Afsensa Faiha Azahra, perempuan cantik dengan paras ayu, biasa dipanggil Sensa. Dia gadis sederhana yang hanya hidup sebatang kara, orang tuanya meninggal 1 tahun yg lalu karena kecelakaan.
Arsel Dirga milard, CEO muda diperusahaan Milard Company. Kekayaan Arsel tidak akan habis tujuh turunan, apalagi dengan wajahnya yang nyaris sempurna selalu membuat wanita jatuh hati pada pandangan pertama 😊😊
Arsel pria dingin, sedikit kasar mudah terbakar emosi. Apalagi setelah ditinggal kekasihnya sikap Arsel semakin dingin tak tersentuh.
Kedua orang tua Arsel menjodohkan dengan Sensa, akankah keduanya bisa bahagia atau justru saling menyakiti?
Ayo ikuti kisahnya...
selamat mmbaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 21
Dua hari Sensa terbaring dirumah sakit. Masih belum ada perubahan sama sekali, dia masih betah dengan tidur panjang. Mungkin didunia alam sadarnya dia bisa istirahat sejenak dan meninggalkan beban yang dia alami selama ini.
Ditubuh yang lemah tak berdaya itu terdapat banyak selang yang menempel untuk menunjang kehidupan Sensa.
Mama Eisha dan Arsel bergantian menunggu disamping Sensa. Arsel berharap Sensa bisa segera bangun dan bisa melihat senyum Sensa lagi.
Arsel sudah duduk samping ranjang Sensa, dia memandang wajah putih pucat itu. Tangan Arsel menggenggam sebelah tangan Sensa.
"Sensa, maaf ini semua salahku. Cepatlah sadar biar aku bisa menebus kesalahanku pada mu." Arsel berbicara lirih.
Baru sekarang dia menyadari betapa dia takut kehilangan Sensa, dia ingin menebus semua dosa yang sudah dia perbuat pada wanita lemah itu.
**********
Dua hari Arsel menunggu Sensa dirumah sakit, selama itu juga Arsel tidak masuk kekantor. Semua urusan dikantor dia serahkan kepada Rengga.
Sesekali Rengga kerumah sakit untuk mengantar berkas yang perlu ditandatangani Arsel, sekaligus menjenguk Sensa.
Rengga benar-benar kasihan dengan takdir hidup yang harus dijalani Sensa. Kemalangan selalu menimpanya.
"Wanita ini, selalu saja terluka. Kasihan sekali kamu Sensa. Semoga kamu lekas sadar, dan bisa sembuh seperti sebelumnya." kata Rengga dalam hati.
Rengga berpamitan pada arsel dan kedua orang tua Arsel. Dia akan kembali kekantor lagi.
Papa Abiyasa sudah datang kemarin siang, Kemarin setelah mendapat kabar dari istrinya dia langsung memesan tiket pesawat dengan jadwal penerbangan tercepat.
Dia merasa khawatir dengan keadaan menantunya itu.
******
Rengga baru saja sampai dikantor. Dia berjalan menuju ke ruangannya, tapi langkahnya terhenti karna sekertaris Arsel yang kedua dan juga bawagannya itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Rengga.
"Didalam ruangan pak Arsel, ada Ibu Bella yang sedang menunggu." kata Sekertaris wanita itu.
'Siluman ular itu!!' Rengga geram dan hanya bisa mengatakan itu dalam hati.
Rengga langsung menuju ruangan Arsel, disana sudah ada Bella yang duduk disofa.
"Heh,, wanita ular, ngapain Lo disini?" tanya Rengga sinis.
Dari dulu Rengga tidak pernah suka dengan Bella, dia sudah tahu kebusukan Bella yang tidak pernah tulus sayang sama Arsel. Karna dulu Rengga pernah memergoki Bella sedang berkencan dengan laki-laki lain. Padahal waktu itu statusnya masih berpacaran dengan Arsel. Dan Rengga sudah memberitahu kejadian itu pada Arsel, tapi Arsel tidak pernah percaya kepadanya. Dan sampai sekarang pun, Rengga masih tetap tidak menyukai Bella. 'Si wanita licik' kata Rengga dalam hati.
"Gue disini buat cari Arsel. Bukan, Lo!!" jawab Bella tak kalah sinis.
"Arsel tidak masuk kekantor beberapa hari ini, dia masih ada urusan!!" jelas Rengga.
"Urusan apa?" tanya Bella lagi.
"Urusan dia banyak, anak cabang kantornya ada dimana-mana. Urusan dia bukan cuma ngurusin Lo yang nggak penting!!" sarkas Rengga.
"Kenapa nomor ponselnya tidak aktif?" Bella masih bertanya pada Rengga.
"Huh, baguslah kalau tidak aktif. Mungkin dia sudah tidak mau diganggu wanita licik seperti, Elo!!" kata Rengga dengan geram.
"Lo!!! awas aja kalau gue sudah jadi Nyonya Arsel, orang pertama yang gue usir yaitu, Elo!! lelaki pecundang!!" Bella juga sangat geram kepada Rengga, dia berkata seperti itu sambil menunjuk langsung didepan muka Rengga.
"Coba saja!! siapa takut, gue bakal tunggu momen itu datang. Dasar wanita parasit!!" Rengga menantang ucapan Bella.
Bella sudah kehabisan kata, dia benar-benar dibuat geram dengan kata-kata Rengga yang malah menantangnya.
Dengan muka merah padam menahan amarah Bella beranjak pergi dari ruangan Arsel.
Didalam mobil, Bella terus memikirkan Arsel. Sejak malam keributan itu terjadi, Bella tidak bisa menghubungi nomor ponsel Arsel. Dan sebaliknya, Arsel juga tidak pernah menghubunginya.
Bella benar-benar bingung dan penasaran dengan menghilangnya Arsel, apa mungkin Arsel ingin menghindarinya gara-gara wanita itu.
Berkali-kali Bella menghubungi nomor ponsel Arsel, tapi tetap hanya suara operator saja yang menjawabnya. Nomor Arsel masih belum aktif sampai sekarang.
'Apa aku kerumahnya saja?' pikir Bella.
Setelah berfikir, Bella memutuskan untuk mencari tahu kerumah Arsel langsung.
Dan jadilah dia sekarang sudah berada didepan gerbang rumah Arsel.
Bella memanggil satpam yang sedang berjaga dipos.
"Pak, apa pak Arsel ada dirumah?" tanya Bella.
Mang Udin yang memang sedang berjaga dipos itu menghampiri Bella.
"Mbak ini siapa, ya?" tanya Mang Udin yang memang tidak mengenal Bella.
"Perkenalkan, saya rekan bisnisnya, pak Arsel.
Dua hari saya mencari pak Arsel dikantornya, tapi pak Arsel tidak masuk kantor, makanya saya datang kerumahnya langsung. Saya ada urusan penting dengan pak Arsel." bohong Bella agar mang Udin mau memberitahukan keberadaan Arsel.
"Pak Arsel sedang dirumah sakit, Mbak. Istrinya mengalami kecelakaan dua hari yang lalu dan sampai sekarang belum sadar." terang Mang Udin.
"Oh, begitu. Saya turut prihatin dengan keadaan istrinya pak Arsel. Kalau boleh saya tau, istrinya dirawat dirumah sakit mana ya pak? saya ingin sekalian menjenguknya?" tanya Bella.
"Dirumah sakit Mitra Husada, Mbak." jawab Mang Udin.
"Baik, terima kasih pak. Saya permisi dulu." pamit Bella.
"Iya Mbak, silahkan." jawab Mang Udin.
Bella kembali lagi masuk kedalam mobilnya.
"Jadi Arsel benar-benar sudah menikah? tidak!! aku tidak mau kehilangan Arsel. Dia adalah sumber uangku, aku tidak boleh kehilangan dia. Bagaimanapun caranya aku harus bisa menjadi Nyonya Arsel! iya, Nyonya Arsel! aku tidak mau kembali dengan suamiku yang dulu. Sebelum dia tau kalau aku berada di Indonesia, aku harus sudah bisa menikah dengan Arsel dan menguasai seluruh hartanya. Lihat saja, jika perempuan murahan itu menghalangi rencanaku, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengannya.
Bella langsung menuju kerumah sakit tempat Sensa dirawat. dia ingin memastikan keadaan perempuan yang menjadi rivalnya itu.
Arsel keluar dari ruang ICU, dan bergantian dengan Mama Eisha yang masuk kedalam. Arsel duduk disamping Papa Abiyasa dan mengobrol dengannya.
Bella bersembunyi dibalik tembok, yang lumayan jauh dari posisi Arsel duduk. Jika terlalu dekat Bella takut Arsel akan melihat dirinya.
Diruangan Sensa dirawat, Mama Eisha melihat Sensa masih belum sadar. Hatinya sedih melihat menantu kesayangannya itu terbaring lemah.
"Sayang, kapan kamu sadar? jangan tertidur terus, Mama kangen sama kamu. Mama ingin mendengar suara kamu lagi. Mama kangen pengen lihat senyum kamu lagi, sayang." Mama Eisha tak kuasa menahan tangis. Dia menangis terisak dengan menggenggam tangan Sensa.
"Nak, bangunlah. Kami semua menunggumu, kami merindukanmu, sayang. Kamu harus kuat, lihatlah suamimu sangat sedih, dia sangat merindukanmu dan membutuhkanmu saat ini." kata Mama Eisha masih terus menangis memandangi Sensa yang masih belum sadar.
yang gubug itu
ini terlalu mengada " ceritanya
🤔🤔🤔🤔