Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Dihina Habis-habisan
Ternyata perempuan itu adalah Amih Iah. Siang pukul 11:00 itu Amih Iah sengaja mendatangi rumah besan yang tidak dikehendakinya untuk minta pertanggungjawaban karena anak Mak Tiah, si tikus besar, sudah membawa kabur putrinya.
Amih Iah yakin ini semua terjadi karena ibunya Kosim, Mak Tiah atau Mak Sutiah, yang membujuk Kosim agar membawa kabur putrinya, Yani, ke rumah Mak Tiah.
Amih yakin pula Mak Tiah sangat berharap Yani tinggal di rumahnya untuk numpang makan dari menantunya yang anak orang kaya.
"Kerjaan orang miskin itu emang begitu, minta-minta sama orang kaya, dengan berbagai cara, termasuk menjodohkan anaknya walaupun tidak layak," benak Amih Iah begitu yakin.
Sementara itu, Mak Tiah yang sedang rebahan di kasur sehabis memasak di dapur dan mencuci pakaiannya terkejut mendengar namanya dipanggil-panggil oleh suara perempuan dengan suara mirip kaleng ditabuh ronda malam.
"Sutiah, Sutiah, keluar kaaaaaau.......!!!" teriakan itu terdengar lagi. Bahkan kini dibarengi dengan pukulan tangan menggedor-gedor pintu.
"Siapa tuh orang seumur hidup baru kali ini dipanggil dengan kasar," pikir Mak Tiah.
Tadinya dia ingin membiarkan orang itu marah-marah karena kalau dilayani pasti bakal menimbulkan masalah yang lebih besar.
Namun Mak Tiah berpikir pula jika terus dibiarkan sama juga bakal menimbulkan masalah yang lebih besar. Para tetangga bakal berdatangan, mujur kalau berdatangan untuk menolong, kalau sekadar menonton, sungguh tak lucu.
Mak Tiah pun lalu bangkit dari kasurnya, dan berjalan menuju pintu depan, lalu membuka pintu. Tampak Amih Iah berkacak pinggang, mata melotot, napasnya naik turun kayak habis dikejar serigala lapar.
"Waalaikumsalam, eh besan, mari masuk Bu Haji," ujar Mak Tiah dengan sopan pura-pura menjawab salam padahal Amih Iah tak mengatakan salam, dia datang "to the point" murka dengan wajah full dasamuka.
"Jangan pura-pura lemah-lembut. Emang aku tidak tahu kalau kamu lagi merayuku, minta dikasihani, minta diberi sumbangan sembako, minta dikasih duit, karena kamu janda tua yang hidup sengsara, dan senang punya anak berjodoh dengan anak orang kaya seperti aku. Iya kan? Iya kan, iya kan?" cerocos Amih Iah menghina Mak Tiah habis-habisan.
Amih Iah tak mengerem omongannya barang sedetik pun, benar-benar asal ceplos, asal orang yang diajak bicaranya sakit hatinya.
"Astagfirullah, Besan? Mari masuk, duduk dulu di kursi biar kursi jelek takkan apa-apa kok, ayo masuk, bicara di dalam, saya akan ke dapur ambil dulu minuman. Besan pasti capai tuh keringat bercucuran gitu sepertinya habis lari maraton....." ujar Mak Tiah.
"Gak usah, di sini lebih terhormat daripada masuk gubuk reyotmu. Lagian tak sudi disuguhi, paling cuma disuguhi air putih yang dimasak tidak matang. Kalau aku minum pasti sakit perut dan itu sengaja kau lakaukan biar aku sakit!" koar Amih Iah ber-suuzan, masih dengan napas naik turun, mata melotot tajam, keringat bercucuran, tangan berkacak pinggang penuh emosi.
Mendegar ribut-ribut di rumah Mak Tiah, Empok Ipah tetangga terdekat, Mak Tiah keluar rumah. Dia pura-pura tak tahu apa yang terjadi, padahal sejak amuk Amih Iah ronde pertama, dia sudah mengintip di balik tirai jendela rumahnya.
Mpok Ipah sadar pasi bakal terjadi 'perang Rusia - Ukraina' yang tak berimbang. Dia sudah tahu bagaimana hubungan Mak Tiah dan Amih Iah si orang kaya yang sombong bermulut ember rombeng itu.
Apa yang dikatakan Mpok Ipah telah disaksikannya barusan, bukan mengada-ada. Dia harus bertindak, kasihan Mak Tiah sudah tak bersuami, takkan ada yang menolong kalau terjadi apa-apa padanya.
Si Kosim, anaknya lebih memilih diam ikut dengan mertuanya guna menghargai permintaan Pak Haji Soleh yang memintanya tinggal di rumahnya. Dan Mak Tiah merelakannya sehingga dia menyendiri di rumahnya.
Mpok Ipah pun mendengar dari Mak Tiah bahwa putranya, Kosim, kerap teraniaya oleh ulah Amih Iah. Kosim hanya dijadikan pembantu oleh mertua perempuannya.
Tapi kenapa sekarang Amih Iah mencak-mencak kepada Mak Tiah, ada apa? Begitu pertanyaan yang mengusik hati Mpok Ipah.
Oleh karena itu, untuk mengetahui penyebab mengapa Amih Iah marah-marah dan juga untuk berjaga-jaga membantu Mak Tiah, Mpok Ipah turun dari rumahnya lalu mengambil sapu lidi dan mulai membersihkan halaman rumahnya yang telah bersih.
Ya, halaman rumah Mpok Ipah telah disapukan oleh bujangnya si Jojo tadi pagi.
"Ayolah Besanku masuk dulu, duduk di kursi baik-baik, kalau tak mau disuguhi air enggak apa-apa, tapi tolong bicara pelan-pelan, ada apa sebenarnya?" ujar Mak Tiah masih dengan nada suara lemah lembut.
"Sudah kubilang cukup di sini, sekarang ayo katakan di mana anakku kau sembunyikan?"
Deg!
Mak Tiah terkejut. Demikian pula Mpok Ipah yang pasang kuping kuat-kuat untuk mendengarkan ocehan Amih Iah karena jaraknya ada sekitar 10 meter.
"Anak yang mana?" tanya Mak Tiah.
"Anak yang mana? Anak yang kau pelet agar mau dinikahi anakmu si buruk rupa itu!" tak basa-basi atau sundar-sindir lagi Amih iah menyebut Kosim sebagai anak si buruk rupa yang berjodoh dengan Yani karena dipelet.
"Astagfirullah, mengapa Besan tanya aku? Kan selama ini tinggal di rumah Besan, kok tiba-tiba nanyai aku?" Mak Tiah terheran-heran.
"Jangan pura-pura tak tahu, ayo katakan di mana anakku. Aku hanya ingin membawa pulang anakku, silakan anakmu bersamamu dan segera ceraikan anakku karena akan ditikahkan dengan anak orang kaya, tidak dengan anakmu yang miskin!" ujar Amih Iah membuat luka hati Mak Tiah karena sudah disebut miskin, sudah disebut anaknya buruk rupa, dan sudah difitnah memelet.
"Jaga bicaramu Besan. Jangan bicara pakai emosi, tidak akan baik. Tunda dulu kebencian. Kalau ada masalah dengan anak kita ayo bicarakan baik-baik, biar diselesaikan dengan baik pula."
"Alaaaaah.....sok santun. Tak jauh sama 'si tikus besar'!" koar Amih Iah.
"Si tikus besar?"
"Iya, anakmu itu si tikus besar. Tak tahu malu, orang lagi ngomong
serius ada tamu agung calon menantuku dari anakku, eh malah dia ngintip di para rumah. Apa lagi yang suka hidup di para kalau bukan tikus, dan salah satuya tikus besar ya anakmu!" beber Amih Iah, omongannya makin melebar ke mana-mana.
Mak Tiah mulai berkaca-kaca. Hatinya sangat sakit bagaikan ditusuk belati tajam. Anaknya sudah disebut buruk rupa, kini disebut pula tikus besar, hewan yang sangat dimusuhi manusia.
"Ya Tuhan....sungguh anakku telah teraniaya, tolonglah ya Tuhan," jerit batin Mak Tiah.
"Kamu sakit hati kan anakmu disebut tikus besar? Aku lebih sakit hati lagi bermenantukan tikus besar. Makanya coba anakku suruh keluar, akan aku bawa pulang!"
"Ehm, ehem!"
Tiba-tiba Mpok Ipah berdehem. Mendengar ada yang mendehem, Amih Iah menoleh ke arah datangnya suara. Namun dia tak ambil pusing karena mungkin deheman tetangga Mak Tiah itu tak ada urusan dengannya, buktinya si pendehem fokus dengan sapu lidinya membersihkan sampah yang tak ada sepotong pun sampah di halaman rumahnya.
Padahal deheman Mpok Ipah itu sumpah ditujukan kepada Mak Tiah agar jangan takut, ada tetangga yang siap membantu kalau terjadi apa-apa.
Mak Tiah pun bisa menangkap sinyal positif itu, lalu dengan lantang menghadapi besan yang tak tahu diuntung telah bermenantukan putranya dari seorang ayah yang telah menolong suami sang besan itu dari ancaman kehilangan nyawa ketika terjadi musibah.
Mak Tiah lalu ingat kembali peristiwa dua puluh tahun lalu, ketika suaminya Pak Soma, ayahnya Kosim, anak tunggalnya, menolong Haji Soleh yang saat itu belum jadi haji di kebun miliknya.
Cerita Pak Soma kepada Mak Tiah, saat itu ia pulang dari sawah melewati jalan setapak yang tembus ke lokasi kebun. Pas menginjak jalan setepak di kebun milik Soleh, teman Pak Soma sejak masih kanak-kanak bahkan remaja karena memang satu kampung dan satu desa, Pak Soma mendengar erangan orang kesakitan.
(Bersambung)