Berawal dari menyelamatkan pria tampan yang tidak sadarkan diri di depan rumahnya, Adifa malah terjerat dalam hubungan pernikahan dengan pria nakal karena sebuah kesalahpahaman warga kampung terhadapnya.
Ia dan pria asing itu terikat dalam ikatan suci. Namun, Adifa tidak menyangka jika pria yang menjadi suaminya adalah seorang pria nakal yang suka bermain wanita.
"Dasar pria nakal!" ~Adifa Rahma
"Aku menyukai setiap lekuk tubuh wanita yang indah!" ~Raja Shaga
Bagaimana kisah selanjutnya? Mampukah Adifa menjalani pernikahannya dengan seorang pria nakal yang suka main wanita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Raja menggerutu, entah siapa yang datang sepagi ini ke apartemennya. Pria itu, memutuskan untuk pergi melihat siapa yang telah lancang menekan bel disaat ia ingin berduaan dengan sang istri.
"Mas, pakai baju dulu." Adifa menarik tangan suaminya tanpa sadar.
Raja menyeringai ke arah istrinya, Adifa yang melihat senyuman nakal itu segera menghempaskan tangan sang suami dari genggamannya.
"Kenapa Dek? Kamu takut tubuh Mas dilihat orang lain ya?" Raja menggoda Adifa dengan menaik turunkan alisnya yang tebal.
"PD banget!" dengus gadis itu membuang pandangannya ke arah lain.
Tiba-tiba ide jail Raja muncul begitu saja saat melihat sang istri yang tidak berani menatap ke arah tubuhnya yang tidak mengenakan baju.
Tangan Raja manarik tangan istrinya, pria itu mengarahkan jari-jari lentik Adifa ke atas permukaan perutnya yang keras. Adifa mendelikkan mata, tapi Raja tidak menghiraukan tatapan tajam sang istri dan malah membawa tangan itu semakin turun.
Adifa keringat dingin dibuat oleh Raja, saat tangannya hampir dibawa masuk ke dalam tempat terlarang ....
Ting Tong! Ting Tong!
"Siαlαn! Orang sinting dari mana sih! Mengganggu saja!" Raja mengumpat dengan wajah kesal karena aktivitasnya terganggu oleh kedatangan tamu yang tak diundang.
"Mas lihat siapa yang datang, kamu tunggu di sini ya," ucap Raja lalu melenggang pergi.
Adifa yang penasaran siapa yang datang ke apartemen sepagi ini pun turut mengikuti langkah suaminya dari belakang. Raja mengintip dari sisi kecil di pintu apartemennya, dan terlihatlah sosok wanita dengan tampilan modis.
"Siapa orang yang dimaksud sinting tadi Mas?" tanya Adifa yang berada di belakang sang suami.
"Eh, dek Difa. I-ini ...."
Ting Tong!
Bel kembali berbunyi, kali ini durasi bunyinya semakin cepat. Terlihat sekali wanita itu adalah sosok yang tidak sabaran.
"Mas bunyi lagi tuh." Adifa memburu-burui sang suami.
Raja menghela napas kasar kasar, kenapa datang disaat yang tidak tepat?! Sebenarnya ia terlalu malas untuk menghadapi omelan dipagi hari. Tapi, apa boleh buat? Mau tak mau ia membukakan pintu.
Saat pintu terbuka, terlihatlah wanita dengan barang-barang branded yang menghiasi penampilannya. Sosok itu bersedekap dada dan memasang wajah tak bersahabat.
"Raja!" geram sosok wanita bersanggul sedang, dengan kalung berlian yang melingkar di leher.
"Mommy ngapai datang ke sini?" tanya Raja tanpa basa basi.
Utami, mommy Raja masuk begitu saja tanpa menjawab pertanyaan anaknya. Adifa yang melihat kedatangan sang mertua spontan bersembunyi di balik tubuh Raja yang tidak mengenakan baju.
Pria itu menyadari jika sang istri takut melihat kehadiran mommy-nya yang datang tak diundang, pulang tidak diantar. Mommy Utami berjalan dengan angkuh, dagu wanita paruh baya itu terangkat ke atas dengan tangan bersedekap dada.
"Mommy ingin bicara denganmu tanpa dia!" Mommy Utami menunjuk Adifa yang tengah mengintip dari balik punggung Raja.
Spontan Adifa tersentak saat mata sang mertua mendelik tajam bak demit yang menakutkan.
"No! Jika ingin bicara, istriku harus ikut," jawab Raja dengan santai.
Tangan mommy Utami mengepal kuat, wajahnya terasa kaku. Namun, secepat kilat ia merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum.
"Oke, terserah saja." Wanita paruh baya itu melangkah ke arah sofa yang berada di ruang tamu tanpa dipersilahkan. Raja dan Adifa menyusul mommy Utami yang tengah memainkan kuku lentiknya.
"Apa yang membuat mommy datang ke sini? Jika Mommy masih memaksaku untuk tinggal di rumah itu, jawabannya masih sama. Aku tidak mau!" Wajah Raja berubah serius dan tegas.
Adifa yang sedari tadi duduk dengan kepala tertunduk, kini gadis itu mengangkat kepalanya. Ia melihat raut muka sang suami yang berbeda saat sedang berdua bersamanya.
"Kedatangan Mommy bukan untuk itu. Mommy hanya ingin kamu ceraikan perempuan miskin yang ada di sampingmu, Mommy sudah punya calon istri yang cocok dan setara dengan kita, Sayang." Mommy Utami mengutarakan hal yang tak lagi dapat ditahannya saat tahu putra sematawayangnya menikahi perempuan biasa.
Wajah Raja berubah marah, rahangnya mengeras, giginya saling beradu kekuatan. Ia membawa tangan Adifa kedalam kepal tangannya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan istriku!" Raja menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
Mata pria itu menyiratkan kemarahan yang besar, ia tidak mengeluarkan emosinya karena sosok yang duduk di hadapannya adalah seseorang yang telah melahirkannya ke dunia.
"Hei perempuan licik! Pasti kau yang menghasut putraku kan! Berapa uang yang kau butuhkan ha?! 100 juta? 200? 500? Katakan!" Mommy Utama berteriak dengan suara lantang ke arah Adifa yang beringsut takut.
"M-maaf, Buk. Saya tidak butuh uang yang ibu maksud," sahut Adifa dengan kepala tertunduk.
"Dasar perempuan miskin, pasti kau yang menjebak anakku kan! Tinggalkan putra—"
"STOP, MOM!" bentak Raja yang tersulut emosi.
Mommy Utami dan juga Adifa tersentak kaget mendengar suara Raja yang menggema.
"Kenapa kau membentak Mommy, Raja?! Ini pasti ulah perempuan ular ini kan!" Mommy Utami menunjuk ke arah Adifa.
"Dia istriku, dan sampai kapan pun aku tidak akan menceraikannya, Mom! Apa aku kurang jelas mengatakannya? Lagi pula aku sudah meniduri istriku berkali-kali dan mungkin saja cucumu telah hadir di sini." Raja mengusap perut rata Adifa dengan lembut.
Mommy Utami tidak dapat berkata-kata, sementara Adifa diam membeku saat tangan Raja naik turun dengan perlahan di atas perutnya.
"Kedatangan mommy membuat kegiatanku terganggu, harusnya aku dan istriku sedang memadu kasih di atas ranjang—"
"Kau keterlaluan Raja! Mommy akan memisahkanmu dari perempuan ular ini, lihat saja!" Wanita paruh baya itu berdiri dari duduknya.
Raja tanpa beban ikut berjalan untuk membukakan pintu, ia mempersilahkan Mommy-nya keluar tanpa memperdulikan tatapan tajam dari sang mommy.
"Hati-hati di jalan, Mom. Sampaikan salamku pada daddy," ucap Raja melambaikan tangan pada mommy-nya.
Wanita paruh baya itu semakin geram akan tingkah putranya, daripada semakin naik darah, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan sang putra yang keras kepala.
Raja menutup pintu apartemennya, ia kembali melangkah ke ruang tamu, tempat dimana istrinta tengah duduk terdiam.
"Mas ...."
Pria itu turut duduk di sebelah sang istri, ia mengamit tangan Adifa yang terasa dingin ke dalam genggaman tangannya. "Ya, Dek?" tanya Raja dengan suara yang lembut.
"Apa yang dikatakan ibu Mas benar, sebaiknya Mas ceraikan saja—"
Sontak Raja berdiri dengan wajah berubah datar, tangan Adifa terlepas dari genggaman pria itu.
"Tapi, Mas. Lebih baik kita pisa—"
"Kau juga dengar apa yang kukatakan tadikan?" ucap Raja dengan suara menggeram marah, ia berbicara tanpa menatap wajah Adifa.
Raja merasakan panas pada hatinya saat Adifa tanpa beban mengucapkan kalimat yang sama.
"Mas," panggil Adifa saat Raja melenggang pergi masuk ke dalam kamar.
Gadis itu mengikuti langkah suaminya, ia memperhatkan Raja yang memakai kaus lengan pendek berwarna hitam. Adifa menggeser tubuhnya saat Raja keluar begitu saja dari kamar dan menganggapnya seperti bayangan yang tak terlihat.
"Mas mau kemana?" tanya Adifa saat Raja membawa kunci kendaraan beroda duanya.
Tak ada sahutan sama sekali dari pria yang tengah dilanda amarah. Ia meninggalkan kartu akses apartemen dan sejumlah uang di atas meja yang tidak jauh darinya.
Adifa hanya mampu menatap punggung tegap itu sampai akhirnya pintu tertutup dan suaminya tak lagi terlihat.
`
`
`
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Babang Raja kalau marah serem banget🙈 jantung othor sampai ngedisko ajep-ajep.