NovelToon NovelToon
Menggenggam Mentari

Menggenggam Mentari

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Sebuah kabar mengejutkan hadir menghampiri hari bahagia Mentari kala itu.

Bintang yang merupakan calon suaminya, mengalami kecelakaan disaat mereka akan meresmikan hubungan mereka menuju halal.

Mentari pun menangis dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.

dan...

Mentari kembali terkejut, sebuah permintaan terakhir terucap dari mulut Bintang. Memintnya untuk menikah dengan pria lain, bukan dengan dirinya.

Langit nama pria itu, yang sesungguhnya juga mencintai Mentari dalam diam.

"Nikahilah Mentari, jadikan dia istrimu." pinta Bintang.

Apakah Langit mampu membuat Mentari bahagia, menghapus kesedihan yang begitu menumpuk.

"Izinkan aku untuk Menggenggam mu Mentari." ucap Langit di saat hari pernikahan mereka.

Yuk.. kepoin Ceritanya, jangan lupa dukungan terbaiknya😚🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur Bersama

🌿Selamat membaca.

🌿Semoga suka dan terus ikuti kisahnya.

🌿Like dan komen baiknya selalu dinanti 🤗.

...----------------...

"Apa yang harus ku lakukan?" Tanya Mentari sendiri sambil menatap Langit yang sudah terbaring di ranjang.

Mentari mendekat ke arah Langit kemudian. Ia menatap wajahnya dengan ke dua mata Langit yang terpejam.

"Mas.." panggil Mentari mencoba membangunkan Langit saat itu.

Langit masih terus memejamkan matanya, dan terdengar suara Langit kemudian, mengucapkan satu kata yang membuat Mentari terdiam sesaat.

"Maaf.." ucapnya.

"Kenapa minta maaf." bisik Mentari masih terus menatap wajah Langit.

"Maafkan aku Tari.. Maaf.." ucap Langit kembali dan kini, Langit menangis.

"Mas.." panggil Mentari akhirnya, dan perlahan Mentari mengusap air mata Langit.

Entah apa yang ada dipikiran Langit saat ini, ia berulang kali mengucap maaf dan memanggil nama Mentari.

"Aku masih belum bisa membahagiakan mu. Maaf.." ucap Langit lagi dan terjawab sudah arti dari kata maaf yang terucap sejak tadi.

"Cukup Mas, cukup..." pinta Mentari menggelengkan kepalanya.

Dalam tidurnya, Mentari selalu hadir. Rasa bersalah timbul di hati Mentari. Langit terdiam sesaat. Namun beberapa menit kemudian, rasa mual dirasakan Langit tanpa permisi, ia tiba-tiba saja terbangun.

"Mas.. Kau kenapa?" tanya Mentari yang tiba-tiba wajah Langit tampak pucat terlihat.

"Aku.. Aku.. ingin..." ucap Langit dan tak menyelesaikan ucapannya. Ia berlari tergesa menuju kamar mandi. Langit muntah kemudian.

Mentari ikut berlari akhirnya, melangkah mendekati Langit. Ia merasa khawatir dengan kondisi Langit saat ini.

"Kau baik-baik saja sekarang..?" tanya Mentari dengan salah satu tangan sibuk mengambil tisu dan membantu Langit membersihkan wajahnya.

Langit terdiam, ia terkejut sekali dengan apa yang dilakukan Mentari saat ini.

"Aku pasti sedang bermimpi.." bisik Langit kemudian dan memegang kepalanya, rasa sakit tiba-tiba hadir begitu saja.

"Mas.. kau baik-baik saja?"

"Kepalaku rasanya berat sekali." ucap Langit menjelaskan. Lalu ia melangkah kembali menuju ranjang.

"Mas.. kau bersih-bersih dulu sebelum tidur. pakaian mu basah." protes Tari kemudian.

"Kepalaku pusing, biarkan aku berbaring sebentar." Pinta Langit dan dalam sekejap tubuhnya sudah berbaring di atas ranjang kembali.

"Mas.." panggil Mentari lagi menghampiri Langit dan duduk tepat di samping tubuhnya.

Langit sudah memejamkan matanya kembali, wajahnya tampak begitu lelah, dengan pakaian yang begitu berantakan.

"Jarang sekali aku melihat Mas Langit seperti ini." gumam Mentari kemudian.

Semenit kemudian, Langit kembali bersuara. Ia mengigau kembali. Lagi-lagi Mentari yang ia sebut namanya.

"Mentari..Aku mencintaimu.." ucapnya dan membuat mulut Menteri terkunci. Ia tak tahu harus berkata apa saat itu.

"Aku tahu itu mas, aku tahu.." ucap Tari dan Langit tersenyum tiba-tiba.

Dan akhirnya, Mentari putuskan untuk membantu Langit membersihkan diri. Tak mungkin Langit akan bangun nanti, dia sudah terlihat lelah sekali. Dan saat ini sudah lebih dari kata sebentar. Ini sudah berlalu berpuluh menit. Langit tetap tertidur, dan tampak nyenyak.

Mentari memutuskan untuk mengambil handuk basah terlebih dahulu dan mengusap wajah Langit perlahan. Membersihkan seluruh permukaan wajah Langit saat itu. Mentari kembali terdiam.

"Kau tampan sekali, Mas.." ucap Mentari dan ia terkejut sendiri. "Tidak..tidak, aku salah bicara." koreksinya cepat.

Ia melanjutkan kembali, setelah membersihkan wajah Langit, selanjutnya adalah membersihkan lehernya, dan..

"Apakah aku harus membuka kancing kemejanya.." tanya Tari sendiri. "Tapi kemejanya basah, Mas Langit bisa masuk angin nanti, kalau tidak segera diganti." ucapnya sendiri memberi alasan. "Ya, kurasa tak masalah, Mas Langit pasti juga mengerti maksudku membuka kemejanya." ucap Tari lagi menyakinkan dirinya sendiri.

dan.. Satu persatu Mentari mencoba membuka kancing-kancing yang ada dihadapannya. Akhirnya terbuka, dada Langit terlihat jelas di hadapannya saat ini. Mentari terdiam menelan salivanya.

"Apa yang terjadi, aku hanya membuka kancing kemejanya saja. Kenapa jantungku kencang sekali berdetak.," protesnya pada diri sendiri.

"Fokus Tari.. Fokus.." gumamnya kemudian.

Dengan menarik napas panjang, Mentari melanjutkan aksinya. Membersihkan tubuh Langit dan mencoba mengganti kemeja miliknya.

"Susah sekali membukanya.. " protes Tari lagi. Namun ia tetap berusaha dan akhirnya Tari berhasil. Namun ia bingung kembali. "Bagaimana caranya ia harus memakaikan Langit pakaian?"

"Ya.. ampun Mas, jangan lagi-lagi kamu begini." keluhnya dengan otak yang berputar memikirkan cara memakaikan pakaian untuk Langit.

"Kamu bukan anak bayi, yang mudah ku pindahkan.." protesnya lagi dan lagi.

Sampai akhirnya ia terkejut, saat tangan Langit menariknya, memeluknya dan akhirnya Mentari ikut berbaring bersama.

"Mas, lepaskan.." Langit tetap diam, bahkan lebih menguatkan pelukannya.

"Mas.." panggil Tari mencoba membangunkan.

"Hmm.."

"Bangun mas, kamu belum pakai baju." ucap Tari kemudian, wajah Tari mendadak memerah. Rasanya ia begitu malu menatap Langit yang memeluknya.

"Hangat.." ucap Langit tiba-tiba dan makin mengeratkan pelukannya.

"Hangat.." ulang Mentari, kening Mentari mengerut, ia berpikir kemudian dan akhirnya ia mengerti.

Mentari kali ini menatap wajah Langit begitu dalam, ia bahkan menelusuri seluruh permukaan wajah Langit. Semua tak lepas dari penglihatan Mentari.

"Mas ayolah bangun, pakai baju mu dulu..."

"Ini hangat.." ucap Langit lagi dan makin mengeratkan kembali pelukannya. Mentari mencoba melepaskan pelukannya itu dan terdengar kembali Langit bersuara.

"Kau jangan pergi, tetaplah di sini. Ku mohon.." pintanya dan kembali Mentari menatapnya.

Mentari menghela napasnya kemudian. Memang hangat terasa, seperti apa yang dikatakan Langit sejak tadi.

"Ya.. Aku tak akan pergi.." ucap Mentari kemudian seiring dengan rasa nyaman yang hadir tanpa disadari.

Perlahan, Mentari mulai menerima pelukan Langit malam itu.

"Tak apa, Mas Langit hanya memelukku." bisiknya dan mulai ikut memejamkan matanya.

.

.

.

.

Langit terbangun pagi itu. Ia perlahan membuka kelopak matanya dan terbuka dengan cepat akhirnya. Saat ia menyadari ada Mentari dalam pelukannya.

"Apa yang telah ku lakukan.." bisiknya dengan terus berpikir mencoba mengingat kejadian semalam.

"Aku tak mengingat apapun.." bisiknya kemudian.

Langit masih terdiam, kali ini ia beranikan diri menatap wajah Mentari yang begitu dekat dengan dirinya, bahkan Mentari ikut memeluknya.

Langit tersenyum, mengusap wajah Mentari dengan jari-jarinya perlahan, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Mentari saat itu. Sehingga Langit kini dapat menatapnya dengan jelas.

"Mas.." ucap Mentari tiba-tiba membuat Langit terkejut dan tak berani menatapnya, bahkan Langit memejamkan matanya dengan cepat.

"Apa Mentari terbangun..?" bisiknya namun tak terdengar suara Mentari kembali.

Bahkan Langit malah merasakan sentuhan yang makin terasa erat saat itu. Mentari memeluknya lebih erat.

Langit beranikan diri membuka matanya lagi, ia tatap kembali Mentari yang ternyata masih tertidur. Namun tiba-tiba.. Mentari membuka matanya tanpa permisi.

Langit terkejut begitupun dengan Mentari.

"Mas, kenapa ada di sini?" tanya Mentari dan Langit hanya menggeleng, karena sejujurnya ia tak mengingat kenapa dirinya bisa ada di sini.

.

.

.

.

🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️

1
Umrida Dongoran
Gantengn bintang ya thor ketimbang langit
💜⃞⃟𝓛 ᎩᏬᏁhiat ⍣⃝ꉣꉣ❀∂я
Mantap 👍
belum saya baca habis ada waktu luang nanti saya mampir baca ya thor 🤗
tetap semangat berkarya sukses selalu🙏
it's me oca -off
ehm langit bintang bulan nya mana
temen mentqri😅😅
it's me oca -off
uda vote uda hdir onel
sakura
..
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
kamu nanyak Langit 🤭
Nur Adam
lnjut
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
hamil ya gak papa Tari kalau yang menghamili Langit 🤭
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
hayo kenapa ada disitu 🤔
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
ngapain aja boleh
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
Intan mau jadi pelakor sepertinya 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀
auto mengulum bibir sendiri ehh 🤭🤭🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
gak papa mendadak bodoh, kan yang bikin mendadak bodoh suamimu sendiri 🤭
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
sepertinya Mentari cemburu 🤭
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
sama Mak , aq pun mau 🤣🤣
@ѕ⍣⃝✰𝓐ⷨ𝖒ⷷ𝖊ᷞ𝖑𝖑 ♛⃝꙰𓆊
mau aja Langit kan emang kamu suka sama mentari
♀️
pasti mentari bisa ayo semangat bahagia menantimu
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛•§¢•
semoga suatu saat nanti Mentari bisa mencintai Langit 🤲
▫️
kebayang klo mentari tau langit yg kasih gaun pasti lari ke planet(Wawa)
🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
𝓐𝔂⃝❥Nona M ѕ⍣⃝✰
banyak bawangnya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!