Bagaimana jika kamu menjalankan kehidupan yang sama tapi semuanya tidak serupa lagi?
Ini adalah kisah dari Gill, wanita muda yang mengalami jatuh bangun di kehidupannya saat harus memilih antara jujur atau menyembunyikan identitasnya sebagai ibu muda dari seorang anak di luar nikah.
Apakah semua ini sudah digariskan oleh takdir?
Saat Gill harus terpuruk kembali oleh perbuatan sang mantan, dia mendapatkan pertolongan dari pria bernama Vince, orang yang memiliki latar belakang yang kuat dan ternyata juga telah memiliki seorang anak.
Vince menghadapi permasalahan yang melilitnya dan tepat disaat itu, dia juga membutuhkan wanita yang bisa membantunya.
Apakah Vince hanya mengambil keuntungan dari Gill dengan mendekatinya? Atau adakah yang Vince inginkan lebih dari itu?
Kisah keduanya seperti anggrek dan mawar. Yang satu bertahan hidup untuk tumbuh di berbagai medan sulit dan berusaha untuk mekar, dan yang satunya lagi terlihat cantik mempesona, tapi durinya yang tajam bisa melukaimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jiel Ruu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Alasan untuk itu bagian (6)
Vince memanggilku dengan sebutan sayang, tangannya yang semula bersandar di dinding kini merangkul bahuku. Aku yang gemetaran karena panik dan takut merasa dia sedang berusaha melindungiku.
"Heh! Siapa kamu?" ucap Oscar dengan menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Harusnya saya yang bertanya. Siapa kamu dan ada urusan apa dengan istri saya?"
A- Apa?! Dia menyebut aku istrinya?
Aku melirik kearahnya dengan tanda tanya dan Vince pun melirik balik ke arahku. Dia mencengkram bahuku dengan kuat supaya aku mengerti maksudnya.
Anda harus akting, saya sedang mencoba membantu anda nih; mungkin kira-kira ini yang ingin disampaikannya.
"Cara bohongmu ini kuno banget, Gill coba kamu kasi tau siapa aku!" kata Oscar dengan percaya dirinya.
"Kamu ini hanya hama pengganggu, jangan harap aku perhatiin!" Dasar cowok sinting! Mau apa kamu sekarang hah?
"Gill! Apa-apaan itu?! Kamu bilang mau tunggu aku sampai kita bisa nikah dan punya kehidupan yang baru? Tapi sekarang kamu malah pungut cowok banci yang ngaku-ngaku suami kamu?!"
"Cukup ya. Jangan buang-buang tenaga deh. Aku bukan orang bodoh yang cuma mengharapkan harapan palsu dari buaya seperti kamu dan tolong ya, suamiku ngak suka kamu berkeliaran di halamanku,"
Wanita ini boleh juga aktingnya, padahal masih gemetaran tapi punya keberanian untuk melawan. Sepertinya ini cocok; ucap Vince dalam hatinya. Dia memperhatikan sikap dan kata-kata yang Gill keluarkan.
"Gill, kita cuma perlu ngelurusin masalah ini. Aku janji akan buat kamu bahagia!"
"Ngomong saja sama tembok! Ngelurusin yang apanya?! Semuanya sudah bengkok-bengkok tau! Lagian aku itu sudah ngak mau berurusan sama kamu lagi. Makan saja tuh yang kamu sebut bahagia!"
Nih cowok sudah ngak punya otak ya?! Ngomong sama dia kayak ngomong sama batu. Ngak bisa ngerti!
Oscar menjadi emosi karena aku tidak mau menurutinya. Hubungan diantara kami sudah berakhir dan sekarang kami sudah punya jalan masing-masing. Kalau saja dia tidak muncul lagi dan membuat kekacauan, mungkin aku mau memaafkannya. Tapi kalau seperti ini, siapa juga yang mau melakukannya.
"Kamu sudah berubah! Dulu kamu nurut banget sama aku, intinya kamu harus kembali sama aku!"
Oscar berusaha menjangkau tanganku untuk menarik aku keluar, tapi Vince langsung menghalanginya dan menarikku kebelakang tubuhnya.
"Eiitts, tolong jaga sopan santunnya. Jangan coba sentuh istri saya. Sayang, kamu masuk kedalam saja, biar aku yang mengurus ini."
Vince memberikan isyarat padaku dan aku mengangguk karena memahaminya. Percuma saja aku terus berbicara dengan Oscar, yang ada aku malah semakin emosi. Akupun berjalan masuk dan meninggalkan kedua orang ini di luar.
"Gill! Tunggu! Urusan kita belum selesai!"
"Urusan anda sekarang dengan saya,"
Vince menatap dengan tajam pada Oscar. Dia sungguh-sungguh berdiri di pihak Gill dan mencoba melindunginya.
"Aku ngak ada urusan sama kamu banci! Minggir!" teriak Oscar dan berusaha menerobos masuk.
BRAAAK!!!
Terdengar suara pintu yang terbanting dengan sangat keras. Gill yang berada di dapur terkejut mendengarnya. Dia bersandar di tembok dan tubuhnya semakin gemetaran ditambah keringat dingin yang bercucuran. Air matanya tidak terbendung lagi, rasa takut menyelimuti tulangnya dan dia terduduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya.
"Jangan coba untuk masuk satu langkah pun atau sampai menyentuh sehelai rambut istri saya," ucap Vince yang menahan emosinya.
Terlihat buku-buku tangan Vince berdarah karena meninju pintu saat menghalangi Oscar untuk masuk. Oscar yang terkejut karena kemarahan Vince sedikit mundur dari posisi awalnya tadi.
"Heh! Banci kayak kamu bisa marah juga ya? Berapa hargamu yang di sewa sama Gill untuk ngaku jadi suaminya? Oh atau kamu sudah tidur dengannya ya, jadi sekarang mau berlagak seperti ini?"
"Maaf saja ya, berarti saya lebih beruntung karena Gill memilih saya. Bukan seperti anda yang mengemis ingin kembali."
"Cuih! Kamu dengar ya, kamu itu cuma pungut barang bekas dari aku! Gill itu bekas punyaku dan terserah aku kapan mau mengambilnya kembali!"
"Salah. Dia cuma buku berkualitas yang salah kirim jadi sampulnya sudah di rusak oleh orang bodoh. Sekarang, buku berkualitas sudah diambil oleh alamat yang benar dan kembali ketempat yang seharusnya. Dan si bodoh, tetap saja jadi bodoh."
"Brengs*k! Apa maksud kamu ngatain aku bodoh?!"
"Saya tidak bilang kamu bodoh, tapi baguslah kalau kamu sadar diri."
"Cih, hebat juga ya Gill bisa pungut hewan seperti kamu. Sebenarnya aku kasihan padamu, masih muda tapi mau dengan barang bekas. Karena aku sedang berbaik hati jadi aku sadarkan kamu deh, tinggalkan wanita itu dan cari saja yang lain. Pasti keluarga kamu tidak setuju hubunganmu dengan wanita yang sudah punya anak,"
Bajin**n ini benar-benar tidak punya urat malu. Bisa-bisanya dia merendahkan harga diri wanita yang dulu mencintainya. Kamu bisa ngomong begitu tapi nyatanya kamu masih mengganggu kehidupannya? Hei, otakmu ditaruh di mana.
"Kami sudah menikah dan tidak ada urusannya denganmu. Kamu hanya mantan tidak berharga bagi istriku. Oh ya, kamu bilang soal anak? Kami sudah punya dua anak lho."
"Kamu pikir aku akan percaya?! Jangan pikir bisa ngebodohin aku semudah itu!"
"Bla bla bla, kamu orangnya sabar juga ya atau sudah tidak punya malu? Padahal saya sudah capek lho bicara dengan kamu, tapi kayaknya otakmu kapasitasnya kecil jadi ngomong seperti apa juga tidak akan paham. Mending kamu pergi saja, jangan cari keributan di rumah tangga orang. Atau mau saya panggilkan keamanan kompleks sini?"
Oscar sampai tidak bisa berkata-kata menghadapi Vince. Dia merasa kesal dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah Gill sambil marah-marah.
"Ingat! Karena aku sedang berbaik hati jadi aku lepaskan kalian hari ini!" teriaknya sambil menjauh.
"Oke~! Lain kali tidak usah repot-repot lepaskan, tidak usah kembali saja sekalian. Jangan sampai digebukin satpam karena dikira gangguin istri orang ya, bye bye~." ucap Vince dengan nada santai sambil memandangi Oscar yang berjalan menjauh.
"Huff. Akhirnya orang gila itu mau pergi dengan sendirinya. Wah, untung pintunya tidak rusak, kalau tidak aku pasti harus ganti rugi," ujar Vince yang berbicara sendiri sambil menutup pintu kembali.
Saat pintu sudah tertutup, Vince berdiri di sana dan termenung. Dia memikirkan kondisi Gill saat ini.
Apa dia bisa baik-baik saja kalau seperti ini? Untuk melindungi diri dari orang gila seperti tadi saja sudah sangat berbahaya. Wanita ini punya masalah yang berat tapi semua ditanggung sendiri.
Vince berjalan masuk untuk mencari Gill. Dia menyadari ada suara tangis yang tertahan dari arah dapur. Dia melihat Gill yang terduduk di sana. Wanita ini sedang ketakutan, tapi berusaha menyembunyikannya. Vince mendekatinya dan mengelus kepalanya.
"Jangan takut, orang tadi sudah pergi," ucap Vince dengan lembut. Dia bisa merasakan Gill yang gemetaran dan berusaha menyembunyikan suara tangisnya.
Bukankah ini menyedihkan? Wanita ini hanya ingin lepas dari masa lalu yang mengikatnya. Apakah yang lainnya akan selalu menganggapnya sebagai 'barang bekas' kalau dia dulu pernah hamil dan punya anak di luar nikah? Terus apakah dia tidak punya hak untuk bahagia lagi? Bukan masalah salah atau tidak, setiap orang punya hak untuk kehidupannya.
"T-Terimakasih. Anda sudah menolong saya lagi," suara yang kecil dan bergetar keluar dari bibir Gill yang tidak berdaya itu.
"Bukan apa-apa. Jika menangis bisa membuat anda lebih baik, menangis saja karena terkadang ada masalah yang bisa teratasi ketika anda menangis."
Nona, anda hanya ingin bebas dan aku mengerti apa yang anda rasakan. Pasti sangat sulit untuk anda bisa sampai ke titik saat ini. Tapi orang sakit jiwa itu menjadi hantu yang menghantui anda lagi.
Gill mengangkat sedikit kepalanya. Terlihat matanya yang berkaca-kaca dan air mata yang menetes. Vince menarik tangannya kembali dari Gill agar wanita itu merasa lebih nyaman.
"Dulu, saat aku tau kalau sedang mengandung dan mengabarkannya pada dia, dia memohon padaku untuk merahasiakannya. Dia tidak ingin disalahkan keluarganya,"
Apa aku boleh menceritakan ini? Apa aku boleh mengeluarkan emosi yang sudah ku pendam ini?
"Tidak apa-apa, anda boleh menceritakannya kalau bisa membuat anda lebih merasa lega,"
Vince duduk di depanku dan menemaniku. Sekilas hatiku terasa lebih ringan, aku juga tidak tau kenapa, tapi rasanya aku ingin mencurahkan perasaan campur aduk ini padanya.
"Sebelum aku menceritakan pada ibu, aku terus mencoba menghubunginya. Dia hanya membalas beberapa pesanku dan berkata semua akan baik-baik saja, tenanglah, aku akan mencari solusinya dan sebagainya. Aku hanya orang bodoh yang berharap dia tulus, tapi apa yang kenyataanya berkata sungguh berbeda dan pada akhirnya dia memintaku untuk aborsi karena dia belum siap." aku menelan ludahku dan melanjutkan bercerita.
"Hanya itu yang dikatakannya. Aborsi? Apa dia memintaku untuk membunuh? Dia bahkan tidak peduli nyawaku akan ikut hilang apa tidak ketika menjalankan proses itu. Kemudian aku akhirnya membuka mulut dan bercerita pada ibu. Sampai saat itu semua anggota keluarga mengetahuinya.
Dia marah besar padaku dan menyalahkan semuanya padaku. Bahkan ibunya juga menyalahkanku bahwa aku yang telah menggoda putranya, dan sekarang masa depan putranya tercoreng karena aku.
Tapi apakah dia tau? Akulah yang menanggung semuanya. Masa depan yang harus ku korbankan karena dibutakan cinta, harga diri yang jatuh, kekecewaan orang tua. Untuk pribadi, aku mengorbankan tubuh yang tidak bisa kembali seperti semula lagi saat melahirkan, status yang kini sudah berbeda, dan tanggung jawab akan seorang anak.
Sampai saat itu, ayah memintaku untuk melupakan pria itu. Saat itulah aku melihat ayahku menangis karena diriku. Dengan semua kesadaran yang ada, aku mencoba yang terbaik. Aku berharap tidak akan mengecewakan mereka lagi.
Tapi aku seperti kehilangan semuanya, aku hampir gila dan ibu juga sudah memanggil psikiater tapi tidak berhasil. Bahkan mungkin jalan satu-satunya adalah membawaku ke rumah sakit jiwa karena aku mulai tertawa sendiri, emosiku tidak terkontrol dan aku hampir tidak mengenali orang-orang di sekitarku lagi."
Separah inikah depresi yang anda alami nona; ucap Vince dalam hatinya. Dia benar-benar bisa merasakan juga tekanan yang menimpa Gill saat mendengar ceritanya.
"Ibu hampir putus harapan. Akhirnya dia mencoba membuat buket bunga anggrek kecil untukku setiap hari dan berharap aku bisa melalui ini dan sembuh. Dia berharap aku bisa seperti bunga anggrek itu, hidup kembali dari kekeringan diantara medan pasir dan batu, tumbuh, berkembang dan mekar.
Saat aku benar-benar bisa tersadar adalah ketika aku melahirkannya. Bayi mungil yang masih merah. Tangisannya yang menggetarkan hatiku lagi, jemarinya yang kecil menggenggam telunjukku. Bagaimana bisa aku mengabaikan malaikat kecil ini,"
Gill menghentikan ceritanya dan terdiam sesaat. Vince tertegun, dia mengepalkan tangannya dan tatapannya berubah. Vince kembali mengingat saat-saat Theodore lahir dan dialah yang menggendongnya di saat Mira tidak memperdulikan bayi yang dilahirkannya itu.
Bukankah ini takdir yang luar biasa? Di saat ada yang tidak menginginkan bayinya saat dilahirkan, tapi wanita ini tetap mensyukuri dan dengan penuh kasih menerima malaikat dari Tuhan walaupun seorang diri.
•
•
•
Jika berkenan, novel saya menunggu kehadiran author untuk mampir sejenak. Aleesya: My Hubby, My KetBok datang memberi bintang 5 untuk kakak. Semangat ya, GBU😇🙏🏻
salken dari GADIS TIGA KARAKTER