Pratama Attarilah Putra Wijaya (Tama), adalah seorang yang usil dan jahil. Sejak kecil dia sering menjahili anak dari sahabat ibunya, Kiara. Akankah kejahilan itu terus berlanjut dan menumbuhkan cinta?
Mikhaila Azzariyah Putri Wijaya(Mikha), dia lahir lebih lambat 2 menit dari saudara kembarnnya Tama. Mikha yang memiliki sifat lugu dan polos bertemu dengan seorang pemuda bernama Dion Sebastian yang memiliki sifat jutek dan temperamental. Dan suatu kesalah pahaman membuat mereka terpaksa harus menikah. Akankah keduanya saling jatuh cinta, ketika ternyata di hati Dion sudah ada wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Mikha menutup matanya saat Dion mulai mengangkat tangannya ke udara. Dia yakin kalau suaminya itu sangat marah karena ulahnya.
Mikha kembali membuka matanya saat dia hanya merasakan jentikan di keningnya.
"Kamu kira aku akan memukulmu karena kamu sudah mengerjaiku?" tanya Dion. "Aku bukan orang yang suka main tangan, apalagi terhadap perempuan."
Mikha masih terdiam di tempatnya, dia memang mengira kalau Dion akan memukulnya karena sudah menjahilinya.
"Aku pasti menghukummu, tapi tidak sekarang," tambah Dion dengan sorot mata penuh arti.
Dion kembali menjauhi istrinya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
"Sana mandi! Bukankah Daddy sudah menunggu kita!" seru Dion kepada istrinya. "Atau kamu mau aku mandikan?" tanya Dion yang kembali menggoda istrinya.
"Ogah," jawab Mikha dan dengan cepat dia lari masuk ke dalam kamar mandi. Dion terkekeh melihat tingkah Mikha yang menurutnya lucu.
"Cewek resek! Buruan keluar!" seru Dion setelah 30 menit istrinya itu di dalam kamar mandi dan belum juga ke luar.
"Kamu mandi apa tidur sih?" tanya Dion yang semakin tidak sabar. Apalagi barusan papanya juga menelpon dan memberitahunya kalau semua orang sedang menunggunya untuk sarapan bersama.
"Aku hitung sampai tiga ya, kalau kamu tidak ke luar aku dobrak pintunya!" ancam Dion.
Dan ancaman Dion sukses membuat Mikha mau membuka pintu kamar mandinya.
"Cewek resek!? Kenapa belum ke luar juga?" tanya Dion yang merasa heran karena Mikha tidak juga ke luar, padahal barusan terdengar kunci kamar mandi itu di buka.
"Aku lupa bawa handuk," ucap Mikha dari dalam kamar mandi.
"Bukannya tadi kamu masuk bawa handuk?"
"Iya, tapi handuknya kotor kena darah."
Dion menghela napasnya, dia mencari handuk bersih di dalam lemari yang ada di kamar tersebut. Setelah menemukannya Dion memberikan handuk bersih itu kepada Mikha.
"Ini!" Dion mengulurkan handuk melalui pintu tanpa melihat ke dalam kamar mandi.
"Terimakasih," ucap Mikha setelah menerima handuk yang di berikan oleh Dion.
Akhirnya Mikha ke luar juga dari dalam kamar mandi. Untuk sesaat mata Dion terbuka lebar menatap tubuh istrinya yang hanya terbungkus handuk yang menutupi bagian dada hingga sebatas atas lutut. Dan pada saat itu juga Dion merasakan ada yang menegang di balik celananya, namun dengan cepat dia bisa menetralkannya kembali.
"Ngapain lihat-lihat?!" Mikha berusaha menutup bagian atas dengan kedua tangannya.
"Siapa juga yang nglihatin kamu!" elak Dion. Dion segera membalikkan tubuhnya menghadap ke arah yang berlawanan dengan Mikha.
"Terus barusan apa?" tanya Mikha ketus. "Awas saja ya kalau kamu berani ngliatin aku!" ancam Mikha.
Dengan cepat Mikha memakai pakaiannya tidak lupa dia juga memakai pembalut yang tadi pagi di belikan oleh Dion.
Usai memakai pakaian lengkapnya, tidak lupa Mikha sedikit memberikan polesan di wajahnya. Mikha bukan termasuk tipe wanita yang suka berdandan, dia hanya memakai sedikit bedak dan sedikit memakai lipblam untuk membasahi bibirnya.
"Ayo!" ajak Mikha.
Dion masih terdiam, matanya seakan tersihir menatap kecantikan alami yang di tampilkan oleh istrinya.
"Heh, Cowok nyebelin ayo!" ajak Mikha sekali lagi, kali ini dia sedikit memberikan pukulan di lengan suaminya.
"Dasar cewek resek hobi banget mukul orang," gerutu Dion sambil mengusap lengannya.
"Salah sendiri, kenapa masih diam saja? Awas saja kalau kamu punya pikiran yang aneh-aneh!" oceh Mikha.
"Apa maksudmu pikiran aneh?" tanya Dion. "Jangan-jangan kamu berharap kalau aku bakal ngapa-ngapain kamu ya? Maaf saja, aku tidak nafsu sama cewek kerempeng."
Mendengar penuturan Dion, Mikha hanya memutar bola matanya. Dia langsung berjalan ke luar dari kamar tanpa ingin mendengar perkataan Dion yang menurutnya tidak berfaedah.
"Hei, cewek resek tunggu!" Dion ikut ke luar dari kamar dan mengikuti langkah istrinya.
Mereka berjalan ke tempat di mana semua orang sudah menunggunya untuk sarapan bersama.