NovelToon NovelToon
Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi

Status: tamat
Genre:Keluarga / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

"Hamili aku, please!"

Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya lalu melirik dan meneliti gadis di depannya dengan seksama.
"Badan kamu ngga se mok, terkesan kaya orang kampung, mana bau kembang 7 rupa! Mana gue nav su!" gidiknya acuh sama sekali tak tertarik, bahkan mantan-mantannya 3 kali lipat lebih sempurna darinya.

Sontak saja mata bulat itu membola, "kamu ngga tau saya siapa?! Saya R.Rr. Rashmi Sundari Kertawidjaja!" logatnya sundanese banget.
Alva malah meneguk air mineral dalam botol sampai tandas, lalu berdiri. Tingginya cukup membuat gadis itu mendongak kaya lagi liatin jerapah, "lo kayanya kurang minum, dehidrasi bikin lo halu."

"Tunggu! Rakyat jelata!" jeritnya meneriaki Alva yang sudah berlalu.

Warna-warni kisah kasih si princess Rashmi yang ternyata seorang keturunan menak bersama Alvaro si pemuda datar, cuek terhadap sekitarnya terkesan apatis, mencintai kehidupan dari sisi hitam.
Bagaimana lika-liku perjalanan cinta keduanya, ditengah aturan dan pemahaman aristok rat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BCR #21. HIDUP UNTUK MATI

Alva keluar dari kamar mandi membuat jawaban yang paling ditunggu Ganis urung diucapkan Asmi.

"Bu, Asmi ke kamar mandi dulu." Ia melangkah masuk ke kamar mandi di samping Alva yang baru saja keluar.

"Yahhh! Penonton kecewe! Bang Alva sih ngapain keluar, aturan mah lamaan aja di kamar mandinya, ngopi dulu kek, tidur dulu gitu!" omel ibunnya kembali membuat teh manis.

"Kenapa bun?"

"Engga. Tadi tukang tahu jajan cilok!" jawabnya ngasal. Asmi terkekeh di dalam kamar mandi mendengar obrolan Ganis dan Alva, baru 5 menit ia bertemu, namun Asmi sudah merasa akrab dengan ibunnya Alvaro ini.

Alva duduk di ruang makan yang langsung menyatu dengan dapur, rumah ini tak besar macam kediaman Cendana atau rumah Asmi, namun terasa hangat dengan peralatan yang tertata rapi seperti barang lama berkualitas baik juga terawat dengan baik.

Lelaki itu membuka tudung saji, dan mengambil piring, "temennya ajak makan." Ganis menahan tangan Alvaro, kebiasaan buruk Wira diturunkan semuanya pada Alvaro, selalu cuek pada manusia lain terutama, wanita.

"Tunggu dia keluar, terus ajak makan. Da ngga mungkin tidur di dalem kamar mandi, kan?"

Alva menghela nafasnya, dan menaruh kembali centong nasi, ia hanya mencomot perkedel lalu memakannya tanpa nasi.

Gadis itu keluar dari kamar mandi, dan merasa canggung dalam sorot mata Alva, "duduk neng....?"

"Rashmi bu, panggil aja Asmi..."

"Menak gila, bun. Panggil aja menak gila," ralat Alva. Seketika bibirnya mengerucut, "kamu yang gila!" omelnya menarik kursi meja makan dan duduk.

Ganis mengambil piring dan menaruhnya di atas meja, "ngga usah bu, Asmi ngga laper kok..." tolaknya, sementara Alva sudah menyendok nasi sejak tadi.

"Emang siapa yang nawarin?" tanya Ganis.

Alva menahan tawanya dengan mengu lum bibir. Asmi nyengir kuda lalu tertawa sumbang, malu setengah mamposss, wajahnya memerah bak kepiting kukus! Haruskah ia membongkar pondasi rumah Alvaro dan mengubur wajahnya dalam-dalam disana?

"Ibun ngga nawarin. Tapi maksa kamu," lanjut Ganis tersenyum, "panggil ibun aja, jangan ibu...sama kaya Alvaro, kaya Bagas, kaya mpapnya Alva, kaya temen-temen Alva yang lain."

"I..iya ibun," angguk Asmi.

Asmi menyendok nasi hanya sedikit kemudian mengambil lauk paling dekat dan menyendoknya dengan posisi tegak, tak ada kata yang keluar dari bibirnya selama makan seperti kebiasaannya di rumah, padahal Ganis sudah mengoceh bertanya-tanya pada Alvaro.

"Bagas belum balik?" tanya Alva.

"Belum. Paling nongkrong dulu!" gidiknya acuh. Kembali Asmi hanya menyimak obrolan ibu dan anak ini sambil menyuapkan kembali nasi di piringnya, ibun Alva cukup pintar memasak. Ia sampai tak tau malu, datang ke rumah orang baru dikenal udah minta makan!

Asmi melihat sisi lain dari Alvaro yang baru Asmi tau, jika berada di rumah Alva cukup intens berkata-kata terutama pada ibunnya, ia lelaki yang berbeda.

"Ibun boleh minta tolong sama abang Alva engga?!" tanya nya pada Alva seraya memasukan makanan ke dalam kotak makan.

"Apa? Anter makan buat mpap?" tanya Alva menembak.

Ganis mengangguk, "anterin makan lah buat pacar aku. Kasian belum makan, nanti jajannya malah cuanki !" bibirnya melengkung manja mirip Sasi jika sedang merajuk dan merengek.

Jika sekilas, wajah dan postur tubuh Ganis seperti adik dan kaka dengan Alva, entah ibunnya itu yang baby face atau memang awet muda saja.

Alvaro mengangguk kemudian ia menatap Asmi, "gue nganter makan siang buat kang Wira, kekasih gelapnya ibun...takut keburu jajan cuanki nanti asam lambungnya naik lagi, lo tunggu aja disini sebentar."

"Kekasih gelap, masa ke ayah sendiri kekasih gelap ih jahat!" tawa Asmi.

"Kekasih gelap neng, soalnya mpapnya Alva suka diem di tempat gelap mana pake baju gelap!" jawab Ganis membuat Asmi meledakan tawanya. Keluarga apa ini?! Terlihat seram tapi mereka ternyata, ya Allah!

Jika di tempat Ubay, Asmi tak mau ditinggal barang sedetik saja maka lain halnya disini, ia justru seperti enggan untuk pulang, bahkan saat tak ada Alvaro sekalipun.

Ganis bagai teman untuknya, padahal usianya jelas jauh lebih tua, seperti Elisa! Bukan---bukan, jelas Elisa tak bisa bernyanyi dan memainkan gitar.

"Kalo Asmi bisanya main rampak gendang, bun...sering bawa itu kalo ada acara kesenian di pendopo walikota sama bupati, atau tempat lain," Asmi duduk di samping Ganis di kursi teras.

"Oh ya? Bagus atuh! Jarang-jarang cewek jaman sekarang mau maenan gendang, palingan maenan tikotok sama maenin perasaan!" jawab Ganis menstel senar gitar.

"Ibun hebat ih bisa maen gitar, pasti diajarin ayahnya kang Alva?" tembak Asmi.

Ganis mengangguk, "diajarin pacar gelap!" jawabnya lantas memainkan satu buah lagu dan Asmi tak bisa untuk tak ikut bernyanyi hingga lagu berakhir, "mau belajar gitar?" tanya Ganis pada Asmi, gadis itu refleks saja mengangguk cepat kaya boneka dashboard, "mau bun, ibun mau ajarin aku?"

Ganis menggeleng, "jangan sama ibun. Nanti sama Alva aja ya," jawabnya.

Asmi mengerucutkan bibirnya, "kok sama kang Alva, mendingan sama ibun aja, ibun orangnya asik!" serunya.

"Alva galak ya Mi," tiba-tiba Ganis bersuara. Asmi menoleh mengerutkan dahi geli, dimana-mana ibu itu selalu memuji-muji anaknya, tapi ibun Ganis itu justru sebaliknya.

"Alva itu dingin," jedanya lagi, lalu menatap lurus seolah sedang melihat jauh menembus ruang dan waktu.

"Dia ngga banyak ngomong, terkesan jutek dan cuek, kalo natap orang bawaannya kaya mau nerkam?!" Ganis tertawa.

Asmi ingin sekali menjawab iya, namun ia takut Ganis marah.

Sadar akan wajah jelek Asmi yang meringis tak enak hati kaya nahan mules, Ganis tertawa renyah, "kalo jawab engga berarti kamu pembohong yang buruk!"

Asmi ikut tertawa, "ibun ih!"

"Iya sih, kang Alva itu dingin, datar, nyeremin, jutek, judes, mulutnya juga kalo ngomong pedes! Maaf ya bun," akuinya puas.

Ganis menarik senyumannya, "ngga apa-apa, emang kenyataannya gitu kok, persis kekasih gelap ibun...like father like son, udah ketemu sama kang Wira belum?" tanya Ganis, gadis itu menggeleng, "belum."

"Beuh, lebih jutek lagi!" jawabnya.

"Tapi biarin lah! Jadi cewek-cewek yang suka mundur duluan, kecuali cewek yang gatel sih!" jawabnya.

Mendadak Asmi melihat Ganis dengan sorot mata nyalang, "tapi kang Alva baik bun, belum pernah Asmi ketemu laki-laki sebaik kang Alva." ucapan itu lolos begitu saja dari mulut manis Asmi.

Ganis tersenyum sampai menyipit, "suka da pastinya sama anak ibun!" tembaknya.

Asmi menggeleng lembut seolah membenarkan ucapan Ganis, "tenang aja ngga akan ibun bocorin kalo Asmi suka Alva," jawabnya menaruh gitar.

"Keliatan banget Asmi suka ya bun?! Soalnya...." Asmi menatap ke arah bawah lantai seperti di bawah sana ada sesuatu yang menarik ketimbang mata Ganis, ia setengah melamun membayangkan jika sampai itu terjadi, maka hidupnya akan lebih sengsara lagi karena tau jika rasa itu harus ia kubur dalam-dalam dan meng-ikhlaskan hatinya mati rasa kembali, *karena Asmi hidup untuk mati*, hingga kembali Ganis buka suara,

"Iya, soalnya orangnya udah tau duluan! Tuh!" tunjuk Ganis tersenyum geli, sontak saja Asmi langsung membeliak terkejut, apakah kupingnya budeg? Sampai-sampai suara motor Alva saja tak terdengar? Sampai-sampai suara pagar besi yang di dorong saja senyap di telinganya.

.

.

.

.

.

1
ngakaakk
😭😭😭😭😭
udh brpa x baca part ini bikin nangisss😔😔😔
tunggu rakyat jelata
part bikin ngakak👏👏👏
😁😁
nesiew fatt
Kl sunda gaul masih ngerti klo sunda alus priyayi gini loading juga 🤭
Anonymous
/Good//Good//Good//Good//Good/
Erni Fitriana
asikkkkkk
Erni Fitriana
JLEBBBB YA GAS😁😁😁😁
Erni Fitriana
😘😘😘😘😘😘....teh sin...hbs ini tolong bikinin cerita keluarga kakaknya raden amar yah...plisssd🙏🙏🙏🙏
Erni Fitriana
28 november ultah akuuuuuu😊😊😊😊😊
Erni Fitriana
sashiiii🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣gesrek
Erni Fitriana
inalillahiwainaillaihi rojiuun...abah menghembuskan nafas hidupnya setelah menunaikan kejujuran leluhur😭😭😭😭
Erni Fitriana
jalele jayyyy😁😁😁😁😁
Erni Fitriana
Rahmi😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Erni Fitriana
oala keturunan agah tohhh...circle nyaaaaa menak....dan ternyata alvaro berdarah biru juga
Erni Fitriana
bulu kuduk kuhhhhh😖😖😖😖😖... percaya tidak percaya..kekuatan farah..kekuatan silsilah tidak bisa disembunyikan..abah eman bisa melihat itu didiri alvaro
Erni Fitriana
berasa aya sesuatu nyak bah ..abah bertatapan sama kang kuman😊
Erni Fitriana
jarrrr..Cintya menghilang elisa datanggggggg😆😆😆😆
Erni Fitriana
kang kuman👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾...teh sin,nuhun tos berbesae hati menterjemahkan suju sundanies..jasi berasa kita ijut KKN nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!