Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan Kecil Dan Tangisan Bahagia
Siang yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Kirana melangkah anggun memasuki gedung Devan Corp, membawa sebuah tas bekal berisi makanan favorit Devan serta sebuah kotak hadiah kecil berhiaskan pita merah yang tersimpan rapi di dalamnya.
Semua karyawan yang berpapasan dengannya di koridor langsung membungkuk hormat, menyapa sang Nyonya Muda dengan penuh kepatuhan.
Pintu ruangan presiden direktur terbuka. Kirana mendapati Devan yang sedang mematikan laptopnya di meja kerja. Begitu menyadari kehadiran sang istri, wajah tegas Devan seketika meleleh, digantikan oleh senyuman hangat yang begitu menawan.
"Kau sudah sampai, Sayang," menyapa Devan seraya bangkit berdiri, melangkah mendekati Kirana dan mendaratkan kecupan lembut di keningnya.
"Iya, Devan. Aku membawa makan siang spesial untuk kita berdua," jawab Kirana dengan binar mata yang memancarkan rasa bahagia yang sulit disembunyikan.
Mereka berdua berjalan menuju sofa dan meja makan di sudut ruang kerja Devan yang luas. Kirana dengan telaten menata piring dan mangkuk berisi masakan hangat yang ia bawa dari rumah, sementara Devan memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya dengan tatapan penuh kehangatan dan rasa syukur.
"Terima kasih, Kirana. Baunya sangat harum," ujar Devan seraya meraih sendoknya.
Mereka pun makan siang bersama dalam suasana yang begitu tenang dan intim. Suasana rileks itu dipenuhi canda tawa kecil saat Devan menceritakan beberapa agenda rapatnya hari ini, sementara Kirana mendengarkan dengan penuh perhatian—meski jantungnya kini mulai berdegup kencang, menantikan momen tepat untuk menyerahkan kejutan besar yang sudah ia siapkan di dalam tasnya.
Devan terkekeh pelan melihat tingkah manja istrinya. Ia membiarkan Kirana menarik tangannya, melingkarkan jemari mereka yang saling mengikat di atas sofa. Jarang sekali Kirana bersikap demikian menggemaskan dan meminta hal-hal unik seperti ini di kantor.
Setelah makan siang, Kirana menggandeng tangan suaminya dengan manja. "Aku boleh rekam video berdua tidak?" ucapnya. "Aku ada challenge," ucap Kirana.
"Tantangan apa, Sayang?" tanya Devan lembut, mengusap punggung tangan Kirana dengan ibu jarinya. "Sejak kapan istriku yang anggun ini suka ikut challenge di media sosial?"
Kirana menyunggingkan senyum misterius. Ia sudah menyandarkan ponselnya di atas meja, mengatur posisi kamera depan agar merekam mereka berdua dengan sempurna.
"Sudah, menurut saja," bisik Kirana manja. "Aku cuma mau rekam reaksi Devan. Caranya gampang, Devan cuma perlu pejamkan mata, buka telapak tangan Devan, lalu buka mata setelah aku suruh."
Devan menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil, menatap wajah Kirana yang berseri-seri penuh antisipasi. "Baiklah, demi istriku tercinta. Aku pejamkan mata sekarang."
Devan menutup kedua matanya rapat-rapat dan mengulurkan telapak tangan kanannya yang terbuka di udara.
Dengan napas yang makin berdesir kencang dan jari yang sedikit bergetar, Kirana merogoh tasnya. Ia mengambil kotak hadiah kecil berhiaskan pita merah yang telah ia siapkan dari rumah, lalu memosisikannya perlahan di atas telapak tangan Devan yang terbuka lebar.
"Sekarang... buka matamu, Devan," bulir air mata haru mulai menggenang di sudut mata Kirana.
Devan perlahan membuka kelopak matanya. Ia menatap kotak hadiah di tangannya dengan raut bingung. "Apa ini, Kirana? Hadiah ulang tahunku masih lama..."
"Buka saja," desak Kirana lirih dengan senyuman yang terukir manis.
Devan menarik pita merah itu, lalu membuka tutup kotak kecil tersebut. Di dalam sana, terletak sebuah testpack putih dengan dua garis merah tegas yang begitu jelas, bersanding dengan sepatu bayi mungil berwarna putih netral.
Tangan Devan yang biasanya kokoh memegang pena keputusan bernilai miliaran rupiah itu mendadak membeku. Matanya membelalak tak percaya. Ia menatap alat tes kehamilan itu lama sekali, seolah memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
"Kirana... ini..." suara Devan yang berat dan berwibawa mendadak bergetar hebat. Ia menatap Kirana, meminta kepastian.
Kirana mengangguk pelan, membiarkan air mata bahagianya menetes membasahi pipi. "Iya, Devan... Di dalam sini, sedang tumbuh buah cinta kita. Aku hamil."
DEG!
Tanpa memedulikan kamera ponsel yang masih merekam, Devan seketika menarik Kirana ke dalam pelukan paling erat yang pernah ia berikan. Pria tegas dan dingin yang ditakuti seluruh mitra bisnisnya itu kini mendekap istrinya dengan tubuh yang bergetar hebat, tak kuasa menahan air mata haru yang menetes menembus bahu baju Kirana.
"Terima kasih, Kirana... Terima kasih banyak, Sayang..." bisik Devan serak di samping telinga istrinya, merengkuh permaisurinya dengan seluruh rasa cinta dan perlindungan yang ia miliki di dunia.