” Ia pun masuk ke dalam lift, dan
aku masih melihatnya begitu juga dengan dirinya. Saat pintu lift hampir
tertutup dia melambaikan tangan dan tersenyum kepadaku.
“Pak Alex? Boleh saya menanyakan sesuatu?”
“Silakan Pak.”
“Tadi saat pintu lift hampir tertutup, saya
lihat Bapak melambai tangan ke arah karyawan tadi. Apa sebelumnya Bapak kenal
dengan karyawan tadi?” tanya Pak Tono, begitu juga dengan atasan yang lain ikut
penasaran.
Alex tersenyum memperlihatkan gigi putihnya,
“saya kenal dengan karyawan tadi, dia adik kelas saya ketika saya bersekolah di Kota X.” Mendengar jawaban
Alex semua atasan dari perusahaan Jaya Indonesia tercengang, begitu juga dengan
asistennya Ali.
“Saya tidak mengira, jika saya dapat bertemu
kembali dengannya. Sudah hampir 7 tahun saya tidak bertemu dengannya, saya
begitu merindukannya.”
Para atasan mengucapkan kata hoh serempak
sambil menganggukkan ke kepala mereka.
“Tapi mohon maaf, kalau saya perhatikan tadi.
Sepertinya karyawan tadi kurang mengenal wajah anda.” Alex kembali tersenyum.
“Mungkin dia lupa dengan wajah Kakak kelasnya
dulu, maklum saja. 7 Tahun kami tidak
pernah bertemu, apalagi saling memberikan kabar. Tapi saya tetap ingat
wajahnya”