NovelToon NovelToon
Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Angst / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:101.3k
Nilai: 5
Nama Author: tompealla kriweall

"Hahaha… kamu memang tidak tahu apa-apa. Tidak heran kalau anak saya tidak senang denganmu nanti. Kamu tidak bisa memenuhi standar yang keluarga kami inginkan. Hhh!"

Nur Berliana Putri menggenggam tangannya sendiri, meremasnya karena merasa gugup. Tapi Kenzie segera menghentikan kegugupannya, dengan mengambil tangan tersebut.

Wajah Berliana mendongak ke arah suaminya, dan dia melihat bagaimana Kenzie tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Memberikan tanda, bahwa tidak usah menjawab atau menanggapi perkataan mamanya.

"Aku tidak pernah berharap memiliki menantu yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan seperti kami ini. Awas saja jika kamu membuat malu keluarga!"


***

Up hanya di Noveltoon untuk lomba menulis Novel wanita dengan tema air mata pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Kesabaran

Tut tut tut

Tut tut tut

"Hahhh!"

Juwita menghubungi Kenzie berkali-kali, tapi Kenzie tidak bisa menerima panggilan telepon dari mamanya yang masih berada di rumah sakit akibat kecelakaan.

Juwita yang sedang mencoba menghubungi Kenzie, merasa kesal karena merasa diabaikan oleh anaknya sendiri. Hal ini membuat Juwita semakin khawatir dan ingin mengetahui kabar anaknya, karena dia berpikir bahwa Kenzie telah melupakannya dan lebih mengutamakan isterinya.

"Ke mana sih dia? apakah aku sudah tidak penting lagi untuknya?!" Juwita mengerutu dengan ponselnya yang masih melakukan panggilan, meskipun sedari tadi Kenzie tidak menerimanya.

Juwita yang sedang khawatir karena tidak bisa menghubungi anaknya, Kenzie, merasa semakin kesal karena panggilan teleponnya tidak diangkat oleh Kenzie. Dia merasa bahwa anaknya itu tidak memperhatikan dan peduli lagi padanya, sehingga Kenzie tidak lagi mengkhawatirkan keadaan dirinya. Juwita merasa tidak dihargai lagi sejak Kenzie memiliki istri, yaitu Berliana.

"Apa dia sengaja mengabaikan aku?" tanya Juwita dengan kesal.

Juwita hanya bisa marah-marah karena rasa frustasi yang dialaminya. Dia menyalahkan Kenzie atas ketidakpedulian dan kurangnya tanggung jawabnya sebagai anak. Juwita terus memanggil Kenzie dan menunjukkan sikap yang sangat emosional dan marah.

Tut tut tut

Tut tut tut

Panggilan telepon terus menerus dilakukan Juwita, agar kekesalan hatinya tersalurkan.

"Cepat angkat Kenzie! Atau kamu akan menyesal telah mengabaikan mama!"

Akhirnya Juwita menyepam panggilan telepon untuk Kenzie, dengan mengirimkan pesan agar anaknya itu membaca pesan tersebut.

***

Di tempat lain, di apartemen yang ditinggali Kenzie bersama Berliana, istrinya. Kenzie sengaja tidak menerima panggilan telepon dari mamanya, karena sedang menenangkan istrinya, Berliana, yang masih merasa sedih karena perlakuan Juwita yang keterlaluan.

Di sisi lain, Berliana juga merasa tidak nyaman dengan panggilan telepon yang berkali-kali dari Juwita sehingga meminta pada Kenzie untuk menerima panggilan tersebut agar Juwita bisa mengetahui kabarnya dan tidak marah-marah lagi.

"Mas, mama..."

"Sayang, mama terus mencoba menghubungi aku berkali-kali tapi aku tidak bisa menerima panggilannya. Aku tidak ingin dia semakin jengkel." Kenzie memotong kalimat Berliana yang belum selesai.

"Sa-ya mengerti, Mas. Ta-pi sa-ya juga merasa tidak nyaman dengan panggilan telepon yang terus-menerus. Mama bisa semakin marah. Kamu bisa menerima panggilannya sebentar saja dan memberitahu pada mama bahwa kamu baik-baik saja, mas."

Kenzie menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan-lahan, kemudian menganggukan kepalanya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.

"Baiklah, aku akan menerima panggilannya sebentar saja untuk memberitahu dia bahwa aku baik-baik saja. Tapi setelah itu aku akan memberitahunya bahwa aku tidak bisa terus menerima panggilannya karena kamu masih perlu dukungan dan perhatianku di sini."

Berliana mengelengkan kepalanya tidak setuju. "Terima kasih, Mas. Saya sangat menghargai itu. Tapi mama juga sedang membutuhkanmu."

Mendengar perkataan istrinya yang memang benar adanya, Kenzie akhirnya mengalah dan menerima panggilan telepon tersebut, setelah membaca pesan yang dikirim mamanya.

Pesan yang bernada ancaman.

..."Ya Ma, ada apa?" ...

..."Ada apa, ada apa! Kamu kenapa tidak menerima panggilan telepon mama sedari tadi, hah?!" ...

..."Mama telepon hanya untuk marah? Jika iya, Kenzie matikan saja." ...

..."Eh, tunggu!" ...

..."Cepat ke rumah sakit! Calista baru saja pulang dari Australia dan butuh istirahat. Dia tidak bisa menunggui Mama. Masa iya, Mama harus sendirian?" ...

..."Hemmm, tapi..." ...

..."Pokoknya ke sini!" ...

Klik

"Huhfff... mama minta kita ke rumah sakit."

Berliana tersenyum canggung saat mendengar perkataan suaminya selesai menerima panggilan telepon dari mamanya.

"Tidak apa-apa, Mas. Pergilah."

Tapi Kenzie mengelengkan kepalanya beberapa kali, di saat mendengar suara Berliana yang lirih dan hampir saja tidak terdengar jika posisinya tidak berada di dekat istrinya duduk.

"Kamu ikut."

Berliana akhirnya ikut pergi ke rumah sakit bersama dengan Kenzie untuk menemaninya malam ini, apalagi besok pagi mama mertunya itu juga sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Sayangnya, Juwita justru selalu menyindirnya sebagai istri yang mengendalikan Kenzie sehingga Kenzie tidak lagi patuh pada Juwita, karena Juwita merasa seharusnya dialah yang lebih berarti bagi Kenzie, karena Kenzie adalah anaknya.

Sebenarnya Juwita hanya merasa cemburu dengan perhatian yang diberikan Kenzie kepada Berliana sebagai menantunya. Di sisi lain, Berliana sebagai menantu merasa tidak nyaman dengan perlakuan Juwita yang keterlaluan.

"Assalamualaikum, Ma."

"Assalamualaikum... Mama apa kabarnya?"

Juwita melengos, membuang mukanya saat Kenzie ternyata datang bersama dengan Berliana. Dia tidak menyukai menantunya itu dalam keadaan apapun.

"Kenzie, kenapa kamu tidak mengangkat telepon mama? Apa kamu sudah lupa siapa yang melahirkanmu dan membesarkan mu?" Juwita langsung mengungkit-ungkit kejadian yang sudah berlalu.

"Berliana, saya tidak suka dengan sikapmu yang terlalu mempengaruhi Kenzie. Kenzie adalah anakku, bukan hanya suamimu saja!"

Kenzie belum sempat menjawab pertanyaan dari mamanya yang tadi, tapi Juwita sudah berkata dengan ketus pada istrinya. Ini membuat Kenzie merasa bersalah pada Berliana, sebab dia juga yang meminta pada Berliana agar ikut datang ke rumah sakit.

"Kamu selalu saja membatasi waktu dan ruang gerak Kenzie untuk menghabiskan waktu bersamaku. Aku merasa kamu sedang mencuri anakku dariku! Aku tidak terima!""

Perkataan Juwita yang seperti ini sangat menyakitkan dan memperburuk situasi yang ada, karena konflik ini sebenarnya bukan hal yang aneh atau jarang terjadi. Konflik dalam hubungan antara ibu dan menantu sangat umum terjadi dan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti yang terjadi pada Berliana dan Juwita.

"Maaf, Ma."

Hanya permintaan maaf yang diucapkan oleh Berliana, dengan kepala menunduk. Dia tidak mau membela diri dari tuduhan mama mertuanya, karena itu percuma saja.

"Katanya mau pergi ke pondok pesantren, kenapa tidak jadi? Gak punya ongkos, atau nunguin Kenzie yang harus mengantar?"

Kenzie mengelengkan kepalanya beberapa kali mendengar dan melihat bagaimana mamanya yang sedari tadi bicara dengan nada curiga, kesal dan jengkel tidak tentu.

"Ma, kamu datang bukan untuk memancing kemarahan atau apapun. Dan lagian ya Ma, Mama kemarin sudah meminta maaf pada Berliana. Kenapa sekarang marah-marah lagi?" tanya Kenzie mempertanyakan mengapa mamanya bisa berubah dalam waktu dekat.

Tapi Juwita hanya mencibir dengan membuang mukanya, menghindari tatapan Kenzie yang sedang menyelidik.

"Ma, Kenzie tanya sama Mama. Apa yang membuat Mama tidak bisa menerima Berliana sebagai istri dari Kenzie?" Kenzie bertanya dengan nada yang serius.

Juwita yang sudah hafal dengan gerakan-gerakan atau sikap Kenzie yang dalam keadaan marah, terlihat takut dan tegang. Dia tidak menyangka jika Kenzie akan semarah ini hanya karena dia memarahi Berliana.

Biasanya Kenzie hanya mengeleng saja tanpa memberikan pertanyaan yang terkesan kejam baginya. Juwita tidak terima dengan perlakuan Kenzie.

"Kamu berubah, Kenzie. Dan itu karena dia!"

Jari telunjuk Juwita mengarah pada Berliana.

1
Atik Bunga
thor jodohkan berliana dg dilan saja bagaimana
Atik Bunga
kok alice bukannya adiknya kenzie itu calista ya
Atik Bunga
kenzie mengambil keputusan yg tepat mengajak berliana keluar dari rumah itu
Atik Bunga
sabar berlian suatu saat mertuamu oasti sadar aku dulu jg mengalami hal sama seperti dirimu malah lebih kejam trus mertuaku mulai sakit2an yg dicari malah menantu yg dibeci ini trus baik sama menantu yg tdk dihargai keberadaannya ini
kuta senasib berlian
Ummy Ima
lembek banget to mbak ber
Andriyani Al Ibtisam
best
Aerik_chan
Lah kematian nggak ada yang tahu...
Aerik_chan
jadi keinget kecelakaan yang di luar negeri yang mobil tesla....orangnya dah meninggal mobilnya masih jalan
Aerik_chan
good
Aerik_chan
nah loh
by your side..
Aerik_chan
Semangat kak thor...
by your side, hadir
Aerik_chan
Semangat kak...maaf baru mampir lagi

yuk saling dukung, By Your Side
Aerik_chan
Kalau berubah jadi baik nggak apa-apa kan ya...

Yuk saling dukung, *By Side You
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
mama Al
keren Thor
mama Al
lah kenapa ngga nikah sama anakmu, bu.
mama Al
Kenzie juga tidak bisa menengahi antara ibu dan istrinya
mama Al
ibu mertua perlu di geprek nih
mama Al
bagus nih ceritanya

salam dari kekasihku menantuku
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!