Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.
Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.
Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kereta kuda reot yang mengangkut Zei dan A-Lang berderit memilukan saat roda kayunya menghantam jalanan berbatu di muka gerbang Kota Kecamatan. Jika Desa Danau Keruh adalah kanvas cokelat yang bisu, maka kota ini adalah ledakan warna dan kebisingan yang memekakkan telinga. Tembok kota menjulang angkuh dari susunan balok batu hitam, setinggi tiga kali atap lumbung desa. Di atasnya, para prajurit berzirah besi mengilap berdiri angker, menatap dingin arus manusia yang mengantre masuk. Zei menjulurkan kepalanya dari bak kereta, matanya menyapu liar. Ia menyaksikan kereta-kereta mewah berlapis beludru bergantian melintas, memamerkan panji-panji sekte lokal. Di sekelilingnya, pemuda-pemuda kota berbalut sutra melangkah pongah, menyandang pedang bertatahkan permata di pinggang mereka.
Rasa kerdil yang sempat terkubur di lumbung desa mendadak bangkit, merayap mencekik tenggorokan Zei. Ia menunduk, menatap jubah rami cokelat barunya. Di desanya, pakaian ini adalah sebuah kemewahan; namun di sini, di bawah bayang-bayang keangkuhan kota, jubahnya tak lebih dari selembar karung goni.
"Jangan melamun, Zei! Jaga barang-barang kita," seru A-Lang dari bangku kemudi. Ia tengah bersusah payah memarkir kereta di pinggiran kota, setelah berhasil lolos dari pos pemeriksaan yang merampas setengah tabungan koin tembaga mereka akibat pungutan liar penjaga gerbang.
Tercekik keterbatasan dana, A-Lang menuntun Zei ke sebuah penginapan kumuh merangkap kedai bernama Kedai Bambu Retak. Tempat itu bising, berbau apak arak murahan, dan dijejali para kultivator liar serta murid-murid sekte pinggiran yang juga mengincar Turnamen Seleksi Bakat Daun Hijau. Mereka mengambil meja kecil di sudut remang-remang. A-Lang memesan dua mangkuk mi kuah polos tanpa irisan daging—menu termurah yang sanggup mereka beli agar sisa uang pendaftaran turnamen tetap utuh.
"Makan yang banyak, Zei. Besok pendaftaran dimulai, kau butuh tenaga ekstra," ujar A-Lang, mencoba mengusir ketegangan seraya menyodorkan sepasang sumpit.
Namun, kedamaian kecil itu tak berumur panjang. Di tengah kedai, segerombolan pemuda berjubah abu-abu ketat dengan sulaman taring perak di kerah sedang berpesta pora dengan gaduh. Mereka adalah murid Sekte Taring Besi, perguruan lokal yang tersohor gemar menindas rakyat jelata. Salah satu dari mereka—seorang pemuda jangkung menenteng pedang bergagang perak—bangkit berdiri dengan cawan arak di tangan. Langkah angkuhnya sengaja diarahkan ke sudut meja Zei dan A-Lang. Begitu tiba, pemuda itu berhenti, menutup hidungnya dengan raut jijik yang dilebih-lebihkan.
"Pantas saja udara kedai ini mendadak pengap," serunya lantang, memancing perhatian seluruh pengunjung. "Rupanya ada sepasang tikus sawah yang menyeret bau kotoran kerbau ke tempat ini."
A-Lang lekas meletakkan sumpitnya. Terbiasa menghadapi tabiat congkak penduduk kota, ia tahu persis kapan harus menunduk. Ia langsung berdiri, memasang senyum ramah yang dipaksakan, lalu membungkuk hormat. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Muda dari Sekte Taring Besi. Kami hanya menumpang mengisi perut setelah perjalanan jauh. Jika keberadaan kami mengotori mata Anda, kami akan segera pergi."
"Siapa yang mengizinkanmu bicara, budak lumpur?" Pemuda kota itu mendengus sinis. Dengan satu kilatan gerakan kaki, ia menendang telak meja kayu di hadapan mereka.
BRAKK!
Meja itu bergetar hebat. Dua mangkuk mi kuah yang belum tersentuh tumpah ruah, mengotori jubah rami cokelat milik Zei. Zei mematung, menatap noda kuah berminyak yang merusak dadanya. Jubah ini dijahit dengan jari-jari adiknya dan gadis-gadis desa. Jubah ini dirajut menggunakan harapan dan harga diri orang-orang yang menyayanginya. Di bawah meja, kedua tinju Zei mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, napasnya memburu. Namun, teringat tangis ibunya agar ia tak memicu masalah yang bisa mengubur mimpinya sebelum bertanding, Zei memejamkan mata. Tahan... aku harus menahannya, bisik batinnya perih.
Melihat lawannya hanya diam membisu, pemuda Taring Besi itu tertawa lepas merasa di atas angin. "Lihatlah! Tipikal sampah Desa Danau Keruh. Merangkak jauh-jauh ke kota hanya untuk menjadi badut panggung. Sebaiknya kalian berlutut, bersihkan sepatuku, lalu pulang mencangkul pantat ibumu!"
Melihat rahang Zei yang mengeras kaku, A-Lang panik. Ia nekat melangkah maju, merentangkan tangan untuk menahan pundak Zei sekaligus menghalangi pandangan si pemuda kota. "Tuan, tolong tarik ucapan Anda. Kami akan pergi sekarang juga—"
"Menyingkir dari hadapanku, Serangga!" bentak pemuda itu beringas. Dengan kasar, ia memusatkan aliran Qi elemen logam ke telapak tangannya dan menghantam dada A-Lang.
DUB!
A-Lang yang hampa akan dasar kultivasi terpental keras ke belakang. Punggungnya menghantam tiang bambu kedai hingga retak sebelum tersungkur ke lantai. Sudut bibirnya sobek, memuntahkan darah segar. Ia meringis kesakitan, tangannya gemetar memegangi dada.
Menyaksikan darah menetes dari bibir sahabatnya, benang kesabaran terakhir di dalam dada Zei putus. Pertahanan batinnya hancur lebur, disapu bersih oleh badai amarah yang masif. Rasa kerdil, ketakutan, dan pesan damai ibunya hangus tak berbekas. Udara di sekitar Zei mendadak anjlok menjadi sedingin es, dan bumi di bawah telapak kakinya seolah bergetar menyambut murka sang tuan. Ia perlahan bangkit berdiri.
"Kau..." suara Zei berat dan teramat rendah, menyebarkan tekanan mematikan yang seketika mencekik tawa pemuda Taring Besi itu.
"Apa? Kau berani menantangku, Petani Miskin?!" Pemuda itu menghunus pedangnya dengan seringai buas. Bilah bajanya berdengung tajam, dialiri Qi elemen logam yang mematikan. "Akan kubuat kau cacat abadi sebelum kakimu menyentuh arena turnamen!"
Pemuda itu melesat cepat, menusukkan ujung pedangnya lurus menembus udara menuju bahu Zei. Para penonton menahan napas, menanti jubah rami itu terkoyak darah. Namun, Zei tidak mundur seujung rambut pun. Ia justru melangkah maju menyongsong maut. Tepat di seperseribu detik sebelum mata pedang menembus kulitnya, ledakan energi bumi yang purba melesat dari pusat dantian-nya. Di bawah kain raminya, siluet Sisik Naga berwarna keemasan redup menyala, mengunci seluruh jaringan otot dan pori-porinya menjadi sekeras dinding benteng abadi.
TRANGGG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga meledak di udara. Ujung pedang pemuda Taring Besi itu menghantam bahu Zei dengan telak. Namun, alih-alih menembus daging, bilah baja itu merintih, melengkung ekstrem, sebelum akhirnya hancur berkeping-keping menjadi debu perak.
"B-Bagaimana mungkin...?!" Mata pemuda kota itu terbelalak ngeri, menatap gagang pedangnya yang kini buntung. "Zirah macam apa—"
Sebelum kalimat paniknya usai, tangan Zei yang sekasar kulit kayu sudah melesat mengunci lehernya. Gerakan Zei sama sekali tidak memancarkan estetika kultivator. Itu adalah manuver mentah, brutal, dan efisien—sebuah insting yang diasah dari mencabut paksa akar pohon raksasa di sawah. Zei mencengkeram kerah abu-abu itu dengan satu tangan, menarik tubuh jangkung sang pemuda hingga kaki terangkat, lalu memutar pinggangnya dibantu tumpuan kaki yang mencakar lantai sedalam pasak bumi.
JURUS MEMBAJAK BUMI!
Digerakkan oleh daya dorong Qi tanah yang terlampau padat, Zei menghempaskan tubuh pemuda malang itu ke lantai kedai lewat satu bantingan melingkar yang menentang kewarasan.
GEBUMMM!
Lantai kayu Kedai Bambu Retak hancur berantakan membentuk kawah kecil. Debu pekat dan serpihan papan beterbangan liar. Pemuda Sekte Taring Besi itu tak sempat menjerit; ia pingsan seketika dengan mata mendelik putih, tubuhnya amblas tertanam di antara puing-puing furnitur yang hancur.
Kesunyian mati merampas kedai itu. Sisa murid Sekte Taring Besi mematung ngeri, kaki mereka terpaku ke lantai, tak satu pun berani menghela napas setelah menyaksikan petarung kebanggaan mereka ditumbangkan dalam satu kedipan mata oleh tangan kosong seorang anak lumpur.
Mengabaikan hawa membunuh di sekelilingnya, Zei mengembuskan napas panjang, membiarkan pola Sisik Naganya meredup. Ia melangkah tenang mendekati A-Lang, berlutut, dan menarik sahabatnya berdiri. "Kau masih bisa berjalan, Lang?"
A-Lang menyeka darah di dagunya, menatap Zei dengan pupil bergetar tak percaya. "Zei... kau... kau meremukkan pedang pusaka hanya dengan bahumu?" Zei hanya mengukir senyum tipis, memapah A-Lang perlahan menyingkir dari pusat kekacauan.
Sementara itu, di sudut kedai yang paling gulita, tersembunyi sosok pria tua berbalut jubah kumal yang sejak tadi sibuk menenggak arak dari kendi tanah liatnya. Sepasang matanya yang semula tampak keruh karena mabuk, kini menyipit tajam menembus bayangan, merekam setiap pergerakan Zei. Pria tua itu mengelus janggut putihnya yang berantakan, dan sebuah seringai misterius terkembang di wajahnya.
"Kultivasi jasmani... dengan kemurnian Qi elemen tanah tingkat bumi. Luar biasa," gumam pria tua itu nyaris tak terdengar, lantas kembali mengangkat kendinya. "Tampaknya Turnamen Daun Hijau tahun ini tidak akan membuatku tertidur pulas."