Claire diminta oleh orangtuanya untuk mengantarkan sebuah lukisan karya salah satu seniman terkenal dari Jerman ke kediaman teman mereka, Liam dan Ameera! Niat baiknya itu justru menjadi malapetaka tersendiri bagi Claire.
Kediaman Liam dan Ameera pada malam itu sangat ramai karena putra satu-satunya Liam dan Ameera yang bernama Mateo, tengah mengadakan pesta besar-besaran bersama teman-teman kuliahnya!
Entah apa yang terjadi saat Claire masuk kedalam kediaman Mateo, karena tiba-tiba dipagi harinya Claire dan Mateo dikejutkan dengan keadaan keduanya yang tidur dalam satu ranjang dan tanpa menggunakan sehelai benangpun.
Malapetaka itu tidak cukup sampai disitu saja, karena satu bulan berlalu Claire dinyatakan hamil dan orangtua Mateo juga orangtua Claire sepakat menikahkan keduanya, semua dilakukan demi anak yang tengah dikandung oleh Claire.
Lalu sebenarnya, siapa laki-laki yang telah menghamili Claire? Dan kenapa bisa Mateo dan Claire bisa tidur satu ranjang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopi_sopiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Mateo kemudian mendekati Claire membuat Claire hendak menjauhinya akan tetapi, satu tangan Mateo merengkuh pinggul Claire hingga wajah keduanya saling mendekat.
Kedua tangan Claire menempel dengan dada bidang Mateo, sementara kedua matanya masih terus beradu pandang menarik satu garis lurus dengan kedua mata Mateo.
Sebenarnya dulu Claire tidak pernah merasa gugup seperti saat ini, dulu Claire menganggap Mateo seperti adik laki-lakinya sendiri yang menyebalkan, tapi kenapa setelah pernikahan mendadak dengan Mateo, Claire merasakan hatinya sering berdebar-debar sendiri disaat berdekatan dengan bocah tengil ini.
"Teo, a-aku mau mandi,"
"Memang kau harus mandi dulu, agar terasa lebih segar lagi nanti saat diranjang,"
"Ka-kalau begitu lepaskan tanganmu,"
"Oke, aku lepaskan tapi jangan terlalu lama mandinya!"
Claire mengangguk, kemudian setelah Mateo melepaskan diri dari tubuh Claire, buru-buru Claire masuk kedalam kamar mandi, kemudian mengunci pintu kamar mandi.
Jantungnya yang masih naik turun tidak membuat nafas Claire tidak stabil.
"Ada apa dengan bocah itu? Kenapa semakin hari dia semakin liar terhadapku? Ya Tuhan, bagaimana ini, aku sangat tidak siap untuk melayani Teo," ujar Claire yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Setelah selesai mandi, bukannya cepat keluar dari dalam kamar mandi! Claire justru mondar mandir didekat pintu, saat tangannya menyentuh knop pintu tapi niat untuk membuka pintu kamar mandi pun kembali urung dilakukan oleh Claire.
"Bagaimana kalau Teo benar-benar melakukannya padaku? Aku tidak bisa membayangkan bocah tengil itu menaiki tubuhku dan wajah terus memancarkan rasa puasnya!"
"Aku bisa gila kalau seperti ini!"..
Claire meremat kepalanya sendiri sambil tetap mondar mandir.
Tok.
Tok.
Tok.
"Kak Claire, kakak sedang apa?"
"A-aku baru selesai mandi,"
"Kenapa lama sekali, buka pintunya!"
"Se-sebentar aku mulas,,"
"Aku dobrak ya!"
"Teo, kau ini sudah aku bilang aku mau buang air,"
"Tidak masalah aku akan tetap masuk!"
Claire pun merasa kesal hingga menghentak-hentakkan kakinya kelantai. Kemudian dibukanya knop pintu kamar mandi.
Ceklek..
"Kau gugup?" tanya Mateo.
"Untuk apa aku gugup hanya karena bocah tengil sepertimu,"
"Kita lihat, setelah melakukannya apakah kau akan tetap menganggap aku bocah tengil?" tanya Mateo sambil menyunggingkan senyum menggelitik.
Membuat Claire segera berlalu meninggalkan Mateo, didekat lemari Claire pun bimbang apakah dia harus memakai pakaian menggelikan itu? Ataukah tidak?
Tapi Mateo pasti akan terus mencecarnya agar memakai pakaian tersebut jika saat ini Claire tidak memakainya.
Setengah jam kemudian, Mateo keluar dari dalam kamar mandi kemudian saat melihat kearah ranjang, Mateo pun terkejut karena Claire benar-benar memakai kostum kelinci yang dia pilih saat membelinya.
Gleg..
Kostum kelinci itu pun membuat lekuk tubuh Claire terlihat sangat seksi! Claire memang memiliki tubuh yang tidak kurus tapi juga tidak gemuk, berat badannya ideal tapi sedikit berisi, membuat kedua mata Mateo lupa untuk berkedip.
Saat ini Claire berbaring diatas tempat tidur, lengkap dengan bando kelincinya yang dia pakai, terlihat kaki Claire yang jenjang dan mulus membuat Mateo seperti dihidangkan mangsa empuk dihadapannya.
Tanpa pergi kearah lemari untuk memakai pakaian tidurnya, Mateo segera menghampiri Claire. Merayap perlahan keatas ranjang seperti seekor laba-laba, semakin Mateo mendekati Claire semakin membuat Claire terlihat sangat gugup.
Kedua tangan Claire mencengkram sprei dikanan dan kirinya, hingga saat ini wajah Mateo tepat beberapa inci didepan wajah Claire.
"Teo, a-aku belum siap!"
"Menunggumu siap itu akan sangat melelahkan, bagaimana jika aku sedikit memaksa?"
Diraihnya dagu Claire dengan satu tangan Mateo, mendapatkan perlakuan seperti ini dari Mateo, membuat Claire tidak menyangka bocah laki-laki yang dulu dia anggap hanyalah bocah nakal yang selalu membuatnya kesal, kini menjelma menjadi sosok yang bisa membuatnya merasa sangat gugup.
Setelah memegangi dagu milik Claire, Mateo pun segera mendaratkan ciuman dibibir Claire, namun hanya sebentar Mateo.kembali melepaskannya lagi!
"Balas ciumanku!"
Setelah mengatakan itu Mateo kembali memagut bibir Claire, keduanya pun saling membalas ciuman satu sama lain, saling membelit dan menciptakan rasa ingin memiliki seutuhnya.
Namun saat satu tangan Mateo mencoba untuk menyentuh bagian depan Claire, kedua tangan Claire mendorongnya.
"Teo, berikan aku waktu untuk mempersiapkan diri! Ini terlalu terburu-buru,"
"Berapa aku harus menunggu?"
"Satu bulan!"
"Tidak, itu terlalu lama,"
"Oke dua Minggu?"
"Aku tidak akan tahan selama itu,"
"Satu Minggu?"
"Membuatku kesal menunggu selama itu,"
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bisa jika menunggu satu Minggu?"
"Iya tapi itu sebelum aku melihatmu memakai kostum ini!"
"Lalu berapa lama untuk aku mempersiapkan diri?"
"Tiga hari! Setelah itu aku akan melakukannya, dengan atau tanpa persetujuanmu,"
"Baiklah, aku setuju," kata Claire.
Daripada harus melakukan sekarang juga ,Claire belum ada persiapan sama sekali, akan lebih baik memanfaatkan waktu tiga hari yang diberikan oleh Mateo.
Padahal sudah diubun-ubun ingin mendapatkannya malam ini, akan tetapi Mateo harus kembali menundanya karena Claire ternyata belum siap. Tidak masalah, toh hanya menunggu waktu tiga hari, itu akan terasa cepat dilalui.