Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENEMBUS DINDING KOTA
Kereta kuda tua yang membawa Zei dan A-Lang berderit kencang saat roda kayunya menghantam jalanan berbatu di depan gerbang Kota Kecamatan. Jika Desa Danau Keruh adalah bentangan warna cokelat yang sunyi, maka kota ini adalah ledakan warna dan suara yang memekakkan telinga. Dinding kota berdiri megah dari susunan batu hitam setinggi tiga kali rumah desa. Di atasnya, para penjaga berzirah besi berkilauan berdiri tegak, menatap dingin ke arah kerumunan orang yang mengantre masuk. Zei menjulurkan kepalanya dari bak belakang kereta, matanya bergerak liar. Ia melihat kereta-kereta kuda mewah berlapis kain beludru dengan lambang sekte-sekte lokal bergantian lewat, dikawal oleh para pemuda kota berpakaian sutra yang menyandang pedang berhias permata di pinggang mereka.
Rasa minder yang sempat tenggelam di lumbung desa mendadak bangkit kembali, merayap di tenggorokan Zei. Ia menunduk, menatap jubah rami cokelat barunya. Di desa, baju ini terlihat sangat mewah, namun di sini, di bawah bayang-bayang kemegahan kota, baju ini tak lebih dari selembar kain karung.
"Jangan melamun, Zei! Jaga barang-barang kita," seru A-Lang dari kursi kemudi, mencoba memarkir kereta mereka di pinggiran kota setelah berhasil melewati pemeriksaan gerbang yang menguras setengah kantong koin tembaga mereka akibat pungutan liar penjaga.
Karena keterbatasan dana, A-Lang membawa Zei ke sebuah penginapan sekaligus kedai kelas bawah bernama Kedai Bambu Retak di pinggiran kota. Tempat itu bising, berbau arak murahan, dan dipenuhi oleh para petarung mandiri serta murid-murid dari sekte kelas bawah yang juga berniat mengikuti Turnamen Seleksi Bakat Daun Hijau. Zei dan A-Lang mengambil meja kecil di sudut yang remang-remang. A-Lang memesan dua mangkuk mi kuah polos tanpa daging—makanan termurah yang bisa mereka jangkau agar sisa uang pendaftaran aman.
"Makan yang banyak, Zei. Besok pendaftaran dibuka, kau butuh tenaga," ujar A-Lang, mencoba mencairkan ketegangan sambil menyodorkan sumpit.
Namun, ketenangan mereka tidak bertahan lama. Di tengah kedai, sekelompok pemuda berpakaian jubah abu-abu ketat dengan sulaman berbentuk taring di kerahnya sedang minum-minum dengan gaduh. Mereka adalah murid-murid dari Sekte Taring Besi, sebuah perguruan lokal kota yang terkenal gemar menindas. Salah satu dari mereka, seorang pemuda bertubuh jangkung dengan pedang bergagang perak, berdiri sambil menenteng cangkir araknya. Langkah kakinya sengaja diarahkan ke sudut tempat Zei dan A-Lang duduk. Begitu tiba di depan meja mereka, pemuda itu berhenti, menutup hidungnya dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat.
"Heh, pantas saja udaranya mendadak pengap," ucap si pemuda kencang, memancing perhatian seisi kedai. "Ternyata ada sepasang tikus sawah yang membawa bau kotoran kerbau ke dalam kedai ini."
A-Lang segera meletakkan sumpitnya. Sebagai orang yang biasa menghadapi pedagang kota, ia tahu kapan harus mengalah. Ia langsung berdiri, memamerkan senyum ramah yang dipaksakan, lalu membungkuk hormat. "Mohon maaf, Tuan Muda dari Sekte Taring Besi. Kami hanya menumpang makan setelah perjalanan jauh. Jika keberadaan kami mengganggu, kami akan segera selesai."
"Mengalah? Siapa yang mengizinkanmu bicara, budak lumpur?" Pemuda kota itu mendengus remeh. Dengan satu gerakan kaki yang cepat, ia menendang meja kayu Zei.
BRAKK!
Meja itu bergetar hebat. Dua mangkuk mi kuah yang belum sempat dihabiskan tumpah, mengotori jubah rami cokelat baru milik Zei. Zei terpaku menatap noda kuah yang meluas di dadanya. Jubah ini adalah hasil jahitan tangan adiknya dan gadis-gadis desa. Jubah yang dibuat dengan harapan dan doa dari orang-orang yang menghormatinya. Zei mengepalkan tinjunya di bawah meja, napasnya mulai memberat. Namun, mengingat pesan ibunya untuk tidak memicu keributan yang bisa membuat dunianya hancur sebelum turnamen dimulai, Zei memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Tahan... aku harus tahan, bisik batinnya.
Melihat Zei hanya diam, pemuda Sekte Taring Besi itu merasa di atas angin. Ia tertawa terbahak-bahak. "Lihat? Tipikal sampah Desa Danau Keruh. Datang jauh-jauh ke kota hanya untuk menjadi badut turnamen. Lebih baik kalian pulang dan mencangkul pantat ibumu!"
A-Lang yang melihat rahang Zei mengeras segera melangkah maju, mencoba menahan pundak Zei sekaligus menghalangi pandangan pemuda kota itu. "Tuan, tolong jangan berkata seperti itu. Kami akan pergi—"
"Menyingkir, mengganggu saja!" bentak pemuda Taring Besi itu. Dengan kasar, ia mengalirkan sedikit Qi elemen logamnya ke telapak tangan dan mendorong dada A-Lang.
DUB!
A-Lang yang tidak memiliki dasar kultivasi bela diri terlempar ke belakang. Tubuhnya menghantam tiang bambu kedai dengan keras sebelum tersungkur ke lantai. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan darah segar, dan ia meringis kesakitan sambil memegangi dadanya. Melihat darah di bibir sahabatnya, sesuatu di dalam dada Zei mendadak putus. Ketenangan batinnya runtuh digantikan oleh gemuruh amarah yang masif. Rasa minder, ketakutan, dan pesan untuk mengalah lenyap tak berbekas. Bumi di bawah kaki Zei seolah ikut bergetar saat ia perlahan bangkit dari kursinya. Lingkungan di sekitar Zei mendadak terasa dingin.
"Kau..." suara Zei rendah, namun memiliki tekanan berat yang membuat tawa pemuda Taring Besi itu mendadak terhenti.
"Apa? Kau mau melawan, Petani?" Pemuda kota itu mencabut pedangnya dengan seringai kejam. Bilah pedangnya berkilau tajam, dialiri Qi elemen logam yang mendesing tipis. "Akan kubuat kau cacat bahkan sebelum menyentuh panggung turnamen!"
Pemuda itu melesat maju, menusukkan pedangnya lurus ke arah bahu Zei dengan kecepatan penuh. Para penonton di kedai menahan napas, mengira jubah rami Zei akan segera ditembus oleh besi tajam tersebut. Zei tidak menghindar seujung rambut pun. Ia justru melangkah maju menyambut ujung pedang itu. Pada detik sebelum mata pedang menyentuh kulitnya, getaran energi tanah yang tebal melesat dari perutnya. Di bawah lapisan jubah raminya, pola Sisik Naga emas redup berkilau sekilas, mengunci seluruh pori-pori kulitnya menjadi sekeras dinding benteng kuno.
TRANGGG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergaung. Mata pedang milik pemuda Taring Besi itu menghantam bahu Zei, namun bukannya menembus daging, bilah pedang itu justru melengkung hebat sebelum akhirnya retak dan patah menjadi dua bagian.
"Apa?!" Mata pemuda kota itu membelalak horor, menatap gagang pedangnya yang kini tumpul. "Pertahanan macam apa ini—"
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, tangan kekar Zei yang penuh kapalan sudah melesat maju. Gerakan Zei tidak memiliki estetika. Itu adalah gerakan mentah, cepat, dan efisien—adaptasi dari gerakan menyergap akar pohon saat membajak sawah. Zei mencengkeram kerah jubah abu-abu pemuda itu dengan satu tangan, menarik tubuhnya mendekat, lalu memutar pinggangnya dengan tumpuan kaki yang mencengkeram bumi begitu dalam.
JURUS MEMBAJAK BUMI!
Dengan kekuatan masif yang murni dari Qi tanah yang padat, Zei menghempaskan tubuh pemuda jangkung itu ke lantai kedai dengan satu bantingan melingkar yang brutal.
GEBUMMM!
Lantai kayu Kedai Bambu Retak hancur berantakan. Debu dan serpihan kayu berterbangan. Pemuda dari Sekte Taring Besi itu bahkan tidak sempat berteriak; ia langsung pingsan di tempat dengan mata mendelik, tubuhnya tertanam di antara puing-puing meja yang hancur. Keheningan yang mencekam seketika melanda seluruh kedai. Murid-murid Sekte Taring Besi yang lain membeku di tempat, tidak berani melangkah maju setelah melihat rekan terkuat mereka ditumbangkan dalam satu detik oleh tangan kosong seorang anak desa.
Zei tidak memedulikan mereka. Napasnya perlahan kembali teratur saat hawa amarahnya mereda. Ia berjalan mendekati A-Lang, berlutut, dan membantu sahabatnya itu berdiri. "Kau tidak apa-apa, Lang?"
A-Lang menyeka darah di bibirnya, menatap Zei dengan mata melotot tak percaya. "Zei... kau... kau menghancurkan pedang kota dengan bahumu?" Zei hanya tersenyum tipis, memapah A-Lang kembali ke tempat yang lebih aman.
Sementara itu, di sudut kedai yang paling gelap, duduk seorang pria tua berpakaian kumal yang sejak tadi asyik menenggak kendi araknya. Sepasang matanya yang awalnya tampak sayu, kini berkilau tajam menatap punggung Zei. Pria tua itu mengelus janggut putihnya yang berantakan, lalu menyeringai lebar.
"Kultivasi fisik dengan kemurnian elemen tanah tingkat bumi... menarik," gumam pria tua itu lirih, sebelum kembali meneguk araknya. "Turnamen kali ini tampaknya tidak akan membosankan."