DALAM PROSES EDIT, MOHON MAAF ATAS KETIDAK NYAMANANNYA
mature content 💏
harap bijaksana dalam membaca, usia diharapkan diatas 18++
menjadi istri kedua bukan keinginanku, karena sejatinya aku tak ingin berbagi
~alana mahen~
aku mencintai sahabat masa kecilku disaat aku juga memuja wanita lain
~narendra sakabumi~
yang suka baper akan cerita poligami lebih baik melewatkan cerita ini
~author~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nophie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21.Tanpamu Ku Tak Bisa*
“Iya sayang, aku tadi gak mikir sepanjang itu. Saat Yara drop, aku hanya kepikir perkataan
kalau kamu hamil barangkali akan buat dia semangat, karena dia pingin banget
gendong bayi. Ternyata bener, saat aku ngomong kamu harus segera sehat kalau
mau gendong bayi, dia langsung sadar, dan semangat.” Jelas Saka dengan nada
sendu, Alana tahu Saka sedih, tapi Alana juga tidak mau membohongi Yara.
“Tapi kalau ternyata aku belum hamil gimana, Bby? Aku juga gak mau membohongi Yara, Bby!” potong Alana lagi, Saka kembali bermuram durja.
“Ya nanti kita bekerja lebih keras, berusaha untuk menghamili kamu lagi toh, Sayangg!” jawab Saka dengan senyum smirk nya , membuat Alana memutar bola matanya karena kesal dengan jawaban Saka
yang membuatnya semakin jengkel.
“ Sesukamulah, aku mau tidur…” lanjut Alana cepat.
“Jangan ditutup, setidaknya biarlah aku dan kamu tidur sambil video call, lumayan untuk
membuat kerinduanku padamu sedikit terobati.” Kata Saka sambil menampilkan
wajah sedihnya.
“Kan baru tadi siang, masa sudah rindu aja?” tanya Alana sambil tersenyum sambil membelai wajah Saka yang sendu di layar ponselnya.
“Kamu gak tau, di apartemen ini aku sendirian… rasanya ingin aku meluk kamu, tapi gak bisa, coba aja bayangin bagaimana rasanya jadi aku?” lanjut Saka dengan wajah kesal, karena dari tadi dia memandangi tubuh Alana yang sexy tanpa bisa membelai tubuh Alana yang menantang itu.
“ Kapan kamu rencananya pulang?” tanya Alana sambil merebahkan tubuhnya kesamping sehingga belahan dada nya terlihat separuh karena tali kimononya lepas. Tapi Alana tidak terlalu memperhatikan posisi kimononya karena jujur matanya sudah ngantuk berat, dilain tempat Saka yang hanya bisa memandangi Alana tanpa bisa memegang kian menjadi frustasi dengan posisi tidur Alana yang menggoda Junionya.
“Aku gak tau, aku mau mastiin kondisinya dulu sebelum aku meninggalkannya nanti. Kamu gak marah kan kalau aku ngurus Yara dulu?” tanya Saka hati hati, ia takut Alana tersinggung dengan perkataannya.
Tapi Alana hanya mengangguk lemah, kantuknya sudah menyerang, Alana hanya menaruh.ponselnya disamping tempat tidur terpasang di tripod yang biasa dipakainya untuk membuat foto selfi. Sehingga posisi ponsel tetap menghadap ke dirinya
tanpa harus ia pegangin, dan ponselnya di mode loud speaker sehingga Saka sudah
mendengar dengkuran halus yang keluar dari Alana, pertanda gadis itu sudah terlelap.
“Malah dia tidur, yaudah aku juga ikutan tidur ah.” Gunam Saka menyusul memejamkan mata,
tanpa mematikan sambungan video call, sehingga seakan mereka berdua sedang tidur bersama.
***
Sudah hampir 3 minggu lebiih Saka mendampingi Yara, meninggalkan Alana dan Genta. Tapi setiap hari Saka tidak putus putusnya untuk video call dengan Alana, karena masalah pekerjaan atau sekedar menemani sampai tertidur. Meetingpun sementara dilakukan secara online. Beberapa pertemuanpun dilakukan Saka secara online. Begitupun dengan hari ini.
“Sayang, sebelum selesai vidcalnya, kiss dulu dong.” Pinta Saka dengan wajah sendu.
“Ini di kantor, Bby!” jawab Alana sekenanya. Alana malas meladeni permintaan Saka,
karena pasti nanti permintaannya tambah aneh aneh, dari buka satu kancing baju
Alana, trus kayak kemarin pas mau tidur minta Alana membuka baju, supaya Saka
bisa memandang tubuh atas Alana yang polos.
“Cuman kiss aja, sayanggggg!!” sergah Saka dengan suara tertahan.
“Emang kamu dimana sih , Bby?” tanya Alana keheranan.
“Aku masih di apartemen, kalau pas Yara terapi aku gak boleh disana kok. Paling sorean aku
kesana lagi.” Jelas Saka dengan raut wajah lelah.
“Masih belum baik kondisinya?” tanya Alana dengan raut wajah yang sama.
“Belum, kayaknya dia seperti putus harapan. Sebenarnya jujur aku sangat kangen sama
kamu, sayang…” jelas Saka sambil menyugar rambutnya dan mengacak acaknya dengan
frustasi.
“Bby, kamu harus jagain dia, jangan mikir yang engga engga. Mau aku temani? Jadi aku aja
yang berangkat kesana?” tanya Alana sedih melihat kondisi Yara yang semakin
parah. Alana tahu kalau penyakit seperti ini , menuntut mukjizat Tuhan. Manusia
hanya bisa berencana dan Tuhanlah menentukan.
“Ehm, sayang… apa kamu sudah datang bulan? “ tanya Saka dengan hati hati.
“Idihhh kamu kok nanyainnya gitu sih?” tanya Alana balik, sedikit gusar, maunya apa coba?
“Jangan marah dulu sayang… aku nanya begitu soalnya kalau kamu mau jenguk Yara
sedangkan ada calon anak kita di perut kamu, radiasinya sangat berbahaya buat
anak kita.” Jelas Saka dengan lembut.
“Ehmmm, harusnya aku sudah datang bulan, tapi ini emang belum, mungkin karerna cape
juga bisa, ya maju mundur juga sudah biasa, tapi biar kamu yakin aku besok
bakal testpack dulu. “ jawab Alana setelah mengetahui alasan Saka menanyakan
itu.
“Kamu test dulu. Kalau memang kamu hamil, kamu gak boleh jenguk Yara.” Jelas Saka.
“Tapi kalau jenguk kamu boleh gak?” tanya Alana dengan nada menggoda.
“Aku tanyain dokter dulu ya sayang. Yang pasti kamu test dulu aja. Aku belum bisa ninggalin
Yara, kamu gak marah kan?” tanya Saka dengan lembut.
“Ya… sudah resiko jadi wanita kedua… hufffttt!! “ jawab Alana sambil membuang muka.
“Kamu sudah makan sayang? Ini kan waktunya makan siang.” Kata Saka mengalihkan perhatian.
“Lagi gak kepingin makan, pingin makan yang seger seger saja sih, Bby! Nanti aja kusuruh
OB buat beliin bakso, aku malas keluar keluar.” Kata Alana menjelaskan, dia
agak capek setelah mengurus berkas dan menggantikan Saka untuk bertemu dengan
klien pagi tadi.
“Aneh banget! Biasanya kamu makannya banyak loh sayang, kamu juga agak kurusan.” Ujar
Saka sambil memperhatikan bentuk tubuh istrinya yang agak kurus sejak dia tidak
disampingnya.
“Mungkin aku sekarang kalau tanpamu aku tak bisa… ha ha ha .” goda Alana lagi.
“Ck ck ck , istriku sekarang bermulut manis. Siapa yang ngajarin ya?” tanya Saka dengan
raut wajah gemas, kalau seandainya Alana sedang ada disampingnya mungkin Alana
akan habis dimakannya, dia kepalang rindu.
“Kamu lah yang ngajarin aku ngegombal, ngerayu.”goda Alana.
“Sayang, I love you, I miss you, muach muach.” Kata Saka sambil menciumi ponselnya saking
gemas dengan tingkah istrinya.
“Miss you too, Bby! Sudah ya, nanti sore setelah kamu menjenguk Yara, kamu telpon lagi. Bye..”
“Byee sayang muach.” Jawab Saka sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Alana memang didera rindu dengan Saka. Ia juga tidak mengerti kenapa. Alana terbiasa
mandiri, mestinya sekalipun Saka meninggalkannya dalam waktu lama, Alana tidak akan ambil pusing. Apa karena sekarang posisinya adalah istri Saka sehingga dia
menjadi ketergantungan dengan Saka?
Alana juga khawatir dengan perubahan tubuhnya, dia mudah lelah, padahal menurutnya dia
tidak bekerja terlalu keras. Apa jangan jangan?? Pikir Alana dalam hati.
.
.
.
TBC