Diana harus menerima kenyataan pahit, kalau suami yang dia nikahi selama dua tahun ini sebenarnya telah menyembunyikan banyak rahasia darinya.
Di depan Diana, Rafli bersikap seolah dia suami yang baik dan setia. Tapi di belakang Rafli itu tukang selingkuh dan suka berjudi.
Hingga suatu ketika, Rafli kalah judi dan menjadikan Diana sebagai pelunas hutangnya. Diana di serahkan pada seorang pengusaha yang bersedia membayar hutang judinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Satu bulan berlalu, meski saat ini dirinya merasa sudah dekat dengan suaminya. Tapi tetap saja Sintya merasa sama saja seperti saat dirinya tinggal di luar kota. Andre memang akan pulang sekitar jam 04.00 atau jam 05.00 pagi. Tapi tetap saja, Sintya tidak mendapatkan apa yang dia inginkan setelah susah payah membujuk sang ayah agar mau merelakannya tinggal di luar kota bersama Andre.
Setelah pulang, Andre pasti akan langsung tidur. Bangun pasti lebih dari jam 09.00 pagi. Mereka bahkan tidak pernah sarapan bersama meskipun mereka tinggal di dalam satu apartemen yang sama. Mereka hanya bisa makan siang bersama, jam 05.00 sore ante juga sudah harus pergi dari apartemen.
Sama saja seperti saat Sintya tinggal di luar kota. Dia tetap tidak mendapatkan perhatian penuh dari suaminya itu.
Sore ini, ketika Andre akan pergi ke kasino. Sintya pun mendekatinya dengan cepat dia meraih tengkuk suaminya dan menciumnya sangat lama.
"Ada apa?" tanya Andre dengan lembut.
"Aku ikut ke kasino ya?" tanya Sintya.
"Untuk apa, kamu tidak akan suka di sana. Lagipula, di sana juga ada klub malam. Dan isinya itu pria hidung belang semua. Kalau mereka melihat wanita secantik dirimu. Mereka pasti akan mengincar mu. Aku tidak mau kalau sampai aku lengah, mereka menyentuhmu. Mereka sangat liaar!" kata Andre.
Mulut pria itu begitu manis, sampai Sintya tak bisa berkata-kata lagi untuk memprotes keputusan suaminya itu. Akhirnya Sintya memilih mengikuti perkataan Andre dan diam di rumah.
Andre pergi dengan tenang ke kafe. Tapi karena Sintya masih sangat penasaran, sudah berkembang seperti apa kasino milik suaminya itu. Dia pun ingin pergi melihatnya.
"Aku sangat penasaran, aku akan pergi untuk melihatnya dari luar saja. Tidak perlu masuk ke dalam!" kata Sintya yang selanjutnya berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi sendiri ke kasino tersebut.
Sintya pergi setelah satu jam suaminya meninggalkan apartemen. Begitu sampai di depan tempat usaha suaminya, Sintya tersenyum bangga. Ternyata memang mobil suaminya ada di sana dan juga tempat itu sangat ramai.
Mobil mewah silih berganti keluar dan masuk daerah itu. Sintya sangat senang. Dia pikir, karena sudah terlanjur keluar dari apartemen dia akan berjalan-jalan sebentar. Tapi baru akan menyalakan mesin mobil, dia melihat Andre keluar dari kasino dan masuk ke dalam mobil.
Sintya cukup terkejut, tapi entah kenapa dia malah menjadi penasaran ke mana suaminya itu akan. Sintya menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti mobil Andre.
Sintya berusaha untuk tetap menjaga jarak dengan mobil suaminya, tapi semakin lama, Sintya menjadi heran. Karena arahnya sama ke arah apartemen. Tadinya Sintya pikir Andre akan pulang. Sintya sudah merasa sangat senang.
Tapi kesenangannya itu tidak berlangsung lama karena dia melihat mobil yang di tumpangi oleh suaminya berbelok ke arah kiri. Itu adalah arah sebuah perumahan, yang kemarin sempat Sintya ingin bahas dengan Andre untuk bisa membeli salah satu unit rumah di perumahan tersebut.
Dan mobil itu terlihat masuk ke sebuah pagar. Sintya menepikan mobilnya karena memang pagar itu langsung tertutup.
Sintya masih penasaran, hingga wanita itu pun turun dari dalam mobilnya kemudian mengintip di salah satu celah dari pagar besi yang tertutup itu.
Matanya melebar, cenderung melotot. Melihat suaminya sedang memeluk seorang wanita yang baru keluar dari rumah tersebut.
Sintya yang kesal lantas menggedor pintu gerbang yang terbuat dari baja itu.
"Mas Andre, buka!" pekik Sintya.
Dan Andre yang mendengar suara Sintya pun lantas menarik tangannya dari pinggang Diana.
"Ada apa? itu siapa?" tanya Diana.
Andre panik, anak buahnya yang mendengar suara Sintya juga langsung membuka gerbang. Melihat Sintya berjalan mendekati Andre. Andre sempat panik. Masalahnya, kalau Sintya tahu bahwa Diana adalah istri siri Andre. Nyawa Diana tidak akan selamat. Bahkan juga semua keluarganya Diana pasti akan di habisi oleh Bernando.
Apalagi sekarang, dengan kekuatan yang dimiliki oleh Andre. Belum bisa sama sekali menandingi separuh dari kekuatan dan kekuasaan Bernando.
Tidak ingin wanita yang di cintainya celaka. Andre pun terpaksa menyakiti Diana.
Andre mendorong Diana hingga jatuh.
"Dasar jalaaang! kamu pikir kamu bisa merayuku. Pergi kamu dari sini, kamu dan mantan suamimu sama-sama tidak berguna!" seru Andre terkesan sangat membenci Diana.
Sintya lantas menarik tangan Andre.
"Siapa dia mas? kenapa dia memelukmu?" tanya Sintya kesal melihat Diana.
Diana yang matanya berkaca-kaca tak bisa berkata-kata. Dia sungguh terkejut dengan sikap Andre.
"Perempuan hina ini, dia di jual suaminya yang kalah judi. Aku sudah menyita rumah ini, aku mau minta kuncinya sama dia. Dia malah merayuku, sialllan!" kata Andre yang lantas mengusap-usap jas nya yang tadi di peluk oleh Diana.
Hancur sudah hati Diana, Diana hanya bisa menangis.
Sintya yang geram mendengar apa yang dikatakan suaminya lantas menendang kaki Diana.
"Dasar tidak tahu malu, memangnya suamiku butuh wanita seperti mu. Suami macam apa suami mu itu yang menjadikan istrinya pelumas hutang karena kalah judi. Serahkan kunci rumahnya pada suamiku, dan entah kamu dari sini! Cepat pergi!" teriak Sintya.
Hati Diana hancur berkeping-keping, setelah di sakiti oleh Rafli. Andre yang dia pikir datang membantunya ternyata malah bersikap begitu kejam padanya. Pria itu bahkan menipunya mentah-mentah. Pantas saja sudah satu bulan lebih menikah, saat Diana ingin lihat buku nikah mereka. Andre tidak pernah memberikannya.
Diana baru sadar kalau dirinya hanya di nikahi siri oleh Andre. Lengkap sudah penderitaan Diana.
"Pergi! Kalian kenapa diam saja, cepat seret wanita itu keluar dari rumah ini. Rumah ini akan menjadi milikku mulai saat ini!" kata Sintya.
Zul dan Dul lantas melirik ke arah Andre. Ketika Andre mengangguk. Baru Zul dan Dul menarik lengan Diana yang tak juga berkata apapun dan hanya terus menangis.
'Maafkan aku Diana, aku terpaksa melakukan ini!' kata Andre.
Begitu sampai di luar gerbang, Zul mendapatkan pesan dari Andre.
"Nyonya Diana, maaf. Tapi ini perintah tuan. Nyonya tunggu di pertigaan itu, kami akan keluarkan barang-barang nyonya dan mengantar nyonya Diana ke kampung, Setelah itu nyonya dan seluruh keluarga nyonya harus pergi sejauh-jauhnya. Jangan sampai bertemu tuan dan nyonya Sintya!" kata Zul.
Diana tak menjawab atau memberikan respon apapun. Dia hanya terus berjalan sampai pertigaan karena kalau pergi sekarang, dia juga tak punya apapun, dia tak tahu mau kemana.
Sintya baru akan masuk rumah saat Andre melarangnya.
"Aku mau masuk, ini kan sudah jadi rumah kita!" kata Sintya.
"Iya sayang, tapi barang-barangnya kan masih punya wanita itu suaminya. Biar anak buahku kosongkan dulu rumah ini. Batu besok kita pindah kesini. Sekarang kita pulang, aku akan ikut mobilmu!" kata Andre yang lantas di angguki oleh Sintya.
***
Bersambung...
terimakasih author
👍👍👍👍