NovelToon NovelToon
Di Antara Sepasang Kembar

Di Antara Sepasang Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: HniHndyni

Cinta, sebuah anugerah yang tak selalu mudah didapatkan. Apalagi ketika harus memilih di antara dua hati yang begitu dekat, dua jiwa yang begitu mirip. Kisah mengharukan tentang cinta, pengorbanan, dan pencarian jati diri di tengah pusaran emosi yang membingungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HniHndyni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian Kanaya

Damar menghampiri Anya, yang sedang duduk sendirian di bangku taman kampus. Wajahnya tampak masih sembab bekas menangis, namun ia berusaha tegar. Damar duduk di sampingnya, tanpa sepatah kata pun. Keheningan yang canggung tercipta di antara mereka, hanya diiringi suara burung-burung berkicau.

Setelah beberapa saat terdiam, Damar akhirnya membuka suara. "Anya," katanya lirih, suaranya terdengar sedikit gugup. "Aku… aku minta maaf."

Anya menatap Damar, matanya masih berkaca-kaca. Ia tidak menjawab, hanya menatap Damar dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara sakit hati, kecewa, dan mungkin sedikit keraguan.

"Aku tahu aku salah," lanjut Damar, "Aku tidak seharusnya bersikap seperti itu padamu. Aku… aku khilaf."

Anya masih terdiam. Ia ingin sekali melampiaskan semua amarahnya, namun kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya. Rasa sakit yang ia rasakan terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Damar meraih tangan Anya, namun Anya menarik tangannya dengan cepat. "Jangan sentuh aku," kata Anya, suaranya terdengar dingin.

Damar menarik napas dalam-dalam. "Aku mengerti jika kau marah," katanya, "Tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan."

Anya menatap Damar dengan tajam. "Penjelasan apa lagi yang kau punya? Kau sudah menyakitiku berkali-kali, Damar. Sampai kapan aku harus terus memaafkanmu?"

"Aku… aku tidak tahu harus berkata apa lagi," Damar tampak putus asa. "Aku hanya ingin kau mengerti, aku sangat mencintaimu."

Anya tertawa getir. "Cinta? Kau menyebut itu cinta? Cinta yang menyakiti, cinta yang membuatku menangis setiap hari?"

Damar terdiam, tak mampu membantah. Ia menyadari kesalahannya yang begitu besar. Ia telah menyakiti Anya berkali-kali, dan kali ini, ia merasa Anya benar-benar lelah. Ia melihat kesedihan yang mendalam di mata Anya, dan ia tahu, memperbaiki semuanya tidak akan semudah itu.

"Aku… aku akan pergi," kata Damar akhirnya, suaranya terdengar sangat lemah. Ia berdiri dan berbalik, meninggalkan Anya sendirian di bangku taman. Anya hanya menatap kepergian Damar, tanpa sepatah kata pun. Hati Anya terasa sangat kosong. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berharap, suatu hari nanti, ia bisa melupakan semua sakit hati yang telah ditimbulkan oleh Damar. Namun, untuk saat ini, ia hanya bisa menerima kenyataan pahit yang sedang ia hadapi. Ia harus belajar untuk bangkit dan menjalani hidupnya sendiri, tanpa Damar. Dan mungkin, ia harus mulai membuka hatinya untuk kemungkinan lain, sebuah kemungkinan yang mungkin hadir bersama Migo.Waktu akan menjawab semuanya. Dan hujan pun kembali turun, seakan ikut merasakan kesedihan Anya.

Hujan semakin deras. Anya masih duduk di bangku taman, basah kuyup. Air mata bercampur air hujan membasahi pipinya. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil. Keheningan menyelimuti taman kampus yang kini hampir kosong. Hanya suara derasnya hujan yang memecah kesunyian.

Tiba-tiba, sebuah payung berwarna biru tua terbentang di atas kepala Anya. Ia mendongak, dan melihat Migo berdiri di sampingnya. Wajah Migo tampak khawatir.

"Anya," kata Migo lembut, "Kau basah kuyup. Ayo, aku antar pulang."

Anya menatap Migo, matanya masih berkaca-kaca. Ia tidak menjawab, hanya menerima payung yang ditawarkan Migo. Migo menarik kursi di samping Anya dan duduk di sana, menjaga jarak yang cukup agar Anya merasa nyaman.

Keheningan kembali tercipta, namun kali ini, keheningan yang berbeda. Keheningan yang dipenuhi rasa simpati dan pengertian. Migo tidak memaksa Anya untuk berbicara, ia hanya diam di sampingnya, memberikan dukungan tanpa kata-kata.

Setelah beberapa saat, Anya akhirnya membuka suara, suaranya masih bergetar. "Aku… aku merasa bodoh," katanya lirih. "Aku terus memaafkan Damar, meskipun ia terus menyakitiku."

Migo mengangguk pelan. "Kau tidak bodoh, Anya," katanya. "Kau hanya terlalu baik hati. Kadang, kebaikan hati itu bisa disalahgunakan oleh orang lain."

Anya terdiam, merenungkan kata-kata Migo. Ia menyadari bahwa Migo benar. Ia terlalu baik hati, terlalu mudah memaafkan, sampai-sampai ia melupakan dirinya sendiri.

"Terima kasih, Migo," kata Anya, suaranya sedikit lebih tenang. "Terima kasih sudah ada di sini untukku."

Migo tersenyum tipis. "Sama-sama, Anya," katanya. "Aku selalu ada untukmu."

Mereka berjalan pulang bersama di bawah guyuran hujan, dengan payung biru tua yang melindungi mereka berdua dari derasnya air. Anya merasa sedikit lebih tenang, sedikit lebih ringan. Mungkin, ini adalah awal yang baru baginya. Awal yang tanpa Damar, namun dengan harapan baru bersama Migo. Hujan masih turun, namun hati Anya mulai merasakan sedikit kehangatan. Kehangatan yang diberikan oleh Migo, seorang teman yang selalu ada untuknya. Mungkin, waktu akan menjawab segalanya. Dan mungkin, di balik hujan dan air mata, terdapat sebuah pelangi harapan yang menanti.

Setelah Migo mengantarkan pulang Anya meletakkan payung dan tasnya, kemudian mengambil surat izin dari Kanaya. Air mata langsung menggenang di matanya. Bukan hanya surat izin itu yang membuatnya sedih, tetapi juga foto Kanaya yang tertempel di surat tersebut. Foto itu mengingatkannya pada masa kecil mereka, masa-masa ketika mereka berdua selalu bersama, tak terpisahkan. Sekarang, Kanaya akan pergi ke luar negeri, dan Anya akan merasakan kesepian yang jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan. Rasa kehilangan ini lebih dari sekadar kehilangan seorang teman, ini kehilangan separuh dirinya.

Ia duduk di sofa, memeluk foto Kanaya erat-erat. Bayangan masa lalu berputar di kepalanya: permainan masa kecil mereka, rahasia-rahasia yang hanya mereka berdua ketahui, dukungan Kanaya saat ia patah hati karena Damar. Semua kenangan itu terasa begitu nyata, begitu menyakitkan karena akan segera menjadi kenangan.

Ponselnya berdering lagi, kali ini dari Migo. Ia mengangkat telepon dengan tangan yang gemetar.

"Halo?" suaranya bergetar.

"Anya? Ini aku, Migo. Bagaimana kabarmu? Aku masih khawatir setelah hujan tadi," suara Migo terdengar lembut dan penuh perhatian.

Anya terisak. "Migo… Kanaya… Kanaya akan pergi," ujarnya, suaranya hampir tak terdengar karena isakan. "Kakak kembarku… ia akan pergi ke luar negeri."

Terdengar keheningan di seberang telepon. Migo paham betul betapa eratnya ikatan antara saudara kembar. "Anya… aku sangat mengerti. Kehilangan saudara kembar itu seperti kehilangan separuh dirimu. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi aku di sini untukmu. Apa kau ingin aku datang?"

Anya terisak semakin keras. Kehilangan Kanaya terasa seperti kehilangan bagian terpenting dari dirinya. "Aku… aku ingin kau di sini," katanya, suaranya teredam oleh tangis.

"Baiklah, aku akan segera ke sana," kata Migo. "Jangan khawatir, aku akan ada di sisimu."

Anya menutup telepon, rasa sedikit lega mulai muncul di hatinya. Meskipun kesedihan masih terasa sangat berat, adanya Migo yang mau datang memberikan sedikit cahaya di tengah gelapnya kesedihannya. Ia masih harus kuat, ia masih harus menghadapi kesendiriannya. Tapi, ia tidak sendirian. Migo ada di sana, untuk menemaninya melewati masa-masa sulit ini. Dan mungkin, dari kesedihan ini, akan tumbuh sebuah kekuatan baru di dalam dirinya.Ia akan tetap tegar,untuk dirinya dan untuk Kanaya.

Migo tiba di rumah Anya tak lama kemudian, membawa secangkir cokelat hangat dan sepotong kue. Hujan telah berhenti, tapi langit masih mendung. Suasana di rumah Anya masih terasa sendu, dipenuhi aroma hujan dan kesedihan.

Anya menyambut Migo dengan mata yang masih sembab, tapi senyum tipis terukir di bibirnya. Kehadiran Migo memberikan sedikit kehangatan di tengah kesedihannya.

"Terima kasih sudah datang, Migo," kata Anya, suaranya masih sedikit serak.

Migo tersenyum lembut. "Sama-sama, Anya. Aku khawatir padamu." Ia memberikan cokelat dan kue kepada Anya. "Minumlah cokelat hangat ini, akan membuatmu lebih tenang."

Anya menerima cokelat itu dengan tangan gemetar, lalu menyesapnya perlahan. Rasa manis cokelat itu sedikit meredakan rasa pahit di hatinya.

Mereka duduk berdampingan di sofa, tanpa banyak bicara. Keheningan di antara mereka terasa nyaman, tidak canggung. Migo hanya sesekali mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Anya, memberikan dukungan tanpa kata-kata.

Setelah beberapa saat, Anya mulai menceritakan tentang Kanaya, tentang kedekatan mereka, tentang rasa kehilangan yang begitu besar. Migo mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan kata-kata penghiburan.

"Aku merasa… seperti kehilangan separuh jiwaku," kata Anya, suaranya bergetar. "Kanaya selalu ada untukku, dalam suka dan duka. Sekarang… aku merasa sangat kosong."

Migo menggenggam tangan Anya lebih erat. "Aku mengerti, Anya. Kehilangan saudara kembar itu sangat menyakitkan. Tapi, kau harus ingat, Kanaya pergi untuk meraih mimpinya. Ia akan bangga padamu jika kau tetap tegar."

Anya mengangguk pelan, meneteskan air mata lagi. "Aku akan berusaha, Migo. Aku akan berusaha tetap kuat untuk Kanaya."

Migo tersenyum, mengusap lembut air mata Anya. "Aku akan selalu ada untukmu, Anya. Kapan pun kau membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, untuk bersandar, aku akan selalu ada."

Mereka menghabiskan sisa sore itu dengan bercerita, tertawa, dan saling menghibur. Kehadiran Migo telah menjadi berkah bagi Anya di tengah kesedihannya. Ia merasa sedikit lebih kuat, sedikit lebih siap untuk menghadapi masa depan tanpa Kanaya. Mungkin, dari kesedihan ini, akan tumbuh sebuah kekuatan baru, dan mungkin juga, sebuah benih cinta baru akan tumbuh di antara Anya dan Migo.Waktu akan menjawab semuanya.

1
Jiwa Samudera
Karyanya lumayan bagus
HniHndyni: THANKYOu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!